Aku Mencintaimu Tanpa Tanda Tanya.

Aku Mencintaimu Tanpa Tanda Tanya.
14 September 2015


__ADS_3

Inez terbangun dini hari. Dia menatap langit-langit kamarnya. Melihat Ivan tertidur di sampingnya. Jam menunjukan pukul 2 pagi.


Ivan terbangun karena pergerakan tubuh Inez yang melepaskan genggamannya.


"Hei..." Sapa Ivan. Inez masih termenung mencoba mengingat kejadian yang terjadi. Rasa sakit di hatinya dan amarah yang memenuhi dadanya membawanya kembali dari ingatan terakhir. Bahwa dia melihat tubuh Bude Suci yang sudah pucat dan kehilangan detak jantungnya. Seketika dia langsung terbangun dan meninggalkan Ivan di dalam kamarnya, Inez berlari menuju lantai bawah yang dimana Jenazah Bude Suci masih di ngajikan. Inez menghampiri tubuh yang sudah di bungkus kafan tersebut. Memandangnya lekat-lekat dengan mata nya yang tidak lagi mampu membendung air matanya.


Ivan berhasil mengejar Inez ke bawah. Ia melingkarkan lengannya di pelukan Inez. Inez terus menangis menatap Bude Suci. Semua yang hadir melihat kesedihan yang di rasakan oleh Inez kehilangan Bude Suci yang sudah seperti Ibunya sejak ia masih bayi merah.


Ivan mengajak Inez ke Ruang makan, dimana Pak Djoko dan Miya juga ada disana.


"Halo Inez. Aku turut berduka cita." Ucap Miya ketika Inez masuk ke dalam ruang makan. Inez tidak menghiraukan. Segala perasaan di dalam hati nya sungguh berantakan. Semua emosi bercampur aduk hingga dia tidak tahu apa yang harus ia luapkan.


"Nez," Panggil Ivan lembut. Hati Ivan pun tersiksa menatap seorang yang ia kasihi, yang ia anggap seperti adik kandungnya, sahabatnya melalui ini semua.


Kali ini Inez menoleh menatap Ivan, Ivan tidak bisa menebak apa yang Inez pikirkan dari semua apa yang terjadi.


"Seingatku, kita hanya makan siang" Ucap Ivan menyuapi Inez sebuah roti. Inez hanya menangis dan menggelengkan kepala nya.

__ADS_1


"Sedikit saja" Ucap Ivan membujuk Inez. Inez masih menggelengkan kepalanya. Ivan menyerah karena dalam hatinya juga gelisah akan mood swing yang biasa terjadi pada Inez.


Dia tidak ingin mendorong emosi Inez melampau terlalu jauh.


'Apa yang kamu pikirkan, Nez. Aku terus akan terus mencoba mengerti apa yang kamu rasakan' Ucap Ivan dalam hatinya yang masih melihat Inez memandang lurus kedepan dengan tatapan kosong.


Matahari pagi mulai menjelang, Jenazah Bude Suci sedang di persiapkan untuk di Sholatkan dan Di kebumikan. Inez masih menangis tersedu. Dia sama sekali tidak sadar bahwa ada Lala, Lody dan Berlian yang sudah hadir menyatu bersama orang-orang yang akan mengantarkan Jenazah Bude Suci. Inez di temani Aunty Tasha buat berganti pakaian.


Mereka pergi menuju pemakaman. Ivan tidak beranjak dari sisi Inez.


"Buuuuu....Deeeeeeee!!!!!!" Teriak Inez dalam tangisnya. Ivan memapah tubuh Inez dan menariknya dalam pelukannya. Membawa Inez menjauh dari Area pemakaman. Inez yang meronta ingin tetap berada disana.


"Lepasin aku Ivan!!!!" Bentak Inez masih terus meronta dan menangis. Ivan semakin kuat menahan tubuh Inez dan menggendongnya menjauh dari makam Bude Suci.


"Tolong Ivan lepasin aku" Mohon Inez masih menangis.


"Jangan disini, Nez" Larang Ivan. Ivan sudah mengira bahwa di waktu tertentu emosi Inez akan segera meluap.

__ADS_1


"Ini waktu terakhir aku bersamanya! Aku harus ada disana, Van!" bentak Inez masih meronta kini dia mulai memukul pundak Ivan. Ivan menahan rasa sakitnya dan menangkap tangan Inez yang sedang terkepal mencoba memukul dadanya.


"Nez, aku tahu kamu sedih. Aku tahu kamu marah. Aku ngerti, Nez. Bude akan sedih kalau lihat kamu kaya gini, Nez." Jawab Ivan mengatakannya sambil menatap Inez.


"Nggak, Van! Kamu nggak ngerti apa yang aku rasakan. Kamu nggak akan pernah ngerti. Memang Ibu kamu juga meninggal sejak kamu kecil tapi kamu tidak tahu apa rasanya jika kamu adalah penyebabnya! Sekarang sesosok ibu bagiku saat dia sakit, aku pun nggak ada! Aku hanya pergi bersenang-senang bersama Pria yang aku cintai tapi dia hanya menganggap aku Adiknya yang butuh di lindungi. Aku ga tahu ya, Van. Mungkin kamu senang merasa paling di butuhkan, atau kamu senang menjadi orang yang selalu ada di hidup aku. Dan aku muak dengan perasaan yang seperti ini, ketika sesuatu di ambil kembali dari ku! Memang seharusnya dari awal aku tidak peduli pada siapapun dan pada apapun!!!!!! Jadi, kamu jangan pernah bicara bahwa kamu mengerti apa yang aku rasakan!!! No, you're not! Bahkan kamu masih memiliki Ayahmu, seseorang dengan bagian dirimu. Aku??? No one. Sekalipun itu kamu. From now, I never meant to have you. Aku muak merasakan kehilangan!!!!" Bentak Inez menjelaskan segala isi hatinya.


Ivan terpaku mendengar peluapan emosinya. Dia tidak menyangka selama ini Inez mencintainya melebihi dari apa yang ia bayangkan, karena selama ini pula Inez yang bersikap bahwa hubungan diantara mereka seperti selayaknya kakak beradik.


"Apa yang kamu katakan? Do you love me?" Tanya Ivan tak menyangka.


"I do Ivan! Setiap penyangkalan ku itu yang membuatku semakin tersadar bahwa aku mencintaimu. Tapi apa yang bisa aku lakukan. Kamu terus melakukan hal-hal yang membuat aku seakan-akan hanya anak kecil yang harus kamu lindungi! Apa artinya melawan dunia bersama, ketika kamu yang melawannya dan aku menjalani kemenangannya? Dan kamu tahu? Aku tidak bisa membencimu karena hal itu?!!!Karena aku tidak ingin memulai hanya untuk di akhiri" Bentak Inez, mata nya penuh kilatan amarah. Ivan meraih tangan Inez.


"Jangan membujukku seolah-olah aku hanya gadis kecil yang kamu beri ice cream ketika sedih!" Kata Inez melanjuti ucapannya menepis tangan Ivan. Inez menatap Ivan dalam, mencoba mencari tahu apa yang Ivan pikirkan. Ivan tertunduk lalu berbalik. Ivan meninggalkan Inez dengan sejuta kebisuan.


"Ivan" Bisik Inez. Suara nya tidak terdengar oleh Ivan yang pergi menjauh dan tidak lagi menoleh.


Hari terkutuk kedua selain tanggal ulang tahun nya bagi Inez. Ia mengutuk dirinya. Ia bersumpah pada dirinya sendiri bahwa dia mampu hidup tanpa orang-orang yang selama ini menyayanginya penuh kasih. Jika pelangi selalu terbit setelah hujan, baginya mulai hari ini tidak akan pernah lagi ia melihat pelangi. Kegelapan sudah memenuhi kehidupannya. Baginya kini dia tidak perlu kehilangan apapun lagi jika dia sendiri tidak memiliki. Jika cinta selalu pergi, dia cukup tidak perlu membuat cinta itu datang.

__ADS_1


__ADS_2