
*Part Jenderal Yu
Kematian Nona besar membawa duka yang sangat dalam untuk ku bahkan bagi para pelayan yang bekerja dan juga pastinya Jenderal Meng, dia meminta pada Kaisar agar mengirimnya pergi ke perbatasan bagian barat.
Kaisar mengizinkannya pergi dan mungkin akan pergi untuk waktu yang lama. Aku paham maksud Jenderal Meng yang tidak bisa melupakan Nona Besar dan juga tidak tau bagaimana cara menghadapi Xiao Ying.
Sementara aku sendiri di tugaskan menjaga keamanan istana dan juga melatih para prajurit.
Sebelum berangkat Jenderal Meng juga telah berpesan agar aku menjaga Xiao Ying.
Sedangkan Xiao Ying sendiri akan terlarut dalam kesalahan dan penyesalan. Aku harap apa yang terjadi ini dapat membuka pikirannya agar menjadi lebih dewasa.
Pelayan Lee datang melaporkan keadaan Xiao Ying padaku.
"Nona sudah sadar, tapi dia hanya diam dan diam saja dia bahkan tidak ingin makan."
"Baiklah aku tau, kamu cobalah selalu membujuknya, jika ada apa-apa segera beritahu aku."
Lega rasanya aku mendengar dia sudah sadar, setelah 2 hari tidak sadarkan diri.
Tapi aku juga khawatir karena dia tidak ingin makan.
Aku hanya bisa menyuruh Pelayan Lee membujuknya.
Sore itu setelah pulang dari istana aku melihat Xiao Ying sendiri berlari keluar dari gerbang, aku yang penasaran pun mengikutinya.
Sepanjang jalan aku mengikuti dan ternyata itu adalah jalan menuju sungai di dalam hutan yang di mana dia pingsan saat itu.
Sesampai di sungai itu aku tidak menyangka dengan apa yang dia lakukan, dia melompat ke dalam sungai itu, yang airnya deras dengan arus sungai yang sangat berbahaya.
Aku segera melompat ke dalam sungai dan menarik nya, dia terlihat lemas, kubawa dia ke tepi sungai.
perlahan ku panggil dia dan untungnya dia sadar.
Saat sadar dia memandang ku dengan wajah yang sangat sedih dan menangis, aku mengerti perasaannya dan aku pun memeluknya dengan erat, tidak peduli apa yang sedang dia lakukan yang kurasakan hatiku sangat sakit dengan dia yang menangis di pelukan ku.
Tanpa berkata apapun aku hanya memeluknya berharap bisa meringankan sedikit penderitaan yang di rasanya.
Tiba-tiba hujan dan saat itu hari mulai gelap.
Ku bujuk dia untuk pulang.
__ADS_1
"Ayo kita pulang." sambil ku usap air matanya.
Dia diam dan menurut, walaupun dengan wajah yang sangat-sangat sedih, lalu ku gandeng tangannya dan berjalan menuju jalan pulang.
Hujan semakin deras angin pun sangat kencang di sertai dengan kilat dan petir.
Hutan pun menjadi sangat-sangat gelap sampai kami kesulitan mencari jalan.
Beberapa kali dia terjatuh karena jalan gelap dan licin. Aku melihat dia kedinginan, lalu ku lihat ada sebuah gua di depan, karena tidak ada pilihan, langsung ku gendong dia masuk kedalam gua itu.
Dalam gua itu cukup besar dan setidaknya tidak terkena hujan, aku menurunkannya di tepi dan dia masih dalam keadaan kedinginan.
Segera ku cari batu dan membuat api, ku buka jubah ku dan ku jemur di depan api begitu juga dengan kain luar yang dia pakai.
Melihat dia masih sangat kedinginan sampai menggigil aku pun membawanya ke depan api dan kurasakan badannya begitu panas sepertinya dia mulai demam.
Tanpa berpikir panjang langsung ku beranikan diri untuk membuka pakaiannya.
"Apa yang kamu ingin lakukan?"sambil dia menolak tanganku dengan begitu lemah.
"Kamu akan mati kedinginan dengan baju yang basah begini."
Tidak tau berapa lama sudah kami tertidur, lalu tiba-tiba suara petir yang kuat mengejutkan ku sehingga aku terbangun. Dia masih ku peluk erat dan tertidur, terlihat dia sudah membaik dan badannya pun tak begitu panas lagi.
Malah sekarang terbalik aku yang merasa panas karena melihat badan mulusnya.
Aku tidak tahan dan segera ku ambil kainnya dan juga jubah ku yang sudah agak kering lalu ku tutupin badannya.
Di luar masih hujan begitu deras dengan kilat dan petir begitu juga angin yang kuat, Tapi tampaknya sudah mulai pagi.
Karena terbangun dan tidak bisa tidur, aku pun pandangi wajahnya yang sedang tidur di pelukanku dan sesekali ku sentuh dahinya memastikan demamnya sudah turun.
Ku pandangi wajahnya yang cantik sambil tersenyum, yang biasanya hanya bisa ku pandangi dari jauh.
Tiba-tiba dia berteriak minta tolong dan menangis, aku yang terkejut melihat itu segera membangunkannya.
"Tidak apa itu hanya mimpi." Aku menenangkannya sambil memeluknya.
Setelah diam beberapa menit dia mulai berkata.
"Orang yang menyelamatkan aku adalah kamu?"
__ADS_1
Dia memandang ku dengan air mata yang masih belum di usap.
Aku diam saja.
"Kenapa tidak kamu katakan dari awal?"
Aku tidak punya alasan untuk menjawabnya aku terus diam. Aku tau dia inginkan jawaban.
"Kenapa sebentar baik dengan ku kenapa sebentar bersikap dingin dengan ku? kenapa kamu juga rela berdiri di tengah hujan bersama ku?"
Dia bertanya dengan marah dan berteriak padaku sambil dia memukulku dan menangis.
Tiba-tiba dia berkata
"Kenapa dia begitu jahat padaku? Dia meninggal kan ku sendiri."
Aku tahu siapa yang dia maksud, aku pun tidak tahan lagi mendengar semuanya.
Langsung ku ke pegang lehernya ku tarik ke depan dan ku cium bibirnya, dia tampak terkejut dan berusaha mendorongku dengan tenaganya yang lemah.
Tidak ingin ku lepaskan, semakin dia memberontak Semakin pula aku bernafsu mencium dan ******* bibir yang terasa hangat dan manis itu.
Sampai aku melihat dia pasrah dan tidak lagi mendorongku, di situ perlahan ku lepaskan dia dan plakkkk.... satu tamparan kuat melayang ke pipi ku.
Dia pun pergi mengambil dan memakai pakaiannya, lalu dia pergi begitu saja.
Aku yang termenung dengan tamparan itu pun sadar dan pergi mengejarnya karena khawatir, saat itu hujan sudah reda tapi masih sedikit gerimis, walaupun hari mulai terang tapi jalan di hutan masih sedikit gelap.
Aku mengikutinya dari belakang, ku lihat dia kebingungan mencari jalan, lalu dia terjatuh, terduduk dan menangis.
Ku lepaskan jubah ku dan ku pakai kan padanya, lalu ku tarik tangannya.
Dia pun menurut dan kita pun pulang, sepanjang jalan pulang dia hanya diam biar pun ku gandeng erat tangannya.
Hari pun sudah terang saat sampai di rumah, ku antar dia sampai di depan ruangannya.
Pelayan Lee melihat kami, segera membawa payung dan memayunginya lalu membawanya masuk.
Sedangkan kan aku pun kembali keruangan ku dalam keadaan kedinginan.
__ADS_1