Aku Mencintai Seorang Raja

Aku Mencintai Seorang Raja
Memulai Lembaran Baru


__ADS_3

Tidak lama menunggu, kemudian Jenderal Yu datang. Lalu kutarik tangannya dan menyuruh dia duduk di depan kue ulang tahun yang sudah ku hias dengan lilin.


Dia hanya tersenyum melihat semua itu dan mungkin dia merasa sedikit aneh lalu dia bertanya.


"Untuk apa semua ini? bukankah ini kue yang kita buat tadi sore?"


"Aku sedang merayakan ulang tahun kamu."


Lalu dengan sedikit malu aku menyanyikan lagu selamat ulang tahun.


Dia tersenyum bahagia, sambil mendengar dan memandangi aku bernyanyi, sebenarnya aku merasakan pandangan itu agak lain, tapi aku tidak Ingin berfikir banyak.


Setelah selesai bernyanyi, aku menyuruhnya untuk meniup lilin.


"Tiup lilinnya."


"Harrrrr....." Dia terlihat bingung.


"Tiup lilinnya." Aku menjawab sambil tersenyum melihat dia sedikit salah tingkah.


"Ohhh..." Lalu dia tiup lilinnya.


"Ini hadiah dari Pangeran."


Lalu dia sedikit tertawa dan berkata.


"Ini bukan hadiah tapi dia berutang padaku karena dia sudah merusak punyaku."


"Ohhh...jadi dia sedangkan memanfaatkan aku."


"Tenyata kamu baru sadar." Sambil dia menertawai ku.


"Ternyata orang yang berhati dingin seperti kamu bisa tertawa juga."


Tiba-tiba aku melihat dia termenung sebentar.


"Apa yang kamu pikirkan?"


"Saya masih ingat waktu saya kecil dulu, setiap kali aku ulang tahun, ibuku selalu membawaku ke pasar untuk bermain kembang api, walaupun ayah tidak mengizinkan Kami keluar, tapi aku dan ibu selalu keluar secara diam-diam."


"Jadi di mana mereka sekarang?"


Dia terdiam, tampaknya pertanyaan ku membuatnya sedih. Lalu untuk mencairkan suasana, aku oleskan lagi cream ke wajahnya.


Dia pun membalas ku dan untuk menghindar aku pun berlari pergi dari situ, tapi dia mengejar ku dan menarik tanganku. Lalu dia membawaku ke pasar, kita membeli kembang api dan kami bermain bersama dengan begitu gembira.


Ada semacam perasaan aman dan terhibur saat bersamanya, walaupun kematian Kakak belum bisa aku terima dan aku masih menyalahkan diriku sendiri. Tapi hidupku masih harus di teruskan.


"Lihatlah kamu melamun lagi, jika kamu merindukan Nona Besar maka besok saya akan membawa kamu pergi mengunjungi makamnya"


Aku tidak tahu di mana Kakak di makam kan sampai sekarang, jadi saat mendengar itu aku sangat senang.


Sambil tersenyum memandangnya aku menganggukkan kepala.


.


.

__ADS_1


.


.


Pagi pun tiba, seperti yang di janjikan kita pun berangkat pergi mengunjungi makam Kakak dengan menunggangi Kuda.


Setibanya di situ kami bertemu dengan seorang yang tidak asing...dia adalah Putra Mahkota, dia juga berkunjung ke makam Kakak.


Dia memandangku dengan wajah sedih begitu juga aku memandangnya. Lalu tanpa berkata apa pun dia pergi.


Aku berusaha tidak sedih dan menangis, lalu berlutut di depan makam Kakak.


"Kakak, maafkan aku, terimakasih untuk hidup yang kau berikan ini, aku berjanji akan hidup dengan baik."


Aku membelai batu nisan Kakak dan aku tidak lagi dapat menahan tangis. Jenderal Yu membujukku dan memberikan bahunya untuk ku sandar.


Saat kita mencoba membuka hati maka semua akan membaik, berusaha memaafkan diriku sendiri, bersyukur atas hidup ini. Semua kejadian yang tidak baik biarlah menjadi kenangan.


...


6 bulan berlalu, hubungan ku dengan Jenderal Yu semakin akrab walaupun kita bukan pasangan tapi dia sangat menjaga ku.


Setiap hari aku menghabiskan waktu dengan belajar memanah bersama Pangeran dan Jenderal Yu sampai aku pun sudah sangat mahir, bahkan aku juga sudah bisa menunggangi Kuda sendiri.


Selanjutnya aku masih belajar cara menggunakan pedang.


...


Hari ini suasana hatiku, maupun cuaca sangat baik.


Pangeran datang menantang ku memanah.


"Hari ini saya pasti menang."


Lalu Jenderal Yu mengejeknya.


"Kamu kalah setiap kali bertanding, bagaimana kamu bisa di kalahkan perempuan."


"Saya itu mengalah bukan berarti kalah."


Aku pun tertawa mendengarnya.


"Lihatlah dia sudah menertawai kamu." Jenderal Yu menjawab dengan wajah mengejek.


Pangeran yang tidak terima pun mulai mengajakku bertanding. Seperti setiap kalinya Pangeran pun kalah lagi.


Jenderal Yu melihat Pangeran dan hanya menggelengkan kepala dan aku pun hanya bisa tersenyum.


Tiba-tiba...


"Ternyata adik ipar ku sudah sangat mahir memanah."


"Jenderal Meng." Dengan sangat bahagia aku menyambut ke pulangnya.


Dia terlihat sedikit kurus tapi sepertinya suasana hati pun sudah mulai membaik.


"Sepertinya Pangeran harus berlatih lebih rajin lagi."

__ADS_1


Lalu Pangeran menjawab.


"Ya baiklah aku mengaku kalah."


"Seharusnya kamu mengakuinya dari awal." Jenderal Yu mengejeknya lagi.


Aku dan Jenderal Meng pun hanya tertawa.


"Xiao Ying teruslah belajar, sama seperti Kakak kamu, dia juga sangat mahir memanah, bahkan aku pun tidak setanding dengannya."


"Aku ingin seperti Kakak mahir dalam hal apa pun."


Kakak adalah seorang prajurit wanita dia melatih para prajurit memanah. Tapi sejak Kakak tidak ada terpaksa para prajurit di latih oleh ketua prajurit lainnya.


Mendengar aku berkata begitu Jenderal Meng pun tersenyum sambil menganggukkan kepala.


"Jenderal Yu mari ada hal yang ingin saya bicara kan."


Kemudian Jenderal Meng dan Jenderal Yu pun pergi. Sedangkan Pangeran menunjukkan dan mengajariku ilmu pedangnya.


Di tengah aku berlatih dengan Pangeran tiba-tiba Putra Mahkota datang, setelah 6 bulan tidak pernah melihatnya sekarang tiba-tiba dia datang.


Dia menghentikan kami berlatih lalu dia menarik tanganku dan berkata.


"Ada yang ingin saya bicara kan." Dia berkata dengan wajah yang tidak lagi ceria seperti dulu.


"Mau bawa dia ke mana?" Pangeran berusaha menghentikan.


"Tidak apa Pangeran, aku akan segera kembali."


Mendengar aku berkata begitu Pangeran pun membiarkan dia membawaku.


Dia menarik ku pergi jauh dari keramaian prajurit yang sedang berlatih, lalu mulai berkata.


"Tunggu saya, beri saya kesempatan untuk menepati janjiku padamu."


"Apa maksud Yang mulia, hamba tidak mengerti."


"Saya akan menjadikan kamu Permaisuri ku seperti yang pernah saya janjikan, tunggu lah sampai saya naik tahta menjadi Kaisar maka saya bisa membawa kamu di sampingku."


"Maafkan hamba Yang mulia, hamba tidak berani membicarakan hal pribadi, hamba masih harus berlatih, harap Yang mulia mengerti."


"Saya tidak Ingin kamu berbicara seperti ini padaku, tidak bisakah kita seperti dulu?"


"Maaf Yang mulia jika tidak ada hal lain hamba mohon undur diri."


Aku berusaha menjaga jarak dan bersikap sopan dengan seorang Putra Mahkota. Saat aku ingin pergi dia menarik tanganku lagi dan terus memelukku.


"Apa kamu tahu setiap hari hatiku sangat menderita, aku sangat merindukan kamu."


Perlahan aku tolak dia.


"Mengerti lah kita tidak bisa kembali seperti dulu lagi, aku tidak akan menjadi Permaisuri atau pun selir yang tinggal di Istana bersama kamu. Aku sadar dengan kedudukan ku, aku mohon kembali lah dan pertahankan lah kedudukan Putra Mahkota dengan baik, kelak banyak nyawa yang akan bergantung pada kamu."


"Apa kamu sudah mencintai orang lain? kamu tidak boleh mencintai orang lain dan hanya aku yang boleh memiliki kamu, aku tidak akan melepaskan kamu."


Dengan wajah yang sangat serius dia berkata begitu dan pergi.

__ADS_1


Aku tidak tahu sejak kapan dia berubah menjadi begitu, rasanya aku tidak lagi mengenalnya.


Aku tidak akan pernah kembali lagi padanya bukan karena aku mencintai orang lain, tapi kami di takdir kan tidak untuk bersama.


__ADS_2