Aku Bukan Laki-laki

Aku Bukan Laki-laki
Bab 55


__ADS_3

"Tapi ya sudahlah, kita pastikan apa yang terjadi sebenarnya. Jika benar mereka adalah orang tua kamu, apa alasan mereka sampai tidak mencari kamu," kata Mulya lagi.


Aku dan Mulya pun turun dari mobil, lalu menghampiri penjaga gerbang yang sedari tadi melihat aneh kearah kami.


"Tuan Mulya, ada perlu apa?" tanya kedua penjaga gerbang pada Mulya.


"Aku ingin bertemu Nyonya Melati. Apakah beliau ada di dalam?" kata Mulya dengan penuh wibawa.


"Nyonya besar ada di dalam, Tuan Mulya. Tapi, apakah Tuan sudah punya janji dengan, Nyonya? Karna, Nyonya tidak bilang kalau Tuan Mulya akan datang kerumah."


"Aku datang mendadak, tidak sempat buat janji. Apakah aku juga harus buat janji jika ingin bertemu dengan Nyonya Melati?"


Jujur saja, aku sangat kaget dengan apa yang saat ini aku lihat. Ternyata, Mulya cukup terkenal di kalangan orang kaya. Anak buah itu saja cukup menggenal Mulya dengaj sangat baik.


Bukan itu saja, aku tidak habis pikir. Mulya bukan hanya kenal kalau pemilik rumah ini adalah orang terkaya kedua di kota ini. Mulya juga tahu, siapa nama pemilik rumah mewah yang ingin aku tuju.


Ponsel dari salah satu penjaga itu pun berdering. Penjaga itu dengan cepat mengambil ponsel yang ada di saku bajunya.


"Iya, Nyona."


"Baik-baik. Baik Nyonya. Oke."


"Tuan Mulya, Nyonya sudah mengizinkan Tuan masuk kedalam."


Mulya menarik tanganku untuk di ajak masuk kedalam rumah megah itu.

__ADS_1


"Maaf Tuan Mulya, gadia ini ...."


"Dia calon istriku, apakah salah kalau aku membawanya masuk kedalam?"


"Tidak, tidak. Silahkan Tuan Mulya," kata penjaga itu sedikit ketakutan dengan tatapan kesal yang Mulya tunjukkan.


Kami pun di sambut oleh salah satu pelayan yang sangat ramah. Ia menuntun kami menuju taman yang terletak di sampung rumah.


"Silahkan Tuan Mulya, Nyonya besar ada di taman," kata pelayan itu dengan penuh sopan santun.


"Terima kasih," kata Mulya sambil membawa aku menuju taman.


Aku hanya bisa menurut saja apa yang Mulya lakukan. Tidak berniat untuk protes atau bertanya, satu pertanyaan pun.


"Selamat datang, Mulya."


"Terima kasih, Nyonya Melati."


"Silahkan duduk," kata Nyonya itu sambil menuangkan teh kedalam cangkir.


"Sekali lagi, terima kasih, Nyonya."


"Tidak perlu sungkan, Mulya. Aku tahu, kamu datang pasti ada maksud tertentu, bukan?"


"Oh tunggu, siapa gadis cantik yang ada di samping kamu ini?" tanya Nyonya itu sambil tersenyum kepadaku.

__ADS_1


"Ia adalah calon istriku, Nyonya. Kami akan menikah tiga hari lagi."


"Apakah kamu datang kesini untuk menggundangku, Mulya?"


"Iya, aku memang berniat untuk menggundang Nyonya untuk hadir di hari bahagiaku nanti. Tapi, bukan itu saja tujuan aku datang kesini. Aku punya tujuan lain," kata Mulya sambil menghirup teh yang ada di cangkir itu.


"Apa tujuan kamu yang lainnya, katakan saja dengan terus terang. Aku tidak suka berbelit-belit, Mulya. Kamu tahu siapa aku, bukan?"


"Aku tahu Nyonya, dan sebab itulah aku datang kesini. Dan aku ingin mempertanyakan satu hal pada Nyonya, apakah Nyonya punya anak perempuan dahulunya?"


Seketika, wajah datar dan manis Nyonya itu berubah jadi murung dan memerah.


"Apa maksud kamu?"


"Aku tidak punya maksud, Nyonya. Aku hanya bertanya, agar aku bisa membantu Nyonya."


"Tidak, aku tidak butuh bantuan kamu anak ingusan. Aku tidak butuh," kata Nyonya itu bangun dari duduknya.


"Aku ingin masuk kedalam, jika kamu tidak ada urusan lain lagi. Silahkan keluar dari rumah ini," kata Nyonya itu mengusir kami secara tidak langsung.


"Tunggu, Nyonya! Aku benar-benar berniat untuk membantu kamu bertemu dengan anak mu. Apakah kamu tidak merindukan anak mu selama ini," kata Mulya berusaha mencegah wanita itu untuk meninggalkan kami.


"Siapa yang tidak rindu, siapa yang tidak ingin bertemu dengan anaknya. Orang tua mana yang sangup hidup tanpa anak mereka. Siapa yang merasakan kehilangan, pasti tau bagaimana perasaan aku saat ini," kata Nyonya itu sambil menahan tangisannya.


"Nyonya, aku tahu kamu sangat rindu pada anak mu. Aku di sini datang, bersama anakmu, Nyonya."

__ADS_1


__ADS_2