Aku Mencintai Seorang Raja

Aku Mencintai Seorang Raja
Hari eksekusi


__ADS_3

*Part Xiao Ying


Entah apa yang terjadi di saat aku bangun aku sudah berada di ruang lawatan bersama dengan Pelayan Lee.


Badan ku sangat-sangat sakit semuanya penuh luka.


"Kenapa saya di sini?"


"Kaisar sudah mengampuni Nona."


"Benarkah?"


"Ya, Nona beristirahat lah sekarang, setelah baikan kita akan pulang ke rumah."


Aku melihat Pelayan Lee menangis, lalu aku bertanya dengan suara yang sangat lemah.


"Lalu kenapa kamu menangis?


"Hamba sedih melihat Nona begini."


"Bukan kah sekarang sudah tidak apa-apa."


Pelayan Lee masih menangis sepertinya dia menyembunyikan sesuatu.


"Kenapa kamu masih menangis?apa sesuatu terjadi?"


"Ti...tidak...Nona sebaiknya kembali istirahat."


"Saya tahu kamu pasti menyembunyikan sesuatu dariku."


"Tidak, sekarang Nona terus kan lah beristirahat."


"Pelayan Lee, mana Kakak?apa dia ada datang? katakan padanya jangan khawatir, aku akan baik-baik saja."


Pelayan Lee yang mendengar pertanyaan ku itu diam saja dan masih menangis,saat itu aku mulai curiga.


"Pasti sesuatu telah terjadi tolong jangan sembunyikan dariku."


"Nona besar...."


"Apa yang terjadi padanya?"


"Dia...


"Apa sesuatu terjadi padanya?"


Dengan tangisan yang semakin menjadi di tambah aku yang mendesaknya, lalu Pelayan Lee pun mengatakan yang sebenarnya.


"Nona Besar akan di hukum mati sore ini."


"Tidak...itu tidak mungkin, bagaimana bisa terjadi."


"Nona Besar pergi meminta pada Kaisar untuk melepaskan kamu tapi Kaisar tidak mungkin melepaskan kamu, jadi Nona Besar mengganti dengan nyawanya."


Seketika itu juga aku menangis, apa yang harus aku lakukan sekarang?


"Tidak... ini tidak boleh terjadi, ini kesalahan ku, bagaimana aku bisa membiarkan Kakak yang menanggungnya, aku harus pergi menemui Kaisar sekarang, aku harus berbicara dengannya."

__ADS_1


"Nona, itu sudah tidak mungkin, bahkan Jenderal Meng sudah pergi mencobanya, tapi Kaisar pun tidak Ingin menemuinya."


"Lalu di mana Kakak sekarang?"


"Dia di penjara."


"Kalau begitu tolong bawa saya pergi menemui Kakak."


"Nona Besar sendiri yang sudah pesan untuk tidak menemui siapa pun."


Apa yang harus aku lakukan sekarang.


"Tidak... saya harus menemui Kaisar."


Aku tidak lagi memperdulikan seberapa sakit luka ku atau pun Pelayan Lee yang mencoba mencegah ku. Aku segera berlari ke tempat Kaisar dan berteriak dari luar.


"Kaisar... tolong ampuni Kakakku, aku yang bersalah, tolong jangan menghukum Kakakku.


Kaisar aku mohon padamu...aku mohon... hukum saja aku."


Berteriak seperti apa pun Kaisar tidak perduli, hingga aku berlutut di depan ruangan Kaisar, agar dia merasa iba padaku dan ingin menemui ku.


Aku masih terus berteriak walaupun tidak di perduli Kan, aku harusnya menemui Kaisar, aku harus menyelamatkan Kakak.


"Kaisar aku mohon...aku mohon..."


Aku berteriak sampai suara pun lemah di tambah hujan yang turun semakin deras dan hari pun semakin sore, yang berarti masa eksekusi akan segera sampai tapi Kaisar tidak juga ingin menemui ku.


Aku tidak menyerah, walaupun sampai mati aku harus berlutut aku harus menyelamatkan Kakak.


"Xiao Ying, berlutut sampai kapan pun sudah tidak berguna, Kaisar sudah buat keputusan, dengan begini kamu hanya melukai diri mu sendiri."


"Tidak,Aku tidak perduli lagi dengan diriku saat ini aku tidak boleh menyerah, aku harus menyelamatkan Kakak."


Pangeran hanya menatap ku sedih dengan badan basah kuyup karena hujan yang begitu deras.


"Pangeran, tidak bisa kah kamu membantuku memohon pada ayahanda mu."


Pangeran tidak berdaya melihat aku yang terus memohon dan memohon.


"Bukankah kamu seorang Pangeran dan dia adalah ayahanda mu, pasti dia akan mendengar kan mu."


Tapi Pangeran hanya diam dengan wajah yang sedih dan menyesal. Dia pun hanya bisa melangkahkan pergi tanpa menjawab apa-apa.


Aku tidak lagi bisa mengharapkan Pangeran atau siapa pun. Tapi aku masih tidak boleh menyerah, jika aku menyerah aku tidak akan pernah bertemu Kakak lagi, bahkan kue ulang tahun yang ingin ku buatkan untuknya belum sempat ku buatkan.


Di sebalik kesedihan ini, dalam hati aku tidak dapat berbohong, di mana dia? dan apa dia baik-baik saja? Kenapa dia tidak datang menolong ku?


.


.


.


.


Derasnya hujan membuat ku susah membuka mata tapi masih dapat ku lihat seseorang yang sangat ku kenal berdiri menatap ku dari kejauhan, aku melihat dia dengan baju pengantinnya yang berwarna merah dan berdiri di tengah hujan, tapi wajahnya tampak begitu sedih.

__ADS_1


Saat melihatnya aku sedikit merasa ada harapan, tapi perlahan ku lihat dia memundurkan langkahnya, selangkah demi selangkah lalu dia pergi.


Dalam hati aku sudah mengerti, aku hanya bisa diam menelan semua ini, Aku tidak menyalahkan dia, orang yang seharusnya di salahkan adalah aku, Lalu tiba-tiba aku merasa seseorang berdiri di sampingku, melindungi ku dari derasnya hujan.


Ternyata dia adalah Jenderal Yu, aku yang tidak pernah sangka dia lah yang saat ini berdiri di tengah hujan bersama ku dan melindungi ku dengan jubahnya. Sampailah terdengar lonceng eksekusi yang di bunyikan, itu pertanda eksekusi telah selesai.


Saat itu juga aku menangis sejadi-jadinya, berteriak dan memberontak sampai aku tidak ada tenaga lagi dan aku merasakan mata ku kabur dan semuanya menjadi gelap.


.


.


.


.


Perlahan kubuka mata, saat ini aku berharap semuanya hanya mimpi, aku sudah terbangun dan berada di kamar ku, aku pun berharap aku tak bangun lagi, ingin rasanya aku mati saja.


Aku ingin kembali ke dunia ku, di sini sangat mengerikan, aku tidak dapat menerima hukuman yang sangat menakutkan ini.


Lalu tiba-tiba Pelayan Lee masuk.


"Nona kamu akhirnya bangun."


Melihat ku begitu lemah Pelayan Lee pun berkata lagi.


"Nona sudah 2 hari tidak sadarkan diri."


Aku tidak menjawabnya, dalam hati aku ingin mati saja. Aku tidak ada semangat hidup lagi.


Yang kuinginkan saat ini hanya Kakak.


Dalam hati aku berkata " Kakak maafkan Aku."


Melihat aku yang diam saja, Pelayan Lee pun tidak bertanya lagi dan dia pun pergi. Mungkin dia mengerti dan mungkin juga marah, ya aku pun marah pada diriku sendiri.


Aku sangat menyesal bahkan penghormatan terakhir pun tidak bisa aku berikan, bahkan hari terakhir aku bertemu dan berbicara padanya pun dia masih memperingati ku tentang Putra Mahkota, tapi aku tidak sekali pun mendengarkannya.


Sepanjang hari aku hanya berdiam dan melamun di kamar lalu kadang menangis,aku bahkan tidak bernafsu makan.


Setiap saat aku selalu menyalahkan diriku sendiri.


Pelayan Lee yang melihat ku begini dia pun khawatir , dia selalu datang mencoba membujukku.


Aku yang hidup tapi sudah seperti mati.


Ya Tuhan aku ingin pulang...tolong jangan hukum aku begini, kembali kan aku ke dunia ku.


Lalu tiba-tiba aku ingat sungai itu. sungai di mana aku telah di temukan. Mungkin aku bisa kembali dan mencari jalan pulang di situ.


Lalu tanpa berpikir panjang aku segera berlari ke sana, sampai di sungai, aku melompat kedalam, Aku terus menyelam mencari apakah ada jalan pulang.


Tapi sekali lagi air yang deras membuat ku tidak berdaya, hingga aku yang tidak lagi perduli akan bahaya, tanpa di duga pun hanyut terbawa air sungai.


Air yang deras membuat ku tidak bisa berteriak minta tolong, berulang kali aku tenggelam dan sesekali mencoba berenang melawan arus, tapi bagaimana pun aku mencoba, aku tetap tidak bisa melawan arus sungai itu.


Hingga sampai akhirnya aku sudah mulai lemas dan mulai Pasrah, aku pun pejamkan mata dan tenggelam, tapi tiba-tiba saja seseorang melompat kedalam dan menarik ku keluar dari air.

__ADS_1


__ADS_2