
* Part Xiao Ying
Aku mengerti semuanya sekarang, dia akan bersama dengan Putri Xu, tapi kenapa hatiku terasa sakit saat aku tahu niat Putri Xu.
aku merasa marah padanya, selama ini dia selalu mempermainkan ku, jika memang dia ingin bersama Putri Xu, dia tidak perlu bersikap baik padaku.
Aku merasa sakit hati, kejadian seperti ini mengingatkan aku kepada Putra Mahkota.
Tapi, apa aku yang sudah salah paham akan perasaan ini? apa lebih baik aku menghindar saja? aku tidak ingin terluka lagi, sebelum aku mulai menyukainya lebih dalam.
...
Hari ini Putri Xu bersama Jenderal Gu dan pasukannya sudah berangkat kembali ke Mongolia, mereka cukup membantu kami dengan perbekalan makanan, di tambah perbekalan dari istana pun sudah sampai jadi untuk sementara ini kami tidak lah perlu khawatir akan perbekalan makanan.
1 Minggu sudah berlalu sejak saat itu, aku tidak lagi pernah berbicara dengannya, setiap kali melihatnya aku pun selalu menghindar, aku juga sudah tidak lagi berlatih bersamanya. Jujur saja aku merindukan saat-saat itu.
Karena tidak ingin terus memikirkannya, aku pun melampiaskan rasa ini dengan memanah, karena hanya itu lah satu-satunya yang bisa menjadi pelampiasan ku.
Tiba-tiba ketua prajurit mencari ku.
"Nona Ying, apa Nona tahu di mana Jenderal Yu, seharusnya hari ini kami berlatih pedang bersamanya, tapi tadi pagi di tidak hadir dan kami semua mencarinya sampai sekarang."
"Apa semalam dia ada berkata akan pergi mana?"
"Dia tidak berkata apapun."
"Apa kamu sudah pergi mencari Jenderal Meng?"
"Jenderal Meng juga sedang mencarinya."
"Baiklah aku juga akan coba cari, kamu juga terus kan mencari, jika ada sesuatu cepat beri kabar."
"Baik Nona."
__ADS_1
Aku pun mulai mencari di sekitar dan di mana-mana pun aku tidak menemukannya.
Lalu aku pergi menemui Jenderal Meng, tapi Jenderal Meng tidak ada di tempat, pelayan berkata kalau dia sudah keluar pergi mencari Jenderal Yu sejak siang tadi.
Merasa ada yang aneh, tidak mungkin mereka bisa menghilang begitu saja. Aku teruskan mencari dan saat aku melalui hutan, aku memiliki firasat yang tidak enak, tapi karena hari sudah mulai gelap aku merasa takut untuk masuk ke dalam hutan, tapi bagaimana, aku harus mencari mereka, bagaimana jika sesuatu terjadi pada mereka.
Tidak lama ketua prajurit sampai juga di depan hutan.
"Nona jangan masuk sendiri, di dalam sangat bahaya, lagi pula hari mulai gelap, nanti tidak bisa keluar."
"Tapi bagaimana kalau mereka di dalam dan sedang membutuhkan pertolongan?"
"Baiklah Nona kita masuk dan cari bersama, yang penting jangan sampai berpencar."
Baiklah, kita masuk."
Akhirnya bersama beberapa prajurit kami putuskan untuk masuk kehutan itu, prajurit berjalan di belakang ku dan tidak lama mencari di dalam hutan, aku di kejutkan oleh seseorang bersandar di sebuah Pohon, dia tidak bergerak, dan dengan keberanian yang ada aku mencoba untuk mendekat.
Semakin dekat jarak ku, semakin orang ini terlihat tidak asing, dan ternyata aku melihat Jenderal Meng terluka parah dengan beberapa panah masih menancap di tubuhnya.
"Apa yang kamu lakukan di sini? cepat pergi, di sini sangat berbahaya." Dengan suara sangat lemah dia menjawab ku.
"Tidak apa kami akan membawamu pulang, saya membawa beberapa prajurit." Dengan suara sangat panik aku mencoba menenangkannya.
"Tidak saya harus menolong Jenderal Yu, dia dalam bahaya." Jenderal Meng mencoba bangun tapi tidak bisa karena luka yang terlalu banyak.
Lalu Jenderal Meng pingsan.
Prajurit pun datang dan membawa Jenderal Meng, tiba-tiba kami di sekat oleh seorang dengan wajah di tutupin topeng.
Sementara prajurit lainnya mencoba membawa dan menyelamatkan Jenderal, ketua prajurit berusaha melawan lelaki bertopeng itu.
Orang ini sasarannya adalah Jenderal Meng, tapi karena ketua prajurit cukup mahir dengan ilmu pedang, jadi ketua prajurit berhasil menghalanginya, sehingga Jenderal Meng bisa di bawa keluar hutan dan di selamatkan oleh ramai prajurit di luar hutan.
__ADS_1
Sedangkan aku mengkhawatirkan Jenderal Yu.
sementara ketua prajurit masih melawan orang itu.
Ketua prajurit menyuruhku pergi, dia berkata dapat melawannya.
"Nona pergi dari sini, saya bisa mengatasinya."
Tanpa menjawab apapun aku terus berlari masuk ke hutan yang lebih dalam untuk mencari Jenderal Yu, dengan kekuatan yang ketua prajurit miliki, orang itu bukanlah lawannya, jadi aku pun tidak mengkhawatirkannya.
Aku terus masuk dan mencari, semakin dalam dan semakin gelap, tapi aku tidak lagi peduli, aku harus mencarinya, aku sangat khawatir sesuatu terjadi padanya, mengingat Jenderal Meng yang dalam terluka pun masih ingin pergi menolongnya, aku menyadari sesuatu yang bahaya sedang terjadi padanya.
Pencarian ku berhenti dengan pemandangan yang ada di depanku, ternyata aku sudah sampai di ujung hutan, dan dari kejauhan aku melihat cahaya lilin dari rumah-rumah warga. Saat itu aku sadar aku sudah sampai di bagian barat.
Karena masih terlalu jauh dan gelap, hanya cahaya lah yang dapat ku lihat dari rumah warga itu.
Tiba-tiba aku mendengar suara, aku melihat beberapa orang dengan wajah memakai topeng berlari, sepertinya sedang mencari dan mengejar seseorang.
Mereka berlari kearah ku, dengan cepat aku segera bersembunyi di balik sebuah pohon besar. Tapi tidak sengaja langkah kakiku menginjak ranting dan membuat suara, sehingga salah satu dari mereka mendengarnya dan mencari sumber suara.
Aku mendengar suara langkah kaki semakin mendekatiku, dengan diam-diam aku terus memundurkan langkahku.
Tiba-tiba seseorang mendekap mulut ku dari belakang, seketika aku ketakutan dan berusaha melawan tapi tidak bisa, orang itu mencoba menenangkan aku, dan saat ku lihat wajahnya ternyata orang itu ada Jenderal Yu.
Karena keadaan masih dalam bahaya kami pun masih terus bersembunyi, sampai orang-orang itu pun pergi mencari ke tempat lain.
Melihat orang-orang itu pergi kami pun pergi ke arah berlawanan, sambil menarik tanganku dan terus berlari, tiba-tiba dia terjatuh dan dia menahannya dengan lutut lalu berusaha bangkit lagi, aku melihat pedang yang penuh darah.
Dia melepaskan tangan ku dan memegang perutnya sebelah tangannya memegang pedang, aku menyadari dia terluka, aku pun segera menolongnya dan dengan perlahan kami terus berlari sejauh mungkin.
Tengah berlari dan malangnya tiba-tiba hujan, yang sudah lama tidak hujan dan tiba-tiba hujan di saat seperti ini, sebelum hujan mulai deras dan membasahi kami, aku harus mencari tempat yang aman untuk bersembunyi, dia tidak akan bertahan jika terus berlari.
Malam yang sangat gelap itu pun membawa ku sampai di kaki gunung, tiba-tiba suara orang-orang itu terdengar lagi.
__ADS_1
Aku lihat semak-semak di bawa kaki gunung jadi, kami pun bersembunyi di situ.
Tapi tidak di sangka di balik semak-semak itu terdapat sebuah lubang gua yang cukup luas dan tersembunyi dan akhirnya kami masuk kedalam.