
Lima belas menit lamanya, aku menunghu kak Ryan. Akhirnya, laki-laki ini datang juga menemui aku.
"Maafkan kakak ya, Alina. Udah bikin kamu nunggu kakak lama," kata kak Ryan sambil duduk di salah satu kursi.
"Gak papa kak, aku gak masalah kok."
"Oh ya, apa yang sangat penting nih, sampai kamu meminta kakak buat datang kesini?"
"Wuah, tanpa basa-basi lagi, langsung pada intinya saja ternyata," ucapku sedikit bercanda, menanggapi apa yang kak Ryan katakan.
"Yah, karna kakak tahu, kalau kamu itu orangnya tidak suka bertele-tele, makanya, kakak langsung tanya aja."
"Minum dulu kak," kataku memberi jeda.
"Aku ingin kakak antarkan aku ketemu sama mama. Aku ingin minta restu pada mama," ucaku sambil mengambil gelas jus jeruk milikku.
Ketika mendengar apa yang aku katakan, kak Ryan tersedak kaget. Ia menumpahkan jus jeruk yang ia minum barusan.
"Uhuk, uhuk."
"Lho, kok bisa tersedak seperti itu sih kak. Makanya, minum itu pelan-pelan," kataku sambil memberikan kak Ryan sebuah tisu.
"Terima kasih."
__ADS_1
"Ada apa sih kak, saat bahas soal mama aja, kaka selalu menunjukkan ekspresi yang berbeda. Ada apa sih sebenarnya? Apa mama benar-benar benci padaku saat ini? Sehingga kakak tidak ingin membawa aku untuk ketemu mama."
"Mama kamu tidak pernah membenci kamu, Alina. Bahkan, walaupun kamu bukan anak kandungnya, ia merasa sayang sama kamu, seperti ia sayang pada anak kandungnya. Karna kamu telah membuat, hidup tante penuh warna."
Kak Ryan membuka dompetnya, lalu mengeluarkan selebar kertas putih yang ada di dalam dompetnya.
"Ini surat dari mama, kakak harap kamu bisa membaca surat ini baik-baik," kata kak Ryan sambil mengulur surat itu padaku.
"Surat apa ini kak?"
"Baca saja, nanti kamu akan tahu apa isinya."
Dengan penuh penasaran, aku membuka kertas yang terlipat dengan rapi ini. Lalu, aku membaca kata-kata yang tertulis di atas keratas ini dengan teliti.
Aku tertegun saat selesai membaca tulisan yang tersusun rapi di atas kertas putih ini. Air mata yang tidak bisa aku tahan, terus tumpah perlahan, membasahi pipiku.
Aku balik kertas putih ini untuk memastikan, apa yang tertulis di atas kertas itu adalah benar. Di sana, ada sebuah alamat lengkap dengan nomor rumahnya sekalian.
Ku alihkan pandaganku pada kak Ryan. Aku ingin kak Ryan kenjelaskan lagi, apakah yang mama maksud telah pergi jauh dari dunia ini.
"Apa yang terjadi dengan mama, kak Ryan?"
"Tante ... tante telah tiada, Alina. Tante sudah meninggal," kata kak Ryan sambil memeluk tubuhku yang tiba-tiba lemas saat mendengarkan apa yang kak Ryan katakan.
__ADS_1
"Tidak, kak Ryan pasti sedang membohongi aku kan kak? Mama pasti masih hidupkan kak? Kakak pasti sedang bercanda, kan?"
"Sabar Alina, sabar. Kakak tahu ini berat, tapi kamu harus kuat."
Aku tidak bisa menahan tubuhku lagi sekarang. Tiba-tiba saja, aku merasakan pandanganku buram dan berkunang-kunang.
Terlalu berat untuk aku menerima kabar yang kak Ryan bawa ini. Aku sudah tidak kuat lagi, tubuhku sangat lemas dan tidak bisa merasakan apa-apa lagi.
Ntah apa yang telah terjadi. Saat aku membuka mata, aku sudah berada di kamarku dengan Mulya yang sedang berada di sampingku.
"Mulya," kataku memanggil Mulya dengan suara berat.
"Iya sayang, apa yang kamu rasakan? Apa yang kamu mahu sekarang?" tanya Mulya dengan kalang kabutnya.
"Tidak ada, aku tidak mau apa-apa. Aku hanya ingin, ketemu mama sekarang. Aku ingin melihat mama. Antarkan aku ketempat mama."
"Baiklah, besok kita akan datang kemakamnya ya. Hari ini, kamu harus istirahat dulu. Biar besok, kamu punya tenaga untuk berjalan ketempat mama kamu."
"Tidak mau, aku maunya saat ini," ucapku dengan air mata yang masih saja tumpah.
"Mulya, turuti saja apa yang Alina inginkan. Kamukan bisa memopong tubuhnya," kata kak Ryan.
"Baiklah, ayo kita pergi sekarang."
__ADS_1