
Alina menatap wajahku dengan tatapan yang aneh. Ntah apa yang ia pikirkan saat ini, aku juga tidak tahu.
"Hubungan kamu dengan kak Ryan ...."
"Aku dan Ryan, sudah tidak ada masalah lagi. Aku yang salah padanya, dengan merusak kebahagiaan orang sebaik Ryan. Aku sangat menyesal."
"Aku sudah bilang, kalau kak Ryan itu adalah orang baik. Dia juga pernah hampir saja tewas di tangan anak buah kamu. Itu semua karna ingin melindungi aku," kata Alina dengan wajah sedih dan bersalah.
"Aku minta maaf, ini semua adalah kesalahanku. Aku akan memperbaikinya sedikit demi sedikit."
.....
Sudah hampir satu hari satu malam, Ryan belum juga kembali kerumah sakit. Saat aku menghubunginya, Ryan tidak menjawab panggilan ku sama sekali. Saat aku tanya pada Mika, Mika juga menjawab dengan jawaban yang sama denganku. Yaitu, Ryan tidak menjawab panggilan dari Mika.
"Apa sudah ada kabar dari kak Ryan, Mulya?" tanya Alina dengan wajah cemasnya.
"Belum. Mungkin, Ryan sedang banyak kerjaan. Tapi kamu tenang saja, aki sudah mengerahkan beberapa anak buahku, untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan Ryan."
Beberapa saat kemudian, ponselku berbunyi. Tepat saat aku sedang menyuapi Alina makan buah.
"Angkat saja, Mulya. Mungkin ada orang penting yang ingin bicara."
"Baiklah, tunggu sebentar!"
Saat aku keluar dari kamar rawat Alina, untuk mengangkat telfon dari anak buahku. Aku berpas-pasan dengan Ryan yang terlihat sangat lelah dan banyak masalah.
__ADS_1
"Kamu! Kemana saja sih kamu, Ryan?"
"Apakah Alina sudah sadar sekarang?"
"Iya, dia sudah sadar dari kemarin. Kamu ntah kemana, aku sangat sulit untuk menghubungi kamu."
"Ada masalah yang sedang aku hadapi. Bisakah kita bicara berdua sebentar? Tapi jangan di sini, mungkin kita bisa pergi ketaman sana," kata Ryan sambil mengarah telunjuknya kearah luar.
"Baiklah," ucapku tanpa pikir panjang lagi, langsung mengikuti langkah kaki Ryan yang berjalan dengan cepat.
Alina POV
"Kenapa Mulya lama banget ya? Apa ada hal yang sangat penting sekali, sampai dia harus lama-lama di luar?"
Aku melihat apel segar yang Mulya tinggalkan di atas meja. Dari pada aku suntuk menunggu Mulya, lebih baik aku makan lagi apelnya hingga habis.
"Alina, kamu kenapa?" tanya Mika yang baru saja masuk, lalu menghampiri aku dengan panik.
"Aku gak papa, hanya sedikit sakit saja," ucapku sambil memegang perutku.
"Ya ampun, kamu jangan terlalu banyak gerak dulu. Karna luka kamu bisa infeksi nantinya. Baiklah, kamu tunggu sebentar, aku akan panggilkan dokter sekarang," kata Mika dengan cepat berjalan keluar kamar.
Aku tidak menyangka, ternyata, gadis ini baik juga padaku. Aku pikir, saat ia dan Mulya putus hubungan, dia akan menyalahkan aku sebagai sebab putusnya hubungan antara dia dan Mulya. Tapi nyatanya, ia begitu perhatian padaku saat ini.
Dokter pun datang bersama satu susternya. Memeriksa keadaan ku, lalu berpesan, agar aku menuruti apa yang dokter katakan. Agar hal ini tidak terjadi lagi. Lalu, dokter itu kembali meninggalkan kamar rawatku.
__ADS_1
Saat dokter keluar, Mulya yang di susul kak Ryan, dengan cepat menghampiri aku yang terbaring lemah ini.
"Apa yang sakit, Alina? Maafkan aku, aku gak akan ninggalin kamu sendirian lagi nantinya."
"Gak papa kok, aku sudah baik-baik saja sekarang."
"Oh ya, kak Ryan kok baru datang sekarang sih. Kemana aja kamu kak, kenapa baru datang sekarang?"
"Maafkan kakak Ni, Alina. Kakak ada sedikit kerjaan yang mendesak, sehingga kakak harus mengerjakannya terlebih dahulu baru bisa melihat keadaan kamu, maaf ya," kata kak Ryan dengan sedikit senyum di bibirnya.
Walaupun kak Ryan terlihat tersenyum. Tapi aku mersakan, kalau saat ini, ia punya sebuah masalah yang sedang ia sembunyikan dari aku.
Dua bulan kemudian.
Hari ini adalah hari di mana aku di bebaskan dari rumah sakit. Aku sudah bebas sekarang. Aku sudah di izinkan untuk pulang kerumah, karna aku sudah benar-benar sembuh.
Ini semua karna Mulya, ia yang meminta dokter untuk menahan aku selama ini di rumah sakit. Padahal, kalau menurut dokter, aku sudah boleh pulang dari sebulan yang lalu. Tapi karna ulahnya, aku harus bertahan selama satu bulan lagi, untuk tetap mendapatkan perawatan yang lengkap di sini.
Aku rasa, Mulya terkadang terlalu berlebihan dalam mengurus hidupku. Ia selalu membuat hal yang ringan menjadi berat. Hal yang mudah menjadi sulit.
Aku sudah siap untuk mekangkahkan kaki ku keluar dari kamar yang membosankan ini. Tapi saat aku berusaha membuka pintu kamar rawat ini, sayangnya, pintu ini tertutup dan tidak bisa di buka.
"Kak Ryan, kenapa pintunya tidak bisa di buka?" tanyaku pada kak Ryan dan Mika yang menemani aku dari tadi.
"Kamu tidak akan bisa keluar dari sini," kata Mika dengan sedikit senyum jahat di wajahnya.
__ADS_1
"Kenapa?" tanyaku sedikit panik dan tak percaya.