Aku Bukan Laki-laki

Aku Bukan Laki-laki
Bab 56


__ADS_3

"Nyonya, aku tahu kamu sangat rindu pada anak mu. Aku di sini datang, bersama anakmu, Nyonya."


"Anak, anakku?"


Nyonya itu membalik badannya untuk melihat aku dan Mulya.


"Di mana anakku, Mulya? Di mana dia?"


"Lihatlah gadis di samping aku ini, Nyonya. Dia adalah anak kandungmu yang telah di culik saat ia masih kecil," kata Mulya.


"Jangan bohongi aku, Mulya. Dari mana kamu tahu, kalau gadis ini adalah anakku? Apa kamu punya buktinya?"


"Aku tidak punya bukti, tapi aku dan Alina hanya di beritahukan oleh mama yang telah mengasuh Alina sejak kecil. Kalau ingin bertemu dengan mama kandungnya, Alina harus mendatangi rumah ini," kata Mulya menjelaskan.


"Siapa mama yang telah mengasuhnya dulu? Kenapa aku tidak pernah menemukan sedikit petunjuk pun tentang orang yang menculik anakku selama ini."


Mulya menceritakan semuanya tentang mama dan kehidupan aku di luar negeri. Tidak ada satu pun yang terlewatkan oleh Mulya. Ia ceritakan segala yang ia tahu pada Nyonya ini.


Tentunya, dengan bantuan aku juga, Mulya bisa bercerita. Jika tidak, Mulya juga tidak akan tahu, bagaimana kehidupanku saat di luar negeri wakti itu. Pasti akan kesulitan untuk menjelaskan.

__ADS_1


"Saat itu, aku tidak punya apa-apa. Aku hanyalah seorang wanita miskin yang ditinggal mati oleh suamiku. Saat aku dan anakku berusaha bertahan hidup, cobaan berat datang ketika aku melewati sebuah gang. Seorang wanita dengan wajah di tutupi topeng, membawa kedua anak buahnya untuk merebut anakku."


Wanita itu berhenti, karna ia tidak kuat untuk menahan air matanya yang ingin jatuh membasahi pipi putih itu.


"Aku tidak bisa berbuat apa-apa, saat mereka mengambil anakku. Karna saat itu, aku hampir mati akibat pukulan yang kedua anak buah wanita itu berikan."


"Saat aku sudah sembuh dari sakitku akibat pukulan dari anak buah wanita itu. Saat itulah aku bertekad untuk mengubah nasib buruk yang aku miliki. Hingga aku menjadi seorang wanita yang di segani oleh semua orang."


"Tapi tetap saja, aku tidak menemukan buah hati yang telah mereka rampas dariku. Segala cara telah aku coba, tapi tidak pernah ada hasilnya. Aku putus asa, aku kecewa, tapi tidak tahu harus bilang pada siapa. Tapi aku yakin, kalau Tuhan tidak pernah tidur."


"Kalau begitu, Tuhan telah mengabulkan doa Nyonya. Saat ini, Alina memang benar anak Nyonya," kata Mulya dengan sangat yakin.


"Baiklah, aku tahu bagaimana ingin membuktikan kalau gadis ini adalah anak kandung yang selama ini aku cari. Bisa buka sedikit bahumu, anak manis," kata Nyonya itu padaku.


"Aku hanya ingin melihat sedikit saja bahu kamu."


"Ya sudah, kamu lakukan saja apa yang Nyonya ini minta, Alina. Biar aku menunggu di kolam sana sebentar, kalau kamu merasa malu padaku," kata Mulya sambil berjalan.


Setelah Mulya agak jauh dari kami. Aku membiarkan Nyonya itu melihat bahuku.

__ADS_1


"Anakku!" teriak Nyonya itu dengan sangat keras sambil memeluk tubuhku.


Mulya yang mendengarkan teriakan Nyonya Melati ini pun segera berlari kearah kami. Sedangkan aku, tidak tahu harus bilang apa saat Nyonya memeluk tubuhku.


"Kamu benar-benar anak ku. Kamu anak kandungku," kata Nyonya Melati sambil menangis terisak-isak.


"Bagaimana Nyonya bisa yakin, kalau aku adalah anak Nyonya?" tanyaku dengan penuh hati-hati saat Nyonya itu melepaskan pelukannya dari tubuhku.


"Panggil aku mama sayang. Aku adalah mama kandung kamu anak cantik. Kamu tahu, anak kandungku yang telah hilang memiliki sebuah tanda lahir di bahu kanannya. Dan kamu punya tanda lahir itu sayang."


"Apakah Nyonya yakin akan hal itu? Apakah tidak ingin membuktikan dengan cara lain lagi? Mungkin dengan tes DNA," kata Mulya.


"Aku sudah sangat yakin kalau gadis ini adalah anakku. Karna tanda lahir itu, tidak mungkin dimiliki oleh orang lain, selain anakku. Tapi, jika ingin menambah keyakinan kita semua, aku akan melakukan tes DNA itu."


"Baiklah, ayo kita sama-sama kerumah sakit sekarang juga!"


"Sekarang juga?" tanya Mulya sedikit ragu.


"Iya, sekarang juga. Aku tidak ingin menunggu lama lagi. Aku ingin segera melakukannya sekarang juga."

__ADS_1


Permintaan Nyonya itu memang sangat terburu-buru. Tapi, aku dan Mulya juga tidak bisa menolaknya. Karna bagaimanapun, ia adalah ibu yang telah kehilangan anaknya sejak lama.


Aku masih sedikir merasa aneh, untuk memanggil Nyonya ini dengan sebutan mama. Karna aku dan dia, baru saja kenal benerapa menit yang lalu.


__ADS_2