Aku Bukan Laki-laki

Aku Bukan Laki-laki
Bab 43


__ADS_3

Setelah mama pergi, aku juga berniat ingin pergi meninggalkan kak Ryan sendirian di ruang tamu.


"Nino, tunggu!" kata kak Ryan dengan lembut.


"Ada apa?"


"Kamu dari mana, No? Kenapa pergi dari siang, pulangnya hampir malam?"


"Itu bukan urusan kaka," ucapku dengan sangat ketus.


"Nino, kakak tahu kamu sedang marah sama mama kamu. Tapi tolong, jangan marahnya berimbas sama kakak juga dong."


Aku diam, apa yang kaka Ryan katakan ini memang benar. Aku marah sama mama, tapi tidak harus marah sama kak Ryan juga bukan?


"Maaf kak, aku sedang sangat capek dan juga terlalu gerah. Biarkan aku kekamar dan mandi terlebih dahulu, baru kaka bisa bertanya padaku, dari mana aku."


"Ya sudah, kamu mandi sana."


Aku meninggalkan kak Ryan sambil memaksakan untuk tersenyum, walau rasanya sangat sulit. Karna memikirkan, apakah kak Ryan benar-benar tidak tahu siapa aku, atau ia hanya pura-pura polos saja saat bersamaku.


Selesai mandi dan berpakaian seperti biasa. Ku benamkan tubuh ini di atas kasur empuk yang selalu menjadi saksi bisu, bagaimana perasaan ku menuruti semua keinginan mama selama ini.


Tiba-tiba, aku memikirkan Mulya dan semua perlakuannya padaku tadi sore. Aku bangun dari baringku dengan sangat cepat.

__ADS_1


"Apakah, aku dan Mulya sudah menjadi sepasang kekasih sekarang?" kataku dalam hati sambil terus memikirkan apa saja yang sudah terjadi antara aku dan Mulya.


Pintu kamar tiba-tiba saja di ketuk oleh seseorang dari luar sana. Dengan malas, aku bangun dari duduk ku, lalu berjalan menuju pintu.


Sebelum membuka pintu kamar ini, aku pastikan dulu siapa orang yang ada di depan sana, lewat lubang kecil yang terdapat di tengah-tengah pintu ini.


Ternyata, yang ada di luar sana adalah kak Ryan. Dengan cepat, aku memasang baju dan rambut palsu, lalu membuka pintu kamar dengan cepat.


"Maaf kak, aku baru aja selesai mandi," kataku dengan sangat manis pada kak Ryan.


"Lama amat sih kamu mandinya, No. Seperti perempuan saja kamu," kata kak Ryan sambil terus masuk kedalam kamar.


Aku hanya tersenyum ketika kak Ryan mengatakan, kalau aku mirip perempuan. Ingin sekali aku katakan pada kak Ryan, kalau aku ini memang perempuan. Tapi sayangnya, itu tidak bisa aku lakukan. Karna aku dan Mulya punya rencana jitu untuk menjebak mama.


"Nino, apa kamu sudah lihat anak Bupati yang akan orang tua kamu tunangkan itu?"


"Oh, semoga saja, gadis yang akan orang tua kamu tunangkan itu adalah gadis yang cantik dan baik, ya No."


"Iya kak, semoga saja sesuai harapan."


"Dan semoga saja, apa yang aku dan Mulya rencanakan berjalan lancar," kataku dalam hati.


"Oh ya, apa saja persiapan yang sudah kamu siapkan, No?"

__ADS_1


"Tidak ada kak, hanya mengikuti apa yang mama katakan saja."


Malam itu, aku dan kak Ryan bicara lumayan banyak. Terlepas dari acara pertilunangan aku dengan gadis yang tidak pernah aku lihat sebelumnya.


Gila, kali aja gitu, aku di tunangkan dengan gadis. Itu namanya, jeruk makan jeruk. Aku inikan perempuan asli, ogah banget aku mau sama sesama jenis.


Kalau bukan karna rencana Mulya, aku sudah tidak akan menunggu lama lagi buat kabur dari rumah ini. Setelah aku tahu, kalau aku ini bukan anak mama, maka tidak ada alasan aku untuk tinggal di sini lagi.


Memikirkan untuk bertunangan, sangat membuat aku merasa mual. Ingin sekali aku muntah, saat membahas soal pertunangan ini.


Mulya POV


Hari ini, aku minta Mika datang ke tempat biasa kami bertemu. Tempat di mana aku dan Mika selalu makan bersama.


Aku ingin mengakhiri apa yang telah terjadi, antara aku dan Mika, sekarang juga. Karna hubungan ini tidak mungkin untuk aku lanjutkan.


"Hai sayang, sudah lama kamu nunggu aku? Maaf ya, aku banyak kerjaan soalnya," kata Mika sambil duduk lalu bersikap begitu manja.


"Mika, mulai saat ini, kamu tidak usah bersikap manja seperti itu lagi saat melihat aku."


Mika terlihat sangat kaget dengan apa yang aku katakan.


"Apa yang kamu maksudkan?"

__ADS_1


"Mulai saat ini, kamu aku bebaskan. Kamu bebas untuk jatuh cinta pada siapapun sekarang."


"Apa yang kamu bicarakan ini, Mulya. Aku semakin tidak mengerti."


__ADS_2