
* Part Jenderal Yu
Sudah 1 tahun di perbatasan ini, aku masih lah seorang Jenderal yang belum bisa membantu rakyat ku, aku belum bisa merebut kembali kerajaan yang ayahanda terpaksa tinggalkan.
Di sini setiap hari aku harus melihat penderitaan mereka bahkan berperang dengan mereka, membunuh mereka.
Aku masih menunggu kesempatan itu, jika Putra Mahkota melakukan pemberontakan maka sebenarnya itu kesempatan terbaik bagiku untuk mengungkapkan identitas dan merebut kembali kerajaan ku.
Tapi di perbatasan ini aku sudah menunggu selama 1 tahun dan belum juga ada kabar dari istana.
Aku juga semakin takut karena semakin lama aku semakin menyukainya dan ada rasa untuk memiliki nya, aku takut dia akan menjauh jika dia tahu identitas ku.
Walaupun Jenderal Meng mendukung aku, tapi aku tidak ingin dia merasa terpaksa bersama ku.
Di sini aku dan dia selalu fokus berlatih dan melatih, fokus menghadapi rakyat dan perampokan, kami sangat sibuk.
Saat makan bersama kemarin, aku tahu niat Jenderal Meng mencoba membantu aku, tapi kami benar-benar masih berstatus teman, andaikan dia tahu aku sangat ingin memilikinya.
Sekarang di tambah kedatangan Putri Xu dan Jenderal Gu yang tampaknya sedikit mengganggu hubungan kami.
Aku dan Putri Xu adalah kawan sejak kecil, dia tahu akan identitas ku, karena ayahandaku bersahabat baik dengan ayahandanya, sebenarnya sejak kecil kami sudah di jodohkan, tapi aku hanya menganggapnya sebagai adik.
Sedangkan Jenderal Gu, aku sangat kesal padanya, karena tampaknya dia selalu mencari perhatian Xiao Ying dan aku juga tahu Putri Xu mencoba membantunya mendapatkan Xiao Ying.
Malam hari saat Xiao Ying terluka itu juga rasanya aku yang terluka, kenapa dia begitu bodoh menggunakan badannya untuk melindungi anak itu, tapi jika aku di posisinya mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama.
Untung saja panah itu tidak menancap terlalu dalam, tapi aku tetap saja khawatir, jadi aku memutuskan untuk menemaninya di ruangan rawatan.
Pagi itu, aku tahu dia memandangku, tidak tahu apa yang dia pikirkan jadi ku biarkan saja, aku ingin lihat berapa lama dia akan memandang ku.
Tidak di sangka tangannya mulai mendekat dan sebenarnya hatiku merasa gembira.
Kegembiraan pagi itu hancur dengan datangnya Jenderal Gu. Xiao Ying menerima obat itu darinya, dia mencoba mencari perhatian Xiao Ying lagi.
itu membuatku sangat kesal.
Xiao Ying tidak tahu bagaimana aku selalu ingin melindunginya, dalam keadaan terluka pun dia masih keras kepala.
Begitu kasar dia menolak tanganku, tampaknya dia masih marah padaku karena aku menyuruhnya pulang kemarin.
...
Hari sudah gelap, aku melihat Xiao Ying sedang memanah sendiri dan tampaknya panah-panah yang di lepaskan adalah pelampiasan, karena tidak ada satupun panah yang tepat mengenai sasaran.
Aku pun mendekatinya dan dia langsung tidak memandang ku.
__ADS_1
"Lihatlah, tidak ada satupun yang tepat sasaran, bagaimana bisa ada seorang pelatih yang buruk seperti ini."
Dia tidak menjawab ku dan terus memanah dengan wajah kesal.
"Baiklah, mungkin karena terluka jadi tidak tepat sasaran."
Tiba-tiba, dia mengarahkan panahnya padaku, dengan wajah yang sangat serius, lalu dia lepaskan panah itu dan panah itu hanya lewat mengenai rambut ku, lalu dia membanting panahnya dan pergi tanpa ada satu kata pun.
Aku sedikit terkejut dengan sikapnya itu, sejak Kapan dia berubah menjadi sangat garang begitu.
Prajurit yang menemaninya dari tadi bertanya.
"Jenderal Yu, apa Jenderal baik-baik saja?"
"Sejak kapan dia menjadi garang seperti itu?"
"Hari ini Pelatih sangat lain, tidak seperti biasanya, kesalahan kecil pun kami di hukum."
Tidak terima dengan sikapnya, aku pun pergi mengejarnya, aku menarik tangannya dengan kasar, saat di membalikkan badan aku melihatnya menangis dan luka di tangannya pun berdarah lagi.
Aku bawa dia keruang rawatan, karena tidak ada tabib jadi aku membantunya mengoleskan obat dan membalut lukanya.
"Apa kamu marah padaku?"
Dia diam saja dan tidak ingin melihat wajah ku langsung.
Tiba-tiba Pelayan Lee masuk.
"Nona..."
Dia masih diam, lalu pergi begitu saja meninggalkan aku dengan Pelayan Lee.
"Pelayan Lee, apa salah saya padanya?"
"Saya tidak tahu, mungkin Jenderal sendirilah yang mengerti."
Pelayan Lee pun pergi juga, aku benar-benar tidak mengerti.
...
Seorang prajurit datang.
"Jenderal Yu, Jenderal Meng mencari anda."
Aku pun pergi menemui Jenderal Meng.
__ADS_1
"Jenderal..."
"Duduklah, ada hal yang ingin saya bicarakan.
Saya mendapat kabar dari istana, kesehatan Kaisar semakin menurun, jadi kita harus bersiap siaga."
"Baik Jenderal saya mengerti."
"Lalu bagaimana hubungan kamu dengan Xiao Ying?"
"Tidak tahu kenapa dia marah padaku dan tidak ingin bicara denganku."
"Benarkah, sebenarnya kemarin Pelayan memberitahu saya, kalau dia datang mencari ku, tapi saya tidak berada di tempat dan dia kembali lagi saat saya sedang berdiskusi dengan Putri Xu.
Sepertinya Putri Xu mengimpan perasaan yang sudah lama terhadap kamu."
"Saya hanya menganggapnya seperti adik."
"Besok mereka sudah akan kembali ke Mongolia.
saya khawatir dia akan menyampaikan niatnya kepada Raja Mongolia."
"Maaf Jenderal, saya tidak paham niat seperti apa?"
"Sudah pastinya dia ingin kamu menikahinya.
jika kamu menikahinya maka kamu akan mempunyai kekuatan yang besar untuk membangun kembali kerajaan dan menyelamatkan rakyat."
"Tapi Jenderal."
"Saya paham kamu menyukai Xiao Ying, tapi ini adalah pilihanmu, sebelum kamu benar-benar masuk ke dalam hidup Xiao Ying, kamu masih bisa memilih, Jangan sampai seperti Putra Mahkota dulu."
"Tapi Jenderal ini pilihan yang sangat sulit bagi aku."
"Saya rasa Xiao Ying mulai mempunyai perasaan terhadap kamu, saat Putri Xu mencoba menyampaikan niatnya, Xiao Ying mendengarnya, mungkin itu lah alasan kenapa dia marah padamu.
Baiklah kamu pikirkan lah baik-baik, saya tidak akan memaksa kamu, apapun keputusan kamu, saya akan mendukung."
...
Aku duduk termenung sendiri, mengingat semua kenangan yang pernah aku lalui bersama Xiao Ying.
Semakin aku ingat semakin aku merasa sedih, aku yang sangat ingin memilikinya, sekarang aku di paksa keadaan untuk menghadapi pilihan yang sulit.
Jenderal Meng berkata Xiao Ying mulai memiliki perasaan terhadap aku, seharusnya aku gembira mendengar ini, tapi sekarang menjadi kesedihan bagiku, aku memang membutuhkan kekuatan untuk membangun kembali kerajaan yang terpaksa ayahanda tinggalkan, aku juga sudah tidak tahan melihat rakyat ku menderita.
__ADS_1
Ini lah alasan dari awal kenapa aku selalu bersikap dingin padanya, ini lah alasan aku menghindarinya.
Apa yang harus aku lakukan? aku tidak ingin seperti Putra Mahkota. Mungkin mulai saat ini lebih baik menjauh, ada baiknya juga dia marah padaku saat ini. Sebelum semuanya terlambat, sebelum kami saling menyakiti.