Aku Mencintaimu Tanpa Tanda Tanya.

Aku Mencintaimu Tanpa Tanda Tanya.
11 April 2020


__ADS_3

"Apa kamu akan meninggalkanku?" Tanya Berlian kepada Ivan yang akhirnya bertemu di tempat hotel dimana Ivan menginap.


"Aku hanya butuh waktu untuk berpikir. Semua terjadi begitu cepat. Membuat semua tidak sesuai pada tempatnya dan aku harus membereskan nya satu-persatu, Berlian." Jelas Ivan memandang Berlian yang kini matanya sudah meneteskan air mata.


"Apa semua ini karena kembalinya Inez?" Tanya Berlian lirih.


"Ya, itu salah satu alasannya. Yang membuatku sadar bahwa selama ini aku melewati sesuatu hal yang terbaik dalam hidupku. Terlalu takut untuk mengakui apa yang selama ini aku rasa. Terlalu takut sehingga aku membiarkannya terlepas. Dan kini aku terlambat untuk menariknya kembali." Jawab Ivan untuk pertama kalinya berkata jujur tentang perasaannya.


"Aku minta maaf membawamu kedalam kerusakan ini. Aku tidak berniat menyakitimu. Aku tidak menyesal bersamamu. Aku juga merasakan bahagia. Tapi aku tidak bisa membohongimu terus-terusan dengan menutupi apa yang sebenarnya aku rasa." lanjut Ivan menjelaskan. Kilatan kebencian memenuhi mata Berlian. Bukan kepada Ivan melainkan kebencian terhadap Inez yang dia anggap menjadi penyebab Berlian kehilangan Ivan.


"Apa kamu akan kembali bersama ku?" Tanya Berlian memastikan nasib cintanya.


"Aku tidak tahu. Aku tidak tahu kapan luka ini akan pulih." Ucap Ivan menutup mata.


"Ijinkan aku menjadi obat atas lukamu." Bujuk Berlian. Ivan menggelengkan kepalanya.


"Luka ini di sebabkan oleh Inez. Hanya Inez yang dapat mengobatinya." Ivan berkata menatap mata Berlian. Berlian menelan kepahitan yang terjadi dalam kisah cintanya.


"Tapi kita sudah melakukan hal yang seharusnya tidak kita lakukan!!!! Apa kamu sekejam ini meninggalkanku karena hal ini!!" Bentak Berlian masih belum menerima keputusan Ivan.


"Maafkan aku, Berlian. Maafkan aku. Apa yang bisa membuatmu memaafkanku atas hal itu. Pukul aku, jika itu membuatmu puas. Lakukan sesukamu untuk menyiksa ku." Ucap Ivan. Berlian tampak berpikir.


"Pulihkan dirimu. Kembali padaku. Nikahkan aku. Aku tidak peduli kamu mencintaiku atau tidak. Gunakan waktumu untuk memulihkan dirimu. Kamu akan melihatku kembali." Ucap Berlian berlalu meninggalkan Ivan dalam kebisuan.


------------------------------------------------------------------------


Inez sedang berada di sebuah butik terkenal, dia sedang mencoba beberapa gaun pernikahan di temani oleh Mamanya Melody dan Melinda.


"Aku rasa, gaun ini yang terbaik." Gumam Inez menunjukan kepada Tante Vanti. Tante Vanti tersenyum terharu melihat calon mantu nya yang sangat cantik menggunakan Gaun putih. Melinda pun mengangguk setuju.


Tante Vanti berjalan mendekati Inez, dia membuka sebuah kotak. Tante Vanti membukanya. Inez menatapnya dengan terharu setelah melihat sebuah kalung yang melingkar di tulang lehernya.


"Ini sebuah kalung keluarga Dirgantara. Turun temurun dari nenek nya nenek ku." Ucap Tante Vanti.


"Kamu keturunan ke lima yang akan menggunakan kalung ini." Lanjutanya. Inez memegang sebuah liontin cantik yang menggantung. Dia meneteskan air matanya karena terharu. Inez langsung memeluk Tante Vanti.


"Ini sangat berarti. Terimakasih." Ucap Inez lirih.


Inez melepaskan kalung tersebut untuk di gunakan saat hari pernikahan bersama gaunnya. Inez masih tercekat, merasakan kasih sayang yang ia terima dari Tante Vanti dan Melinda. Hatinya merasa pilu, ia ingin menangis sekencang-kencangnya karena merasakan sedih bahwa Ibunya sendiri tidak dapat berada disini melihatnya menjadi seorang Wanita.


"I need some air. Aku segera kembali." Gumam nya pamit kepada Tante Vanti dan Melinda yang kali ini sedang berada di Toko Kue.


Inez melangkah menjauhi toko tersebut, berlari entah kemana arahnya. Dia hanya ingin menangis. Ketika di tikungan salah satu blok toko tersebut Inez menabrak Melody yang sedang menuju tempat mereka mencicipi kue. Melody yang melihat mata Inez basah segera memeluknya.


"Heii.. heii.. ada apa?" Tanya Melody lembut. Inez menangis keras dalam pelukannya.


"hhh...aa..aaa.. Aku merasa semua ini terlalu berlebihan. A..a..ku tidak mampu menampungnya." ucapnya lirih.

__ADS_1


"Apa yang terlalu berlebihan, Sayang?" tanya Melody menenangkan Inez dengan mengusap bahunya. Inez masih terus menangis. Melody mengajaknya dimana mobilnya parkir untuk mengajak berbicara.



"Mamamu memberikan aku sebuah kalung, aku sangat terharu. Terlintas aku memikirkan ibuku. Perasaan ini terlalu berlebihan. Bahkan, aku tidak bisa membayangkan wajahnya karena aku tidak pernah melihatnya langsung." ungkap Inez. Melody tersenyum melirik wanita yang ia cintai di sebelahnya. Sekarang tangis Inez mereda hanya saja airmatanya masih mengalir.


"Ibumu selalu berada disini. Kemana pun kamu melangkah. Doa nya selalu mengiringimu. Dia tidak berada jauh darimu. Dia selalu ada di hatimu." jawab Melody meletakkan jari telunjuknya yang menunjuk dimana hati Inez berada. Melody membantu Inez menghapus airmatanya.


"Sekarang jangan bersedih lagi. Apakah kita akan mencoba memilih kue pernikahan kita? atau kamu sudah memiliki pilihan?" Melody menghibur Inez.


Inez tersenyum "Bodoh, mengapa pernikahan membuat aku menjadi orang yang sangat sensitif." kutuk nya.


"Aku senang kamu meluapkan perasaanmu. Senang, sedih, marah, kesal. Aku disini. Dan kamu tetap terlihat cantik walau habis menangis." ungkap Melody. Inez menyikut perut Melody pelan.


"Auuuuww" Goda Melody. Inez memegang lengan kanan Melody dan mengajak nya berjalan menuju toko Kue.


Tante Vanti dan Melinda sudah menunggu mereka berdua.


"Nah ini mereka." tukas Tante Vanti.


"Apa yang kami lewatkan?" tanya Melody menggandeng Inez.


"Jadi ada beberapa kue yang harus kalian coba." Tante Vanti menunjukkan kue tersebut yang sudah mereka coba.


"Kamu yang mencobanya, ya. Aku menyetujui semua apa yang kamu pilih." ucap Melody tersenyum. Saat Inez sibuk bersama mamanya untuk mencoba kue pernikahannya. Melody mengajak Melinda untuk berbicara menjauhi mereka.


"Siap dong, Mas. Semua sudah beres. Tinggal aku jemput kak Inez nanti malam." ujar Melinda menunjukkan kedua jari jempolnya. Melody mengacak-acak rambut adiknya dengan gemas.


"Sayang, aku memilih lemon cake." kata Inez memberitahu Melody.


"Cocok. Seperti pilihanku dan Melinda." jawab Tante Vanti yang setuju dengan pilihan Inez.


"Oke, karena semua sudah siap. Kita bisa pulang dan mempersiapkan diri kita untuk besok." sambung Tante Vanti.


Mereka pun berjalan keluar toko. Semua undangan sudah tersiar ke semua tamu undangan. Melody mengantar Inez terlebih dahulu ke rumahnya.


"See you at the aisle." ucap Melody mencium punggung tangan Inez mesra. Inez tersenyum.


Inez masuk ke dalam rumah. Dia tampak bahagia. Namun, seketika dia teringat bahwa seharusnya Chloe sudah tiba pagi ini. Dia lupa menghubungi Chloe.


Inez mencoba menghubungi whatsapp Chloe. Tidak tersambung.


Inez menghubungi beberapa pengawal ayahnya untuk mencari Chloe. Inez mencemaskan Chloe yang baru pertama kali pergi ke Indonesia.


"Bagaimana?" tanya Inez berbicara dengan salah satu pengawal ayahnya.


"Pesawatnya benar sudah landing. Tapi kami di Bandara tidak melihat orang yang Miss Inez kirimkan fotonya." ujar pengawal itu.

__ADS_1


"Tolong, cari lagi" pinta Inez menutup telpon.


Inez segera menghubungi Melody. Namun, telponnya juga tidak diangkat.


Jam menunjukan pukul 7 malam. Kekhawatiran Inez bertambah ketika listrik rumahnya tiba-tiba padam.


"Mbak Warni...." panggil Inez yang takut dengan kegelapan. Mbak Warni menghampirinya membawa dua senter.


"Saya akan cek gensetnya dulu, Miss." ujar Mbak Warni berlalu pergi.


Ketika Inez sedang menunggu listrik kembali nyala, ada beberapa orang yang masuk ke dal rumah nya. Membawa nya dengan paksa. Menutup mulutnya dengan sapu tangan yang sudah ada obat biusnya. Membuat Inez tak sadarkan diri sebelum berteriak.


Inez terbangun di dalam ruangan dan merasakan ke anehan pada dirinya. Dia memperhatikan dirinya sendiri. Dia sedang menggunakan kemeja putih dan rok pendek kotak-kotak. Dia juga menggunakan dasi. Dia tersenyum menahan tawanya.


Lalu, beberapa orang yang ia kenal menghampirinya tertawa bersama.


"Welcome to your Bridal Shower" seru Chloe. Inez melihat Chloe sangat terkejut. Menggenggam kedua lengan Chloe dan Inez berseru "You're here!! Oh my god, I'm scared you lost in Jakarta for the first time."


Chloe tertawa.


"Tenang, Kak. Tadi makanya mas Melody telat. Karena harus jemput Kak Chloe dulu." ungkap Melinda yang juga menggunakan seragam yang sama dengan Inez.


Inez pun di perkenalkan oleh sahabat-sahabatnya Melinda.


"Ini Alda, Zivi, dan Tiara." ujar Melinda mengenalkan temannya. Alda, Zivi dan Tiara memeluk Inez memberikan selamat.


"So, What we do now?" tanya Inez yang harus menggunakan bahasa Inggris, karena chloe belum bisa bicara dengan bahasa Indonesia.


"At first, you must sit at there. I'll take a pic of you. Send that photo to Melody." jawab Chloe.


Inez pun bergaya menggunakan seragam sekolah. Chloe mengambil foto dirinya, dan mengirimkannya kepada Melody.



Mereka pun bersenang-senang merayakan hari terakhir Inez menjadi seorang gadis. Esok hari adalah hari yang mengubah segalanya pada diri Inez. Inez memposting beberapa foto dirinya yang diambil secara candid oleh sahabatnya itu.



'Ohh.. tonight i'll be a student. I will obey to your ordered, Sir. Xoxo @Me_Lody'


Tulisnya di akun instagramnya. Inez tertawa senang dan bahagia. Melody membalas di kolom komentar.


'Be a good student, dear. Don't drunk. Melinda will be my eye at there. See you at the aisle.Xoxo @InezstasiaZ**W**


Inez tersenyum menatap ponsel. Inez dan Chloe berbincang sambil minum Chardonnay, sedangkan Melinda dan teman-temannya minum mocktail yang tersedia. Mereka bermain permainan seru. Truth or dare, Scrabble, Monopoli, bahkan bermain congklak dan bola bekel.


Malam yang panjang bagi Inez. Dia tidak bisa mengungkap kan berapa besarnya dia mencintai Melody. Yang dia tahu tidak ada alasan apapun di dunia ini untuk meninggalkan Melody.

__ADS_1


__ADS_2