Aku Bukan Laki-laki

Aku Bukan Laki-laki
Bab 53


__ADS_3

Tanpa membuang banyak waktu lagi, aku langsung berusaha bangun dari tempat tidurku. Mulya membantu aku untuk bangun, saat ia melihat, aku agak sedikit kesulitan buat bangun.


Tubuhku yang masih sangat lemah, terasa sempoyongan saat aku paksakan untuk berjalan. Jangankan berjalan, berdiri aja aku rasa sangat tidak enak.


Mulya dengan penuh perasaan, membantu aku untuk berjalan menuju mobil. Sedangkan kak Ryan, mengikuti kami dari belakang.


"Hati-hati," kata Mulya sambil membantu aku masuk kedalam mobil.


Aku tidak menjawab apa yang Mulya katakan. Hanya diam seribu bahasa, sambil duduk lemas di tempat duduk belakang. Sedangkan, kak Ryan duduk di depan sebagai sopir, dan Mulya ikut duduk di belakang bersama ku.


Tidak ada sepatah katapun dari kami bertiga. Yang ada, hanya bunyi mesin mobil dan riuh suara orang yang berlalu lalang, sama seperti kami.


Untungnya, jalan tidak macet. Sehingga, kami bisa sampai dengan cepat, ketempat yang ingin kami tuju.


"Alina, kita sudah sampai sekarang," ucap kak Ryan sambil menghentikan mobil di salah satu pemakaman.


"Jadi, ini tempat mama, kak?"


"Iya, di sinilah mama kamu di makamkan."


Mulya kembali membantu aku untuk turun dari mobil. Karna memang, tubuhku yang masih lemah sangat membutuhkan bantuan dari seseorang, agar tetap bisa berjalan tanpa terjatuh.

__ADS_1


Kak Ryan berjalan duluan sebagai penunjuk jalan. Sedangkan aku dengan Mulya, berjalan di belakang, mengikuti langkah kaki kak Ryan.


Lima menit berjalan, kami baru sampai di salah satu makam yang tanahnya masig terlihat basah. Di sana, tertancap papan nama, untuk memandakan makam siapa itu.


Mataku tidak bisa untuk tidak menjatuhkan air mata, saat aku melihat papan nama yang bertuliskan nama mama. Ada rasa pilu dalam hati ini, ketika aku melihat gundukan tanah yang masih basah ini.


"Mama," ucapku dengan nada lirih dan parau.


"Kenapa mama meninggalkan aku secepat ini sih, ma? Aku masih ingin bersama mama. Walaupun ...."


Kata-kataku terhenti, karna aku tidak mungkin melanjutkan perkataanku yang tidak baik tentang mama. Apalagi dihadapan makam mama saat ini.


Benar apa yang orang katakan, kalau sudah tidak ada saja, baru merasakan, kalau kita sayang akan seseorang yang telah membuat kita kecewa.


Sama seperti aku, rasa kecewa itu telah hilang, saat aku tahu kalau mama telah tiada. Rasa kecewa itu hanya sesaat, tapat saat aku tahu, kalau mama bukan mama kandungku.


"Sudahlah dek. Jangan tangisi apa yang telah terjadi. Karna ini semua adalah takdir yang Tuhan telah tetapkan pada kamu. Cari hikmahnya saja, dari apa yang terjadi ya," kata kak Ryan dengan lembut.


"Iya Alina, jangan pernah sesali apa yang telah terjadi. Semua ini adalah cobaan untuk kita," kata Mulya sambil membantu aku untuk berdiri.


"Kita? Kenapa kita? Bukankah, kamu tidak suka sama mama, Mulya?"

__ADS_1


"Lina, Mulya juga merasakan kehilangan akibat kejadian besar waktu itu."


"Maksud kakak?"


"Udah, nanti kita ceritanya di mobil aja. Gak baik cerita hal-hal yang tidak-tidak di sini. Hormati yang telah tiada," kata Mulya.


Aku, Mulya, dan kak Ryan, memilih untuk pulang. Walau sebenarnya, aku engan untuk pulang saat ini. Tapi, hari sudah mulai senja. Dan mereka juga berjanji, akan menceritakan apa yang ingin aku tahu saat kita sudah ada di rumah.


....


Saat kami sampai di rumah, hari sudah gelap.


"Kak Ryan, Mulya, kalian tidak bisa pulang sebelum kalian selesai menceritakan apa yang terjadi setelah kejadian itu," kataku dengan tegas, saat mereka berdua bersiap-siap ingin pulanh setelah mengantarkan aku pulang kerumah.


Mau tidak mau, mereka berdua terpaksa menuruti apa yang aku katakan. Mereka tidak punya pilihan lain, selain menceritakan secara terus terang padaku.


Di mulai dari Mulya, yang bercerita apa yang terjadi pada kakaknya setelah mendapatkan tembakan. Ia juga bercerita, kalau papaku tidaklah pergi keluar negeri, melainkan, ia juga meninggal.


"Kenapa kalian sembunyikan semua ini dari aku. Kenapa kalian bohong padaku?"


"Maafkan kami, Alina. Kami tidak ingin, kesehatan kamu semakim memburuk saat itu. Makanya, kami lebih memilih untuk berbohong dan menyembunyikan semuanya dari kamu. Saat kamu bertanya, bagaimana keadaan orang-orang mereka, kami tidak punya cara lain, selain mengatakan sebuah kebohongan tentang orang yang kamu tanyakan," jelas Mulya panjang lebar.

__ADS_1


__ADS_2