
"Walaupun dia bukan anak dari tante ku, tapi dia tetap aku anggap sebagai adik. Karna dia, tanteku yang merawatnya."
"Tante kamu merawat Alina hanya untuk kepentingannya saja. Tidak tulus merawat Alina sebagai anaknya."
"Sudah! Kenapa kalian malah berantem dan memperebutkan satu hal yang tidak ada gunanya. Tidak penting siapa yang benar dan yang salah saat ini. Yang harus kita lakukan hanyalah, selamatkan nyawa gadis yang kalian sayangi," kata Mika tiba-tiba datang menjadi penengah di antara perselisihan aku dan Ryan.
Aku dan Ryan, sama-sama tidak menjawab apa yang Mika katakan. Tapi, kami mungkin punya pemikiran yang sama saat ini.
Aku masuk kedalam mobil ambulance untuk menemani Alina di dalam sana. Sedangkan Ryan, dia dan Mika berjalan menuju parkiran.
Tiga ambulance berjalan beriringan. Memecah kesunyian malam yang gelap dan sejuk. Kendaraan yang berlalu lalang, menepi sejenak, membiarkan ambulance berjalan mendahului mereka.
Ku tatap wajah cantik dari gadis yang terbaring kaku dihadapanku saat ini. Ku genggam tangan Alina yang masih terasa hangat. Air mata tumpah, tidak bisa aku tahan lagi saat ini.
"Alina sayang, bertahanlah. Aku yakin, kamu adalah gadis yang sangat kuat, yang tidak akan pernah kalah dengan rasa sakit yang kamu rasakan saat ini."
Ku cium tangan kiri Alina. Sedangkan tangan kanannya, terpasang selang infus.
"Alina sayang, jangan tinggalkan aku. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu, Alina."
Ambulance berhenti di depan rumah sakit. Dengan cepat, suster menghampiri kami untuk membantu. Sedangkan aku, aku tidak bisa apa-apa saat ini. Hanya bisa berharap, Alina baik-baik saja.
"Maaf mas, tunggu di luar saja. Karna dokter akan melakukan tugasnya," kata salah satu suster mencegah langkah kaki ku untuk masuk kedalam kamar.
"Tolong saya, Sus. Tolong selamatkan pacar saya."
"Kami akan lakukan tugas kami dengan baik. Mas bantu kami dengan doa," kata suster itu sambil masuk lalu menutup pintu kamar.
Aku terduduk lemas di salah satu kursi tunggu. Rasanya sangat amat berat untuk aku menerima kenyataan ini. Aku tutup wajahku dengan kedua tangan.
Sebuah sentuhan tangan menepuk pelan pundakku. Aku melihat tangan itu, lalu melihat pemilik dari tangan yang berani menepuk pundakku.
__ADS_1
"Ryan."
"Sabar Mulya, kita harus banyak berdoa. Agar Nino baik-baik saja di dalam."
Aku mengangguk pelan menanggapi apa yang Ryan katakan.
Ryan duduk di sampingku, di susul Mika yang memilih duduk di samping Ryan.
"Apa benar yang Alina katakan, kalau kamu tidak tahu apa-apa tentang apa yang tante kamu lakukan?"
Ntah kenapa, hal itu yang malah keluar dari mulutku. Aku merasa penasaran dengan apa yang Alina katakan, sebelum ia tak sadarkan diri.
"Jangan tanyakan hal itu padaku, Mulya. Karna aku dan tante, tinggal berjauhan waktu itu. Aku dekat dengan tante, hanya saat ia sudah datang ke Indonesia saja. Dan tugasku juga, hanya sebagai penjaga anaknya."
"Baiklah, karna Alina sendiri yang bilang kalau kamu tidak tahu apa-apa. Aku akan percaya dengan apa yang Alina katakan. Tapi ingat, jika aku tahu, kamu juga ikut terlibat dengan tante kamu. Kamu akan tahu sendiri, apa akibat dari keterlibatan kamu itu."
"Jangan cemas, aku dengan senang hati menunggu hasil dari penyelidikan kamu itu. Aku tidak akan lari," kata Ryan dengan tenang.
Tiba-tiba, seorang suster datang menghampiri kami. Aku yang kaget, segera bangun dari duduk, begitu pun Ryan dan Mika.
"Siapa keluarga dari korban tembakan barusan?" tanya suster itu dengan tegas.
"Saya suster," ucapku mantap.
"Bisa ikut saya sebentar, ada yang ingin bicara sama kamu."
"Baik, Sus."
"Ryan, aku titip Alina sebentar. Aku akan melihat kakak ku sebentar."
"Baiklah, kamu jangan cemas. Ada aku di sini yang akan menjaga Nino."
__ADS_1
Aku pun meninggalkan ruangan Alina. Mengikuti langkah kaki suster yang berjalan cepat, menuju salah satu ruangan.
Saat pintu terbuka, aku melihat kakak ku yang sedang terbaring di sana.
"Mulya." Suara kakak terdengar sangat kecil dan berat.
"Iya kak. Ada apa?"
"Di mana mas Herman?"
"Dia ... dia sedang di rawat di kamar sebelah kak," kataku berbohong.
Sebelum sampai di kamar kakak ku, aku sempat bertanya pada suster, bagaimana kabar kakak ku dan suaminya.
Ternyata, penjelasan suster sangat amat menggejutkan. Kakak iparku susah tidak bisa di tolong lagi. Sebelum sampai kerumah sakit, ia sudah tidak bernyawa lagi.
Sedangkan kakak ku, ia sedang sekarat saat ini. Karna peluru itu, merusak organ tubuhnya. Dan harapan untuk sembuh, sangat tipis.
"Mulya, kapan papa akan datang kesini?"
"Papa sedang dalam perjalanan, kak. Kakak harus sabar ya."
"Mul, kakak tidak kuat lagi. Jika papa datang, sampaikan permintaan maaf kakak pada papa. Karna kaka sudah jadi anak yang tidak bisa menuruti apa yang papa katakan," kata kakak ku sambil mengenggam tanganku.
"Sabar kak, aku yakin, kaka pasti akan baik-baik saja. Kakak harus sampaikan sendiri, permintaan maaf kakak pada papa. Agar papa bisa memaafkan kakak."
"Kakak tidak bisa melakukan itu, Mul. Kakak sudah tidak punya banyak waktu lagi sekarang. Kamu ... har ... us katakan pada pa ... pa."
Tangan kakak terlepas dari tanganku saat ini. Perkataan terakhir kakak belum sempa ia selesaikan. Alat pendeteksi detak jantung, berbunyi kuat.
Aku yang kaget dengan apa yang terjadi. Dengan cepat memanggil dokter, ataupun suster, untuk memeriksa kakak ku.
__ADS_1