
"Apa! Coba ulangi sekali lagi!"
Roy terlihat kaget, ia mencoba memastikan sekali lagi apa yang ia dengar barusan.
"Tidak ada apa-apa. Kamu holeh pergi sekarang, karna tugas kamu sudah selesai."
"Gilak, ini yang di namakan, habis manis sepah dibuang. Enak banget kamu ngusir aku ya," kata Roy dengan wajah yang sangat kesal.
"Apa lagi yang kamu tunggu. Bukankah tugas yang kamu kerjakan telah selesai?"
"Hei, apa kamu lupa dengan hutangmu?"
"Hutang apa? Aku tidak merasa punya hutang pada kamu."
"Kamu punya hutang penjelasan padaku. Jelaskan dahulu apa yang telah terjadi dan jangan mencoba menutupi apapun dari aku."
Aku terdiam, namun pikiranku berkerja. Aku memikirkan apa yang telah Roy katakan barusan. Dan apa yang sebenarnya terjadi dengan Alina.
"Roy, aku sudah tahu kalau anak Herman itu bukan laki-laki. Sejak itulah aku meminta kamu untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa bisa, seorang gadis berubah menjadi laki-laki. Padahal, dia adalah gadis yang cantik. Dan aku juga merasa penasaran, kenapa mamanya menjadikan ia sebagai pion catur. Sekarang aku menemukan alasannya," kataku sambil bagun dari duduk.
"Katakan padaku, kapan kamu tahu kalay dia bukan laki-laki?"
__ADS_1
"Saat aku meminta anak buahku menghabisi dia malam itu. Karna Alina adalah gadis yang lumayan tanguh, ia mampu melawan abang kepala geng yang aku pimpin diam-diam. Tanpa sengaja, abang itu menjambak rambutnya. Apa yang tersembunyi dari Nino, terlihat dengan jelas ketika rambut palsunya terlepas."
"Gila kamu Mul, kamu tidak bicara padaku terlebih dahulu, kalau kamu sudah tahu hal ini. Kalo gitu, aku gak akan susah-susah cari info tentang ini."
"Jangan banyak cerita, aku tidak suka mendengar ocehan kamu yang lebih kirip perempuan itu."
"Oh ya, tolong pikirkan satu cara, agar aku bisa membongkar apa yang selama ini tersembunyi," ucapku sambil duduk di samping Roy.
"Apa susahnya, tinggal bongkar saja apa yang sebenarnya terjadi. Kamu tinggal bilang pada gadis itu, kalau selama ini, mamanya telah membohongi dia dan dia hanya di jadikan alat saja."
"Hei, apa kita punya bukti tentang kebohongan mamanya?"
"Bukti?"
Roy mengangguk mendengarkan apa yang aku katakan. Ia mulai memikirkan cara yang lebih tepat untuk menyerang lawan kami yang terlihat lemah, namun sangat amat kuat.
"Mulya, aku punya satu cara. Kita bisa menjebak mama Nino, dan apa yang ia katakan, itu adalah sebuah bukti yang sangat kuat nantinya."
Aku memikirkan apa yang Roy katakan. Mungkin, gagasan Roy ini sedikit recehan, tapi bisa dicoba untuk melihat apa hasilnya.
"Hmz, mungkin kita bisa mencoba ide recehan yang kamu miliki ini," ucapku dengan wajah sedikit tidak yakin.
__ADS_1
"Baiklah, jika kamu bilang ini adalah ide recehan. Maka jangan coba sama sekali. Karna aku tidak suka, kamu berhasil dengan ide recehan ini," kata Roy dengan sangat kesal.
"Baiklah, baiklah, kita akan coba ide kamu."
"Terserah."
Kami menyusun rencana dengan matang sebelum melakukan jebakan buat mama Alina. Karna yang aku tahu, wanita yang menjadi mama Alina saat ini, adalah wanita yang sangat licik dan paling pintar berekting.
Alina POV
Mama sangat antusias dengan rencana mempertunangkan aku dengan anak Bupati. Tanpa mama pikirkan sedikitpun perasaan yang aku rasakan.
Mama benar-benar sangat mabuk oleh harta sekarang. Yang ia pikirkan hanyalah, bagaimana cara agar ia bisa cepat-cepat mendapatkan seluruh harta papa. Tanpa ia pikirkan, bagaimana perasaan aku anaknya saat ini.
Ponselku berdering, aku lihat, tertera nama Mulya di sana. Ntah apa perlu laki-laki itu dengan aku, ia malah menelfon aku di saat aku sedang merasakan keresahan.
Hatiku punya dua pilihan, antara aku angkta dengan tidak. Satu sisi, aku sangat ingin mengangkat telfon Mulya. Tapi di sisi lain, aku tidak ingin Mulya mempertanyakan tentang pertunangan yang sangat tidak mungkin ini.
Akhirnya, aku memilih untuk tidak mengangkat telfon dari Mulya. Aku membiarkan saja Mulya menunggu.
Setelah sambungan telfon itu terputus, Mulya malah mengirim sebuah chat lewat Wa. Dengan berat hati, aku membuka chat itu.
__ADS_1
"Alina, temui aku di jalan Merpati. Di sana ada sebuah cafe yang bernama Cafe Hocy. Jika kamu tidak datang dalam lima belas menit, maka aku akan katakan pada semua orang, kalau kamu adalah penipu dengan menyamarkan dirimu sebagai laki-laki."