Aku Mencintai Seorang Raja

Aku Mencintai Seorang Raja
Malaikat Penjaga Ku Part 4


__ADS_3

"Saya lihat Tuan Yu terluka parah, bisa bertahan sampai hari ini kamu memang sangat beruntung. beristirahatlah di sini sementara, sampai lukamu sembuh, di sini juga ada tabib."


"Terimakasih atas niat baik ketua Hao, tapi saya harus kembali, jika tidak Jenderal Meng akan mengkhawatirkan kami."


"Hutan Itu sangat luas, saya tidak yakin kamu dapat bertahan dengan keadaan sekarang, lagi pula kamu juga harus memikirkan keselamatan istrimu."


Aku tersenyum bahagia mendengar ketua Hao menyebut Xiao Ying adalah istriku, benar itu lah yang saya impikan, dia menjadi istri ku, hidup bersama dan menjadi ibu dari anak-anakku.


"Hahaha... saya mengerti, melihat senyum dari wajah kalian, saya pun pernah muda dan jatuh cinta seperti kalian. Saran ku untuk mu Tuan Yu, segera nikahi Nona Ying, jangan sampai di rebut orang lain."


Aku memandang Xiao Ying dan dia hanya diam tersenyum.


"Terimakasih atas saran Ketua Hao, benar kata ketua Hao, sepulang dari sini saya akan meminta pada Jenderal Meng untuk menikahnya." Sambil aku memandang Xiao Ying.


"Kenapa harus meminta izin Jenderal Meng?"


"Ini karena Xiao Ying adalah adik ipar Jenderal Meng."


"Benarkah, jadi kamu adalah adik kandung Nona Yue?"


"Benar, Nona Yue adalah Kakak kandungku." Jawab Xiao Ying.


"Sekarang saya tidak heran jika kamu terluka demi menyelamatkan Putri ku, ternyata kamu memiliki sifat baik hati seperti kakak mu, Nona Yue adalah gadis yang sangat baik hati, dalam diam dia dan Jenderal Meng selalu membantu kami."


Melihat wajah Xiao Ying yang mulai berubah karena mengungkit Kakaknya, maka aku pun berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Ketua Hao, saya ingin bertanya, apakah kalian pernah melihat atau pun di serang sekelompok orang bertopeng?"


"Untungnya sampai sekarang kami tidak pernah di serang atau pun bertemu orang-orang bertopeng seperti yang Tuan Yu katakan, mungkin karena kami masih baru di sini, jadi sebenarnya kami pun belum terlalu mengenal tempat ini, apalagi hutan di sana tampaknya sangat berbahaya, Bolehkah saya tahu siapa orang-orang itu."


"Mereka adalah orang-orang yang mencoba membunuh kami, sehingga lah kami dapat sampai dan tersesat di hutan itu."


"Ternyata begitu, kalian istirahat lah di sini, untuk sementara di sini aman, karena sejujurnya jumlah kami banyak dan dulunya kami adalah prajurit kerajaan."


Huh...jadi mereka adalah prajurit ayahanda


"Jika boleh saya tahu, bagaimana kalian dapat lolos saat itu?"


"Mungkin saat itu kamu masih kecil, kejadian pembantai itu telah mengorbankan begitu banyak nyawa yang tidak berdosa, saat itu saya bersama Raja Yan hendak pergi ke ibu kota, karena Raja Yan mendapat surat bahwa akan adanya pemberontakan di ibukota. kami membawa sepuluh ribu prajurit, berniat melindungi Kaisar. Tapi tidak di sangka ternyata kami di fitnah dan karena kami berada di perbatasan jadi Kaisar mengira Raja Yan yang merencanakan pemberontakan.

__ADS_1


Saat Raja Yan terbunuh, banyak dia antara kami yang juga terbunuh dan banyak juga dari kami yang selamat kerena melarikan diri. Saya menyesal tidak dapat menyelamatkan Raja Yan, dan hanya 1000 orang prajurit yang dapat ku selamatkan sampai sekarang."


"Jadi kamu adalah Jenderal Hao."


Dengan mata berkaca-kaca saya bertanya, karena sudah 10 tahun, kami tidak lagi saling mengenal.


Saat itu saya baru berumur 10 tahun, yang saya tahu, Jenderal Hao adalah Jenderal kepercayaan Ayahanda, dulu kerajaan kami sangat lah kokoh di mana untuk berperang pun Kaisar masih memerlukan bantuan ayahanda.


"Bagaimana kamu bisa tahu? Zhao Yu... tidak mungkin kamu..."


"Benar ini saya Yu Er, yang 10 tahun lalu bertanding panah dengan kamu, yang mengadu pedang dengan kamu, yang juga pergi berburu bersama kamu."


"Bagaimana mungkin Yu Er... bagaimana mungkin...kamu masih hidup." ketua Hao menangis tidak percaya kalau aku masih hidup.


"Saya selamat, Jenderal Meng yang menyelamatkan saya saat itu."


"Saya benar-benar tidak dapat percaya, ini benar-benar keajaiban dari Tuhan."


"Saya pikir semua prajurit kita sudah terbunuh, saya pikir hanya tinggal saya seorang diri bersama rakyat."


"Tidak, kami tidak sendiri sekarang, kamu ada Raja kami bagaimana pun kami harus melindungi kamu."


Ketua Hao menarik aku keluar.


Lalu 1000 orang prajurit berpakaian rakyat biasa berlutut dan memberi hormat.


"Hormat kepada Raja Yu."


Aku terharu dan meneteskan air mata, seolah mendapat kan kekuatan kembali.


"Semua prajurit bangunlah, kita akan bangkit kembali dan membangun kembali kerajaan kita." Aku berteriak dengan penuh keyakinan diri.


Walaupun hanya 1000 orang prajurit, aku akan terus membangun kembali, setidaknya aku tahu dari mana aku harus memulai.


Aku memandang Xiao Ying, gadis yang ku cintai itu juga memandang ku dengan penuh kebanggaan dan dukungan, dia tersenyum seolah memberi tahu aku untuk terus bersemangat.


Lalu ku dekati dia dan ku peluk erat, tapi karena terlalu bersemangat, luka ku mulai berdarah lagi.


"Lukamu berdarah lagi."Xiao Ying berkata sambil memegang luka ku.

__ADS_1


"Cepat panggil kan tabib." Teriak ketua hao dengan panik.


Aku pun di bawah ke sebuah ruangan untuk beristirahat, di situ aku di periksa tabib dan luka ku di berikan obat dan di rawat dengan baik.


"Tabib bagaimana lukanya?" Tanya Xiao Ying.


"Luka ini sangat dalam, untungnya di rawat, kalau tidak dia mungkin sudah tidak dapat bertahan sampai hari ini, Nona beri dia minum obat ini secara teratur dan sementara jangan melakukan hal yang berat terlebih dahulu, dia perlu istirahat sampai lukanya benar-benar kering dan sembuh."


"Baiklah, saya mengerti, terimakasih."


Xiao Ying mendekati ku dan memandang aku dengan wajah yang khawatir.


"Jangan khawatir kan saya, lihat lah saya begitu sehat."


"Kamu istirahat lah dan jangan keras kepala lagi, saya akan pergi memasak obat, kita akan tinggal di sini dulu sampai lukamu sembuh."


"Baiklah, saya akan mendengar kata-kata calon istri ku."


"Dalam keadaan begini kamu masih bisa saja menggoda ku."


"Xiao Ying, saya serius, sepulang dari sini saya akan meminta izin kepada Jenderal Meng, apa kamu bersedia menjadi istri ku?" Sambil ku pegang erat kedua tangannya.


"Saya bersedia dengan 1 syarat."


"Apa itu, kamu katakan saja, saya akan melakukan apapun."


"Benarkah? Apapun itu?"


"Benar, apapun Itu saya akan melakukannya."


"Syaratnya adalah saya ingin kamu sembuh dan kembali ke ibukota bersama, kita pergi ke makam Kakak dan meminta izin padanya."


Aku tersenyum bahagia mendengar jawabannya.


"Baiklah, saya akan membawa kamu kembali ke ibukota dan kita pergi ke makam Kakak mu."


"Baiklah, sekarang kamu harus istirahat dan saya akan pergi memasak obat."


Xiao Ying berdiri dan ingin pergi. Lalu ku panggil lagi dia.

__ADS_1


"Xiao Ying, terimakasih... terimakasih karena berada di samping ku saat ini."


Dia pun menjawab dengan mengangguk tersenyum.


__ADS_2