
Bias matahari memantul dari kacamata hitam milik Inez, dia kini sedang menikmati hari keduanya di Maldives. Inez menghampirinya membawa dua buah es kelapa muda.
"Nih..." ucap Inez menyerahkan sebuah gelas kepada Melody.
"Kok warna nya beda?" tanya Melody melirik gelas milik Inez.
"Aku pakai alpukat." ujar Inez menikmati kelapa alpukat miliknya. Melody menatapnya dengan rasa ingin mencobanya.
"Mau?" lirik Inez yang melihat suaminya memandang gelas yang di genggamnya. Melody mengangguk. Inez menyendokkan es nya menyuapi Melody, tapi saat Melody segera menyambutnya, Inez langsung memakannya sendiri. Melody meliriknya kesal dan gemas.
"Kamu kenapa pesennya beda?" tanya Melody mengeluh.
"Aku tadi cukup lama memilih diantara Jeruk atau alpukat. Jadi aku memesankanmh Jeruk dan aku alpukat. Supaya....."
"Supaya kamu bisa mencicipi milikku?" tanya Melody melanjutkan ucapan Inez yang terpotong karena sedang menikmati es yang di pegangnya.
Inez tersenyum, menukar gelasnya dengan milik Melody.
"Switch" pinta Inez.
Sesuatu hal yang di sukai oleh Melody pada Inez, dia selalu melakukan hal-hal sepele yang tidak terduga yang membuatnya tersenyum. Seperti bertukar makanan.
"Aku mau berenang." ujar Inez meletakkan gelasnya, Melody memandang Inez melangkah mendekati bibir pantai. Dia sedang menatap layar ponsel nya membaca sebuah berita di ponselnya.
'Kantor induk Wilson Travelling Solution kebakaran. 10 orang luka-luka.'
Melody segera menghubungi ayah mertua nya tersebut.
"Halo, Melody." Sapa suara seorang wanita.
"Lala?" tanya Melody yang mengenali suara itu.
"Bagaimana keadaan ayah mertua ku?" tanya Melody menurunkan kacamatanya, untuk tetap mengawasi Inez yang sedang bermain ombak.
"Siapa itu? Apakah itu Melody?" Suara Mr. Wilson yang terdengar dari belakang ponsel samar-samar.
__ADS_1
"Melody. Aku sedang berada di basement saat kejadian itu terjadi. Polisi sedang mengolah TKP. Tapi dari informasi dari beberapa pengawalku. Kebakaran terjadi di ruanganku. Dan aku sedang menyuruh mereka mencari apa yang menjadi penyebab kebakaran tersebut." cerita Mr.Wilson mengambil ponselnya dari Lala. Melody mendengarkannya secara detail.
"Kami akan segera pulang." ujar Melody.
"Tidak perlu. Silahkan kalian menikmati bulan madu kalian. Sementara aku akan mencoba menghilang dari peredaran berita. Aku rasa, Serena mengincarku. Bukan Inez." Jelas Mr. Wilson.
"Aku juga berpikir demikian. Maka dari itu kami akan segera pulang." tukas Melody.
"Jangan, ini terjadi sesaat kalian tidak berada disini. Berarti Serena tidak akan menyakiti Inez. Aku harap kamu setuju denganku, aku minta kamu untuk tetap lakukan apa yang ku minta. Jangan pulang, tetaplah pergi ke Italia. Aku akan disini bersembunyi sampai aku tahu bagaimana memancing Serena keluar." Perintah Mr. Wilson. Melody tampak berpikir mempertimbangkan keputusan ayahnya.
"hei, setidaknya untuk sementara kita tahu. Bukan Inez yang dia incar. Jika dia memilih menghadapiku, aku dengan siap menghadapinya." ujar ayahnya lagi.
"Baiklah, Dad." Melody setuju. Inez yang sudah basah berjalan menghampirinya.
"Apa kamu tidak tergoda untuk bermain air bersamaku." teriak Inez.
"Kabarkan selalu kondisimu. Aku akan menyampaikan salam mu kepadanya." Melody menutup ponselnya. Berlari menghampiri Inez yang sedang asyik melawan ombak.
Tubuh mereka terendam air laut. Mereka saling berhadapan, Inez tersenyum menatap wajah tampan Melody.
"Berikan kabar buruknya dulu." ujar Inez.
Melody menceritakan tentang kebakaran yang terjadi, air muka Inez berubah.
"Bagaimana keadaan ayahku?" tanyanya panik.
"Aku baru saja menghubunginya. Dia baik-baik saja. Dia akan melakukan persembunyian sampai dia memikirkan caranya bagaimana memancing wanita itu keluar." jawab Melody, Inez tampak berpikir.
"Berita baiknya?" tanya Inez.
"Aku berpikir ulang ternyata itu bukan berita baik juga." gumam Melody tampak memikirkan ulang bagaimana menyampaikannya.
"Kamu payah dalam hal ini." ledek Inez.
"Ceritakan. Kita akan selalu mengatasinya bersama, Kan?" tanya Inez memaksakan senyumannya.
__ADS_1
"Ternyata bukan kamu yang di incar oleh wanita itu, melainkan ayahmu." tukas Melody.
"Itu berita terburuk yang kamu sampaikan dengan cara terburukmu untuk menyampaikannya sebagai berita baik." omel Inez yang tampak agak kesal kepada Melody. Dia melangkah keluar air meninggalkan Melody yang terkejut dengan emosi Inez yang tiba-tiba meluap.
Melody sedang berpikir di serambi Villa yang pemandangannya langsung ke laut. Inez masih bersikap dingin kepadanya.
"Apa yang ingin kamu makan?" tanya Melody lembut menghampiri istrinya yang sedang mencoba menghubungi ayahnya.
"Aku belum lapar." ketus Inez.
"Aku minta maaf. Aku tidak berpikir untuk menyampaikan kabar itu sebagai kabar baik. Maka dari itu aku katakan bahwa aku salah." ujar Melody.
"Bagaimana aku menghubunginya?" Inez melirik suaminya dan nadanya kini sedikit berubah.
"Apa kamu sudah mencoba menghubungi, Lala? Karena saat aku menelponnya tadi sore Lala yang mengangkat ponsel ayahmu pertama kali." cerita Melody memberi Ide.
Inez mencari kontak Lala dan menghubunginya.
'Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi.'
Inez menhela nafas. Melody tidak mampu melihat istrinya bersikap seperti ini. Dia beranjak dan mengeluarkan ponselnya. Menyuruh beberapa pengawalnya mencari kabar tentang Lala. Membuntuti Serena Abigail.
"Kita sudah tahu siapa lawan kita. Untuk apa menunggu di serang olehnya. Lagipula sepertinya ada yang janggal dengan semua ini. Kita harus tahu lebih dulu apa yang di inginkan wanita itu." ujar Melody kepada salah satu pengawalnya. Melody tersenyum puas.
"Aku tidak ingin Inez dan Melody tahu apa yang sudah aku lakukan!" Bentak Mr. Wilson kepada Lala. Lala hanya menunduk mendengarkan perintah Mr. Wilson.
"Jika menyerahkan diri kepada Serena adalah hal yang bisa memutuskan dendam tersebut, aku akan melakukannya." tukas Mr. Wilson lagi.
"Apa yang bisa saya lakukan, Sir?" tanya Lala.
"Tetap bungkam!" perintah Mr. Wilson.
"Aku mau pulang" pinta Inez manja. Mereka sedang bercumbu di depan serambi Villa.
"Baiklah, besok kita akan pulang. Tapi, jangan bertindak sendiri. Aku sudah melakukan sebuah rencana." ujar Melody memberi tahu Inez. Inez mengangguk mengerti. Dia mencium lembut Melody. Melody dan Inez menghabiskan malam terakhirnya di Maldives dengan bercumbu di bawah langit terang yang bertebaran bintang. Satu-satu cahaya yang menerangi mereka adalah cahaya bulan.
__ADS_1