Aku Bukan Laki-laki

Aku Bukan Laki-laki
Bab 42


__ADS_3

"Siapa bilang kamu gak punya rumah, Arina? Selagi ada aku, kamu akan punya segala yang kamu butuhkan. Selagi aku bisa sih, jangan aja minta yang aneh-aneh dari aku, seperti minta awan jatuh atau bintang yang ada di angkasa, itukan hal yang mustahil."


"Tidak mustahil kalau kamu seorang penyihir," kataku bercanda dengan Mulya.


"Itu tidak mungkin."


"Kenapa?" tanyaku sambil menaikkan satu alis, karna penasaran.


"Karna aku tidak ingin jadi penyihir. Aku ingin jadi seorang pangeran agar bisa menaklukkan hati seorang putri."


"Yoo, pintar merayu juga ternyata kamu ya."


"Sedikit," kata Mulya sambil tersenyum dan semakim mendekat.


"Eee, sebaiknya kamu pikirkan soal tempat tinggal aku malam ini," kataku dengan cepat.


Mulya membatalkan niatnya untuk terus berjalan mendekati aku.


"Alina, kalo soal kamu tinggal, aku tidak punya masalah untuk menyediakan rumah seperti apa yang kamu mahu. Tapi yang aku pikirkan, bukan soal tempat tinggal kamu malam ini."


"Lalu?"


"Aku pikir, bisakah kamu membantu aku untuk sedikit bersabar lagi."


"Bersabar? Maksud kamu?"


"Kita akan bongkar kebohongan yang selama ini mama kamu tutupi di depan semua orang. Kita juga akan membuat mama kamu mengatakan, siapa orang tua kamu sebenarnya. Apa kamu tidak ingin tahu, siapa orang tua kamu yang sebenarnya?"

__ADS_1


"Mama kamu tidak akan menjawabnya, jika kamu bertanya saat ini," kata Mulya lagi.


Apa yang Mulya katakan itu adalah benar. Dan aku juga sangat ingin tahu siapa orang tua aku sebenarnya. Jika aku tanya langsung sekarang, mama tidak akan menjawabnya.


"Apa rencana yang kamu miliki, aku akan ikut bermain dalam rencana yang telah kamu susun," ucapku dengan mantap dan sangat yakin.


"Mendekatlah, aku akan bisikkan apa yang sedang aku rencanakan."


Aku melakukan apa yang Mulya katakan. Tanpa ada pikir panjang, dan tanpa curiga sedikit pun pada apa yang akan Mulya lakukan.


Saat aku mendekat, Mulya bukannya membisikkan sesuatu padaku. Tapi malah ....


Cuuppp ....


Dengan sangat beraninya, Mulya mencium pipiku dengan lembut. Aku kaget, tapi tidak bisa berkata apa-apa. Hanya bisa terdiam bagai patung yang sedang menjadi pajangan.


"Mulya!" teriakku dengan sangat keras.


Mulya kaget dan segera memberi jarak agak jauh antara aku dengan dirinya.


"Aku ... aku akan katakan apa rencananya. Kita bicara di mobil saja," ucap Mulya sedikit cangung. Mungkin ia kaget dengan teriakan ku barusan.


.....


Untungnya, aku ingat untuk memakai kembali baju laki-laki yang telah aku lepas saat ingin bertemu dengan Mulya di cafe.


Aku pun berjalan memasuki rumah dengan langkah sedikit tegang dan takut. Aku bisa saja dapat omelan dari mama palsu yang hanta memanfaatkan aku saja.

__ADS_1


"Dari mana kamu?" kata mama yang mampu menghentikan langkah kaki ku yang baru saja ingin masuk kedalam rumah.


"Aku ...."


"Pilih alasan yang tepat, agar kamu tidak mengecewakan mama untuk kali ini."


"Aku tidak punya alasan, aku keluyuran karna merasa bosan berada di rumah seharian tanpa teman. Mama juga tidak ada di rumah, sedangkan kak Ryan, ia sibuk bekerja di kantor."


"Alasan yang tidak masuk akal," kata mama sambil berjalan mendekati aku.


"Aku ingin mandi," ucapku berusaha menghindar dari mama.


"Jangan jadi anak yang kurang ajar kamu, Nino. Mama belum selesai bicara, kenapa mau pergi saja."


"Aku capek, ma. Kita bicara nanti saja, aku mau mandi duluan."


"Nino!"


"Ada apa sih tante, Nino? Kok kalian bertengkar lagi sih?" kata kak Ryan yang tiba-tiba keluar dari kamarnya.


"Ini, adik kamu sekarang sudah sangat kurang ajar. Tidak tahu sopan santun dan tidak mau mendengarkan apa yang tante katakan."


"Aku bukan tidak ingin mendengarkan mama, kak. Hanya saja, aku sedang merasa sangat gerah dan capek. Biarkan aku mandi, nanti juga bisa bicara."


"Tante, mungkin Nino ada benarnya. Biarkan dia mandi dahulu, nanti kita bicarakan apa yang terjadi," kata kak Ryan membela aku.


"Kamu ini ya, sama aja kayak Nino. Memang anak sudah besar, sulit untuk menghargai orang tua," kata mama sambil berjalan meninggalkan aku dan kak Ryan.

__ADS_1


__ADS_2