
Akhirnya aku tidak jadi menghampirinya dan aku menemani Pangeran sampai sore dan aku pun kembali ke ruangan ku.
Sebenarnya apa yang juga ingin aku katakan padanya jika aku menemuinya.
Karena hari mulai gelap aku pun memutuskan besok saja aku membuat kan kue ulang untuk Kakak dan seperti biasanya malam yang sangat membosankan, hanya berdiam diri di kamar.
Aku yang merasa bosan pun akhirnya tertidur.
Aku melihat Kakak memakai baju yang sangat cantik, Kami merayakan ulang tahun Kakak, dan aku membuat kan kue yang sangat cantik untuknya, Kita semua begitu bahagia dan tiba-tiba Jenderal Yu masuk dan membunuh Kakak dan juga Jenderal Meng, lalu terakhir dia ingin membunuhku, Aku pun berlari kehutan hingga sampai di sungai itu dan Aku melompat ke sungai hingga aku terbawa arus dan tidak dapat bernafas. Aku pun berteriak minta tolong sampai aku terbangun dan ternyata itu hanyalah mimpi.
Saat aku terbangun aku melihat Pelayan Lee sudah berada di sampingku.
"Nona mimpi buruk lagi? aku berusaha membangunkan mu dari tadi."
"Beruntung ini hanya mimpi."
"Memang mimpi apa Nona, sampai Nona terus berteriak meminta tolong."
"Dia ingin membunuhku."
"Harrrr...siapa Nona?"
Aku diam saja dengan badan penuh keringat.
"Tidak apa Nona, itu hanya mimpi, di sini aman, kamu jangan takut."
Aku pun mengambil nafas dalam-dalam dan berusaha menenangkan diri.
"Nona, seorang prajurit Istana menyuruh ku memberi tahu mu kalau Putra Mahkota menunggu mu."
"Huhhhhh...tapi aku belum bersiap-siap."
Lalu Pelayan Lee segera membantuku bersiap-siap dengan keadaan yang di kejar-kejar waktu.
setelah selesai aku segera berlari pergi menemuinya tanpa ku perduli kan Pelayan Lee lagi.
Aku dan Putra Mahkota pun pergi melihat air terjun dan ini semua tanpa sepengetahuan Kakak.
Tidak terasa sudah 1 bulan aku bersama Putra Mahkota, cinta yang semakin hari semakin dalam, membuat ku semakin berani dan lupa diri, aku sering keluar pergi menemui Putra Mahkota tanpa sepengetahuan Kakak.
Bahkan aku sering berbohong pada Pelayan Lee dan juga Kakak.
*Part Jenderal Yu
Sudah 1 bulan sejak saat itu aku tidak pernah lagi berbicara dengannya, setiap kali bertemu Kami hanya seperti orang asing.
Aku tau dia dan Putra Mahkota bersama, jika memang ini sudah takdir maka aku hanya bisa menerimanya saja. Lebih baik juga begini aku hanya fokus pada apa yang seharusnya kulakukan.
__ADS_1
Hari ini Jenderal Meng memanggilku dan berkata Kaisar ingin bertemu dengan kami, maka kami pun segera berangkat ke istana.
Pertemuan dengan Kaisar bukan lah hal yang baik, ya... kami di kirim ke luar Istana untuk berperang mengambil ahli salah satu daerah. Aku Jenderal Meng dan pastinya Putra Mahkota juga akan pergi berperang.
Walaupun kami belum pernah kalah dalam berperang selama ini, tapi kami harus tetap berhati-hati dan pastinya harus kembali lagi membawa kemenangan.
*Part Putra Mahkota
Ayahanda akan mengirim ku keluar Istana untuk berperang mengambil ahli salah satu daerah, ayahanda juga berkata aku sudah sampai umur untuk menikah, jadi ayahanda berkata setelah aku kembali dari medan perang maka kami akan membicarakan hal ini dan sebelum berangkat ke medan perang aku harus bertemu Xiao Ying dulu.
Seperti biasa kami janjian dan bertemu di air terjun, ini adalah tempat biasanya kami selalu bertemu dan menghabiskan waktu bersama.
"Aku akan berangkat pergi berperang dan tunggu aku pulang dan aku berjanji akan datang untuk melamar mu."
"Baiklah, kamu harus hati-hati dan kamu harus pulang menepati janji mu."
Maka kami pun berangkat di keesokan harinya.
*Part Xiao Ying
Sudah 2 bulan Putra Mahkota pergi berperang, aku dengar mereka menang dan berhasil merebut beberapa daerah.
Selama 2 bulan ini aku hanya menghabiskan waktu ku di dapur dan terkadang membuat kerajinan tangan besama Kakak dan Pelayan Lee.
Kali ini Kakak tidak pergi ikut berperang Karena Kakak kurang sehat. Sudah beberapa bulan ini sakit Kakak tidak juga membaik.
Aku khawatir dengan penyakit Kakak, tapi Kakak berkata kalau ini bukan lah penyakit yang parah, hanya butuh rawatan dan minum obat secara teratur maka akan sembuh dengan sendirinya.
Hari ini aku sedang menemani Kakak membuat kerajinan tangan dan datanglah seorang prajurit melapor.
"Nona Besar, aku membawa berita dari Jenderal Meng, peperangan telah berakhir dan mereka berhasil, sekarang dalam perjalanan kembali ke istana di perkirakan akan sampai besok.
Kami yang mendengar itu sangat lah gembira, itu berarti aku dapat bertemu Putra Mahkota, aku sudah sangat merindukannya.
Pagi pun tiba, Jenderal Meng dan Jenderal Yu pun sudah kembali dan datanglah seorang prajurit berkata kalau Putra Mahkota menungguku.
Dengan semangat aku pergi menemuinya dan dengan masih memakai baju perang dia memelukku dengan erat melepaskan kerinduan, begitu juga dengan ku.
"Aku sangat merindukan mu, hari ini juga aku akan berbicara dengan ayahanda bahwa aku ingin melamar mu, maka kita tidak perlu bersembunyi seperti ini lagi."
"Tidak kah itu terlalu cepat?"
"Kenapa, apa kamu berubah pikiran."
"Tidak, maksudku kamu punya banyak waktu untuk berbicara pada Kaisar, hari ini kamu baru pulang jadi istirahat lah dulu."
"Baiklah, kalau begitu aku akan membicarakannya dengan ibunda ku dulu, dia pasti menyukaimu juga."
__ADS_1
"Baiklah." dengan tersenyum gembira aku menjawabnya.
Hari itu kami menghabiskan waktu bersama sampai Putra Mahkota baru kembali ke istana di sore harinya dan aku pun kembali ke rumah.
Sesampainya di rumah, Aku melihat Pelayan Lee yang gelisah menunggu ku.
"Nona kamu dari mana."
Lalu Pelayan Lee berbisik di telinga ku dan berkata.
"Nona sedang menunggu mu di dalam."
Aku pun terkejut dan segera masuk.
"Dari mana kamu?"
Aku diam tidak bisa menjawab.
"Kamu pergi menemuinya, sudah berada lama kamu berbohong pada Kakak?"
Aku diam lagi tanpa berkata apa pun.
"Aku sudah berkata pada mu untuk berjaga jarak dengannya dan kamu tidak mendengar kan ku, mala kamu semakin berani pergi bersamanya."
"Kakak kami saling mencintai dan dia berjanji akan melamar ku."
Mendengar itu Kakak tambah marah.
"Melamar kamu... apa kamu sadar? dia adalah Putra Mahkota, kamu pikir kamu bisa menjadi Permaisurinya kelak? sadarlah adikku, kita ini bukanlah dari keluarga yang mempunyai kekuatan untuk mendukung tahtanya nanti, kalau bukan karena Jenderal Meng kita bukan lah apa-apa."
Kakak yang terlalu emosi memarahi ku pun hampir pingsan. Aku hanya menangis diam tidak berani menjawab lagi.
Lalu dengan suara pelan Kakak berkata lagi.
"Kamu harus meninggalkannya sebelum terlambat, anggap lah Kakak mohon padamu ini semua demi kebaikan kita semua."
"Tapi...." sambil menangis aku mencoba menjawab.
"Sudah cukup, aku sangat lelah aku ingin kembali beristirahat di ruangan ku."
Kakak pun pergi, sebelum dia meninggalkan ruangan ku dia berkata pada Pelayan Lee.
"Aku akan memberikan kesempatan dan mempercayaimu untuk terakhir kalinya, mulai sekarang jangan biarkan dia bertemu Putra Mahkota lagi, jika ini masih terjadi, kamu tidak perlu melayani keluarga Ku lagi."
"Baik Nona."
Aku mendengar Pelayan Lee menjawab dengan nada menangis dan aku pun menangis merasa bersalah pada Pelayan Lee, tapi bagaimana ini? aku benar-benar tidak bisa melepaskan Putra Mahkota seperti yang Kakak inginkan, aku sangat mencintainya dan ingin bersamanya.
__ADS_1