
"Gak papa Tuan muda, saya gak keberatan kok. Silahkan Tuan muda ganti pakaian di dalam mobil saya. Saya akan keluar sekarang," kata sopir itu sambil membuka pintu dan keluar dari mobil.
"Terima kasih banyak mas," ucapku sambil tersenyum.
Aku membuka masker yang menutup wajahku sejak awal aku keluar dari villa. Ini aku lakukan, agar tidak ada yang tahu, bagaimana wajahku jika aku berganti nanti.
Aku hanya perlu membuka baju luar yang aku pakai saja. Tidak perlu memasang baju lagi, karn aku sudah memakai baju wanita di sebelum memakai baju laki-laki.
Tidak butuh waktu lama. Aku selesai melepaskan semua baju laki-laki lengkap dengan rambutnya sekalian. Akan aneh, jika aku berpakaian perempuan, namun dengan rambut dan suara laki-laki yang tetap menempel jika aku memakai rambut palsu itu.
Ku kemasi semua barang milikku. Lalu, aku mendandani wajahku dengan sedikit bedak dan tidak lupa memakai lipstik kebibirku.
Ku kenakan kembali, masker yang aku pakai sebelumnya.
Aku keluar dari mobil dengan pakaian perempuan, namun wajah tetap tidak bisa di kenali oleh sopir online ini.
"Makasih mas," kataku sambil keluar dari mobil.
__ADS_1
Sopir itu terlihat sangat kaget, ketika ia melihat siapa yang nengatakan terima kasih padanya.
"Kamu ...."
"Terima kasih banyak telah membiarkan saya ganti baju di dalam," ucapku sambil berjalan menjauh. Meninggalkan sopir itu dengan seribu rasa penasaran dan terlihat sangat bingung dengan perubahan yang aku tunjukkan.
Aku pun masuk kedalam cafe dengan langkah lemah lembut, layaknya perempuan pada umumnya.
Aku berniat untuk menelfon Mulya. Untuk memastikan, apakah ia sudah datang atau belum. Tapi, niat itu aku batalkan, karna aku melihat mama sedang bicara dengan seseorang.
"Aku tidak punya banyak waktu. Jadi toling, jangan main-main dengan aku," kata mama dengan nada marah pasa laki-laki itu.
"Aku tidak mempermainkan kamu, Nyonya besar. Hanya saja, aku ingin kamu tanda tangan surat ini, sebelum bukti itu aku berikan padamu," kata laki-laki yang duduk di depan mama.
"Apa kamu bisa aku percaya?"
"Sangat bisa di percaya, Nyonya. Aku ini adalah orang yang sangat amanah. Jadi kamu takut untuk bekerja sama dengan ku."
__ADS_1
"Dan juga, kamu harus ingat. Jika kamu tidak bohong, maka aku tidak akan bohong pada kamu. Dua puluh persen itu tidak sebanding dengan apa yang kamu dapatkan. Dengan memperalat anak orang untuk menjadi anak kamu," kata laki-laki itu lagi dengan sangat jelas.
"Diam kamu! Baiklah, aku akan tanda tangan surat ini. Setelah itu, aku minta kamu berikan bukti tentang riwayat hidup Alina padaku. Dan, kamu harus segera meninggalkan kota ini secepat mungkin."
Apa yang mereka maksud? Kenapa mama menyebut data riwayat hidup atas nama aku? Tunggu! Aku tidak salah dengar bukan? Barusan, laki-laki itu bilang, mama memperalat anak orang, untuk mengambil kekayaan papa?
Siapa yang laki-laki itu maksudkan? Siapa yang mama peralat untuk mendapatkan harta papa? Apakah kak Ryan? Atau ... atau aku?
Tapi tidak, aku ini anak mama, tidak mungkin aku yang laki-laki itu maksudkan. Karna aku adalah darah daging mama, bukan anak orang lain.
Mama menanda tangani surat yang laki-laki itu berikan. Aku sangat jelas melihat, kalau mama melakukan itu dengan sangat terpaksa.
"Sudah, sekarang serahkan bukti itu padaku!"
"Oh, aku akan serahkan bukti itu pada Nyonya. Tapi, aku butuh kepastian sekali lagi. Dari mana Nyonya mendapatkan anak yang bernama Nino itu, oh maksudku, Alina?"
"Itu bukan urusan kamu. Jika kamu terlalu pintar untuk tahu, kalau Nino itu adalah Alina, dan Alina itu bukan anak ku, maka kamu juga cukup pintar untuk mrngetahui dari mana aku bisa mendapatkan anak itu," kata mama dengan senyum licik di bibirnya.
__ADS_1