
* Part Xiao Ying
Kaisar mengutus kami ke perbatasan dan menjadikan aku sebagai pelatih, mau atau tidak mau semua harus aku terima juga.
Penghinaan atau pun pujian, apapun itu aku harus menerimanya dan saat ini sudah menjadi tanggung jawab yang harus aku lakukan dengan benar.
Akan aku tunjukkan pada Kaisar kalau aku bisa melatih prajurit dengan sangat baik seperti Kakak.
"Kakak lihat lah aku, jaga lah aku dari sana, aku ingin sama seperti kamu, menjadi seorang wanita yang hebat. Sekarang aku mendapat kesempatan itu, maka aku akan berusaha dengan sungguh-sungguh. Besok kami akan berangkat dan banyak sekali kekhawatiran dari Jenderal Meng.
aku berharap semua akan baik-baik saja."
Kami tidak tahu apa niat Kaisar, tapi Jenderal Meng berkata takut Raja Han telah menghasut Kaisar, jika Kaisar begitu mudah di hasut maka, pemberontakan pasti akan terjadi.
Jenderal Meng juga berusaha pergi menemui Kaisar, tidak tahu apa yang di bicarakan, tapi mungkin Jenderal Meng mencoba untuk menyadarkan Kaisar.
...
Hari ini Pelayan Lee membantu aku menyiapkan barang-barang untuk di bawa besok dan Jenderal Meng juga sudah memperbolehkan Pelayan Lee pergi bersama kami, dan seperti biasanya aku pun berlatih panah, tapi hari ini aku hanya sendiri, Pangeran tidak datang, begitu juga Jenderal Yu yang menemani Jenderal Meng pergi menemui Kaisar.
Di saat aku asyik berlatih, tiba-tiba Putra Mahkota datang lagi, dengan wajah yang gembira.
"Bagaimana kalau saya yang menemani kamu berlatih?"
"Terimakasih Yang Mulia, hamba sudah selesai berlatih."
"Kalau begitu kamu yang menemani saya berlatih."
"Mohon maaf Yang Mulia, Hamba masih ada pekerjaan lainnya, mohon pamit."
"Apa kamu ingin terus bersikap seperti ini padaku?"
Aku tidak menjawabnya dan hanya memandangnya.
"Baiklah, kalau begitu ini adalah perintah."
Aku harus bagaimana lagi, mau tidak mau aku pun menemani dia berlatih.
"Besok kamu akan berangkat ke perbatasan dan tinggal di sana untuk waktu yang sedikit lama, jadi biarkan saya bisa melihat kamu hari ini."
Tidak tahu kenapa sekarang aku merasa terpaksa untuk menemani dia, aku akan teringat bagaimana Kakak di hukuman mati karena cintaku padanya.
__ADS_1
"Tolong sadarlah, kita tidak mungkin lagi sama seperti dulu, saya merasa sedih setiap kali melihat kamu, saya selalu ingat bagaimana Kakak ku harus mati karena saya."
"Itu salah saya karena tidak bisa melindungi kamu, tapi berikan saya sedikit waktu, saya berjanji ini tidak akan terjadi lagi." Sambil dia memegang kedua tanganku.
"Kamu jangan melakukan hal bodoh demi saya, karena itu akan percuma saja." Aku menolak tangannya.
Seketika wajahnya berubah menjadi marah dan lalu dia membuang panah yang ada di tangannya sambil berkata.
"Saya tidak akan pernah melepaskan kamu."
Lalu dia pun pergi begitu saja.
...
Keesokan harinya kami pun akhirnya berangkat juga, perjalanan yang jauh dengan menggunakan kereta kuda. Ini pertama kalinya dalam hidupku.
Sedangkan Jenderal Meng dan Jenderal Yu menunggangi kuda dan hanya membawa sekitar 100 orang prajurit yang berjalan di belakang kami.
...
Setelah 3 hari perjalanan dan sudah beberapa kali kami berhenti beristirahat, kali ini kami pun sudah hampir sampai di perbatasan dan masih dalam perjalanan tiba-tiba kami di serang oleh sekelompok orang, mereka memakai baju biasa, kotor dan tragisnya ada juga anak-anak dan wanita hamil.
Mereka berusaha merampok perbekalan makanan yang kami bawa, tapi karena perlawanan dari prajurit mereka pun gagal merampok dan puluhan dari mereka juga terbunuh dan yang lainnya semua melarikan diri.
Aku pun turun dari kereta kuda bersama Pelayan Lee dan melihat-lihat sekitar.
Di situlah aku melihat wajah yang begitu sedihnya dari Jenderal Yu, sambil dia memandangi salah satu mayat, yang ternyata seorang wanita hamil.
Aku yang seumur hidup tidak pernah melihat begitu banyak mayat sudah pasti sedikit ketakutan, tapi kebiasaan hidup seperti ini dan pemandangan seperti ini masih harus ku lihat, jadi aku harus memberanikan diri.
Sambil berjalan melewati mayat-mayat itu, aku menghampiri Jenderal Yu. Aku pun melihat mayat wanita hamil itu, yang sejak dari tadi di pandangi olehnya.
Aku berdiri di sampingnya, lalu dia berkata.
"Wanita ini mengingat saya pada Kakak saya, dia pun di bunuh dalam keadaan hamil."
Aku tidak berkata apapun, karena aku pun tidak tahu bagaimana cara menghiburnya. Hati siapa yang tidak sedih melihat keadaan seperti ini.
Lalu Jenderal Yu menggendong mayat itu pergi ke tempat pembakaran dan pergi dengan wajah yang sedih.
...
__ADS_1
Perjalanan di teruskan dan akhirnya kami sampai di markas prajurit, sedangkan aku pun kembali ke ruangan yang sudah di sediakan untuk ku dan beristirahat.
Hari pun sudah mulai gelap, setelah selesai makan malam, aku pun berjalan-jalan di sekitar melihat para prajurit, ada yang istirahat dan ada juga yang berjaga.
Di perbatasan ini semua prajurit harus selalu bersiap siaga, karena setiap saat rakyat akan datang merampok.
...
Aku melihat Jenderal Yu sedang duduk termenung dan aku pun menghampirinya sambil ku tuangkan secangkir teh.
"Apa yang mengganggu pikiran? apa kejadian tadi siang?"Aku bertanya padanya.
"Lihatlah mereka rakyat tidak bersalah, tapi demi bertahan hidup mereka harus merampok."
Aku pun menjawab.
"Lalu kamu pikir apa lagi yang bisa mereka lakukan? jika kamu di posisi mereka, apa yang akan kamu pilih? menunggu untuk mati atau mencoba bertahan?"
Dia diam mendengar aku berkata begitu, lalu aku melanjutkan perkataan ku.
"Ini bukan lah takdir, ini adalah pilihan untuk bertahan hidup, aku yakin suatu saat akan datang seseorang membantu mereka."
"Bagaimana kamu bisa berkata begitu?"
"Karena saya percaya, Tuhan tidak akan membiarkan mereka terus begini."
"Jika Tuhan ingin membantu mereka, pasti tidak akan tunggu mereka menderita sampai saat ini."
"Menurut saya, semua yang terjadi pasti ada pelajarannya, tidak perduli berapa lamanya mereka menunggu dan menderita mereka masih tetap bertahan, jika begitu kamu coba pikirkan, apa yang sebenarnya mereka harapkan?"
"Kamu benar, mereka menunggu harapan hidup yang lebih baik, maka dari itu mereka selalu berusaha walaupun kematian lah resikonya."
"Baiklah, saya ingin kembali beristirahat, kamu juga beristirahat lah, hal yang sudah lalu jangan sampai membebani pikiran."
Aku pun merasa lelah dan ingin kembali beristirahat karena besok aku harus mulai melatih para prajurit.
Sebenarnya semenjak Jenderal Meng berkata tentang identitas, aku sangat penasaran, aku ingin bertanya padanya, tapi kelihatannya ini bukan lah hal yang seharusnya aku tahu.
Dalam hati aku merasa kalau dia bukan lah orang biasa, maka aku pun berkata padanya.
"Saya tidak tahu siapa dirimu dan saya pun tidak ingin tahu untuk saat ini, jika kamu bisa menyelamatkan mereka, maka berjuang lah."
__ADS_1
Lalu aku pun pergi kembali ke ruangan ku untuk beristirahat.