Aku Bukan Laki-laki

Aku Bukan Laki-laki
Bab 54


__ADS_3

"Adek, apa yang kami lakukan, hanyalah untuk kepentingan kamu saja. Karna kesehatan kamu saat itu sangat buruk, sehingga kami tidak punya cara lain, selain membohongi kamu."


Aku terdiam, tidak berniat untuk menjawab apa yang mereka katakan. Mungkin mereka ada benarnya. Saat itu, kesehatan ku memang tidak baik. Jika dapat kabar buruk, mungkin akan menambah buruknya kondisi ku saat itu.


"Baiklah, mungkin kalian ada benarnya. Tapi, jangan pernah berbohong lagi pada ku. Terutama kamu, Mulya. Jangan pernah bohong lagi pada ku untuk kedepannya. Jika aku tahu kamu bohong lagi, maka kamu akan tahu apa akibatnya," kataku sambil mengarahkan telunjuk pada Mulya.


"Siap! Tidak akan mengulangi lagi yang mulia, hamba janji akan jujur kedepannya," ucap Mulya, sambil mengangkat kedua jarinya.


"Awas aja kalo ketahuan bohong. Habis kamu sama aku," kataku dengan tampang galak yang sengaja aku tunjukkan untuk menakuti Mulya.


"****** kamu, Mul. Belum nikah aja udah dapat peringatan tuh," kata kak Ryan dengan suara pelan, tapi masih bisa aku dengar.


"Bukan hanya untuk, Mulya saja. Ini juga berlaku buat kakak. Ingat aja, kalo kaka bohong, kakak juga akan terima akibatnya."


"Lho, kok aku juga kena sih?"


"Jangan banyak bicara. Sekarang, aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada mama. Kak Ryan, apa penyebab mama meninggal?" tanyaku dengan nada yang kembali sedih saat ingat kalau mama telah tiada.


Kak Ryan menarik napas panjang sebelum ia menceritakan apa yang telah terjadi pada mama.

__ADS_1


"Alina, mama kamu meninggal, karna bunuh diri. Ia tidak sangup menahan rasa sedih di hatinya. Ia lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya, dengan menggoreskan urat nadinya menggunakan silet."


Aku tidak bisa menahan tangisan ku saat ini. Aku ikut mersakan, betapa sedihnya mama saat itu. Karna aku dan mama, sudah hidup bersama sejak lama.


Sejak kecil, aku dan mama hanya hidup berdua. Aku tahu, apa yang mama rasakan sejak aku masih sangat kecil. Mama selalu sedih, dan tidak jarang menangis saat sendiri.


Tapi, mama berubah jauh saat ia pulang ke tanah air. Mungkin karna mama punya dendam di sini, yang membuat hatinya menjadi selalu tertutupi dengan amarah.


"Mama pasti mendapatkan perlakuan yang tidak baik saat proses tahanan, kan kak Ryan?"


"Menurut polisi yang kakak kenal, tidak ada perlakuan buruk yang tante dapatkan. Karna kondisi kesehatan tante juga bermasalahan, sehingga ia tidak terlalu bisa di perlakukan dengan buruk."


Aku tidak bisa menaggapi perkataan kak Ryan dengan perkataan. Karna aku tidak tahu mau berkata apa lagi. Yang aku tahu, saat ini, aku sedang sangat sedih memikirkan apa yang mama rasakan saat itu.


"Maafkan aku ma, aku menggagalkan semua yang telah mama rencanakan selama ini. Semua kegagalan mama, akulah penyebabnya. Aku minta maaf, mama," kataku dalam hati.


.....


Seminggu kemudian, aku sudah bisa menerima apa yang telah terjadi dengan mama dan semuanya.

__ADS_1


Aku mencoba berpikir positif, kalau ini semua terjadi karna sudah takdir yang menentukan. Manusia hanya bisa menjalani apa yang telah tersurat menjadi takdir buat hidup kita ini.


Hari ini, aku meminta Mulya untuk mengantarkan aku kealamat yang telah mama tinggalkan bersama surat terakhirnya. Karna tiga hari lagi, aku dan Mulya akan melaksanakan pernikahan kami.


Kami sampai di alamat yang telah tertulis di atas surat yang aku bawa.


"Kamu yakin, Lin. Kalau kita tidak salah alamat bukan?" tanya Mulya saat kami sudah sampai di salah satu rumah yang sangat megah di antara yang lainnya.


"Aku rasa, ini adalah alamat yang tepat. Karna di sini, sudah lengkap dengan nomor rumahnya sekalian," ucapku sambil menatap kertas lalu berpindah menatap noner rumah.


"Coba deh kamu lihat, kalau kamu gak percaya," kataku sambil mengulur kertas itu pada Mulya.


Mulya mengambil kertas itu, lalu ia mengangguk anggukkan kepalanya saat ia melihat nomer rumah yang tertera di rumah itu, sama persis dengan di atas kertas ini.


"Iya, ini nomernya sama persis deh. Tapi, aku kok merasa kurang yakin ya."


"Apa maksus kamu kurang yakin, Mul?"


"Ya, aku kurang yakin aja, Lin. Secara gitukan, ini adalah orang terkaya nomor dua di kota ini, tentunya setelah Herman. Tapi kenapa? Anak mereka hilang gak bisa nyari."

__ADS_1


Aku terdiam saat Mulya mengatakan hal itu. Perlahan, aku mulai mencerna apa yang Mulya maksudkan.


__ADS_2