Aku Bukan Laki-laki

Aku Bukan Laki-laki
Bab 48


__ADS_3

Kakak ku sudah tidak bisa di selamarkan lagi. Ia telah menyusul suaminya, untuk meninggalkan dunia ini.


Setelah dokter mengatakan, kalau kakak ku sudah meninggal. Hatiku semakin sakit dan bertambah pula rasa takut dalam hatiku. Aku takut akan keadaan Alina yang masih berada di dalam sana.


Aku berlari, meninggalkan dokter dan kakak ku yang sudah tidak bernyawa lagi. Aku tidak peduli lagi, apa yang dokter itu katakan. Yang ada dalam pikiran ku saat ini hanyalah, Alina. Bagaimana keadaannya? Apakah dokter sudah keluar dari kamarnya atau belum? Dan semua yang ada dalam pikiranku saat ini hanyalah, Alina, Alina, dan Alina.


"Bagaimana keadaan, Alina?" tanyaku pada Ryan, sambil masih menahan napas karna baru saja lari.


"Kamu kenapa sih, Mul? Kok lari-larian gitu," kata Ryan malah balik bertanya.


"Sudah, jawab saja apa yang aku tanyakan. Apa dokter susah keluar dari kamar, Alina?"


"Belum, Mulya. Kamu ke ...."


Perkataan Ryan terhenti, karna pintu ruangan itu terbuka dengan lebar. Lalu, seorang dokter perempuan muncul dari ruangan itu.


"Bagaimana keadaan Alina, Dok?" tanyaku dengan cepat sambil memegang kedua lengan dokter.


"Iya Dok, bagaimana keadaan adik saya?" tanya Ryan pula.


"Tenang, pasien telah melewati masa kritisnya. Hanya saja, karna mengalami kekurangan banyak darah, pasien butuh waktu sedikit lebih lama untuk sadar dari komanya."


Penjelasan dokter, mampu membuat hatiku yang resah menjadi sedikit lebih tenang. Aku juga bisa bernapas dengan baik, setelah mendengarkan, kalau Alina sudah melewati masa kritisnya.


"Aku sudah bilang, kalau Nino adalah anak yang kuat, Mulya," kata Ryan sambil menepuk pundakku.

__ADS_1


Aku tersenyum lega, ku lepaskan tangaku yang sedang memegan kedua lengan dokter sejak tadi.


"Terima kasih banyak dokter," kataku dengan nada yanh sangat lega.


"Sama-sama," kata dokter itu sambil pamit lalu meninggalkan kami.


"Mulya," kata seseorang sambil menyentuh pundakku.


Sontak, aku langsung membalikkan badan dan melihat, siapakah yang telah memanggil namaku.


"Papa!" kataku dengan mata sedikit melebar.


"Di mana kakak mu?"


Aku baru ingat, kalau aku telah melupakan kakak. Karna terlalu mencemaskan keadaan Alina tadinya.


"Di mana ruangannya?"


"Papa, maafkan aku. Aku tidak bisa menjaga kakak. Karna aku, kakak ...."


"Tidak perlu merasa bersalah, Mulya. Papa tidak akan menyalahkan kamu, semua ini tidak akan terjadi, jika kakak kamu tidak keras kepala."


"Apakah papa akan tetap menyalahkan kakak, kalau papa tahu, saat ini kakak sudah tidak bernyawa lagi, pa?"


Papa terdiam tanpa kata, mata tuanya mulai berkaca-kaca, saat mendengarkan apa yang aku katakan.

__ADS_1


"Di mana kakak kamu sekarang?"


"Di ruangan Melati," ucapku sedikit lemas.


Papa berjalan meninggalkan aku tanpa sepatah katapun sambil di ikuti oleh beberapa anak buah yang selalu patuh dengan arahan papa.


"Mulya."


Ryan menyentuh bahuku dengan lembut. Ia terlihat ikut merasakan prihatin, dengan apa yang aku rasakan saat ini.


"Apa yang telah terjadi pada kakak mu, Mulya?"


"Tidak ada."


"Kamu bisa berbagi padaku, Mulya. Katakan saja apa yang telah terjadi. Untuk saat ini, lupakan perselisihan yang telah tercipta, antara aku dan kamu."


Hatiku tiba-tiba merasa hangat saat Ryan mengatakan perkataan tersebut. Aku pikir, ia akan jadi orang pertama yang akan menertawai aku, dengan apa yang telah terjadi padaku. Karna aku telah menjadi, orang yang paling jahat dalam hidupnya di masa lalu.


"Aku ... kakak ku sudah tidak ada lagi sekarang, Ryan. Ia dan suaminya telah meninggal karna kehilangan banyak darah, dan juga, organ tubuhnya ada yang rusak, akibat tembakan itu."


Ryan memeluk aku yang sedang sedih sekarang. Ia berusaha membuat aku merasa tenang dengan apa yang telah terjadi.


"Aku tahu ini berat, Mulya. Tapi kamu harus kuat dan tetap bersabar dengan apa yang terjadi."


"Apakah kamu tidak ingin mengejek aku saat ini, Ryan. Karna di masa lalu, aku adalah orang yang telah membuat kamu kehilangan kebahagiaan," kataku sambil terus memeluk Ryan dengan erat.

__ADS_1


"Mulya, memaafkan lebih indah, dari pada menyimpan dendam. Karna, dengan memaafkan, hatimu akan merasakan kedamaian. Hidupmu akan jauh lebih tenang," kata Ryan dengan mantap.


Perkataan itu bagaikan sebuah tamparan yang sangat keras buat aku. Karna selama ini, aku berusaha membalas dendam. Aku menyimpan dendam, sehingga, hatiku selalu merasa sakit dan selalu merasa gelisah.


__ADS_2