
Apakah yang ada dihadapan aku saat ini benar-benar Mulya yang orang-orang bilang itu. Mulya yang ditakuti oleh semua orang yang menggenalnya.
Aku tidak pernah melihat Mulya yang mereka bilang, saat Mulya berada dihadapan ku. Karna Mulya yang ada didapan aku ini, sangat berbeda dari yang orang lain katakan.
Mulya ini terlalu lembut dan sedikit manja. Sedangkan, yang orang lain katakan. Mulya adalah orang yang paling angkuh, kejam dan sangat menakutkan.
Aku terus melihat wajah tampan yang sangat berkharisma ini. Sampai-sampai, aku lupa bahwa, orang yang aku lihat ini sedang memperhatikan setiap tindakan kecil yang aku lakukan.
"Udah puas belum, lihat wajah aku?" kata Mulya membuat aku tersadar, kalau saat ini, aku tidak sendirian di danau ini.
"Eh, siapa yang lihat wajah kamu sih? Gak ada tahu gak."
"Alah, kamu hanya gak mau ngakuin kalau aku ini terlalu lalu tampan, bukan?"
"Apaan sih kamu, jadi laki-laki kok ke geeran gitu sih."
"Oh, kamu gak suka sama laki-laki yang seperti itu. Baiklah, aku akan ganti cara bicara dan sikapku pada mu."
Mulya membenarkan kerah kemejanya. Lalu, ia berdaham untuk kembenarkan suara. Bukan hanya itu, dia juga berlutut dihadapan aku.
"Alina, aku mencintai kamu. Mungkin, aku tidak bisa menjadi laki-laki yang romantis dengan membawa seikat bunga untuk menyatakan cinta. Tapi asal kamu tahu, aku sangat mencintai kamu. Maukah kamu menjadi pacarku? Oh tidak, maukah kamu menjadi istriku?" kata Mulya dengan wajah yang sangat serius yang begitu memperlihatkan aura tegas yang selama ini orang lain katakan.
__ADS_1
Aku terpana, tidak percaya dengan apa yang aku lihat saat ini. Perubahan yang Mulya tunjukkan saat ini, mampu membuat aku terpana untuk yang kesekian kalinya.
"Alina, beri keputusan sekarang, atau kita tidak akan pulang hingga malam tiba," kata Mulya kembali mengingatkan aku.
Ya Tuhan, aku tidak tahu mau jawab apa. Aku sudah mengacaukan moment romantis yang Mulya coba bikin. Bukan hanya satu kali, aku bahkan sudah menghancurkan berkali-kali moment romantis yang telah tercipta.
"Mulya, aku mohon kamu berdiri dulu. Aku tidak enak jika dilihat orang nantinya."
"Jawab saja apa yang aku katakan ini. Jika kamu tidak ingin aku berlama-lama seperti ini."
"Baiklah, aku akan katakan satu hal yang mungkin akan menyakitkan buat kamu. Apa kamu sanggup mendengarkan jawaban atas pernyataan cinta yang kamu ucapkan?"
"Baiklah, jangan salahkan aku kalau aku tidak bisa ...."
Aku menggantungkan ucapanku, sedangkan Mulya, ia menutup rapat-rapat kedua matanya.
"Aku tidak bisa ... tidak bisa menolak cinta yang kamu ungkapkan. Karna aku juga punya rasa yang sama dengan apa yang kamu rasakan."
Mulya langsung bangun dan memeluk tubuhku. Tanpa ada sepatah katapun yang bisa ia ucap saat ini. Hanya pelukan hangat yang begitu menenangkan, yang bisa aku rasakan.
Bau khas dari tubuh Mulya, tercium sangat kuat di hidungku. Tidak bisa aku pungkiri, kalau aku selalu merindukan bau khas ini.
__ADS_1
"Terima kasih, Alina. Kamu telah membalas cintaku."
"Tidak perlu mengucapkan kata itu padaku. Karna aku juga punya rasa yang sama."
Aku melepaskan pelukan Mulya, dengan berat hati sih sebenarnya. Karn aku tahu, jika terus memeluk laki-laki ini, maka aku tidak akan pulang kerumah. Karna terlalu sayang untuk aku lepaskan.
"Harusnya, yang mengucapkan kata terima kasih itu aku, Mulya. Karna kamu aku tahu, siapa aku yang sebenarnya."
"Aku sudah bilangkan, kalau aku akan lakukan apapun demi kamu," kata Mulya sambil mencubit hidungku.
"Ih ... kamu apaan sih, sakit tahu gak?"
Aku dan Mulya sempat main kejar-kejaran di sekitar danau ini. Walaupun tidak terlalu banyak waktu yang aku dan Mulya habiskan, tapi itu sangat berarti bagiku.
"Alina, ayo kita pulang! Sebentar lagi hari akan senja."
Kata-kata Mulya mampu membuat hati ini kembali meratap sedih. Karna aku tidak mungkin bisa pulang kerumah, saat aku tahu, kalau aku ini adalah anak yang hanya dijadikan alat saja.
"Alina, ada apa?" tanya Mulya sambil menyentuh lembut pundakku.
"Aku tidak punya rumah, Mul. Mau pulang kemana aku malam ini?"
__ADS_1