
Aku menutup mulutku ketika mendengarkan apa yang mama katakan. Ingin rasanya aku menjerit, supaya beban ini lepas. Namun sayangnya, aku tidak bisa melakukan hal itu.
Aku ingin mendekati mama, dan bertanya, kenapa ia melakukan hal ini padaku. Anak siapakah aku ini sebenarnya? Siapa mama dan palaku? Dan banyak lagi yang ingin aku katalan pada mama. Sebagai bentuk pelampiasan rasa kecewa dan sakit hati yang aku miliki.
Namun, baru saja aku ingin melangkah menuju tempat mama dan laki-laki itu duduk, tangan ku tertahan oleh genggaman tangan seseorang.
"Tunggu! Jangan lakukan itu," ucap Mulya sambil berbisik di telingga ku.
"Kenapa? Kenapa aku tidak bisa melakukan apa yang aku inginkan?"
"Sekarang bukan saat yang tepat untuk kamu melakukan hal itu. Kita tunggu saat yang tepat, baru kamu bisa melakukan apa yang kamu inginkan. Ayo ikut aku!"
Mulya menarik aku untuk pergi dari cafe itu. Aku menurut saja apa yang Mulya lakukan. Karna saat ini, tidak banyak yang bisa aku lakukan. Kecuali, menangis dan berusaha untuk menerima kenyataan pahit yang varu saja aku dapatkan.
Aku dan Mulya sama-sama tidak mengeluarkan sepatah katapun, saat kami berada di dalam mobil. Hingga kami sampai di sebuah danau yang lengkap dengan jembatan tinggi melenggkung.
"Ayo, kita sudah sampai," ucap Mulya sambil membuka pintu mobilku.
"Kenapa kita kesini?"
"Sudah, jangan banyak tanya dan jangan banyak bicara. Kamu akan tahu apa yang aku maksud setelah kamu turun."
Aku melakukan apa yang Mulya katakan, untuk yang kesekian kalinya, aku terus saja mengikuti apa yang Mulya katakan.
__ADS_1
"Oh iya, ini," ucap Mulya sambil memberikan selembar sapu tangan padaku.
"Hapus air mata mu, karna kamu sangat jelek ketika menangis," kata Mulya lagi, sambil membantu aku menghapus air mata.
Aku dan Mulya berjalan menuju jembatan yang berada di sisi danau.
"Kamu bisa melepaskan semua beban yang ada di hatimu saat ini."
"Caranya?"
"Menjeritlah sekuat tenaga, maka, beban yang sedang kamu rasakan akan hilang."
Aku merasa, apa yang Mulya katakan adalah perbuatan konyol. Namun sayangnya, hati ini ingin melakukan apa yang Mulya katakan.
"Aaaaaaaaaaaagggh."
"Bagaimana?"
Aku terdiam, apa yang ingin aku katakan. Tapi aku merasakan, apa yang Mulya bilang itu ada benarnya. Aku merasa sedikit tenang, walaupun hanya sedikit rasa lega yang aku dapatkan.
"Apakah sudah sedikit lega?" tanya Mulya padaku.
"Yah, aku merasa sedikit lega. Saran kamu ini, ternyata berhasil juga."
__ADS_1
"Hmz, sudah pastinya berhasil. Kamu tahu, sejak kecil, aku selalu datang kesini. Jika aku punya masalah yang aku pikir berat, maka aku akan melepaskan masalahku di danau ini," kata Mulya sambil tersenyum kepada ku.
"Yah, walaupun, tidak akan mengilangkan masalah yang aku hadapi, tapi setidaknya, aku bisa merasa beban dari masakah itu menjadi sedikit berkurang," kata Mulya lagi.
"Mul, apakah semua ini kamu yang merencanakan?" tanyaku sambil melihat lurus kedepan.
Mulya terdiam, ia hanya melihat air danau yang tenang, yang berada di hadapan kami.
"Jangan bilang, kalau ini tidak ada sangkut pautnya dengan kamu, Mulya."
"Hmz, kamu benar. Ini semua adalah rencana aku. Aku minta maaf jika membuat kamu tidak nyaman. Tapi sebuah kebenaran, harus terungkap."
"Aku harus berterima kasih banyak padamu, Mul. Jika bukan karna kamu, maka aku tidak akan tahu, apa alasan mama menjadikan aku sebagai anak catur yang siap ia gerakkan kemana saja."
"Tidak perlu sungkan, Alina. Apapun akan aku lakukan demi kamu."
"Maksud kamu?"
"Alina, jujur saja, aku jatuh cinta padamu. Aku tidak ingin menyimpan perasaan ini lagi sekarang. Terserah, kamu mau terima atau tidak."
Mulya memengang kedua tangan ku dengan lembut. Matanya begitu bening bercaya menatap kearah aku.
"Apakah yang kamu katakan, Mulya? Bukankah, kamu sudah punya pacar saat ini?"
__ADS_1
Jantung ini berdetak sangat cepat, ketika Mulya mengatakan kalau ia jatuh cinta padaku.
"Alina, kamu tahukan apa alasan aku pacaran dengan Mika. Aku tidak pernah sedikitpun punya rasa cinta pada Mika. Aku memiliki Mika hanya untuk kembuat Ryan sakit hati saja. Tidak lebih dari itu kok."