
*Part Jenderal Yu
Kakiku terasa kaku,1 langkah pun tidak dapat saya gerakkan ke depan,saya tidak tau harus bagaimana untuk menghadapi semua ini.
Belum lagi sempat saya berfikir lebih banyak datang seorang prajurit berlari dan berkata Jenderal Meng ingin menemuiku sekarang juga dan saya tau itu pasti tentang keadaan istana.
Mendengar itu saya segera berlari mencari Jenderal Meng dan mendapati Jenderal Meng bersama Putra mahkota,mereka sudah siap memakai jubah perang.
”Yang Mulia,Jenderal apa yang terjadi?” Tanyaku dengan panik.
”Kita harus kembali ke istana sekarang juga.” Perintah Jenderal Meng.
”Segera kumpulkan prajurit.” Perintah JenderalMeng kepada ketua prajurit.
”Kamu,cepat beritahu Pelatih Ying untuk segara bersiap dan kumpulkan semua prajurit pemanah.” Perintah Jenderal Meng kepada salah seorang Prajurit dalam barisan.
”Baik Jenderal.” Jawab Prajurit itu dan segera berlari pergi mencari Xiao Ying.
Saya mengerti akan keadaan ini,sepertinya Putra Mahkota harus segara kembali ke istana dan tampaknya Kaisar telah wafat.
…
Dalam sekejap saja semua prajurit terkumpul bahkan Xiao Ying juga sudah bersiap sedia menunggangi kuda dan di kawal oleh pasukan pemanahnya.
Sedangkan saya sendiri pun sudah memakai jubah perang dan memimpin pasukan paling depan,pasukan kami tidaklah ramai,prajurit kami juga tidak banyak,hanya sekitar 1000 prajurit saja.
Akhirnya kami pun berangkat dan perjalanan ini akan memakan waktu selama 3 hari,tetapi kami harus mengusahakan agar sampai secepatnya membawa Putra Mahkota selamat sama pai Istana,sedangkan di perbatasan tidak boleh kosong dan masih tertinggal beberapa ribu prajurit untuk menjaga perbatasan.
Perjalanan sudah memakan waktu setengah hari sejak kami berangkat dan prajurit silih berganti datang melapor,tampaknya keadaan istana sangat darurat sehingga kami pun tidak dapat beristirahat.
Hari sudah gelap dan tetes-tetes air hujan yang semakin deras memaksa kami harus berhenti untuk beristirahat.
Semua prajurit juga sudah tampak sangat lelah.
Karena perjalanan kami melalui kaki gunung,akan sangat berbahaya jika hujan deras,sehingga kami harus bergegas tetapi kami tidak mungkin tidak beristirahat dan tidak makan,apalagi sampai saat ini kami belum mendapatkan tempat yang cocok untuk berteduh dan beristirahat.
”Lapor Jenderal.” Seorang Prajurit datang melapor padaku.
”Jalan di depan sudah tertutup oleh bebatuan besar yang jatuh dari atas gunung,akan sangat bahaya jika kita meneruskan perjalanan.” Lanjut Prajurit itu.
__ADS_1
Saya pun pergi melaporkan pada Jenderal Meng yang berada di dalam kereta kuda bersama Putra Mahkota.
”Jenderal,perjalanan tidak bisa kita teruskan karena jalan di depan sudah tertutup oleh bebatuan yang jatuh dari atas gunung.” Ucapku dari luar kereta kuda.
”Apa tidak ada tempat untuk kita beristirahat?” Tanya Putra Mahkota.
”Jika kita berhenti di sini,ini akan sangat berbahaya.” Jawab Jenderal Meng.
”Jenderal satu-satunya cara adalah kita berjalan memasuki hutan,kita tidak dapat terus berjalan di kaki gunung,tetapi perjalanan kita akan terlamabat.” Ucapku kepada Jenderal Meng.
”Baiklah,untuk sementara ini kita masuk ke hutan dulu,cari gua untuk berteduh dan istirahatkan para prajurit.” Perintah Jenderal Meng.
”Baik Jenderal.” Jawabku segera melaksanakan perintahnya.
Akhirnya kami berjalan memasuki hutan,gelapnya hutan di sertai hujan deras dan angin kencang membuat kami sangat menderita,kuda kami pun kesulitan untuk berjalan.
Tidak menyerah akhirnya kami menemukan sebuah gua yang cukup besar dan kami pun berteduh,beristirahat,makan dan minum di situ.
Saat semua sedang makan,saya tidak melihat Xiao Ying turun dari kereta kuda dan makan.
”Mana Xiao Ying?” Tanya Putra Mahkota kepadaku.
Apa benar dia sakit atau ini semua karena saya yang menyakiti dia, saya sungguh tidak berguna tidak dapat menghadapi kenyataan ini.
Sudah 2 jam berlalu dan hujan masih saja tidak berhenti.
Putra Mahkota tampak gelisah sedangkan Xiao Ying tidak keluar sampai saat ini.
”Kita tidak dapat terus menunggu,biarkan para prajurit berjalan di belakang,sekarang yang paling penting adalah Putra Mahkota harus sampai di istana.” Ucap Jenderal Meng.
”Lapor Jenderal”. Tiba-tiba datang lagi seorang prajurit membawakan surat.
Jenderal Meng segera membacanya dan ternyata itu surat dari Pangeran yang mengatakan,pagi ini istana di serang,banyak Prajurit,kasim serta dayang istana di bunuh.
Sedangkan Raja Han bersama para menteri-menteri Ingin mengkonfirmasi akan kematian Kaisar dan di dalam istana hanya tinggal permasuri yang masih berusaha menahan mereka.
Pangeran sendiri tidak dapat bertindak dulu karena tiada bukti Raja Han adalah pemberontak.
”Siapkan kuda,kita harus bergegas.” Ucap Putra Mahkota dengan penuh amarah.
__ADS_1
Saya,Jenderal Meng dan juga Putra Mahkota segera berangkat meneruskan perjalanan dengan menunggangi kuda,sedangkan semua prajurit akan menyusul dari belakang.
Kali ini saya harus berpisah dengan Xiao Ying,saya takut akan sesuatu terjadi padanya jika saya tiada di sini,saya takut tidak dapat menjaganya saat ini.
Tapi dengan sangat terpaksa saya menunggangi kuda dan tidak ingin menoleh kebelakang lagi,jika tidak saya akan terus mengkhawatirkan dia.
1 hari telah berlalu, kali ini kami sampai lebih cepat karena menunggangi kuda dan mengambil jalan pintas,sekarang masih tinggal 1 jam lagi kami akan sampai ke ibu kota,sedangkan Xiao Ying dan para Prajurit mungkin sudah separuh jalan.
“Yang Mulia,siapkan hatimu,kita akan segara sampai.” Ucap Jenderal Meng kepada Putra Mahkota.
”Saya hanya tidak sabar ingin melihat ayahanda untuk terakhir kalinya dan akan saya bunuh siapa saja yang memberontak.” Ucap Putra Mahkota yang penuh dengan amarah dan kekhawatiran.
Seberapa cepat kuda dapat berlari,seberapa cepat itu lah kami memacu kuda kami,kini ibu kota dan istana sudah di depan mata,kami tidak dapat bersabar lagi untuk segera sampai.
Sampailah kami di depan gerbang istana dan di sambut oleh salah satu Jenderal yang menjaga bagaikan istana dan kami pun berjalan masuk untuk membawa Putra Mahkota pada tahtanya.
”Apa yang kamu lakukan? Singkirkan pedangmu itu dari ibundaku.” Teriak Putra Mahkota saat sampai di depan ruangan Kaisar dan melihat Raja Han menghulurkan pedang pada leher Permaisuri.
Sedangkan Pangeran juga tidak berdaya melihat Sang ibunda,karena dia sendiri pun di sandra dengan pedang pada lehernya juga.
Saya dan Jenderal Meng menarik pedang dan Raja Han bersama Menteri-Menteri lainnya di kepung oleh Prajurit yang mengawal kami masuk.
Raja Han tampak terkejut dengan kepulangan Putra Mahkota dan menarik kembali pedangnya yang tadinya di hulurkan pada Permaisuri dan juga melepaskan Pangeran.
”Saya Hanya ingin tau seberapa parah sakit abangku dan Permaisuri tidak mengijinkan kami masuk,apakah Permaisuri menyembunyikan sesuatu?” Ucap Raja Han penuh amarah.
”Sudah saya katakan kalau Kaisar tidak ingin di ganggu.” Jawab permaisuri.
”Sekarang saya sudah kembali dan jika paman ingin tau silahkan masuk bersamaku.” Ucap Putra Mahkota sembari melindungi ibunda Permasuri.
Akhirnya mereka masuk bersamaan juga Jenderal Meng,sedangkan saya di perintahkan untuk menjaga di luar.
Keadaan di luar istana masih sangat tegang di mana awal penyerangan yang di lakukan masih belum terbukti itu adalah perbuatan Raja Han.
Penyerangan yang masih menyisahkan beberapa titik kerusakan pada istana dan Prajurit istana yang bersiap sedia di depan gerbang membuat suasana istana seolah sedang menantikan peperangan.
Tidak lama kemudian,di nyatakan Kaisar
telah wafat,kesedihan dan tangis menyelimutih seluruh istana sedangkan di sebalik kesedihan itu,Putra Mahkota naik tahta menjadi Kaisar selanjutnya.
__ADS_1
Bersambung…