
Gemuruh ombak memecahkan keheningan. Matahari tenggelam cahaya nya menebarkan bias ke kulit putih milik Inez, membuat wajahnya lebih bersinar. Inez duduk di atas pasir pantai sambil memeluk lutut nya.
"Nez, pulang yuk" Sapa Ivan sambil berlari kecil menghampiri Inez.
"Sebentar lagi deh ya. Matahari nya belum bener bener tenggelam" Jawab Inez menatap Ivan yang sedang memandangnya. Inez memicingkan matanya bukan karena terkena sinar matahari yang segera tenggelam tapi seketika muncul ide jahil di kepala Inez.
Inez mengulurkan tangan nya meminta bantuan Ivan menariknya untuk bediri. Ivan menyambut genggamannya. Tapi bukan Ivan yang menariknya, malah Inez yang menarik nya keras sampai Ivan kehilangan keseimbangannya lalu Ivan terjatuh menyambut ombak yang berguling ke arahnya.
"Ha ha ha ha ha ... Kamu tuh ya masih aja ga bisa nebak apa yang aku lakukan buat mencoba menjahili kamu." Ucap Inez sambil terbahak bahak memercikan air ke tubuh Ivan yang basah. Ivan tersenyum menatap gadis yang berusia 17 tahun itu tertawa karena merasa berhasil telah menjahilinya. Seketika Inez berhenti tertawa dan menatap Ivan dengan mata kesalnya.
"Sebenernya kamu sudah menebaknya kan? Kamu tahu aku akan menjahili mu seperti ini? Ivan!!!!! Kamu membiarkan aku merasa berhasil, padahal aku hanya gagal" Omel Inez yang merangkak menghampiri Ivan yang masih berposisi tiduran diatas pasir.
"Seharusnya kamu yang mencoba cari cara yang lain, nez. Usiamu sudah 17 Tahun kamu mencoba mengerjaiku yang 4 tahun lebih tua darimu. Dan lelucon ini sudah kamu lakukan sejak usiamu 6 tahun. Bagaimana kamu tifak gagal, tapi itu tugasku disamping mu untuk selalu membuat kamu berhasil" Terang Ivan mulai memposisikan tubuhnya duduk.
Ivan memandang Inez yang sedang memasang wajah cemberut. Setelah ibu Dewi meninggal, Inez di rawat oleh Bude Suci dibantu oleh Pak Djoko. Inez tumbuh menjadi gadis yang keras kepala namun dalam hati nya sangat lembut, Ia senang menutupi perasaan sedihnya dengan lelucon lelucon nya, atau dia akan bersikap konyol. Inez memperoleh pendidikan melalui home schooling. Karena itu pesan terakhir dari Almarhumah Ibunya yang ia tulis dalam buku harian yang di temukan oleh Djoko di Hari Dewi meninggal.
Karena hal itu dunia Inez hanya berbentuk gelembung yang di isi oleh beberapa orang yang disebutkan tadi. Berbeda dengan Ivan, dia bersekolah di sekolah umum, dan ikut kelas tambahan dengan guru-guru yang datang ke rumah Inez. Sebenarnya itu ia lakukan supaya Inez merasa seperti di Sekolah Umum. Ivan dan Inez memiliki kesamaan, sama-sama memiliki wajah Blasteran.
a
Inezstasia Zakeisha
I
Ivander Kaivan
Tepat tengah malam ini, Ivan bertambah usia menjadi 21 Tahun. Ia sekarang Mahasiswa Teknik Sipil di Universitas Negeri ternama di Yogyakarta. Dan Inez sudah ikut mendaftar untuk Tahun ini sebagai Mahasiswa baru Pariwisata.
"Ivan! ngelamunin apa?!" Sapa Inez di dalam mobil saat perjalanan pulang menuju rumah.
"Hmmm... Biasanya kalau iseng kamu lagi muncul, tanda nya kamu lagi memikirkan sesuatu yang membuat kamu gelisah? What's in your mind, nez?" Jawab Ivan menoleh ke Inez yang duduk di sebelahnya. Inez berdehem langsung mengalihkan mata nya ke jalan. Mobil masih dalam area parkiran pantai.
"Ehem.. Malam ini mau kado apa? aku sudah kehabisan akal untuk mengejutkanmu." Inez mengalihkan pembicaraan dari pertanyaan Ivan. Seperti biasa, Ivan sangat mengerti hal itu. Ivan langsung mengambil tangan Inez untuk di genggam.
"Kamu kaya begini, karena ingin aku manja dan mengeluarkan kalimat kalimat manis untuk memaksamu menjawab pertanyaanku dengan jawaban yang sesuai kan?"
__ADS_1
"Nggak! Lagian kenapa sih. gatel gatel ku nanti kambuh kalau kamu bersikap sok manis kaya gitu." jawab Inez kesal sambil bercermin dari spion mobil membenarkan rambutnya.
"Hahahahaha... Kalau ga bener, gausah ngegas dong. Mobil aja masih diem" ucap Ivan menyalakan mesin mobil
"Udah ah, tahun ini gak akan ada kado apa-apa buat kamu." Omel Inez kesal di goda Ivan. Ivan mengendarai mobil sambil tersenyum.
Hubungan mereka itu sangat dekat, terkadang Ivan sampai merasa ikatan bathin kalau Inez sedang merasa gelisah atau dalam keadaan bahaya. seperti dulu waktu Inez masih usia 12 Tahun, Inez belajar mengendarai Motor sendirian, Dia menabrak tiang listrik di blok sebelah, Ivan langsung memiliki perasaan yang menggangu. Atau saat Inez sedang kambuh sakit Maag nya, Ivan seperti tidak nafsu makan. Mereka tidak berpacaran, tapi teman-teman sejak sekolah hingga kuliahnya Ivan menganggap Inez seperti pacarnya. Karena bagi teman-teman Ivan, Inez prioritas pertama hingga terkadang Ivan lebih memilih menghabiskan waktu menemani Inez daripada bermain dengan teman-temannya.
"Ivan, ini sudah 5 Tahun Daddy ga pulang ke Yogyakarta untuk menemuiku." Inez membuka cerita saat di perjalanan.
"Kalau gitu kamu yang coba nemuin dia. Lagipula, Dia cuma di Jakarta dan cuma setahun sekali dia pulang ke London."
"Buat apa? Aku nemuin dia? Aku bukan anak ayam yang gak punya induk buat cari dia." Omel Inez
"Kenapa? Gengsi?" tanya Ivan santai sambil menyetir.
"Kamu tahu bukan masalah gengsi. Siapa tahu memang dia tidak mau bertemu. Kalau memang dia mau menemuiku setidaknya dia mengirimi aku pesan whatsapp, atau setidaknya bukan asisten nya yang selalu menjawab telfonku." Jawab Inez menggerutu.
"Jadi, itu yang mengganggu pikiranmu?" Tanya Ivan
"Menurutmu aku terganggu?"
"Tidak seharusnya kamu menjawab pertanyaan dengan pertanyaan" Imbuh Ivan.
"Jadi, aku harus jadi dokter mu juga untuk menyembuhkanmu dari mood swing? Atau dari kegilaan-kegilaan teori mu itu? Sepertinya nanti kamu harus banyak memiliki teman di kampus nanti" jawab Ivan menggoda Inez.
"Teman?" Inez sedikit berbisik mengucapkan kata itu. Lalu ia bergidik.
"Kamu bukan anti sosial. Cuma, kamu yang malas membuka dirimu terhadap orang lain. Nanti kalau di kampus mu ada seseorang yang membuat mu merasa tertarik kamu juga pasti akan mengetahui bagaimana cara berteman." Jawab Ivan memberitahu Inez.
"Aku sudah cukup dengan kamu"
"Nez, how.. ini how ya nez. How If I found someone then I'm marriage her?" Tanya Ivan sambil sesekali matanya melirik Inez untuk tahu reaksi wajah Inez dari pertanyaan Ivan.
"Stop. Berhenti deh sebentar." perintah Inez. Ivan memarkir mobil di pinggir jalan kebingungan.
"Jadi, Lo bakalan nyari orang lain terus nikah?" Tanya Inez kesal.
"Not now, Nez. I said if. Kalau.. Umpama.. Misalkan.." Jawab Ivan menenangkan Inez. Inez memang selalu protektif terhadap Ivan. Selain Bude suci atau Pak Djoko dan beberapa ART di rumahnya hanya Ivan yang dia punya. Memang Ivan hanya tetangga, bisa dibilang seperti kakak laki-laki, atau sahabat, terkadang seperti musuh dan terkadang juga Ivan memperlakukan Inez sangat special jadi menurut Inez dia tidak butuh orang lain lagi untuk mengisi kehidupan dia. Pernah beberapa kali, Ivan memperkenalkan teman teman sekolah nya kepada Inez, tapi itu membuat Inez menjadi gadis yang acuh dan ketus. Saat temannya Ivan mencoba membuat lelucon, Inez jadi marah dan menganggap teman-temannya Ivan tidak menyukai Inez. Dan Inez membalas lelucon tersebut dengan sarkastik. Membuat suasana jadi memburuk.
__ADS_1
"Tetep aja. Lo bakal ninggalin gue artinya! Semuanya aja ninggalin gue. Biar gue setiap tahun cuma make a wish supaya bude Suci selalu sehat. Biar cuma dia yang bakal nemenin gue sampe jadi nenek-nenek." Inez mengomel.
"Terus, itu artinya Aku yang juga harus jadi Suami kamu?" Tanya Ivan menggoda Inez, kalau bahasa Inez sudah 'Lo' atau 'Gue' itu tandanya 60% Marah.
"Elo? Jadi Suami gue? Yang bener aja. Coba bayangin dulu gimana rasanya kalau lo nyium gue?" Inez ngomel sambil bergidik.
"Hahahahaha.. Sini aku cium." jawab Ivan tertawa menarik lengan Inez. Inez menepis-nepis tangan Ivan.
"Ngga.. ga mau... Apaan sih, Van. Males banget.. ha. hahahha" Inez menolak memalingkan wajah nya sambil tertawa.
"Berarti aku harus mencari orang yang mau aku cium." gumam Ivan menyalakan mesin mobil lagi. Inez terdiam, dia tidak lagi membalas ucapan Ivan. Dia tenggelam bersama pikirannya.
Waktu menunjukan pukul 20.15 sesampainya mereka ke rumah Ivan. Rumah Ivan bersebelahan dengan rumah Inez. Pak Djoko sedang duduk di teras rumah sambil memainkan Handphone nya.
"Hai Om." Sapa Inez setelah turun dari mobil.
"Hai Inez. Where Have you been?" Tanya Pak Djoko.
"Cuma lihat sunset di Parang Tritis, Om." Jawab Inez menarik kursi di sebelah Pak Djoko.
"Hai, Dad. Kenapa sendirian?" Tanya Ivan yang juga duduk di sebelah Inez.
"Aunty Tasha sedang pergi untuk membeli Kue Ulang Tahun mu. Ada yang seru apa hari ini?"
"Masa, Ivan mau nyium Inez tuh om. Hahahahahha" cerita Inez sambil tertawa. Pak Djoko ikut tertawa. Ivan hanya menyenggol lengan Inez.
"Jadi kalian In relationship sekarang?" Tanya Pak Djoko mesem-mesem.
"NGGAK!" Sanggah Ivan dan Inez berbarengan. Mereka menoleh satu sama lain. Pak Djoko tertawa terbahak-bahak.
"Kita kan mau seperti Daddy dan Aunty Dewi" Jawab Ivan. Inez terdiam mendengar Ivan menyebut ibunya. Salah satu objek perbincangan yang membuat Inez marah.
"Apaan sih. Udah ah, mau pulang dulu. See you, Om." Ucap Inez angkat diri lalu berlari ke rumahnya.
"Kamu gak mikir dulu kalau mau jawab" Imbuh Pak Djoko mengomeli Ivan. Ivan yang canggung langsung masuk ke dalam rumah.
Sementara itu di rumah Inez.
"Kalau bukan karena ngelahirin gue, Ibu ga akan Meninggal. Ibu aja di ambil Tuhan setelah gue lahir di dunia. Daddy dulu masih sering mengunjungi gue 3 tahun sekali. sekarang sudah 5 tahun ini juga gak datang. Telfon yang angkat asistennya. Cuma Bude Suci, Pak Djoko, dan Ivan aja yang bertahan di samping gue. Itupun kalau gue menjadikan mereka terikat menjadi keluarga bisa bisa diambil juga sama Tuhan." Gerutu Inez memandang wajahnya di cermin.
__ADS_1
"Aaaaaaaaarrrrrgggghhhhhhhhhhh" Inez berteriak di kamarnya.
Bude Suci yang mendengarnya dari dapur hanya menoleh dan menggeleng-gelengkan kepala.