Aku Mencintai Seorang Raja

Aku Mencintai Seorang Raja
Pernyataan Cinta Yang Tak Di Duga


__ADS_3

Hari ini seperti yang sudah di janjikan, Putra Mahkota membawaku pergi berburu dan yang pastinya kita pun sudah izin dengan Kakak.


Dengan menunggangi kuda kita pun masuk ke dalam hutan dengan di temani sekelompok prajurit istana.


Tiba-tiba Putra Mahkota melihat seekor rusa.


‘’Shhhhh….’


Semua orang diam dan berjalan pelan-pelan, lalu Putra Mahkota mengambil panahnya dan ya… dia berhasil memanah rusa itu. Itu adalah buruan pertama yang kami dapat.


Dengan pelan kuda berjalan kita pun terus kan untuk berburu. Kali ini Putra mahkota melihat seekor kelinci liar berwarna putih dari kejauhan, lalu Putra Mahkota mengambil panahnya lagi dan mengajari aku untuk memanah kelinci liar itu, aku yang tidak bisa memanah di tambah lagi posisi Putra Mahkota yang mengajari ku dari belakang , membuatku jadi sedikit salah tingkah dan malu karena banyaknya prajurit yang melihat.


Karena tidak ingin di kuasai perasaan seperti ini aku pun mulai bertanya.


‘’Kelinci itu begitu lucu dan imut kenapa kita harus membunuhnya?’’


‘’Kalau begitu saya akan menangkapnya untuk kamu.’’


Lalu tiba-tiba aku melihat keluar lagi seekor kelinci.


‘’Lihat ada seekor lagi, mereka terlihat seperti


pasangan. Boleh kah kita biarkan saja mereka?’’


Putra Mahkota pun setuju untuk tidak menangkap atau pun membunuh mereka.


Lalu kita berlanjut berjalan menelusuri hutan sambil mencari binatang yang bisa kami buru dan sampai lah kami di sebuah sungai yang airnya begitu deras, aku merasa tidak asing dengan sungai itu.


Saat itu tiba-tiba aku teringat akan mimpiku.


Lalu Putra Mahkota berkata.


‘’Saya menemukan kamu di sini, di tepi sungai ini, saat itu kamu tidak sadarkan diri karena kepalamu terluka.


Mendengar Putra Mahkota berkata seperti ini aku pun terus berusaha mengingatnya dan bayangan lelaki itu muncul lagi di otak ku, teringat lagi aku yang hanyut di bawa air sungai dan lemas karena tidak dapat bernafas.


Semakin ku coba ingat semakin kepala ku terasa sakit, Putra Mahkota melihat ku yang diam saja pun berkata.


‘’Apa yang kamu pikirkan?’’


‘’Saya mencoba mengingat, tapi kepalaku terasa sakit.’’


‘’Sudah jangan kamu ingat lagi, yang penting kamu sudah selamat.’’


Lalu kami pun meninggal kan sungai itu dan menerus kan perburuan, Putra Mahkota sangat pandai memanah, setiap bintang yang di targetnya pasti kena.


Yaaa…sudah pasti aku sangat-sangat menyukainya, ingin selalu melihatnya.


Setelah puas berburu kami pun pulang, di tengah perjalanan pulang Putra Mahkota menghentikan kudanya dan berkata pada prajurit untuk pulang terlebih dahulu, sedang kan Putra Mahkota membawa ku ke taman yang penuh bunga Sakura itu lagi.


Sampailah kami di situ dan dia membantu ku untuk turun dari kuda, dia menggandeng tangan ku dan berjalan kearah depan, lalu memetik setangkai bunga dan di sematkannya di telingaku sambil dia berkata.

__ADS_1


‘’Aku menyukaimu.’’


Aku yang mendengar itu terdiam kaku, tidak tau bagaimana harus menjawabnya, perasaan yang mungkin bisa di bilang terlalu gembira, pernyataan cinta yang tak pernah aku duga, memang sebelumnya Ryan pernah menyatakan cinta padaku juga, tapi ini benar-benar terasa berbeda.


Melihat aku yang masih berdiri diam menatapnya dengan bingung dan tidak menjawabnya, dia pun memegang kedua tangan ku dan berkata sekali lagi.


‘’Kenapa, apa kamu tidak menyukaiku?’’


‘’Ti…tidak, bukan begitu.’’


Aku melepaskan pegangan tangannya lalu membelakanginya dan aku berkata.


‘’Kamu adalah Putra Mahkota, kamu adalah calon Kaisar yang nantinya akan mempunyai begitu banyak istri.’’


Mendengar jawabanku tiba-tiba dia memeluk ku dari belakang dan berkata.


‘’Jika memang saya harus mempunyai banyak selir demi kekuatan politik, maka percayalah padaku kamu lah satu-satunya permaisuri ku.’’


Aku pun hanya tersenyum.


‘’Bagaimana kalau Kaisar tidak menyetujui kita?’’


‘’Aku akan meyakinkan Kaisar atau kita lari saja, tapi mungkin itu tidak akan terjadi, karena aku percaya ayahanda ku akan menyukai permaisuri pilihan ku.


Kamu belum menjawab pertanyaanku?"


‘’Pertanyaan yang mana?’’ sambil tersenyum aku menggodanya.


Lalu aku tersenyum malu dengan menganggukkan kepala, dia pun tersenyum gembira dan pelukan hangat itu pun semakin erat.


Begitu lah akhirnya kami Bersama.


Hari pun sudah mulai gelap, kami pun pulang, Putra Mahkota pun kembali ke istana setelah mengantarku.


Saat berjalan kembali ke kamar ku tiba-tiba aku di hentikan dengan seseorang berbicara padaku.


‘’Sepertinya kamu sangat gembira.’’


Aku pun terkejut dan ternyata Jenderal Yu yang berbicara dengan ku.


‘’Sedang apa kamu di sini?"


‘’Ikut saya.’’


Dia menarik tanganku, lalu dengan menaiki kuda dia membawaku ke sebuah tempat.


‘’Sudah malam begini kamu mau bawa saya kemana?’’


Dia tidak menjawab pertanyaan ku.


Aku memandang ke belakang sebentar, memandangi wajahnya yang serius menunggangi kuda.

__ADS_1


Sampai lah kami di hutan, dia menolongku turun dari kuda lalu dia menarik tangan ku lagi membawa aku ke sebuah danau di dalam hutan yang sangat indah dan penuh dengan kunang-kunang.


Aku tidak dapat berkata apa pun dengan pemandangan malam seperti itu, yang di mana aku belum pernah melihatnya. Lalu dia berkata


‘’Lihat lah ke langit.’’


Lalu ku pandangi langit, ya…pemandangan langit malam yang penuh bintang bersama dengan sinar bulan siapa yang tidak akan terpesona melihat pemandangan seperti itu.


Dia pun duduk di atas rumput dan aku pun menghampirinya dan duduk di sampingnya.


‘’Kenapa tiba-tiba bersikap baik padaku dan membawa ku ketempat ini.’’


‘’Hanya merasa bosan dan ingin datang ke sini.’’


‘’Sebaiknya kita pulang, nanti orang rumah mencari ku.’’


‘’Kenapa, tadi kamu terlihat gembira, kenapa sekarang terlihat tidak senang? apa karena Bersama denganku?"


‘’Tidak, bukan itu maksudku, aku hanya merasa aneh jika kamu yang tadinya dingin tiba-tiba bersikap baik denganku.’’


Tiba-tiba...


Dia yang di sampingku mendorong badan ku hingga aku terbaring di rumput dengan posisi dia di atas ku dan dia memandang mataku dengan wajah yang sangat serius tanpa senyuman, lalu dia memandang bibirku dan mencoba mendekat kan bibirnya ke bibir ku, aku yang ketakutan pun menggenggam kuat rumput yang berada di sampingku.


Karena tidak berdaya dengan keadaan itu aku hanya memejamkan mata dengan kuat, lalu kurasa kan tangannya membelai wajahku dengan lembut lalu dia berkata.


‘’Sebegitu takutnya kah kamu denganku?’’ Sambil dia melepaskan ku.


Aku yang masih terbaring terkejut dan membuka mata, dia pun baring di samping ku sambil memandangi langit.


Dengan jantung yang berdetak sangat kencang aku memberanikan diri memandang ke arahnya, aku pun berpikir kenapa orang ini bersikap begitu aneh hari ini. Tiba-tiba…


‘’Jangan terus pandangi saya lagi, mari kita pulang, takut nanti Kakak mencari mu.’’ Sambil dia berdiri.


Melihat aku yang diam saja dia pun berkata lagi.


‘’Kamu tidak ingin pulang? kalau begitu aku tinggal kan kamu di sini.’’


Dengan cepat aku berdiri dan menyusulnya, lalu kita pun pulang.


.


.


.


.


Aku baring di atas tempat tidur berfikir dan merasa Jenderal Yu bersikap sangat aneh, harrrr…ku pukul pukul kepalaku beberapa kali, sebaiknya ku pikirkan Putra Mahkota maka aku pun tersenyum, tapi Kakak belum mengetahuinya.


Aku takut Kakak tidak akan setuju, Karena Kakak pernah secara tidak langsung menyuruh ku berjaga jarak.

__ADS_1


__ADS_2