
Chat itu membuat aku berada dalam dilema. Apa yang sebenarnya Mulya inginkan? Kenapa ia meminta aku untuk datang keCafe Hocy. Bukankah cafe itu letaknya sangat jauh dari villa yang aku tinggali.
Aku benar-benar berada dalam sebuah dilema saat ini. Mama tidak mengizinkan aku untuk keluar dari villa, selama aku belum bertunangan dengan anak Bupati itu.
Mama bilang, akan banyak orang yang akan mencoba menghalangi pertunangan aku dengan anak Bupati nanti. Makanya, aku tidak boleh keluyuran kemanapun.
Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan saat ini? Jika aku tidak pergi, apakah Mulya benar-benar akan melaporkan aku kekantor polisi? Karna bagaimanapun, aku memang sedang melakukan sebuah penipuan saat ini.
Ini adalah penipuan publik yang mungkin akan dikenakan hukuman yang berat nantinya.
Dengan berat hati, aku memilih untuk menemui Mulya sekarang juga. Karna jika aku ketahuan bohong, maka bukan hanya aku yang akan masuk penjara, melainkan mama juga akan masuk kedalam penjara akibat bersekongkol dengan aku.
"Bibik, di mana mama?" kataku pada salah satu pelayan yang bekerja di villa ini.
"Nyonya besar sedang keluar, Tuan muda."
"Keluar? Kemana bik?"
__ADS_1
"Maaf Tuan muda, saya tidak tahu. Nyonya tidak meninggalkan pesan atau apapun."
"Oh, baiklah bik. Bibik bisa lanjutkan pekerjaan bibik," ucapku sambil berjalan meninggalkan bibik.
Aku masuk kedalam kamar, lalu memakai baju perempuan kemudian memakai baju laki-laki di luarnya. Lalu, aku berjalan meninggalkan rumah ini.
"Maaf Tuan muda. Nyonya besar berpesan, Tuan muda tidak diizinkan untuk keluar hari ini," kata salah satu penjaga mencoba menghalagi langkah kaki ku.
"Aku keluar karna papa yang meminta aku untuk menemuinya. Jadi kamu tidak perlu cemas mama marah padaku. Aku juga tidak akan keluar rumah, jika papa tidak meminta aku untuk keluar," ucapku berbohong demi bisa lolos dari penjaga.
Aku yakin, dengan berbohong seperti ini, penjaga tidak akan menelfon mama untuk mengatakan, kalau aku keluar dari rumah.
"Aku rasa, kamu tidak perlu repot-repot. Karna papa sudah mengirikan aku sebuah mobil untuk menjemput," ucapku berusaha setenang mungkin, agar penjaga ini tidak merasa curiga.
"Baiklah kalau begitu, Tuan muda hati-hati di jalan."
"Ya, kamu jaga rumah dengan baik," ucapku sambil berjalan santai agar tidak terlihat, kalau aku sedang bohong saat ini.
__ADS_1
Dengan bantuan google maps, aku bisa dengan mudah menemukan letak cafe Hocy yang Mulya katakan.
Aku turun dari taksi online yang aku pesan sebelum aku keluar dari rumah tadi.
"Mas, bisakah kamu keluar dari mobil ini sebentar?" pintaku pada sopir taksi online itu.
"Anu ... apa yang ingin kamu lakukan dalam mobilku?" tanya sopir itu dengan wajah yang sedikit cemas.
Aku mengerti sih apa yang sopir ini rasakan. Karna aku ini adalah penumpang online yang baru pertama kali ia lihat. Jelas saja kalau ia punya banyak pemikiran yang negatif saat aku minta ia untuk keluar sebentar.
"Mas, aku ingin ganti baju sebentar. Kamu bisa bawa semua yang berharga keluar dari mobil ini. Aku tidak akan melakukan apa-apa, selain numpang ganti baju."
"Apa kamu bisa di percaya? Sekarang banyak orang yang suka modusin orang lain. Maafkan saya Tuan muda, tapi rasanya saya tidak bisa."
"Ya sudah, kalau kamu tidak bisa membiarkan aku ganti baju di dalam mobil ini, aku tidak masalah. Aku hargai keputusan kamu," ucapku sambil membuka pintu mobil.
"Mmm, Tuan muda, maafkan saya. Silahkan Tuan kuda ganti bajunya, saya tidak keberatan kok."
__ADS_1
Aku terdiam saat mendengarkan apa yang sopir itu ucapkan. Wajahnya yang tidak enak, ketika memutuskan untuk mengizinkan aku ganti baju, tergambar dengan sangat jelas.
"Jika mas tidak bersedia, saya tidak akan memaksa kok mas. Saya ini hanya ingin numpang, tidak untuk memaksa orang kok," ucapku sambil tersenyum manis untuk menghilangkan rasa tidak enak hati.