
Empat tahun berlalu Inez berada di Negeri orang. Kehidupan barunya ia lalui dengan segala kesibukkan menjadi mahasiswa dan sore harinya ia sibuk memantau perusahaan nya dari jauh melalui video confrence call. Dia mengambil fakultas Bisnis Management di salah satu Universitas ternama di California.
Hari ini dia melaksanakan salah satu hari terpenting dalam hidupnya. Wisuda. Dia menjadi lulusan dengan nilai terbaik.
"Inez, are you ready to give a speech today?" Tanya teman kuliahnya yang bernama Chloe.
"Of course. I can't wait." Jawab Inez tersenyum.
Seperti waktu sebelumnya, tidak banyak orang yang Inez bolehkan masuk ke dalam lingkaran hidupnya. Hanya Chloe yang notabene nya adalah roomate nya di asrama universitas tersebut.
Beberapa pria mencoba mendekatinya, tapi dia mengatakan bahwa dia tidak ingin memiliki hubungan sama siapapun. Bahkan Inez mendapatkan panggilan kesayangan oleh beberapa teman di kampusnya yaitu 'Maria' karena menganggap Inez satu-satu nya gadis yang bertahan menyimpan kesuciannya hingga menjadi mahasiswa senior.
"After today, Do you want to celebrate this day with some guy?" Tanya Chloe iseng menggoda Inez.
"Never, Chloe." Gumam Inez memelototinya. Chloe tertawa.
"Are you sure?" Tanya Chloe meyakinkan kembali.
"100% Sure. Why you still curious about this?" Tanya Inez kepada temannya itu sambil melihat dirinya berkaca pada cermin yang sedang memakai Toga kelulusan.
"I just wondering, Who is that guy? I think he's waiting you" Jawab Chloe menunjuk seseorang pria yang sedang berdiri di luar asramanya. Perawakannya terlihat familiar namun Inez tidak terlalu melihatnya dengan jelas dari dalam kamarnya melalui jendela.
"Who is this?" Tanya Inez memicingkan matanya.
"I dont know, Sweetheart. Come on, we must find out." Ajak Chloe membawa ponsel nya mengajak Inez keluar kamar asramanya.
"No. Don't try to be a cupid anymore." Sanggah Inez melarang Chloe. Chloe hanya mengangkat bahunya dan berkata "No, I'm not. I really don't know him." Kata Chloe meyakinkan. Inez menatapnya sekali lagi, kali ini dia mendekatkan dirinya ke jendela kamarnya. Pria tersebut tampak menoleh seperti mencari seseorang.
"Melody!!!' Tukas Inez terkejut melihat siapa orang yang sedang berdiri disana.
"You know him!!! is that guy who made you still single in california?" Ledek Chloe.
Inez tidak menghiraukan kata-kata Chloe. Dia melompat keluar kamarnya, berlari kecil menghampiri Melody.
"Inez!" Panggil Chloe ikut mengejar Inez keluar kamar.
Inez berjalan perlahan menghampiri Melody dari arah belakangnya. Melody yang mendengar suara langkah kaki menoleh.
"Hai" Sapa Melody sedikit terkejut bahwa Inez menemukannya.
"Apa yang kamu lakukan disini!" Omel Inez menatapnya.
"Itu yang kamu lakukan untuk menyapaku yang menempuh setengah bagian negara untuk menemukanmu disini?" Tanya Melody tersenyum. Inez menghela nafas dan terdiam.
"Aku rasa aku datang tepat pada waktunya. Apakah acara wisuda nya sudah terlewat?" Tanya Melody.
"Hi. I'm Chloe. I'm friend of Inez in california. The one and Only her friend." Sapa Chloe yang muncul dari belakang Inez. Melody tersenyum. Inez menoleh dan melototi Chloe menyuruh Chloe untuk diam.
"Apakah kamu mau menjawab pertanyaan ku?" Tanya Inez memandang Melody.
"Aku ingin membawa mu pulang dari sini. Tempatmu bukan disini. Dan kebetulan sekali bahwa masa kuliahmu sudah berakhir jadi aku rasa tidak perlu waktu lama aku tinggal disini untuk menunggumu." Jawab Melody.
"Aku tidak akan pulang hari ini, Melody." Tukas Inez membalikkan tubuhnya untuk pergi. Melody menahan tangan Inez.
"Kalau gitu aku akan menunggumu." Ucap Melody.
"Whatever. Do what you wanna do." Ketus Inez berlalu pergi. Melody mengikut langkah Inez dan Chloe. Chloe tidak berhenti tersenyum melihat Inez yang cemberut karena Melody tidak pergi dari sisinya.
Hingga di acara wisuda. Nama Inez di sebutkan oleh kepala rektor universitas tersebut.
"Inezstasia Zakeisha Wilson" Panggil Rektor dari atas podium. Semua orang mengiringi dengan tepukan tangan yang meriah. Inez berjalan menuju podium dan bersiap memberikan pidato nya.
"Good morning, my friends. Dear lecturers. Thank you for the opportunity to be here. This is an honor. I earn this award with joy and sorrow. How are the days that we all go through, until we can achieve success today. However, all of this is only the beginning of our adult life that is before us. I believe after this what we face is something more. Finding a tougher opponent, finding peoples who you will question who these people are your opponents or your friends. One that we will always remember, ourselves. Do not let ourselves be people who are against ourselves. Because fighting ourselves is our greatest enemy. In the past, loneliness was something I was afraid of. However, we have to fight that fear through it. Day by day I go through that fear, and here I am now. Loneliness is not scary anymore. I hope we all master the fear within us. Don't let yourself be controlled by fear. Face it! Thank you." Gemuruh tepuk tangan meramaikan suasana. Inez bersalaman dengan Rektor dan beberapa dosen.
Dari bangku penonton, Melody menatapnya kagum. Tersenyum menatap Inez yang sekarang melihatnya dari podium. Inez turun dari panggung dan bergabung bersama Chloe yang melompat memeluknya. Dan beberapa teman untuk bersalaman. Seseorang pria paruh baya menghampiri Inez. Dia adalah ayah Inez yang menghadiri acara tersebut.
"Kamu datang." Gumam Inez. Ayahnya tersenyum bangga.
"Sudah pasti aku akan datang dan melihat putriku satu-satunya lulus sebagai mahasiswa terbaik. Terimakasih, aku bangga padamu." Ucap Ayahnya memeluknya. Inez terlihat kaku dalam pelukan ayahnya. Dan tersenyum kaku.
"Ini bukan untukmu. Ini kulakukan untuk diriku. Supaya aku menjadi orang yang tidak terkalahkan. Aku akan menjadi wanita pertama di usia 21 tahun yang menguasai semuanya." Terang Inez dalam pelukannya.
"Nah, itulah darah wilson yang mengalir di dirimu. Dan kamu memanfaatkannya dengan baik. " Jawab Ayahnya melepaskan pelukannya.
Melody menghampiri mereka berdua. Ayah Inez tampak bertanya-tanya siapa pria tersebut.
"Halo, Sir. Perkenalkan saya Melody Dirgantara." Sapa Melody yang mengulurkan tangan kepada Ayahnya Inez untuk bersalaman.
"Oh.. Cucu kesayangan seorang Kapolri." Komentar Ayahnya Melody. Melody tersenyum.
"Dad, beri aku waktu untuk bicara dengan pria ini" Ucap Inez menarik tangan Melody menjauh dari kerumunan.
"Melody, aku tidak akan pulang bersamamu. Kamu adalah bagian dari masa laluku. Aku tidak akan kembali kedalam kehidupanku yang dulu." Ucap Inez menjelaskan kepada Melody.
"Itu bagus. Karena aku akan menjadi orang dalam masa depanmu. Seingatku, di masa lalu mu aku hanyala senior di kampus lama mu dengan rambut yang panjang. Lihat aku sekarang. Semua tampak baru." Ucap Melody membuat senyuman.
Inez menatapnya dalam-dalam. Benar apa yang di ucapkan Melody. Semua yang ada di depan matanya kini Melody dengan penampilan yang baru. Dia memangkas rambutnya, dan terlihat lebih segar dari ingatan Inez terakhir. Inez masih terdiam
"Bagaimana kita mulai dari awal" Goda Melody. Inez memasang wajah tidak mengerti.
"Halo, perkenalkan namaku Melody Dirgantara." Sapa Melody mengulurkan tangannya. Inez tersenyum kecil melihat kejenakaan di wajah Melody.
"Come on. What's your name?" Tanya Melody lagi. Inez akhirnya tersenyum dengan kegigihan Melody.
"Hai Melody. Aku Inezstasia Zakeisha." Jawab Inez menahan senyumnya.
"Apa malam ini kita akan merayakan kelulusanmu dengan makan malam?" Tanya Melody langsung.
"Terlalu cepat, Melody." Jawab Inez menggoda. Ia berjalan melangkah meninggalkan Melody yang tersenyum.
"Dimana kamu akan tinggal setelah ini?" Tanya Melody masih mengejar langkah Inez.
"Sementara waktu aku ingin menikmati hari-hari pertamaku menjadi dewasa di LA. Disini ada hotel ayahku." Jawab Inez.
"Bolehkah aku membantumu pindah?" Tanya Melody. Inez berhenti melangkah membuat Melody juga berhenti.
"Aku tidak butuh bantuanmu." Jawab Inez.
"Aku tahu. Karena kamu bisa mengandalkan pegawai dari ayahmu. Aku hanya mencari alasan untuk bertemu denganmu." Jawab Melody.
"Oke, Baiklah. Berhenti mengejarku." Tukas Inez.
"Aku akan berhenti. Dengan dua syarat." Jawab Melody.
"Sebutkan!" Ketus Inez.
__ADS_1
"Biarkan aku menjadi temanmu. Dan makan malam bersamaku malam ini." Jawab Melody.
Inez seperti menimbang kedua syarat tersebut.
"Jika aku terima syaratmu, apa kamu akan berhenti menggodaku dan mengejarku? Karena kamu tahu aku tidak akan membalas perasaanmu." Ucap Inez. Inez tahu bahwa Melody memiliki perasaan sejak ia kuliah disana. Saat Inez menempuh kehidupan di california, satu-satunya yang mengirimi ia pesan di Direct Message Instagram hanta Melody. Walaupun Inez hanya membaca nya tidak membuat Melody berhenti mengirimi ia pesan.
"Aku akan berhenti. Sebagai temanmu aku tidak akan mengejarmu." Ucap Melody.
Inez mengangguk menyetujui kedua syarat tersebut.
"Aku akan kirimkan alamat apartment yang ku sewa di sekitar sini. Karena kamu adalah temanku sekarang. Kita akan makan malam di apartment ku dan menonton sebuah film" Ucap Melody.
"Asal aku yang memilih film nya aku setuju." Jawab Inez. Melody tersenyum.
"Oke. Sampai ketemu nanti." Kata Melody yang melihat Inez berjalan menuju mobil ayahnya.
Berlian (23.15) : Kamu sudah pulang dari kantor?
Ivan (23.15) : Iya, aku baru aja selesai mandi. Knp sayang?
Berlian (23.15) : Aku dapat kabar dari Melody. Dia pergi ke Amerika kemarin.
Nada dering handphone Berlian berbunyi.
"Kamu dapat kabar itu dari mana?" Tanya Ivan diujung telfon.
"Aku mencoba menghubungi Melody untuk mengundang dia ke acara ulang tahunku, kan. Dia yang memberi tahu bahwa dia tidak akan hadir karena besoknya flight dia ke Amerika." Jawab Berlian. Ivan mendengarkan dengan serius.
"Apa dia memberi tahu alasan dia pergi?" Tanya Ivan.
"Dia bilang ada yang harus di urus terkait perusahaan maminya.Kenapa sayang?" Jawab Berlian.
"Tidak apa-apa. Dia tidak memberitahuku apa-apa terkait kepergiannya." Ucap Ivan dengan nada kecewa.
"Setidaknya dia bicara padaku kan. Mungkin dia berpikir aku juga akan memberitahumu." Jawab Berlian.
"Hmmm. okay. Apa yang sedang kamu lakukan?" Tanya Ivan
"Aku akan tidur. Besok kamu akan menemaniku ke beberapa tempat untuk persiapan pesta ulangtahunku kan?" Tanya Berlian.
"Besok akan segera ku kabari. Semoga tidak ada kunjungan klien mendadak seperti hari ini." Jawab Ivan.
"Okay, Sayang. Let me know ya. " Jawab Berlian.
"Pasti sayang. Aku akan memeriksa beberapa kerjaanku dulu sebelum tidur. See you" Ucap Ivan.
"Love you sayang" Jawab Berlian namun telpon sudah di matikan oleh Ivan.
Ivan bangun dari tidurnya, dan menuju ke sebuah lemari di dalam kamar nya. Dia mengambil sebuah buku bercover hitam. Yang sejak setelah lulus kuliah dia tahu itu milik siapa. Teringat kejadian dimana Ivan memergoki Melody mencari buku tersebut di ruang BEM.
Ivan sedang menghindari kerumunan orang-orang yang sedang merayakan kelulusan di dalam ruang BEM. Ruangan ini menjadi salah satu tempat yang orang tidak datangi ketika acara wisuda.
Ivan yang sedang merebahkan badannya di antara kursi kursi yang ia susun agar bisa menopang tubuhnya tersentak karena pintu ruangan terbuka lebar.
"Dimana sih buku itu?" Suara Melody memecah keheningan mengomel sendiri. Melody tidak sadar bahwa di ujung sisi ada Ivan yang sedang mendengarnya.
"Pokoknya saya mau kalian temukan buku hitam itu. Kalau tidak kalian temukan, gaji kalian akan saya potong bulan ini!" Omel Melody di depan pintu menyuruh beberapa orang yang ia tugaskan juga mengintai kehidupan Inez selama ini.
Melody pergi keluar. Ivan beranjak dari posisinya dan berlari mengejar Melody. Ivan tidak menghiraukan orang-orang di depan pintu.
"Kenapa, Van?" Tanya Melody.
"Gue mau tahu apa lo tahu kemana Inez pergi?" Tanya Ivan.
"Kenapa sekarang lo mau tau?" Tanya Melody cemas.
"Cuma penasaran. Karena gue bener-bener gak lihat dia berbulan-bulan ini. Dan tidak ada yang denger kabar nya . Di rumah nya semua tutup mulut." Jawab Ivan.
"Itu tandanya Inez nggak mau lo tau keberadaannya. Dan darimana asalnya lo pikir gue tahu dia dimana?" Tukas Melody.
"Mungkin aja lo tau dia dimana? Atau bisa lo cari tahu tentang Inez lewat orang-orang suruhan kakek lo." Ujar Ivan terus berusaha mencari tahu. Ivan tahu bahwa Melody akan berusaha mencari tahu keberadaan Inez. Dan satu-satunya yang tahu keberadaannya hanya Melody. Surat kabar pun berhenti memberitakan tentang putri tunggal dari Mr. Wilson pada saat itu
"Gue nggak tahu." Tukas Melody berlalu pergi meninggalkan Ivan terdiam.
Ivan kembali menyadarkan dirinya dari ingatan yang membawanya. Dia membuka laptopnya dan mengetikkan sebuah kata.
'Dylan Wilson'
Muncul beberapa berita terbaru. Dan muncul headlines yang membuat jantung Ivan berdebar.
'Mr wilson terlihat dalam acara graduation putri satu-satunya di Universitas California'
Berita kedua
'Inezstasia Zakeisha Wilson is the only daughter of Mr. Wilson who got the cum laude title'
Ivan tersenyum memandangi foto Inez bersama ayahnya. Dia membuka sumber berita tersebut. Menggulirkan layarnya terus membaca dan melihat foto- foto yang di dapatkan oleh pers disana. Ada dua foto yang mengganggu pandangannya.
Foto Inez bersama Melody dan Foto Inez bertiga bersama Ayahnya dan Melody. Ivan menggenggam buku itu keras. Dia tahu bagaimana Melody menghabiskan waktu bersama wanita selama ini.
Dia bisa memutuskan untuk berpacaran sama Berlian juga karena dalam hati kecil nya bahwa ia ingin melindungi Berlian dari incaran Melody.
"Jadi selama ini, lo tidak meninggalkan dia sendiri" Gumam Ivan memandang foto tersebut. Hati Ivan berkecamuk. Antara dia bersyukur bahwa Inez baik-baik saja dan ada orang lain yang juga menjaga nya dengan sepenuh hati. Namun, Ia juga cemas dengan apa yang Melody dapat lakukan untuk mematahkan hati Inez.
Ivan menatap foto Inez. Kini Inez berusia 21 Tahun. Wajahnya banyak yang berubah. Rambut cokelatnya yang dulu pernah dia sentuh kini hanya bisa ia pandang. Dia meratapi kesedihannya. Kini dia sudah terpisah oleh benua yang berbeda. Ivan sangat merindukan masa-masa hidupnya bersama Inez. Penyesalan terbesar dia adalah dia berbalik ketika Inez memberikan hatinya. Tanpa mencoba nya ia hanya meninggalkannya Inez dengan berjuta perasaan yang ia miliki. Hanya karena satu janji bahwa dia akan selalu melindungi Inez dari orang yang ingin menyakitinya. Dan dia terlalu pengecut untuk menjadi orang yang memungkinkan menciptakan sumber rasa sakit tersebut. Ivan terlalu takut kehilangan Inez jika dia memberikan kesempatan untuk membalas perasaan Ivan. Keegoisannya tumbuh dengan merasa puas untuk mendengarkan bahwa Inez mencintainya dan membiarkan Inez dalam tanya.
*************************
Kriiiiiinnnggggg........
Suara Bel Apartment Melody terdengar. Melody segera membuka pintu nya. Inez berjalan masuk.
"Harum apa nih?" Tanyanya ketika masuk ke dalam apartment Melody. Melody tersenyum menggunakan Apron masak.
"Kamu masak?" Tanya Inez lagi. Melody mengedipkan matanya sebelah.
"Anggap rumah sendiri, Okay." Ucap Melody sambil menyiapkan hidangannya.
Inez menjatuhkan tubuhnya di sofa milik Melody.
"Kalau aku anggap rumah sendiri seharusnya tidak sebesar ini. Dan pemandangannya tidak sebagus ini. Pemandangannya hanya pohon pohon sepanjang jalan menuju kampus" Komentar Inez yang sedang melihat ke sekeliling penthouse milik Melody.
"Jangan bandingkan dengan asrama mu. Bandingkan dengan rumah mu di Jogja, Atau di Jakarta." Balas Melody yang hampir selesai dengan karya masakannya.
__ADS_1
"Heiii, Asrama itu rumahku. Empat tahun aku disana." Jawab Inez protes.
"Voila. Silahkan tuan putri. Kamu bisa kesini sekarang." Undang Melody. Inez pun beranjak dari sofa berjalan menghampiri Melody.
"Bravo, Mr. Melody. Kamu mendapatkan 5 bintang hari ini." Ujar Inez menggoda.
"Sauvignon or Chardonnay?" Tanya Melody memberikan pilihan mau minum wine apa.
"Chardonnay, Please." Jawab Inez tersenyum mengambil kursinya.
Inez pun mulai menyentuh makanannya. Melody memasakkan Wagyu steak, dan salad.
"Hmmmm.. Dagingnya cocok banget sama chardonnay. Apa kamu memiliki pekerjaan sebagai chef?" Tanya Inez membuka perbincangan.
"Tidak, aku hanya mengelola beberapa restaurant setelah lulus. Dan hanya membuat sketsa bangunan hanya untuk klien tertentu." Jawab Melody yang juga menggigit makanannya.
"Apa kamu sedang mempresentasikan masakanmu supaya aku memperkerjakan mu sebagai chef pribadi ku? Hahahahaha." Ledek Inez.
"Apa sedang ada lowongan?" Tanya Melody. Inez melototinya.
"Kamu tidak akan bekerja sebagai Chef hanya untuk bertemu denganku. Bukan kah kita berteman?" Ucap Inez mengunyah makanannya lalu menyesap wine nya.
"Jadi? Bagaimana cara berteman denganmu?" Tanya Melody.
"Seperti biasa orang berteman. Hanya saja tidak ada pembahasan tentang kehidupanku sebelum California." Jawab Inez santai.
"Mudah. Bagaimana kehidupanmu disini?" Tanya Melody.
"Seperti yang kamu lihat. Seperti terlahir kembali. Hanya kesulitan untuk menolak pria-pria yang ingin masuk ke celana dalamku Hahahahaha." Inez tertawa.
"Bagaimana kamu tahu aku disini?" Tanya Inez lagi.
"Mudah. Dari beberapa surat kabar dan beritamu di Google ketika kamu mencoba mengetik namamu sebagai keyword nya. Hahaha" Goda Melody
"Apa kamu pernah mencoba mencari namamu sendiri di google?" Tanya Inez ingin tahu menahan tawa.
"Pernah. Dan beritanya sangat buruk.hahaahaha." Jawab Melody.
"Aahahahaha how stupid you are." Ledek Inez tertawa.
"Sepertinya aku terlalu banyak minum chardonnay ini." Gumam Inez menyadari dirinya banyak tertawa.
"Itu bukan karena chardonnay. Tapi aku memberikan ramuan cinta di masakan itu." Canda Melody. Inez melototinya.
"Speakin of a devil, Kamu mau mencoba sesuatu yang ilegal di indonesia tapi legal di sini?" Tanya Melody. Inez mengerutkan keningnya. Melody beranjak dari kursinya dan menarik tangan Inez mengajak Inez ke balkon apartmentnya .
Melody mengeluarkan sebuah lintingan seperti rokok dari kotak rokoknya.
"Weed???" Tanya Inez memastikan. Melody mengangguk.
"Darimana kamu dapatkan itu?!" Tanya Inez yang nada suaranya panik.
"Apa kamu pertama kali melihat ini?" Tanya Melody heran.
"Tidak juga. Aku tahu Chloe terkadang membawa nya dan membakarnya sebelum kelas yang menyebalkan. Dan seharian dia akan menertawakan isi kelas itu." Cerita Inez.
Melody mencoba membakarnya, dan menghisapnya.
"Disini ganja sudah legal. Dan membelinya seperti membeli permen." Cerita Melody, lalu menyerahkan lintingan itu ke Inez. Inez terdiam, dengan ragu ia mau mencobanya.
"Uhukkk uhukkk..." Inez terbatuk di hisapan pertamanya.
Melody menepuk halus pundak Inez
"Calm down." Ucap Melody.
Tak lama kemudian Inez tertawa terbahak-bahak.
"Hahahahhahaa... hahahahahaa" Tawa Inez memecahkan keheningan. Melody ikut tertawa.
"Apa Chloe tidak pernah menawari mu untuk mencoba nya?" Tanya Ivan tersenyum menghisap lintingan itu lagi.
"Aku hanya ingin menyelesaikan kuliahku dan melewati hari-hari ku dengan normal." Jawab Inez mengambil lintingan itu dari tangan Melody.
"Jadi ini pertama kalinya?" Tanya Melody.
"Ya ini pertama kalinya aku melakukan hal kriminal dalam hidupku. Dan itu bersama mu." Jawab Inez sarkastik. Ia tahu dari ayahnya bahwa Melody adalah Cucu kesayangan salah satu orang yang pernah menjabat sebagai KAPOLRI.
"hei ini disini bukan kriminal. Mungkin iya jika kita di Indonesia. Dan aku pun tidak akan melakukan hal ini di Indonesia." Tukas Melody. Inez memandangnya iseng.
"Aku tidak percaya bahwa ini bukan kriminal disini." Ujar Inez.
"Aku akan membuktikannya." Jawab Melody.
"Bagaimana?" Inez menahan tawa.
"Ayo, Ikut aku." Ajak Melody berdiri dari duduknya. Mengulurkan tangannya mengangkat Inez. Mereka pun berlari keluar. Di Elevator mereka hanya berdua.
"Hmmm." Inez berdehem. Melody mengambil lantai paling atas di gedung apartmentnya.
Setalah pintu elevator terbuka. Melody menggandeng tangan Inez dan mengajak Inez ke luar gedung Apartmentnya. Di depan sana ramai orang lalu lalang. Dan Melody seketika berteriak.
"I love weed. I just use it!!!!!" Dan menunjukan lintingan ganja tersebut di depan orang-orang. Inez tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Melody. Orang-orang yang lalu lalang menertawakan kebodohan mereka.
Mereka pun terus tertawa hingga kembali ke kamar Melody.
"You're so stupid" Oceh Inez melempar topi nya ke arah Melody. Dia masih tertawa.
"Aku sudah tahu bahwa ini legal disini. Kamu pikir aku tidak pernah datang ke pesta persaudaraan disini?" Tukas Inez.
"Jadi kamu mengerjaiku." Ujar Melody mencoba menangkap Inez yang menghindarinya.
"Kamu yang terlalu bodoh. Hahahahahhaa" Ledek Inez menertawakan Melody berlari masuk ke dalam toilet untuk menghindarinya.
"Nez, buka. Udahan udahan." Ucap Melody dari luar pintu toilet.
"Aku kebelet pipis." Ucap Inez tertawa dari kamar mandi dan mencoba buang air kecil.
Melody menunggu di depan pintu kamar mandi.
Inez yang keluar dari kamar mandi tidak tahu bahwa permainan masih berlanjut. Melody menangkap Inez. Inez berteriak kesal.
"Melody!!!!!!" Teriak Inez sambil menahan tawanya. Melody menggelitik bagian perutnya. Dan Inez tertawa terbahak-bahak.
"Ampun, Melody.. Ampun Hahahahahgahhahaa" Ujar Inez tertawa.
Melody berhenti menggelitik Inez, dan berpindah posisi merebahkan tubuh di samping Inez.
__ADS_1
"Capek." Gumam Melody memejamkan matanya.
Inez pun mengambil nafas dalam-dalam. Mengatur nafas pelan-pelan. Keheningan menguasai ruangan tersebut. Hanya terdengar suara nafas tenang dari Melody. Ia tertidur, Inez menatap langit-langit kamar dan Inez pun juga tertidur karena efek menghisap ganja tersebut mereka tertidur pulas.