
"Mas Ivan... Ayo kita sekarang ke rumah sakit. aunty Dewi sudah melahirkan loh." teriak Pak Djoko dari depan teras yang sedang menyalakan mesin mobilnya. Lalu, Anak laki laki berusia 4 Tahun berlari kecil dari rumah sambil membawa sebungkus kado. Lalu pak Djoko menggendong anak laki laki tersebut untuk naik mobil. Mereka berdua menuju ke rumah sakit.
Sesampainya di Rumah Sakit tersebut, Ivan tidak boleh masuk ke dalam, jadi Pak Djoko menitipkan pada customer service di Rumah Sakit tersebut. Setelah Pak Djoko berlalu masuk ruangan tempat sahabatnya di rawat, Ivan duduk memangku kado sambil menunggu ayahnya.
Sementara Ivan Menunggu, Djoko masuk menghampiri Dewi. Disaat Djoko masuk, Dewi terlihat lemah dan pucat.
"Mas... " gumam Dewi memandang Djoko.
"Iya, Aku disini. Ivan di depan menunggu. Dimana Bayimu?" tanya Djoko Langsung
"Ineztasia Zakeisha" sebut Dewi Dengan suara parau.
"Kamu istirahat dulu ya, Dewi. Biar cepat pulih dan kita bisa segera pulang. Apa aku perlu memberikan kabar ke Dylan?" Djoko khawatir dengan keadaannya.
__ADS_1
"Ndak perlu mas. Aku mau lihat bayiku sekarang." Dewi bersikeras, Dokter Syifa sadar bahwa pasien nya kali ini dalam kondisi sangat kritis.
"Bu Dewi, Jangan tidur ya. Tetap terjaga ya Bu. Saya akan segera bawakan bayi ibu" ucap Dokter syifa langsung keluar ruangan dan segera membawa bayi cantik itu.
Djoko menggenggam erat tangan Dewi, Wajahnya sumringah menatap Dewi menahan sakit.
"Kamu Kuat, Dewi. Kamu kuat. Kamu akan melihat Inez tumbuh dan berkembang, mengantar dia ke sekolah TK, SD sampai wisuda kuliah" ucap Djoko halus sambil menahan nada nya bahwa air mata akan mengalir dari sudut matanya.
Dewi hanya tersenyum, tidak lama kemudian Dokter Syifa masuk membawa bayi cantik yang mungil.
"Jadi.. wanita sing ku..at.. Cer..dass.. d..d..an sehat ya nak" air mata benar benar sudah mengalir deras dari mata Dewi. Djoko pun ikut menangis tanpa suara. Lalu, Dewi menatap mata Djoko dalam dalam.
"Maafkan aku. Aku titip Inez. Buka Brankas di ruangan tempat kita biasa main petak umpat mas. M...mm..aaa..aa.fff" ucapan Dewi terputus dan matanya kosong menatap mata Djoko.
__ADS_1
"Oooee, Ooooee, Oooeee" Inezstasia menangis keras. Djoko segera menggendong Inez, Dokter Syifa memeriksa denyut nadi Dewi.
"Innalillahi wa Innaillaihi Rajiiun" ucap Dokter Syifa sambil mengusap kedua mata Dewi. Djoko menggendong Inez yang terus menangis.
"Ssshhh... Ssshhh" gumam Djoko. Air mata nya pun sudah tak terbendung. Rasa sedihnya berlipat lipat. Baru 6 bulan yang lalu Djoko kehilangan istrinya sekarang dia harus kehilangan sahabatnya juga.
Djoko keluar ruangan itu membawa Inez menghampiri Ivan di meja Customer Sercive. Ivan yang melihatnya segera berlari lalu memeluk papa nya. Ivan belum mengerti apa yang telah terjadi, yang dia tahu bahwa dia senang memiliki teman baru yang bisa dia anggap seperti adiknya sendiri.
Beberapa jam kemudian, setelah proses administrasi rumah sakit selesai, Djoko pulang bersama Ivan serta membawa Inezstasia. Jenazah Dewi pun dibawa pulang ke rumahnya hari ini. Dewi hidup hanya sendiri, karena dia anak tunggal dari orang tua nya yang memiliki usaha batik yang merk nya terkenal di Indonesia. Di rumahnya hanya ada Asisten rumah tangga nya yang sejak kecil merawatnya.
Bude Suci menanti kedatangan Djoko. Ia belum tahu tentang kabar bahwa Dewi sudah meninggal dunia.
Sesampainya di rumah Dewi, Bude Suci terkejut sumringah melihat Ambulance juga datang ke tempat ia tinggal. Semua terjadi begitu cepat, Bude Suci merasakan kehilangan yang amat besar harus melihat anak yang ia rawat sejak kecil meninggalkan nya terlebih dulu.
__ADS_1
_____________________________