Aku Bukan Laki-laki

Aku Bukan Laki-laki
Bab 57


__ADS_3

Karna hal ini, aku menunda pernikahan kami selama dua minggu. Walaupun ini semua, tanpa persetujuan dari Mulya. Tapi aku tetap menunda pernikahan kami yang tinggal satu hari, menjadi dua minggu.


Aku lakukan semua ini, untuk membuat hati mama kandungku merasa bahagia. Karna bagaimanapun, dia adalah mama yang telah melahirkan aku kedunia ini.


Karna aku telah menunda pernikahan kami yang tinggal satu hari ini. Tidak mungkin untuk kami membatalkan pernikahan ini.


Untungnya, kak Ryan dan Mika berniat untuk menikah juga. Hasilnya, persiapan pernikahan antara aku dan Mulya, berubah menjadi pernikahan kak Ryan dan Mika.


Kak Ryan dan Mika lah yang menikah di hari yang telah kami tentukan. Sekarang, kami harus mempersiapkan pernikahan ulang untuk kami.


Mulya memang kesal dengan apa yang telah aku lakukan. Tapi ia bisa menerima alasan yang telah aku berikan padanya. Ia pun mengalah dan menerima dengan sepenuh hati atas penundaan pernikahan kami.


Kali ini, persiapan pernikahan ini mama yang turun tangan. Bukan hanya acaranya yang lebih meriah, persiapannya juga sangat istimewa.


Aku dan Mulya hanya perlu terima bersih saja. Semuanya mama yang atur, mulai dari hal besar, sampai hal yang paling kecil. Semuanya, mama yang siapkan.


Dua minggu telah berlalu.


Aku melihat wajahku di cermin meja rias di kamar pengantinku di rumah mama. Wajah cantik yang aku miliki, semakin cantik dengan sentuhan make-up dari penata rias yang mama undang dari luar negeri.


Bukan hanya itu, acaranya akan mama adakan di dua titik. Pertama, akan nikah di rumah mama. Yang kedua, resepsi yang akan di adakan di taman bunga dan juga di pantai.


Aku tidak bisa membayangkan, berapa banyak dana yang telah mama habiskan untuk acara pernikahan aku saat ini.


Mungkin terhitung, milyaran kali ya. Acaranya dia adakan di dua titik. Akan nikahnya sudah sangat amat meriah di dalam rumah. Belum tamu undagan yang kayaknya berjibun sekali.

__ADS_1


"Sayang, apa kamu sudah siap untuk keluar? Pengantin laki-lakinya sudah menunggu di bawah lho," kata mama dari balik pintu kamar.


"Aku udah siap kok ma, tinggal nunggu dipanggil aja."


Mama pun masuk kedalam kamar untuk menjemput aku.


"Ya ampun, anak mama sangat cantik ternyata," kata mama sambil membelai kepalaku.


"Mama ini, gen siapa dulu dong," ucapku sambil tersenyum.


Dua minggu, ternyata sudah bisa membuat aku sangat amat dekat dengan mama kandungku.


Benar kata orang-orang, tali darah yang tercipta di antara ibu dan anak, tidak akan pernah bisa di pisahkan.


Mulya yang tidak pernah melihat aku berdandan seperti ini, ia begitu terpaku tanpa berkedip sama sekali.


"Bisakah kita mulai akad nikahnya sekarang?" tanya pak penghulu pada Mulya yang terpana sambil melihat aku.


Mulya kaget saat pak penghulu menyentuh pundaknya.


"Bisa, bisa pak," jawab Mulya agak gelagapan.


Aku tersenyum geli dengan tingkah lucu Mulya saat ini. Bisa-bisanya dia gelagapan saat pak penghulu menanyakan hal itu.


"Tenang Mulya, kamu pasti bisa melewati ini semua," kata kak Ryan yang ada di sampingnya.

__ADS_1


"Kamu mah enak ngomong gitu, orang kamu udah lewat hal ini," kata Mulya dengan sangat kesal.


"Baikah, kita mulai saja sekarang," kata pak penghulu memotong pembicaraan antara Mulya dan kak Ryan.


Mulya terlihat sedikit gemetaran saat pak penghulu menjabat tangannya. Tapi untungnya, Mulya bisa melaksanakan ijab khobul dengan lancar tanpa hambatan sedikitpun.


"Bagaimana para saksi?" tanya pak penghulu pada kedua belah saksi.


"Sah, sah, sah ...." ucap para saksi bergemuruh.


Dengan kata sah yang diucapkan oleh para saksi, di tambah doa penutup. Dengan ini, aku saat ini sudah sah menjadi istri dari Mulya.


"Selamat ya sayang, kamu sudah menjadi istri orang saat ini," kata mama sambil mencium keningku.


"Makasih mama," ucapku sambil memeluk mama.


Setelah beberapa saat, aku melepaskan pelukan ku. Mama tersenyum, namun, air matanya tumpah. Aku tahu, mama bahagia bercampur sedih dan haru.


"Mama titip Alina ya, Mulya. Jagain anak satu-satunya mama," ucap mama pada Mulya, saat Mulya bersalaman dengan mama.


"Pasti ma, aku akan menjaga Alina sebagaimana mama telah menjaganya," kata Mulya dengan penuh percaya diri.


Setelah acara ini, kami melanjutkan acara resepsi di dua titik. Dari pagi sampai kemalam, acara di dua titik ini akhirnya selesai juga.


Aku dan Mulya sama-sama terbaring lelah di atas ranjang kamar pengantin milik kami berdua.

__ADS_1


__ADS_2