
* Part Xiao Ying
Sudah 1 minggu berlalu, sudah 1 minggu juga aku tidak bertemu dengannya sejak kejadian di dalam gua itu. Perlahan aku pun sudah mulai memaafkannya karena saat itu dia berusaha menolongku walaupun dia telah melihat tubuhku bahkan dia mencium ku dengan paksa.
Apa yang terjadi sudah terjadi, walaupun menyesal tapi hidupku masih harus terus di jalani.
Aku pun sebenarnya sudah mengingat semuanya dan kejadian di sungai itu bukanlah mimpi.
Aku hanya tidak tahu apa alasan dia menolongku lalu meninggalkan aku di tepi sungai, sehingga Putra Mahkota yang saat itu menemukan aku dan membawa aku pulang.
Mengingat Putra Mahkota yang tidak tahu bagaimana kabarnya, begitu juga Pangeran, aku tidak lagi bertemu mereka sejak hari itu
Tapi setiap kali aku mengingat Putra Mahkota hati ku sangat sakit, karena aku akan mengingat Kakak.
Kakak maafkan aku, terimakasih menjaga aku, bahkan kau berikan nyawamu untukku.
Sekarang tinggal aku sendiri, aku tidak tahu bagaimana harus memulai lembaran baru.
Saat aku sedang merenung, tiba-tiba Pangeran mengejutkan aku.
"Apa yang bisa kamu lakukan lagi selain melamun."
Baru saja aku pikirkan dia tadi sekarang dia sudah datang.
"Memangnya apalagi yang bisa saya lakukan?"
"Kamu bisa melakukan apapun yang kamu suka, daripada hanya melamun seharian dan menghabiskan waktu."
"Bukankah kamu juga begitu?"
"Saya merasa lega melihat kamu sudah membaik, 1 minggu aku tidak bertemu denganmu, rasanya rindu sekali."
Mendengar pangeran berkata begitu aku pun tersenyum.
"Lihatlah saya berhasil membuat kamu tersenyum."
Lalu aku mulai bertanya.
"Apa dia baik-baik saja?"
Pangeran menggeleng kepala dan berkata.
"Tidak mudah juga bagi dia untuk terima, setiap hari dia merasa bersalah."
"Semua sudah terjadi, apa yang harus di katakan lagi."
Melihat aku yang mulai berwajah sedih, Pangeran pun berkata.
"Ikut saya." sambil dia menarik tanganku
"Mau pergi ke mana?" tanya ku.
Lalu pangeran membawaku ke sebuah toko yang menjual pelana kuda, lalu dia menyuruh penjaga toko untuk keluarkan pesanannya dan pangeran menyuruh aku membantunya memilih.
"Mana yang lebih bagus menurut kamu?"
__ADS_1
"Ermmmm...apa warna kuda pangeran?"
"Putih."
"Yang ini lebih bagus, warna hitam akan lebih sesuai dengan warna kuda pangeran."
"Sebenarnya ini untuk Jenderal Yu, hari ini dia ulang tahun jadi saya bermaksud menghadiahkan ini padanya."
"Ohhh... baiklah kalau begitu."
Lalu aku dan Pangeran pun pulang.
Sesampainya di gerbang pintu tiba-tiba seorang prajurit istana datang memberitahu Pangeran bahwa ada urusan yang harus dia selesaikan.
"Xiao Ying, bolehkah kamu menolongku memberikan ini pada Jenderal Yu, aku harus segera kembali ke istana."
"Jangan khawatir aku akan memberikan padanya, kamu pergilah selesaikan urusanmu."
"Kalau sempat saya akan mengunjungimu lagi dan aku akan membawamu jalan-jalan."
"Baiklah, aku akan menunggu."
Lalu Pangeran pun pergi.
Aku pun kembali ke kamar, lalu aku keluarkan mixer.
Ada 2 buah kotak di situ dan aku membuka dan memandangi keduanya.
Ku alihkan pandangan ke kotak yang Putra Mahkota berikan, sejenak aku ingat kenangan manis kami saat bersama, tapi aku pun merasa sedih saat ingat, jadi ku letak kembali saja.
Aku ambil mixer dari Jenderal Yu, lalu aku pergi ke dapur, terlebih dahulu aku siapkan semua bahan. Setelah semua siap ku tinggalkan sejenak bahan dan mixer itu di dapur dan aku pergi mencari Jenderal Yu.
Dia tampak terkejut.
Tanpa berkata apapun ku tarik paksa tangannya.
Dia terlihat bingung tapi dia menurut saja.
Aku bawa dia ke dapur, lalu aku mengambil telur dan ku pecahkan ke dalam sebuah wadah besar dan ku suruh dia mengocoknya.
"Bantu aku mengocoknya, begini caranya."
Dia mungkin merasa aneh tapi dia menurut dan mencobanya.
"Begini." sambil dia menunjukkannya padaku.
Lalu aku mulai menyiapkan bahan-bahan lainnya seperti tepung, gula dan lainnya.
Setelah dia selesai aku mencampurkan semua bahan, aku akan membuat cake dasar dengan cara di kukus karena tidak ada loyang di dapur.
Dia hanya melihatnya dengan penasaran.
Melihat wajahnya yang begitu serius aku jadi tidak tahan, ku ambil tepung dengan jariku lalu ku oleskan ke pipinya.
"Apa yang kamu lakukan." sambil dia menyeka pipinya.
__ADS_1
Aku hanya diam dan menertawainya.
Melihat aku tertawa dia pun membalas dengan mengambil tepung dengan jarinya dan di oleskan ke pipiku juga dan menertawai aku.
Di situ lah kita terus saling membalas dan tertawa. Itu adalah pertama aku melihat dia tertawa selama aku di sini.
Pekerjaan di teruskan, kali ini aku menyuruhnya mengocok susu, sedangkan aku mengerjakan yang lain.
Tiba-tiba dia berkata.
"Jadi kamu membawa saya ke sini dan sekarang kamu memanfaatkan saya."
"Ini hukuman untukmu."
"Mengapa kamu ingin menghukum saya."
Tanpa berpikir banyak aku terus menjawab.
"Karena kamu mencium aku dengan paksa."
Aku tersadar dengan apa yang aku katakan.
Tiba-tiba dia sudah berada di belakang ku, aku terkejut saat membalikkan badan.
Dia menatap aku, perlahan ku mundurkan langkah ke belakang sampai aku tersandar meja, sedangkan dia terus maju hingga sekarang dia begitu dekat, lalu dia memeluk pinggangku dan menarik badanku ke depan dan menyentuh badannya.
Dengan saling bertatapan dia pun berkata.
"Apa kamu akan mengizinkan aku mencium kamu jika aku memintanya?"
Aku tidak bisa jawab, lalu dia mulai lagi perlahan mendekatkan bibirnya ke bibirku, jantungku berdetak kencang sampai aku pun memejamkan mata lagi.
Lalu tiba-tiba dia berbisik di telinga ku dan berkata.
"Wajahmu penuh dengan tepung."
Aku membuka mata dan dia menyeka wajah ku sambil tersenyum, sepertinya dia puas mempermainkan aku.
Aku dengan kesal mendorongnya dan berkata.
"Apa pekerjaan kamu sudah selesai?" sambil aku berpaling dan pergi melihat susu yang ku suruh dia kocok tadi.
Saat ku lihat dan ternyata sudah jadi dan aku pun tersenyum. Lalu ku ambil cake yang sudah jadi, aku mulai oleskan cream yang sudah jadi itu ke cake, setelah selesai aku menghiasinya dengan buah. Sedangkan dia hanya melihatnya dengan penasaran.
"Sudah jadi..." dengan wajah tersenyum gembira aku berkata.
"Bagus sudah jadi, lihat wajahmu penuh dengan tepung dan terlihat sangat jelek."
Karena aku merasa bahagia melihat kue ulang tahun ku jadi. Aku tidak lagi memperdulikannya berkata apa, lalu ku ambil lagi cream yang tersisa dan ku oleskan ke pipinya lagi sambil tertawa.
Melihat aku tertawa dia pun tersenyum tapi dia tidak membalas, dia hanya tersenyum memandangku dan aku menyuruhnya untuk pulang mandi karena hari pun sudah mulai gelap.
"Nanti datang lah ke taman, aku menunggu kamu di situ."
"Jadi kamu ingin mengajak aku berkencan." sambil dia berjalan pergi dan tidak lupa dia mengambil cream dan mengoleskannya ke pipi lagi.
__ADS_1
Aku pun kembali ke ruangan ku, seperti biasa Pelayan Lee membantu aku bersiap.
Lalu ku pergi ambil cake dan hadiah dari Pangeran kemudian aku pergi ke taman, ku hias pondok di taman dengan lentera, setelah selesai aku duduk dan menunggunya di situ.