
Raymond berjalan ke arah kamar Cleona. Dan mencoba membuka pintunya namun terkunci.
"Cleona maafin aku oke Cleo, ayo dong maafin kaka kamu ini.." ucap raymond sambil mengetuk pintu.
"Aku cuma ga mau punya adik perempuan jatuh ke tangan laki-laki yang salah Cleo ayo buka pintu nya" Raymond terus berbicara di balik pintu kamar Cleona.
Cleona membuka kamarnya, dia menatap ke arah Ray dengan matanya yang sudah terlihat sembab karena menangis.
"Maafin aku oke aku udah salah..." Raymond memeluk gadis yang tepat di depanya dan mengusap rambutnya.
"Maafin aku ya tadi terlalu kasar".
Cleona mengangguk dalam pelukan Ray.
Entah mengapa didalam pelukannya Raymond, Cleona merasa nyaman.
"Ka Ray boleh peluk aku lebih lama lagi?" ucap Cleona dengan nada malu malu nya dan pipi nya yang memerah karena malu dengan permintaan nya. Raymond tersentak kaget dengan apa yang di ucapkan Cleona. Raymond mempererat pelukanya lagi.
"Maafin aku Cleona " Perasaanya pun sama dengan Cleona. Mempunyai perasaan yang sangat nyaman saat memeluknya.
" Kamu lebih baik istirahat Cleo " Raymond melepaskan pelukannya dan mengusap rambut Cleona.
__ADS_1
Gadis itu pun kembali masuk kedalam kamarnya, begitu pun dengan Raymond.
" Cleona Arindita..." Raymond menyebut namanya sambil menatap foto dirinya dengan Cleo semasa kecil dulu.
Raymond tersenyum sambil memejamkan matanya, dan mengingat kenangan masa kecilnya bersama Cleona. Cleona yang selalu manja dan selalu tersenyum riang pada Raymond saat dia kecil.
Sekarang sudah dewasa dan menjadi perempuan kuat dan tangguh walau pun merasa kesepian.
"Kamu pasti merasa sulit Cleona, sekarang senyuman riang kamu pudar dan itu pasti nya karena kamu kehilangan orang tua kamu".
"Aku akan menjaga kamu Cleona ".
Dibalik kamar cleona..
"Andai aja kalo ka Ray bisa jatuh cinta sama aku?, pasti aku bahagia banget. Aku merasa nyaman berada dekat ka Ray".
"Tapi ka Ray itu anak dari bunda Helena. Aku ga mau membuat bunda merasa kecewa, ya aku harus tau diri" Cleona meyakinkan dirinya agar tidak jatuh cinta pada kakanya.
'Bunda udah menganggap aku seperti anaknya sendiri jadi ga mungkin aku bisa bersama ka Ray".
"Walaupun cuma sekedar jadi kaka, aku cukup bahagia mempunyai kaka seperti ka Ray" Cleona tersenyum dan terus memikirkan Raymond.
__ADS_1
Di pikirannya terus penuh dengan bayangan Raymond. Cleona pun beranjak dari ranjang nya dan berjalan ke arah kamarnya Ray.
"Ka Rayyy...?" ucapnya berjalan masuk kedalam kamar.
Cleona melihat Ray yang sudah tertidur lelap, dia pun menghampirinya dan menatap ke arah wajah Raymond. Cleona memandangi Raymond yang tertidur.
"Meski ka Ray sedang tertidur, tetep aja ka Ray terlihat tampan " ucapnya sambil tersenyum.
Cleona melihat foto dia dan Raymond semasa kecilnya yang Raymond pajang di samping tempat tidurnya.
" Andai aja aku masih kanak kanak aku bisa tidur di samping ka Ray tanpa harus memikirkan apa apa" Cleona menaiki ranjang Raymond secara perlahan dan berbaring di sampingnya.
"Kak ray ga boleh bangun dulu yaa, biarkan sejenak aku tidur di samping ka Ray " ucap Cleona sambil memandangi wajah Raymond yang tepat berada di samping nya.Tanpa terasa Cleona mulay mengantuk dan tertidur di samping Raymond.
****
Keesokan paginya lewat celah jendela yang sedikit terbuka, sinar matahari mulai menyinari kedua mata Raymond. Ray membuka sedikit demi sedikit kedua matanya dan terbangun dari tidurnya. Dirinya terlihat sangat kaget saat melihat Cleona yang sedang tertidur lelap di samping nya itu.
"Kamu pasti teringat masa kecil?".
Raymond membawa bingkai foto yang di peluk oleh Cleona dan menyimpanya kembali ke lemari yang berada di samping tempat tidurnya.
__ADS_1
"Bisa gila kalo gua terus disini dan memandangi wajahnya. Punya adik benar-benar sangat cantik" Ray tersenyum ke arah Cleona yang sedang tertidur di ranjangnya.
"Kamu nakal sekali Cleo, sekarang kamu bukan anak kecil lagi" Ray mengusap rambut Cleona dan menyelimuti tubuhnya.