
*Part Jenderal Yu
Aku di perintahkan Jenderal Meng untuk menjaga di depan gerbang istana sepanjang hari, aku mendengar Putra Mahkota akan menikahi Putri dari Raja timur, dan entah apa yang terjadi aku melihat di luar ruangan Putra Mahkota begitu banyaknya prajurit menjaga dengan sangat ketat.
Aku mencoba cari tau dan ternyata Putra Mahkota menentang pernikahannya itu dan sudah di kurung selama 2 hari, tapi apa daya Ini adalah pernikahan yang Kaisar rencanakan, ini berarti pernikahan demi kekuatan, tidak ada yang bisa menentangnya.
Ya... aku hanya berharap Xiao Ying bisa menerimanya dan baik-baik saja.
Besok pernikahan akan di laksanakan, jadi aku dan Jenderal Meng masih tetap berjaga-jaga akan keamanan Istana.
Pagi pun tiba, seorang Prajurit datang melapor pada Jenderal Meng kalau Putra Mahkota menghilang, Lalu aku di perintahkan Jenderal Meng untuk mencari Putra Mahkota.
.
.
.
.
Aku sudah mencari di seluruh bagian Istana, aku juga mencari di luar Istana dan tidak juga menemukannya, di tengah pencarian ku aku bertemu Nona Besar dan Pelayan Lee, lalu mereka menghampiriku dengan wajah yang sangat panik.
Lalu Nona Besar bertanya.
"Apa yang terjadi? kenapa pagi-pagi begini kamu bawa begitu banyak prajurit?"
"Putra Mahkota menghilang, Kaisar memerintah kan kami untuk mencarinya."
Seketika itu juga Nona Besar menangis, dia dengan tubuh yang masih lemah, dan pagi-pagi begini keluar dengan panik, itu pastinya sudah terjadi sesuatu.
"Apa yang terjadi." Tanya ku
Lalu Pelayan Lee menjawab.
"Nona Xiao Ying menghilang."
Aku sangat terkejut mendengar hal ini, sudah bisa di tebak mereka pasti melarikan diri.
"Aku akan mencari mereka sebelum Kaisar tau Xiao Ying bersamanya."
"Jika Kaisar tau, maka adikku akan dalam masalah."
"Nona pulang lah dulu, aku akan berusaha mencarinya."
Aku pun segera mencari mereka lagi kemana-mana, sampai aku juga mencari di luar gerbang kota, tapi aku tidak menemukan mereka dan sampai pada akhirnya seorang prajurit datang melapor padaku kalau Putra Mahkota sudah di temukan.
Sedangkan 2 orang lagi tertangkap bersama Putra Mahkota adalah seorang perempuan dan juga seorang lelaki. Aku tau perempuan yang di maksudkan adalah Xiao Ying.
Saat itu juga aku tau semua sudah terlambat, masalah sudah di depan, tidak tau bagaimana harus menolongnya kali ini, aku pun segera pergi melapor pada Jenderal Meng.
Tapi sebelum aku melapor Jenderal Meng tampaknya sudah tau
"Jenderal Meng, bagaimana ini, orang sudah di serahkan ke bagian penyelidikan."
__ADS_1
Dengan wajah sedih dan juga marah dia menjawab.
"Aku sudah mencoba menemui Kaisar, tapi Kaisar tidak Ingin bertemu, apa lagi yang bisa aku lakukan? aku berharap istri ku bisa menerima hal ini."
Mendengar Jenderal Meng berkata seperti itu sepertinya sudah tidak ada harapan.
Aku pun pergi ke penjara menjenguknya, tapi aku terlambat dan dia sudah di bawa keruang penyiksaan.
Aku segera berlari ke sana dan dia sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri tapi masih juga di cambuk.
Ku hentikan mereka dengan pangkat Jenderal ku dan akhirnya dia di bawa kembali ke penjara.
Aku tidak tega melihatnya begini, keadaannya yang penuh luka membuat hati ku sakit.
Aku pergi menemui ketua bagian penyiksaan dan penyelidikan, berharap agar dapat meringankan penyiksaannya, tapi ketua itu bukan lagi orang yang ku kenal, Kaisar telah mengganti.
Kali ini aku benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa selain melihatnya, tidak sampai di situ, tidak lama kemudian Kaisar mengeluarkan perintah agar dia di hukum gantung, sedangkan pernikahan Putra Mahkota masih harus di laksanakan.
Putra Mahkota tidak di hukum sedangkan Xiao Ying akan di hukum mati, ini sangat lah tidak adil, Aku yang marah ingin pergi mencari Putra Mahkota, tapi Jenderal Meng melarang ku. Karena Jenderal Meng tau semuanya sudah terlambat, apa pun yang kami coba lakukan sudah tidak akan berguna.
Kami mencoba merahasiakan ini dari Nona Besar.
Tapi pada akhirnya dia tau juga, dalam keadaan yang masih sakit dia bahkan pergi bertemu Permaisuri, tapi tampaknya tidak membuahkan hasil.
Dan malam ini aku melihat Nona Besar berlutut di depan ruangan Kaisar, dia ingin bertemu Kaisar tapi Kaisar telah menolaknya.
Jenderal Meng yang melihat itu pun tidak berdaya dia berusaha membujuk Nona Besar agar menyerah saja.
Di situ aku mendengar percakapan mereka yang sangat menyayat hati.
"Tidak, aku ingin bertemu Kaisar, aku harus selamat kan adikku."
"Tidak kah kamu memikirkan perasaanku? aku tidak sanggup melihat kamu begini."
"Adikku akan di hukum mati dan jika ini terjadi aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri, kematian adikku berarti juga kematian ku."
"Tapi tubuh mu begitu lemah, akan sampai kapan kamu berlutut di sini."
"Hidupku pun sudah tidak akan lama, jadi biarkan lah aku melakukan sesuatu yang setidaknya berguna."
Mendengar itu aku sudah mengerti ternyata penyakit Nona Besar sudah tidak dapat di sembuhkan lagi sedangkan Jenderal Meng yang sudah tidak tau harus bagaimana pun pergi.
Sedangkan aku terus saja menjaga Nona Besar di situ aku takut sesuatu terjadi padanya.
Sudah sampai hampir pagi dia berlutut, tapi Kaisar tidak juga ingin menemuinya, sampai tiba-tiba Kaisar menyuruh Pelayannya membawa Nona Besar masuk.
Aku sangat lega melihat itu, entah apa yang akan di bicara kan dengan Kaisar. Berhasil atau tidak berhasil setidaknya terlihat sedikit harapan.
Aku segera berlari pergi melapor pada Jenderal Meng, Jenderal Meng yang juga terjaga sampai pagi karena mengkhawatirkan istrinya itu pun mendapat sedikit harapan.
Kami gelisah menunggu Nona Besar keluar, sampai hari sudah mulai terang Nona masih belum keluar dari ruangan Kaisar.
Tiba-tiba Pelayan pribadi Kaisar keluar, pergi menyampaikan titah dari Kaisar pada ketua penjara, bahwa Xiao Ying di bebaskan.
__ADS_1
Aku dan Jenderal Meng merasa sangat gembira, tapi tiba-tiba saja prajurit membawa Nona Besar.
"Apa yang terjadi? mengapa kalian membawanya?" Jenderal Meng bertanya.
"Maaf kan kami Jenderal, kami hanya menjalan kan perintah." salah satu prajurit menjawab.
Di situ Jenderal Meng menatap wajah istrinya dengan sedih sedangkan Nona Besar tersenyum Padanya. Lalu Nona Besar berkata.
"Aku sudah berhasil, tolong jaga adikku seperti adik mu sendiri."
"Apa maksudmu? kenapa kamu lakukan ini padaku?"
Lalu Nona Besar memeluk Jenderal Meng.
"Aku sangat bahagia menjadi istrimu."
Itu lah pertama kalinya aku melihat seorang Jenderal yang gagah berani meneteskan air mata.
Rasa sedih ini tidak dapat di ungkapkan lagi.
Nona Besar sambil menangis menyapu air matanya.
Lalu prajurit segera membawanya pergi.
Kami sudah mengerti, Nona Besar menggantikan Xiao Ying untuk di eksekusi dan Kaisar menyetujuinya.
.
.
.
.
Xiao Ying sudah di bebaskan dan sekarang sedang di rawat sedangkan Pelayan Lee menemaninya, tadi aku pergi menjenguknya tapi dia belum sadar.
Hari sudah siang, eksekusi akan di laksanakan sore ini, sedangkan pernikahan pun sudah mulai di laksanakan juga. Aku tidak melihat Jenderal Meng dari tadi, tidak tau di pergi kemana, saat ini orang yang paling sedih adalah dia.
Langit tampak begitu gelap sepertinya akan hujan deras, dalam hati aku berpikir, apa Tuhan pun menentang eksekusi ini?
Tiba-tiba dari kejauhan aku melihat Pelayan Lee berlari kearah ku, dia berkata.
"Nona sekarang sedang berlutut di depan ruangan Kaisar."
Aku pun segera pergi melihatnya, dengan penuh luka di badan, dia berlutut di depan ruangan Kaisar.
Dia sudah mengetahuinya, Kakaknya menggantikannya untuk di hukum mati. Kesedihan yang tidak bisa aku ungkapkan lagi, mau berlutut sampai mati pun Kaisar tidak akan menemuinya.
Tapi ku biarkan saja dia, mungkin ini lebih baik, agar dia bisa belajar dari kesalahan ini.
Hari pun mulai sore di temani dengan hujan yang begitu deras dan langit yang begitu gelap.
Saat-saat eksekusi akan segera tiba, pernikahan Putra Mahkota pun sudah selesai, sedangkan dia masih berlutut di situ dari siang tadi.
__ADS_1
Pangeran berusaha membujuknya tapi dia tetap saja berlutut di situ. Aku melihat Putra Mahkota dengan pakaian pengantinnya berdiri di tengah derasnya hujan dengan wajah yang sangat sedih dia menatap Xiao Ying dari kejauhan dan Xiao Ying pun melihatnya.