Aku Mencintai Seorang Raja

Aku Mencintai Seorang Raja
Rasa Itu Mulai Ada


__ADS_3

Suasana menjadi sangat kaku, lalu itu membaik dengan dia bertanya.


"Apa luka mu masih sakit?"


Tanpa ku pandang wajahnya aku menjawab.


"Sudah tidak terlalu sakit."


Tiba-tiba Jenderal Meng masuk, begitu juga dengan Jenderal Gu.


"Bagaimana keadaan kamu?" Jenderal Meng bertanya padaku dengan khawatir.


"Saya sudah membaik, kamu jangan khawatir."


"Kamu jangan melatih panah dulu, istirahat lah dulu sampai sembuh."


"Tidak apa, sekarang sudah tidak terlalu sakit, mungkin besok sudah boleh melatih lagi."


"Kamu jangan keras kepala, tunggu luka sembuh baru melatih."


"Baiklah, tapi bagaimana dengan anak perempuan itu?"


"Kamu tidak perlu khawatir, saya sudah menyurus nya."


"Nona Xiao Ying, ini adalah obat luka dari negeri kami, obat ini dapat membantu agar luka tidak meninggalkan bekas."


"Terimakasih atas niat baik Jenderal Gu."


Karena ada urusan jadi mereka pun pergi, sedangkan sekarang wajah Jenderal Yu terlihat tidak begitu senang , lalu dia berkata.


"Kita pun memiliki banyak obat seperti itu." Sambil dia pergi meninggalkan aku.


Pelayan Lee pun masuk.


"Nona, ada apa dengan Jenderal Yu?"


"Saya pun tidak tahu, dia orang yang aneh."


"Apa maksud Nona?"


"Ermmmm... kenapa kamu jadi tanya dia?"


"Maaf Nona, luka Nona masih sakit?"


"Masih sakit, sangat sangat sakit."


"Kalau begitu hamba pergi panggil tabib."


"Tidak... tidak saya hanya berbohong padamu, mari kita kembali ke ruangan ku." Dengan wajah nakal aku membohongi Pelayan Lee.


"Nona... Jangan main-main."


Aku pun hanya tertawa melihat tingkah Pelayan Lee.


...


Karena terluka aku tidak bisa melatih dan berlatih itu rasanya bosan sekali, akhirnya aku pun pergi melihat prajurit berlatih saja.


Diam-diam aku keluar dari ruangan agar Pelayan Lee tidak tahu.


Tiba-tiba...


"Nona..." Dengan wajah yang sedikit garang tapi imut itu dia menghentikan langkah ku.


Aku pun tersenyum padanya.

__ADS_1


"Luka Nona belum sembuh, harusnya beristirahat." Sambil dia menarik tanganku untuk masuk kembali ke ruangan.


"Saya merasa bosan, saya hanya ingin jalan-jalan melihat prajurit berlatih, boleh ya..." Dengan wajah manja aku merayu padanya.


"Baiklah Nona, tapi hamba ikut ya."


Aku mengangguk dan tersenyum senang.


...


Ternyata hari ini Jenderal Yu yang menggantikan aku menjadi pelatih. Aku pun memandangnya dari jauh.


"Nona, kenapa Nona memandangi Jenderal Yu?"


"Harrr... saya tidak memandangnya, saya memandang prajurit berlatih."


"Nona bohong."


Aku teruskan memandang, ternyata di terlihat tampan juga.


"Nona, Jenderal Yu terlihat tampan ya."


"Ya kamu benar, dia terlihat sangat tampan."


"Tuh kan Nona bohong, Nona masih berkata tidak memandangnya." Sambil tertawa Pelayan Lee menggoda ku.


"Ternyata kamu sudah pandai menggodaku."


"Nona kalau suka ya mengaku saja."


"Tidak... jangan sembarang kamu, saya tidak suka, dia juga tidak tampan."


"Nona jangan membohongi diri sendiri."


"Tidak, saya tidak bohong."


Aku pun memandang ke sana juga.


Putri Xu mendekati Jenderal Yu, sambil membawakannya air, lalu Jenderal Yu meminum air itu sambil Putri Xu menyapu keringatnya dengan sapu tangan.


Pemandangan itu membuatku merasa cemburu, aku langsung pergi dengan kesal.


"Nona... tunggu...Nona kenapa pergi."


"Di sini sangat membosankan, kita pulang saja." Sambil berjalan dan dengan kesal aku menjawab Pelayan Lee.


...


Aku kembali ke ruangan ku dengan kesal.


"Nona kenapa terlihat kesal?"


"Tidak, saya tidak kesal.....ahhhhh...kamu keluar ya, saya mau istirahat." Sambil aku tolak Pelayan Lee keluar.


Kenapa aku kesal? kenapa aku cemburu? arghhh.... dia mau dengan siapa saja itu bukan urusanku.


Akhirnya aku putuskan untuk berdiam diri di kamar, sampai sore harinya Pelayan Lee datang lagi, dia membawa kabar kalau perbekalan makanan dari istana sudah sampai dan Pelayan Lee berkata ada seseorang ingin menemui ku.


"Nona, Jenderal Gu menunggu mu di luar."


Harrr... buat apa dia datang ke sini, lalu aku pun keluar menemuinya.


"Nona Xiao Ying, bagaimana luka kamu apa sudah lebih baik?"


"Terimakasih atas perhatiannya, luka masih sedikit sakit, tapi sudah membaik."

__ADS_1


"Bagus kalau begitu, tadi saya pergi berburu bersama Jenderal Meng dan saya menangkap seekor kelinci, ini saya berikan padamu, mungkin bisa menghibur kamu."


"Wah... lucu sekali, terimakasih." sambil aku tersenyum senang.


"Saya senang melihat Nona menyukainya, kalau begitu saya pamit dulu."


Melihat ku menerimanya dengan sangat gembira, Jenderal Gu pun merasa gembira dan lalu pamit dan pergi dengan wajah tersenyum bahagia.


"Nona, lucu sekali, boleh saya memegangnya."


"Tentu saja, mari kita bawa ke dalam."


Akhirnya aku punya mainan baru, tapi tiba-tiba kelinci ini mengingat kan aku pada Putra Mahkota.


"Nona kenapa termenung?"


"Harrrr... tidak, Ermmmm kalau saya pergi melatih kamu tolong jaga dia ya, jangan lupa kasih makan."


"Baik Nona, akan saya jaga dengan baik."


...


Sudah 2 hari aku beristirahat dan hanya bermain dengan kelinci di dalam ruangan ku. Saatnya aku kembali latihan, aku rasa bahuku pun sudah mulai membaik.


Pagi-pagi dengan semangat aku pun pergi ke markas prajurit, di situ sudah berkumpul Jenderal Gu, Jenderal Yu dan juga Putri Xu.


Jenderal Yu pun bertanya.


"Lukamu belum sembuh kenapa tidak beristirahat?"


Dalam hati aku berpikir, pasti karena dia takut aku mengganggunya bersama Putri Xu jadi tampaknya di mengusirku.


Melihat Jenderal Yu berkata seperti itu, Putri Xu pun menjawab.


"Tampaknya Nona Xiao Ying sangat bersemangat, bagaimana kalau kita bertanding panah?"


Hahhh...dalam hati aku berpikir, seorang Tuan Putri menantang aku yang tangannya ada luka, ini sangat tidak adil, tapi ini lah sifat seorang Tuan Putri.


"Baiklah."


"Melihat luka bahu Nona Xiao Ying belum sembuh , jadi saya akan mengalah 5 panah untuk mu."


"Terimakasih Tuan Putri, saya rasa itu tidak lah perlu, kita bisa bertanding dengan adil dan anggap saja saya tiada luka."


"Baiklah kalau begitu kita bertanding dengan adil."


Melihat situasi itu, Jenderal Yu mulai lagi berkata.


"Tidak, lukamu belum sembuh, kamu jangan keras kepala, saya antar kamu kembali ke ruangan untuk beristirahat." Sambil dia menarik tanganku.


Lalu Jenderal Gu berkata.


"Nona Xiao Ying, Jenderal Yu benar, sebaiknya kembali beristirahat. Tuan Putri jika ingin bertanding, biar saya saja yang menemani Tuan Putri."


"Benar kata Jenderal Gu, sebaiknya Nona Xiao Ying kembali beristirahat dan biar Jenderal Gu yang mengantar, Jenderal Yu akan menemani saya memanah, sudah lama sejak berumur 15 tahun sampai sekarang kita tidak pernah bertanding lagi."


Sepertinya Putri Xu bersikap agak lain, kali ini dia tidak bersikap lemah lembut seperti saat pertama bertemu, tidak tahu apa yang dia pikirkan, tapi ini sudah pasti berhubungan dengan Jenderal Yu.


Aku mengalah saja, aku bukanlah apa-apa, ternyata mereka sudah berkawan lama. Aku pun menolak tangan Jenderal Yu dengan agak kasar.


"Tampaknya, Putri Xu dan Jenderal Yu adalah kawan lama, kalau begitu sebaiknya saya pamit kembali saja, tunggu luka ku sembuh, saya akan menemani Tuan Putri."


"Biar saya yang mengantar." Sambung Jenderal Gu.


"Tidak perlu, saya akan pergi mencari Jenderal Meng, mohon pamit."

__ADS_1


Aku pun pergi meninggalkan mereka, hatiku sedikit sedih, tapi ya sudahlah.


__ADS_2