
"Kamu tidak akan bisa keluar dari sini," kata Mika dengan sedikit senyum jahat di bibirnya.
"Kenapa?"
"Karna ada sesuatu yang akan terjadi pada kamu," ucap Mika lagi.
Mika dan kak Ryan berjalan mendekat. Sedangkan aku, aku sangat berharap pintu terbuka dengan segera.
Harapan ku jadi kenyataan. Tiba-tiba, pintu terbuka lebar, memperlihatkan Mulya yang sedang bersimpuh sambil memegang sebentuk cincin berlian.
"Alina .... maukah kamu menjadi istriku?" tanya Mulya dengan bangganya.
Aku yang awalnya takut, kaget, dan bingung, saat ini berubah menjadi kesal bercampur bahagia.
Karna, bukan hanya Mulya yang sedang bersimpuh di pintu kamar ini. Melainkan, ada beberapa suster yang membawa kertas yang bertuliskan, terima Mulya. Dan tidak lupa, dokter yang selalu merawat aku sela. Beberapa bulan ini, ia juga ikut hadir. Dokter itu membawa buket bunga mawar yang besar.
Aku terharu melihat semua yang telah Mulya siapkan untukku. Aku melihat kak Ryan dan Mika yang berada di belakangku saat ini. Mereka berdua tidak melihat aku, melaikan, melihat sekita ruangan dan pura-pura tidak ada hal yang terjadi barusan.
Aku tidak bisa menahan perasaan campur aduk yang aku rasakan saat ini. Air mata tiba-tiba saja mengalir ketika mereka semua berucap, "terima ... terima ... terima ...."
"Terima gak nih? Kalau gak mau terima, aku aja deh yang terima lamarannya, gimana?" tanya Mika dari belakang.
__ADS_1
"Terus, aku mau kamu kemanakan? Kita juga udah tunangan lho ya, masa kamu gak ingat sih," kata kak Ryan dengan wajah kesal yang dibuat-buat.
"Oh iya yah, kamu adalah calon suami aku. Aku sedikit lupa, karna lihat lamaran yang sangat romantis saat ini," kata Mika dengan bahagia.
Aku tersenyum bahagia, mendengarkan candaan antara Mika dan kak Ryan.
"Ayo, Alina. Cepat terima lamaran Mulya, agar aku gak baperan lama-lama," kata Mika lagi.
"Iya, iya. Aku terima lamaran ini, Mulya."
Mulya bangun lalu memeluk tubuhku. Lalu, ia memakaikan cincin berlian ini kejari tanganku. Pas sekali ukuran cincin ini, tidak longgar mau pun ketat sedikitpun. Ntah bagaimana ia tahu, ukuran jari ku, hingga cincin ini begitu cocok pada jariku.
Setelah selesai sesi lamaran, para suster dan dokter pun meninggalkan kami. Inilah saat yang paling aku tunggu-tunggu. Saat di mana hanya ada kami berempat saja.
"Emmm, itu ... maafkan kami, kami hanya menjalankan tugas saja," kata kak Ryan dengan wajah bersalahnya.
"Iya, Lina. Kami tidak tahu apa-apa soal ini, yang telah mengaturnya adalah ... itu, calon suami kamu," kata Mika ikut membela.
"Mulya ...." kataku dengan suara penuh kekesalan.
"Sayang, apa kamu lihat gaun pernikahan ini sangat bagus sekali, bukan? Bagaimana? Apa ini cocok sama apa yang kamu harapkan?"
__ADS_1
"Oh iya, aku lupa kalau, ini," kata Mulya sambil menyerahkan buket bunga mawar padaku.
Mulya berusaha mengalihkan perhatianku soal apa yang telah mereka lakukan barusan. Anehnya, itu semua berhasil. Aku tidak marah pada Mulya. Aku malahan berterima kasih padanya, karna telah membuat banyak rasa sekaligus, saar hari pertama aku keluar dari rumah sakit.
Aku tahu, kalau ini adalah hari yang sangat membahagiakan bagiku. Hari di mana, aku bisa menjadi diriku yang sesungguhnya. Mendapatkan cinta dari seorang laki-laki yang disaksikan banyak orang.
...
Satu minggu setelah lamaran itu, Mulya sudah sibuk dengan persiapan pernikahan kami. Sedangkan aku, Mulya tidak mengizinkan aku untuk ikut mempersiapkan pernikahan ini.
Katanya, biarkan ia saja yang melakukan persiapan, bersama kak Ryan dan Mika. Aku harus menjadi putri yang paling cantik dan bahagia nantinya, tanpa ada rasa lelah sedikitpun.
Aku disuruh beristirahat di villa yang telah ia siapkan. Sejak aku pulang, aku sudah tidak tinggal di villa mama lagi. Mulya melarang aku untuk tinggal di sana. Aku juga tidak ingin tinggal di sana. Karna itu bukan milik aku, aku bukan anak kandung mama dan papa.
Tapi aku selalu bertanya pada kak Ryan. Bagaimana kabar mama di dalam penjara saat ini. Apakah mama baik-baim saja di sana?
Walau bagaimanapun, mama itu tetaplah orang yang telah berjasa buat hidupku. Mama yang telah membesarkan aku, walau bukan mama yang telah melahirkan diriku, tapi tetap saja, dia adalah mamaku.
Aku tiba-tiba saja merindukan mama saat ini. Aku ingin minta restu sama mama, sebelum hari pernikahan ku nantinya.
Aku sudah bilang pada kak Ryan. Meminta ia datang kerumah, untuk membicarakan sesuatu yang tidak bisa aku bicarakan lewat telfon.
__ADS_1
Saat ini, aku sedang menunggu kedatangannya di taman samping rumah. Menunggu dengan sabar, walau sebenarnya aku bukan orang yang sabar kalau disuruh menunggu.