Aku Mencintai Seorang Raja

Aku Mencintai Seorang Raja
Kedatangan Tamu Dari Mongolia


__ADS_3

Jenderal Meng mempersilahkan kami semua duduk, di perjamuan makan malam itu, ada Jenderal Yu juga.


"Putri Xu, Jenderal Gu ini saya perkenalkan adik ipar saya Xiao Ying. Xiao Ying, ini adalah Putri Xu dan Jenderal Gu dari kerajaan Mongolia.


"Hamba Xiao Ying memberi salam kepada Tuan Putri dan Jenderal Gu." Dengan sopan saya memberi salam.


Lalu Putri Xu menjawab.


"Tidak perlu sungkan, kamu terlihat sangat mirip dengan Kakak mu."


Lalu Jenderal Meng pun memotong pembicaraan.


"Mari semua silahkan duduk, terimakasih kepada Tuan Putri Xu karena datang membantu kami dengan perbekalan makanan."


"Ini adalah niat ayahandaku,kami hanya berusaha membantu apa yang bisa kami bantu." Sambil tersenyum Putri Xu menjawab.


"Sejujurnya kami memang sangat membutuhkan perbekalan makanan dan air yang lebih banyak, mengingat di sini sudah satu bulan tidak hujan."


"Jenderal jangan sungkan, kami akan bantu sebisa kami." Jenderal Gu menjawabnya.


Lalu Jenderal Yu pun bertanya.


"Kalau boleh saya tahu, bagaimana kalian bisa tahu kalau kami kekurangan perbekalan makanan?"


Jenderal Gu menjawab.


"Sebenarnya 7 hari yang lalu kami pergi ke ibu kota, saat itu kami keluar dari istana setelah selesai mengunjungi Kaisar. Kami bermalam di ruangan yang di sediakan oleh Kaisar dan malam itu saat sedang berjaga, saya melihat seorang prajurit yang gerak geriknya sangat mencurigakan, saya pun mengikutinya dan ternyata dia bertemu dengan seseorang dan saya mendengar pembicaraan mereka tentang pengiriman perbekalan makanan ke perbatasan. Mereka dengan sengaja menundanya."


"Jadi ternyata ada yang ingin kami mati kelaparan." Jawab Jenderal Meng.


"Apakah Jenderal ada menulis surat untuk Kaisar?"


"Sudah sangat banyak, tapi tidak pernah lagi di balas sejak 1 bulan ini, bahkan orang-orang ku di sana pun tidak ada kabar."


Lalu Putri Xu pun berkata.


"Sebenarnya perbekalan makanan yang kami bawakan ini pun tidak di ketahui oleh Kaisar, kami beralasan hanya lalu dan tinggal beberapa hari, jadi saya harap Jenderal dapat merahasiakannya."


"Baiklah, saya mengerti, terimakasih atas niat baik kalian, sebenarnya perbekalan makanan dari ibu kota akan sampai besok, jadi Kaisar tidak akan curiga." Jawab Jenderal Meng.

__ADS_1


"Jenderal tidak perlu sungkan, jika perlu bantuan, Jenderal katakan saja, kami siap membantu, ayahanda ku sangat lah berterima kasih kepada Jenderal karena menyelamatkan nyawanya dulu."


"Hahaha... Itu kejadian yang sudah sangat lama dan ayahanda mu masih ingat."


"Ayahanda selalu berkata dia berhutang nyawa padamu."


"Tidak lah sampai seperti itu, saya hanya menjalankan tugas dan melakukan apa yang seharusnya, baiklah kita tidak membicarakan ini lagi, mari silahkan di makan."


Kami semua makan sambil berbicara dengan gembira dan tiba-tiba Putri Xu bertanya.


"Apakah Xiao Ying sudah mempunyai pasangan?"


"Saya masih belum memiliki pasangan, saya masih fokus dengan melatih para prajurit."


Jenderal Gu pun menjawab.


"Saya dengar teknik memanah Nona Xiao Ying tidak kalah dengan Kakak kamu Nona Yue."


"Saya pun masih belajar dan tidak lah sehebat Kakak saya." Aku menjawab sambil tersenyum.


"Nona Xiao Ying sangat rendah hati dan cantik, lelaki yang menjadi pasangan mu pasti sangat beruntung."Jenderal Gu menjawab ku dengan wajah yang sedikit malu-malu.


Lalu Putri Xu bertanya lagi.


"Bagaimana dengan Jenderal Yu, apa sudah mempunyai pasangan?"


"Saya juga belum memiliki pasangan."


Mendengar Jenderal Yu menjawab begitu, wajah Putri Xu terlihat gembira dan tersenyum, lalu dia mengalihkan pembicaraan lagi.


"Jenderal Meng, saya melihat Xiao Ying adalah gadis yang sangat baik, sayang sekali jika belum memiliki pasangan. Bagaimana dengan Jenderal negeri Mongolia, Jenderal Gu. Saya merasa mereka bisa lebih mengenal satu sama lain."


Sambil tertawa Jenderal Meng menjawab.


"Hahaha...Masalah seperti ini saya serahkan kepada Xiao Ying sendiri."


Aku tidak tahu bagaimana cara menjawab mereka, baru pertama kali bertemu sudah kaku begini.


Aku sebenarnya menyadari sejak duduk sampai sekarang tatapan mata Jenderal Gu selalu tertuju padaku.

__ADS_1


Mungkin Putri Xu menyadarinya juga, jadi sepertinya Putri Xu mencoba mewakili isi hati Jenderal Gu.


"Terimakasih atas pujian Putri Xu, tapi saat ini saya belum memikirkan hal ini."


Mungkin Jenderal merasa situasi sangat kaku jadi Jenderal Meng pun berkata.


"Hahaha...Mungkin berteman saja dulu, sama seperti saya dan istri ku dulu."


Putri Xu pun hanya tersenyum.


Di sepanjang makan malam dan pembicaraan dengan topik yang kaku itu, Jenderal Yu hanya diam.


wajahnya tampak tidak terlalu senang.


Setelah selesai makan, masing-masing dari kami pun kembali beristirahat. Di perjalanan menuju ruangan ku, aku melihat seorang anak perempuan sedang berusaha mencuri makanan dari prajurit, dan aku melihat seorang prajurit sudah siap memanahnya, karena jarak ku yang tidak begitu jauh, aku pun berlari memeluk dan melindungi anak itu dengan badan ku, sehingga panah yang di lepaskan itu mengenai bahu ku.


Saat itu prajurit yang melepaskan panah itu tahu kalau dia sudah memanah ku, sehingga dia segera berteriak memanggil bantuan.


Seketika suasana menjadi panik, sehingga menarik perhatian Jenderal Meng dan Jenderal Yu.


Jenderal Yu datang dengan wajah yang sangat panik, melihat aku yang kesakitan dia pun mematahkan setengah panah yang menancap di bahu ku, lalu menggendong ku ke ruang rawatan.


Sementara anak perempuan itu terus saja menangis dan Jenderal Meng pun membawanya pergi.


"Jangan bunuh anak ini." Dalam kesakitan aku berkata pada Jenderal Yu.


Sampai di ruang rawatan ada seorang tabib membantu ku mengeluarkan panah dan semuanya gelap.


...


Saat aku terbangun, hari sudah hampir terang, rasa sakit luka di bahu ku pun sudah berkurang.


Aku melihat Jenderal Yu tertidur dan duduk di samping ku, dalam hati aku berfikir, pasti dia sudah menjaga ku semalaman.


Tak sengaja aku memandang wajahnya yang sedang tertidur, tidak tahu apa yang terjadi, hati ku seperti tergerak dan aku pun tersenyum, dia memang selalu melindungi ku tapi aku tidak sadar sejak kapan perasaan ini mulai tumbuh.


Semakin ku pandangi wajahnya yang tampan dengan pakaian Jenderal yang gagah, semakin aku terpesona, rambutnya sedikit menghalangi pemandangan ku, sehingga tanganku pun mulai mendekati wajahnya untuk menepikan rambutnya.


Dengan sangat hati-hati aku mendekatkan tangan ku, jantung ku berdetak sangat kencang dag... dig... dug...semakin dekat dan semakin dekat, tiba-tiba dia bangun, aku terkejut dengan mata melotot, karena tiba-tiba dengan kuat dia memegang tangan ku sambil menatap ku dengan wajah yang sangat serius.

__ADS_1


Tatapan itu membuat aku malu karena aku juga sudah tertangkap basah, aku berusaha menarik tanganku kembali dan memandang kearah lain, tapi dia tidak berkata apa-apa dan hanya tersenyum.


__ADS_2