Aku Bukan Laki-laki

Aku Bukan Laki-laki
Bab 56


__ADS_3

Kami sampai di rumah sakit yang tak jauh dari kediaman Nyonya Melati. Eh, maksudku, kediaman mama Melati.


Lalu, mama Melati menemui dokter yang ia percaya, bisa melakukan tes DNA antara aku dan dia.


Tidak butuh waktu lama, aku dan mama sama-sama di ambil sampel rambut dan darah, untuk di cek.


Dokter bilang pada mama, kalau hasilnya akan muncul dua hari lagi. Tapi mama bersikeras ingin di percepat lagi. Katanya, dua hari terlalu lama buat dia menunggu hasil dari tes DNA ini.


Dokter itupun tidak punya pilihan lain. Hasilnya tetap akan keluar dua hari lagi. Tidak bisa mempercepat prosesnya lagi sekarang. Karna prosedurnya memang seperti itu.


Akhirnya, mama dengan berat hati menerima apa yang dokter itu katakan. Kami pun pulang, kerumah masing-masing.


Sambil menunggu hasil tesnya keluar, aku masih diizinkan mama Melati untuk tinggal di rumah Mulya. Itupun dengan perdebatan yang lumayan lama, antara Mulya dengan mama.


Mama ingin aku tinggal di rumahnya sekarang juga. Sedangkan Mulya, ia ingin menunggu hasil dari tes DNA antara mama dan aku keluar, baru ia mekepaskan aku tinggal di rumah mama.


Walaupun pada akhirnya, aku juga tidak akan tinggal di rumah mama nantinya. Karna aku dan Mulya akan menikah dalam waktu tiga hari lagi.


.....


Dua hari pun telah berlalu, mama meminta aku dan Mulya untuk segera kerumah sakit. Saat ini, jam masih menunjukkan pukul tujuh pagi.

__ADS_1


Ini memang terlalu pagi untuk aku keluar rumah. Tapi karna permintaan mama Melati yang tidak mungkin aku tolak, terpaksa aku turuti.


Biasanya, aku bangun terus melakukan serangkaian kegiatan pagiku yang lumayan ribet sih.


Tapi kali ini, tidak ada rangkaian aktifitas pagi lagi. Karna mama meminta aku datang sesegera mungkin.


"Kamu yakin, kita akan datang kerumah sakit sepagi ini, Mulya?" tanyaku pada Mulya, saat ia membuka pintu mobil buatku.


"Ya, mau gimana lagi. Mama kamu itu ingin kita datang jam segini. Tidak mungkin aku bisa menolaknya. Kalau kamu terbukti anaknya, bisa-bisa, jabatan aku sebagai menantu di copot sama dia," kata Mulya sambil bercanda.


"Bisa aja kamu, Mul. Ayo jalan sekarang!"


Tidak ada yang kami bicarakan selama perjalanan menuju rumah sakit. Aku dan Mulya lebih memilih diam dengan pemikiran kami masing-masing saja saat ini.


"Ayo cepat, Nyonya Melati sudah menunggu kita di ruangan dokter pribadinya."


Aku dan Mulya bergegas menuju ruangan dokter yang kemarin kami datangi.


Mulya mengetuk pintu ruangan yang tertutup rapat itu. Terdengar suara seseorang dari dalam ruangan, yang meminta kami untuk segera masuk.


Mulya pun membuka pintu ruangan yang memang tidak di kunci dari awalnya. Ia pun membawa aku masuk kedalam setelah pintu terbuka.

__ADS_1


"Maaf Nyonya, kami berdua sudah membuat Nyonya Melati menunggu lama," kata Mulya.


"Tidak perlu terlalu sungkan seperti itu. Aku tidak masalah dengan penantian yang beberapa menit ini. Karna sekarang, aku sudah menemukan apa yang aku tunggu selama ini," kata mama Melati dengan wajah gembira dan senyum tipis di bibirnya.


"Maksud Nyonya?" tanya Mulya dengan penuh penasaran.


Mama Melati mengulurkan kertas putih yang terlipat rapi. Mulya dengan cepat mengambilnya dari tangan mama Melati.


Setelah Mulya membaca kertas itu, ia mengulurkan kertasnya kepadaku, agar aku tahu apa yang terdapat di dalam kertas itu.


Mataku membulat, saat melihat kertas putih yang ternyata adalah hasil dari tes DNA antara aku dan mama Melati.


Ternyata, aku dan mama Melati memang benar mama dan anak. Tidak ada yang bisa memungkiri lagi. Karna DNA ini memperkuat perkataan mama waktu itu.


"Sayang, kamu adalah anak mama yang selama ini mama cari. Apakah kamu mau ikut tinggal bersama mama?"


"Tapi ma, besok adalah hari pernikahan aku dan Mulya. Apakah perlu, aku tinggal di rumah mama lagi."


"Mama hanya ingin merasakan tinggal bersama kamu, walau hanya satu malam saja nak. Mama tidak akan memaksakan keinginan mama. Karna mama tahu, kalau kamu bukan mama yang membesarkannya," kata mama dengan wajah sangat sedih.


"Mama, jangan bicara seperti itu. Walau mama bukan mama yang telah merawat aku, tapi mama tetaplah mama kandungku. Aku akan tinggal bersama mama."

__ADS_1


Akhirnya, aku mengikuti mama pulang kerumah. Mama mengumumkan pada semua pelayan dan penjaga rumah, kalau aku adalah anak yang ia cari selama ini.


Bukan hanya itu, mama juga mengumumkan pada publik, kalau aku adalah anak kandung mama. Ia telah menemukan anak yang ia cari selama ini.


__ADS_2