
Aku mengerti dengan perkataan kakak ku barusan. Ia sedang tidak ingin aku bertanya apa yang baru saja terjadi.
"Ya sudah, kalau kamu baik-baik saja, aku pamit untuk kembali kekantor, kak."
"Iya, sebaiknya kamu memang harus kembali kekantor. Karna aku tidak ingin, adanya kesalahan dalam perusahaan," ucap kakak ku.
Aku terdiam, ketika kakak mengatakan hal yang sulit untuk aku pahami barusan. Aku masih belum bisa mencerna, apa yang kakak maksud dengan berkata seperti itu.
Baru saja aku ingin membuka mulut untuk bertanya. Ponselku yang berada di saku celana ini berbunyi dengan keras. Menghentikan apa yang seharusnya aku lakukan.
"Hallo," ucapku menjawab telfon yang ternyata dari kantorku.
"Hallo, Tuan Mulya. Saya ingin bilang, kalau ada seseorang sedang menunggu Tuan Mulya di kantor."
"Baik, saya akan kesana sekarang."
Aku mematikan sambungan telfon dari sekretarisku. Lalu pamit pada kakak, untuk segera kembali kekantor.
Aku yang emosi, sampai lupa untuk bertanya, siapa yang sedang menunggu aku saat ini? Hal itu sukses membuat aku terus berpikir, siapa orang yang sedang menunggu aku saat ini?
__ADS_1
Aku pacu mobil sekencang yang aku bisa. Karna jalanan lumayan ramai, membuat aku terpaksa harus mengalah dan sedikit bersabar.
Pada akhirnya, aku sampai di kantor juga. Walau dengan waktu yang lumayan lama. Dan aku juga harus menahan rasa penasaran di kepalaku saat berada di jalan raya tadi. Untung saja tidak terjadi apa-apa padaku saat berkendara dengan pemikiran yang tidak menentu.
"Hana! Di mana orang yang sedang menunggu aku?" ucapku saat aku sampai di kantor.
"Orangnya ada di dalam ruangan Tuan Mulya. Ia bilang, jangan bilang siapa namanya. Karna ia ingin Tuan segera datang dan menemuinya. Karna ia punya info yang sangat penting untuk Tuan," kata Hana menjelaskan.
"Baiklah, aku akan segera menuinya."
Aku berjalan menuju ruanganku, meninggalkan Hana yang dengan wajah penasaran yang mungkin ia tahan.
Apakah orang ini tidak tahu, kalau ia sedang berhadapan dengan siapa? Ia benar-benar mempermainkan aku sekarang. Saat aku masuk, ia tidak melihat kearah aku sedikitpun. Ia malah terdiam seperti patung saja.
Dari tubuhnya, aku seperti mengenali orang ini. Namun, aku tidak ingin salah menebak. Untuk itu, aku berniat untuk membuka topeng yang ia gunakan sekarang juga.
Baru saja tanganku ingin menyentuh wajah orang yang terbaring di atas sofa ini. Tanganku dengan cepat ia cegah.
"Mau apa kamu!" teriak orang tersebut membuat aku kaget.
__ADS_1
"Siapa kamu?"
"Siapa aku, aku rasa tidaklah penting. Yang jelas, aku datang kesini hanya untuk menyampaikan sebuah info yang sangat berguna padamu."
"Info apa? Ayo cepat katakan. Jika info itu tidak berguna bagi aku, kamu tahu sendiri, apa akibatnya."
"Hahaha, aku rasa info kali ini sangat penting dan sangat berguna bagimu. Karna aku yakin, info ini adalah info yang ingin kamu cari kebenarannya selama ini."
"Sudahlah, jangan berbelit-belit. Katakan saja sekarang padaku, aku tidak suka bertele-tele."
"Mulya-Mulya, kamu pikir aku ini apaan. Masa mau memberitahukan sebuah info, langsung kasih tahu saja, tanpa ada acara tukar menukar."
"Apa yang kamu inginkan sebenarnya? Katakan saja tanpa harus membuang banyak waktu ku."
"Terlalu sadis kamu, Tuan Mulya yang terkenal. Tapi ... baiklah, mungkin berterus terang akan lebih baik. Sama seperti kamu, aku juga tidak suka membuang waktu dengan bertele-tele."
Aku semakim kesal saja dengan orang bertopeng ini. Ia bilang tidak suka bertele-tele, tapi kenyataannya, ia malah semakin banyak mengulur waktu.
Ntha apa yang orang ini rencanakan. Tapi, aku jelas-jelas merasa kalau orang ini sangat tidak asing lagi bagiku. Orang ini, seperti orang yang aku kenal.
__ADS_1
"Apa kamu tidak ingin bicara? Kalau kamu hanya ingin membuang waktu ku, sebaiknya kamu pergi sekarang. Sebelum aku berubah pikiran, dan menjadikan kamu santapan makan siangku."