
Pemakaman kakak ku telah selesai. Sedangkan Arina, ia masih saja dalam tidur panjangnya.
"Alina, kapan kamu mau bangun? Aku sudah sangat kangen sama canda tawa kamu, Lin. Kamu tahu, aku sudah tidak sabar lagi untuk melamar kamu. Aku akan jadikan kamu sebagai istriku," ucapku sambil membelai lembut rambut gadis cantik ini.
"Sabar, Mul. Gak lama lagi, dia pasti akan bangun dari tidur panjangnya. Karna yang aku tahu, gadis cantik ini tidak akan suka tidur lama-lama," kata Ryan yang sedang duduk di sofa sambil sibuk dengan ponselnya.
Akhir-akhir ini, hubungan aku dan Ryan sangat baik. Kami bagaikan orang yang telah lama berteman saat ini. Selalu ngobrol dan bercanda bersama.
"Hmz, kamu gak pulang hari ini, Mul?" tanya Ryan.
"Gak mungkin," ucapku singkat.
"Sesekali, kamu juga harus pulang untuk mandi dan ganti baju, Mulya. Masa iya, kamu mandi dam ganti baju di rumah sakit mulu."
"Biarkan saja, aku suka mandi dan ganti baju di sini."
"Hmz, kamu suka atau kamu tidak rela, nanti kalo kamu tinggalin, Nino akan sadar. Alina maksudku," kata Ryan membetulkan ucapannya.
"Itu kamu tahu apa yang aku pikirkan. Aku tidak akan rela, kalau saat aku pulang nanti, Alina sadar, dan kamu bilang, kalau kamu yang menemani dia di sini."
"Kamu ini ...."
Perkataan Ryan terhenti, saat ponselnya berdering, yang menandakan, seseorang sedang menghubunginnya.
"Tunggu sebentar," kata Ryan sambil keluar dari kamar rawat Alina.
Aku hanya menganggukkan kepala, menanggapi apa yang Ryan katakan.
__ADS_1
Ryan berjalan menuju pintu, ia menggakat telfon di depan pintu kamar. Hasilnya, aku dengan jelas mendengarkan apa yang ia bicarakan.
"Apa!" kata Ryan dengan sangat amat keras, sehingga aku kaget mendengarnya.
Aku pun berinisiatif untuk menghampiri Ryan yang terdengar sangat kaget.
"Ada apa sih, Yan?"
"Tante ... aku harus segera kekantor polisi," kata Ryan dengan mata berkaca-kaca.
"Ada apa dengan tante mu?"
"Nanti aku jelaskan, aku harus segera kesana sekarang juga," kata Ryan sambil berjalan cepat meninggalkan aku.
Aku tidak habis pikir dengan apa yang Ryan katakan. Kenapa dia tidak langsung bicara saja padaku, tentang apa yang terjadi dengan wanita si*alan itu.
Aku kembali masuk kedalam kamar rawat Alina. Untuk menjaga gadis itu, bicara dengannya dan melihat wajah cantik dari gadis itu.
Saat aku masuk kedalam kamar, tangan Alina tiba-tiba bergerak-gerak perlahan namun pasti. Aku tidak tahan untuk memastikan, kalau gadis ini sudah sadar dari tidur panjangnya. Aku bergegas memanggil dokter, meminta dokter memeriksa Alina.
Tapi, belum sempat aku beranjak untuk memanggil dokter. Tangan Alina dengan cepat menggenggam tanganku.
"Alina."
"Mulya."
"Kamu susah bangun, aki akan panggikan dokter agar bisa memeriksa keadaan kamu."
__ADS_1
"Tidak perlu, aku sudah baik-baik saja sekarang. Aku kangen sama kamu," ucap Alina dengan senyum manis di bibirnya.
"Aku juga rindu sama kamu, Lina. Kamu tidurnya lama banget, sampai membuat aku merasa kesepain terlalu lama."
"Mulya, ini aku bawakan nasi ...."
Ucapan Mika terhenti, saat melihat Alina yang sudah sadarkan diri saat ini.
"Kamu sudah sadar?" tanya Mika sambil berjalan mendekat.
Alina tidak menjawab, ia melihat kearah aku, dengan tatapan mata yang tajam.
"Aku kesini hanya untuk mengantarkan nasi goreng yang Ryan minta saja. Tapi, saat aku sudah di perjalanan, Ryan bilang kalau dia gak ada di rumah sakit saat ini. Ia minta, nasi gorengnya aku kasih sama Mulya saja," kata Mika menjelaskan panjang lebar, seolah ia tahu, tatapan Alina barusan itu punya makna yang dalam.
"Mungkin kalian butuh waktu untuk berdua saja. Sebaiknya, aku tunggu Ryan di depan ya," kata Mika sambil berjalan meninggalkan aku dan Alina.
Sepeninggalan Mika, Alina masih saja tidak bicara sepatah katapun padaku. Aku tidak ingin, Alina terlalu banyak berpikir hal-hal yang tidak penting. Aku takut, kesehatannya terganggu. Aku pun berinisiatif untuk menjelaskan apa yang terjadi.
"Aku dan Mika sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, Alina. Aku an Mika sudah putus, satu hari sejak aku menyatakan cintaku padamu."
"Aku tidak menanyakan soal itu," kata Alina dengan santai.
Alina memang tidak menunjukkan aura cemburunya. Tapi, sebagai seorang laki-laki yang sudah mengenal bagaimana sifat wanita. Aku tahu, kalau Alina memang sangat cemburu saat Mika membawakan aku nasi goreng.
"Kamu tidak menanyakan, tapi aku ingin mengatakan. Karna aku cinta dan sayang banget sama kamu."
"Oh ya, aku juga mau bilang, kalau saat ini, Mika dan Ryan sudah kembali pacaran seperti dahulu," kataku lagi dengan perasaan bahagia.
__ADS_1