Aku Bukan Laki-laki

Aku Bukan Laki-laki
Bab 46


__ADS_3

Kebohongan mama telah terbongkar hari ini. Mama tidak bisa berkata apa lagi, saat bukti lain, laki-laki itu tunjukkan.


Selembar tes DNA terpampang jelas di layar yang lebar. Sangat jelas untuk semua orang membaca, kalau aku ini bukan anak mama.


Aku naik keatas pangung dengan wajah yang sangat amat marah.


"Apa ini semua, mama? Ternyata, selama ini mama telah membohongi aku. Mama hanya menjadikan aku sebagai pion catur yang bisa mama gerakkan kemana saja mama inginkan. Mama kejam!" kataku sambil melepaskan rambut palsu yang aku pakai.


Apa yang aku lakukan, semakin membuat semua orang yang ada di sana yakin, kalau selama ini mama telah membohongi semua orang.


Plakkk.


Sebuah tamparan mendarat di wajah mama. Membuat aku merasa kaget, dari manakah tamparan itu berasal.


Sontak, aku menoleh secepat mungkin untuk melihat, siapa yang telah kenampar mama saat ini.


Di sampingku, papa berdiri tegak bersama istri mudanya yang terlihat begitu bahagia melihat mama yang terluka.


"Kalian semua telah membuat aku kehilangan segalanya. Aku tidak akan membiarkan kalian merasakan bahagia," kata mama sambil membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah pistol dari dalam tas.


Mama mengarahkan pistol itu kearah papa dan istri mudanya. Tanpa ada aba-aba sedikit pun, mama langsung melepaskan dua tembakan kearah papa dan istri mudanya.


Seketika, aula yang di jadikan tempat pertunangan ini gempar. Para tamu undagan lari kocar kacir, ketika melihat papa dan istri mudanya terjatuh kelantai, dengan darah segar yang mengalir.


"****** kalian!" kata mama dengan sangat lantang.

__ADS_1


"Kakak! Kakak ...." kata laki-laki yang memakai topeng itu berlari menghampiri istri muda papa.


"Oh, ternyata itu kamu, Mulya. Kamu yang telah merusak semua rencana yang aku bangun selama puluhan tahun. Kamu juga harus mati, bersama kakak mu, ****** sialan itu," kata mama kembali mengangkat pistolnya dan mengarahkan kearah Mulya.


"Mama jangan!" kataku dengan cepat menghalangi Mulya dari tembakan mama.


"Tante jangan!" teriak kak Ryan yang berusaha mencegah mama untuk melepaskan tembakan, saat ia melihat, aku yang menjadi penghalang tembakan mama pada Mulya.


Tapi sayang, semuanya telah terlambat. Mama telah melepaskan tembakannya sebelum kak Ryan sempat menarik aku dari sana.


Peluru itu menembus perutku dengan sangat cepat. Darah segar pun merembes di tanganku. Yang aku gunakan sebagai penutup perut yang terasa sangat sakit.


Kak Ryan terpaku di bawah pangung, dengan mata yang berkaca-kaca dan tangan yang bergetar.


Aku tidak mampu menahan tubuhku lagi. Pandangan mata ini, sudah tidak bisa melihat dengan jelas. Semuanya sudah buram.


Teriakan yang sangat keras, aku dengan dari arah yang berbeda. Walaupun kesadaran yang aku miliki hanya tinggal sedikit, tapi aku masih bisa mendengarkan kedua orang yang berteriak dan menghampiri tubuhku.


"Alina!" teriak Mulya dengan tangan bergetar menghampiri aku.


"Nino, kamu anak kuat dek. Ada kakak di sini, kamu akan baik-baik saja."


Aku membuka mataku yang terlalu berat saat ini. Aku lihat, dua laki-laki sedang ada di kanan dan kiriku sekarang. Mereka menunjukkan wajah yang sangat sedih.


"Jangan sentuh dia!" teriak Mulya pada kak Ryan.

__ADS_1


"Mulya, jangan marah pada kak Ryan. Dia tidak tahu apa-apa. Dia adalah kakak yang bagi aku," ucapku dengan pelan karna menahan rasa sakit.


"Kak Ryan, terima kasih su ... sudah men ... jadi ka ... kak terbaik buat a ... aku."


Mulya POV


"Tidaaakkkk!"


Aku tidak bisa menerima apa yang terjadi pada Alina sekarang. Gadis cantik yang memiliki rambut panjang terurai ini, telah lemah tanpa kata lagi.


Ku peluk erat tubuh ini, sambil terus menangis. Aku tidak bisa kehilangan Alina, aku tidak ingin dan tidak mahu.


Ryan dengan cepat memanggil ambulance, agar bisa menyelamatkan nyawa Alina secepat mungkin.


Sedangkan wanita jaha*nam itu, ia terdiam tanpa kata. Matanya mengalir buliran bening, yang jatuh perlahan. Pistol yang ia genggam, terlepas dari tangannya.


Mungkin saat ini, yang ia rasakan adalah sebuah penyesalan saat melihat anak yang ia asuh selama berpuluh tahun, telah tergeletak akibat ulahnya sendiri.


Polisi dan ambulance, datang secara bersamaan. Aku dan Ryan, sibuk mengurus Alina. Sedangkan, kakak ku dan suminya, juga mengalami tembakan dan terbaring tak bernyawa di sana.


"Mulya, sebaiknya, kamu urus kakak mu. Biar Nino, aku yang urus," kata Ryan padaku.


"Tidak, kakak ku dan suaminya, biar anak buahku yang mengurus. Aku akan tetap menjaga Alina. Agar kamu tidak menyakiti dia."


"Aku tidak akan melakukan itu, karna dia adalah adikku."

__ADS_1


"Bukan! Dia bukan adikmu, Ryan. Karna dia bukan anak dari tantemu yang jah*nam itu."


__ADS_2