Aku Bukan Laki-laki

Aku Bukan Laki-laki
Bab 36


__ADS_3

"Ya ampun, kayaknya terlaly mengerikan sekali cara kamu bicara ini," kata orang itu malah mengajak aku bercanda.


Apakah orang ini tidak tahu, kalau aku sekarang sedang kesal dan siap untuk memakannya bulat-bulat sekarang.


"Keluar kamu sekarang!"


Aku sudah tidak bisa menahan emosiku lagi. Dari awal bertemu, ia hanya membuat aku menunggu lagi dan lagi.


Ia terus-terusan membuat aku menahan rasa penasaran yang semakin lama semakin memuncak. Dan pasa akhirnya, rasa penasaran itu berubah menjadi gunung merapi yang siap meledak.


"Hahahaha ... santai sobat, kamu tidak perlu nge gas gitu dong," kata orang itu sambil berusaha membuka topengnya.


"Roy!"


Aku kaget ketika orang itu membuka topeng yang ia kenakan sejak tadi.


Pantas saja ia begitu berani membuat aku kesal dan emosi. Ternyata, dia adalah orang yang aku kenal dengan baik.


"Kamu!" ucapku sangat kesal dan berjalan menghampirinya, lalu menonjok perut Roy dengan sedikit tenaga saja.


"Aduh ... gila kamu ya. Sakit tahu," ucap Roy sambil meringis kesakitan.

__ADS_1


"Itu balasan untuk kamu yang telah membuat aku menunggu terlalu lama."


"Cepat katakan apa yang kamu dapatkan dari perjalanan mu keluar begeri," kataku tanpa memberi waktu buat Roy mengulur waktu lagi.


"Ya ampun, gak sabaran banget kamu. Aku masih kesakitan ini, karna aku beneran menonjok perut ku."


"Jangan lembek, aku hanya mengunakan 0,05% saja dari tenaga yang aku miliki. Itupun karna kamu yang bikin ulah tadinya."


"Apa! 0,05% kamu bilang? Gila, ini sakit banget tahu gak."


"Sudah, jangan ulur waktu lagi. Jika kamu tidak ingin bicara juga, maka terpaksa, aku akan kirimkan kamu kepadang pasir untuk menemani unta-unta yang sedang kesepian di sama."


"Gilak, bisanya cuma ngancem aja kamu. Tapi baiklah, aku akan bilang apa rahasia besar yang aku punya."


"Ya Tuhan, aku udah mau bilang ini ... kenapa kamu malah merusak ingatanku."


Aku memberikan Roy sebuah tatapan tajam yang sangat mematikan. Membuat laki-laki itu merasa tidak punya nyali untuk menjawab dengan beberapa alasan lainnya lagi.


"Mulya, dari hasil penyelidikan ku, aku menemukan sebuah informasi penting tentang anak dari Herman itu. Yang pertama, ia bukanlah seorang laki-laki, melainkan, seorang gadis yang sangat cantik."


"Aku sudah tahu kalau yang itu, apa tidak ada info yang lain? Yang lebih berguna lagi bagi aku," ucapku sambil sibuk melihat laptop.

__ADS_1


"Apa! Yang benar saja kamu sudah tahu kalau Nino itu adalah perempuan!" kata Roy dengan sangat amat kaget.


"Sudah, lain kali aku jelaskan. Sekarang adalah tugas kamu untuk mengatakan apa saja info yang kamu ketahui."


"Oke, kamu berhutang satu penjelasan padaku. Aku akan minta kamu untuk menjelaskannya nanti. Info yang kedua, anak yang sekarang ada pada istri pertama Herman itu, sebenarnya bukan anak kandung wanita itu me ...."


"Apa!"


Aku sangat kaget ketika Roy mengatakan kalau Alina bukan anak kandung mamanya.


"Ulangi sekali lagi, apa yang kamu katakan barusa!"


"Makanya, jangan potong apa yang aku katakan. Jika tidak, kamu tidak akan mengerti dengan apa yang aku sampaikan. Lagian, tidak perlu sekaget itu juga dong. Kan aku juga ikut kaget jadinya."


"Aku minta kamu ulangi apa yang kamu katakan. Jangan banyak membantah apa yang aku minta."


"Iya, iya, aku akan ulangi lagi. Awas aja kalau kamu berani memotong perkataanku lagi. Aku tidak akan menceritakan apa yang terjadi."


"Coba saja, jika kamu benar-benar ingin tinggal di padang pasir yang gersang, bersama para unta," ucapku penuh dengan nada ancaman.


"Oke, aku lanjut. Menurut hasil dari penyelidikan ku selama beberapa minggu ini, anak dari perempuan itu telah meninggal dunia. Alasannya, karna kekurangan gizi yang anak itu derita, sehingga anak itu tidak mampu bertahan hidup. Pada akhirnya, demi balas dendam yang ia rencana pada orang yang membuat ia sakit hati. Ntah bagaimana cara ia mendapatkan anaknya yang sekarang, aku juga tidak tahu hal itu. Karna aku tidak menemukan info tentang anak itu dengan jelas."

__ADS_1


"Jadi, gadis itu bukan anak Herman. Pantas saja aku tidak merasakan sedikitpun kebencian saat bersama Alina."


__ADS_2