
'Derrrtt... Derrrttt....'
Getaran ponsel membangunkan Ivan yang sedang tertidur. Ia membuka matanya menatap layar ponsel nya dengan malas. Setelah melihat siapa yang menelponnya, dia tidak menghiraukan dan beranjak dari kasur nya untuk memulai hari yang menurutnya hari pentingnya.
"Tidak ada seorangpun yang akan menghalangiku, mendapatkan Inez kembali. Aku tahu dia masih mencintaiku. Dan aku sekarang tahu bahwa aku mencintainya." Ujar Ivan bicara pada dirinya sendiri yang sedang melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Inez terbangun karena suara bising dari hair dryer. Inez melihat Melinda sedang bersiap diri untuk pergi ke sekolah. Melinda menyadari bahwa dia sedang di perhatikan lalu ia menoleh.
"Pagi, Kak Inez." Sapa Melinda.
"Pagi, Mel. Jam berapa sih? Kok kamu udah mau berangkat sekolah aja." Tanya Inez. Dia mengarahkan matanya menatap Jam dinding diatasnya.
"Masih jam 6, kamu udah rapi kaya gini?" Tanya Inez lagi. Melinda tersenyum, Inez tidak pernah merasakan pergi ke Sekolah Umum.
"Pasti Kak Inez dulu jadi primadona nya sekolah Kak Inez ya." Ucap Melinda menggoda Inez. Inez terdiam mendengar komentar Melinda.
"Aku dulu home schooling, Mel." Ucap Inez tersenyum.
"Pasti enak banget. Ga ribet harus ngejar nilai sesama teman." Komentar Melinda.
"Ada nggak enak nya juga sih. Nggak enaknya aku gak begitu punya temen banyak. Sekarang, mau nikah pun kemungkinan teman yang aku undang hanya lima orang." Ujar Inez merenung. Melinda menghampiri Inez dan duduk di sebelah Inez.
"Aku boleh undang teman-temanku ke acara pernikahan Kak Inez dan Mas Melody?" Tanya Melinda matanya penuh harap.
"Boleh dong. Nanti kenalin aku sama beberapa teman baik mu ya." Ujar Inez menjawil hidung mancunv Melinda. Melinda memeluk Inez.
"Kak Inez punya sahabat dong pastinya?" Tanya Melinda ingin tahu.
"Ada. Mas Melody juga kenal. Namanya Ivan. Dia sudah jadi sahabatku sejak aku di lahirkan. Dia usianya 4 tahun lebih tua dariku. Dan selalu menemaniku hingga aku seusia kamu. Mengajari ku berjalan, naik sepeda, mengendarai motor." Cerita Inez tersenyum merenung. Dia baru ingat bahwa dia harus memberi kabar kepada Ivan. Melinda tersenyum mendengarkan cerita Inez. Inez mengusap lembut kepalanya mengacak-acak rambut Melinda sebelum berlari ke dalam kamar mandi.
Melody keluar kamar dengan penampilan yang sudah rapi. Ia menggunakan Kaos hitamnya yang lain dan celana jeans.
"Pagi, Melody." Sapa Mama nya di meja makan yang sedang menyiapkan sarapan nasi uduk khas jakarta yang biasa mamanya beli di persimpangan depan komplek rumahnya.
Melody berjalan menghampiri mamanya memberikan kecupan selamat pagi. Melody tampak masih mengantuk.
"Kurang tidur?" Tanya Mamanya tersenyum.
"Iya mah. Mah, aku antar Inez dulu pagi ini. Dan kita akan makan siang di rumah Inez ya." Kata Melody memberi tahu. Mama nya mengelus lembut pipi Melody.
"Iya, nak. Nanti siang mama, papa sama Melinda ke rumah Inez." Jawab Mama nya.
Terdengar tawa cekikikan Melinda dan Inez keluar dari kamarnya. Melody menoleh heran dengan tingkah mereka berdua.
"Ngomongin apa sih, seru banget kayanya" Ledek Mamanya Melody. Melody masih mengerutkan keningnya melihat Inez yang menahan senyum.
"Ada deehhh... Rahasiiaaaa" Jawab Melinda menggoda Mamanya.
"Pagi, tante. Pagi, Sayang." Inez menyapa Melody. Melody tersadar dari lamunannya.
"Pagi, sayang." Jawab Melody membalas sapaan.
"Habis sarapan aku antar kamu pulang dulu ya. Nanti siang setelah Melinda pulang sekolah, Mama Papa dan Melinda akan aku jemput dan datang kerumahmu." Ucap Melody sambil menyerahkan piring kepada Inez.
"Ini cobain nasi uduk kesukaan, Mas Lody." Mama nya Melody menawarkan kepada Inez.
"Papa udah berangkat, Mah?" Tanya Melody. Inez menikmati makanannya yang terasa baru di lidahnya dan hanya mendengarkan obrolan pagi mereka.
"Iya. Tadi jam setengah 5 pagi sudah berangkat. Dia tidak mau terjebak macet. Karena dia harus cek Restaurant yang Minggu depan Grand opening di Bogor." Jawab Mamanya Melody.
Setelah mereka semua selesai sarapan, Melody siap mengantarkan Inez pulang.
"Mas, sekalian antar adikmu ke sekolahnya ya." Pinta Mama nya.
"Naik bis sana." Suruh Melody menggoda adiknya yang tidak bisa naik kendaraan umum.
"Yang ada belum nyampe sekolah aku udah pulang lagi karena harus ganti baju." Jawab Melinda kesal.
"Udah, kita anter Melinda dulu. Aku juga mau lihat sekolahnya." Ucap Inez membela Melinda. Melody memutar bola matanya.
"Yeay. Mas Melody nyebelin, Wleee.." Ledek Melinda berlari ke garasi rumah nya. Inez tersenyum menggandeng Melody. Menghampiri Mamanya untuk pamit.
Inez dan Melody mengantar Melinda pergi ke sekolahnya. Ketika Melinda tiba di gerbang sekolah beberapa teman sekelas nya sedang menunggunya. Inez tampak antusias melihat suasana sekolah tersebut. Inez membuka jendela mobilnya, memandang anak-anak berseragam yang sedang bersenda- gurau menertawakan hal-hal yang mereka anggap lucu. Inez mencoba membayangkan perasaan anak sekolah yang satu persatu masuk ke dalam gerbang sekolah.
"Sayang." Panggil Melody. Inez tersadar dari lamunannya. Kesedihan menyelimutinya, banyak waktu yang hilang. Banyak yang tidak ia rasakan. Ia merindukan sahabatnya. Ivan.
Inez menoleh ke Melody tersenyum, mata nya tidak dapat membohongi Melody.
"Aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan." Ucap Melody mengelus lembut pipi Inez dengan punggung tangannya. Inez memiringkan wajahnya menikmati sentuhan itu, meneteskan air matanya. Melody menghapus air mata tersebut.
"Kita akan mempersiapkan pernikahan, apapun yang kamu inginkan." Melody mencoba menghibur Inez. Inez tersenyum.
"Maafkan aku. Aku tahu ini bodoh menginginkan sesuatu hal yang tidak pernah aku rasakan." Ungkap Inez mengusap hidungnya.
"Kata siapa tidak pernah kamu rasakan. Kamu akan merasakannya." Ujar Melody muncul ide brilliant di kepalanya. Melody mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan ke Melinda.
'Kamu harus membantuku dalam satu hal' Isi pesan tersebut yang Melody kirimkan Melinda.
'Apa, mas?'
Balas Melinda dengan cepat. Melody tersenyum membayangkan apa yang akan ia lakukan untuk Inez.
Mereka pun meninggalkan area sekolah Melinda.
Berlian cemas mengetahui kekasihnya pergi ke Jakarta tepat dia mengetahui berita bahwa Inez dan Melody baru tiba di Jakarta kemarin. Ia sudah mencoba menghubungi Ivan, namun Ivan tidak sama sekali mengangkat telponnya atau mencoba membalas pesannya.
Berlian segera memesan penerbangan ke Jakarta hari ini juga. Dengan nekat Berlian pergi ke Jakarta, tanpa mengetahui dimana Ivan menginap, atau Melody dan Inez tinggal.
Ivan sedang menyantap sarapannya di Restaurant Hotel tempat dia menginap. Di dalam pikirannya berkecamuk. Hatinya mengatakan untuk melepaskan Inez, berbahagia untuknya. Dan memperbaiki kerusakan hubungannya bersama Berlian. Bagaimanapun hubungan Ivan dan Berlian sudah terlampau jauh. Tapi logikanya berkata lain. Keegoisan diri nya merangkap hati nuraninya untuk melakukan yang seharusnya ia lakukan sejak dulu. Tidak melepaskan Inez. Tanpa berpikir panjang apapun akan dia lakukan untuk mendapatkan Inez.
Getaran ponsel Ivan pun terus mengganggu nya berpikir. Dia mematikan telpon tersebut. Tanpa memberitahu kedatangannya di Jakarta dengan yakin Ivan akan menemukan Inez. Dia hanya perlu mencari Inez di rumah Melody. Jika dia tidak ada disana, dia akan menunggu Inez di rumahnya sampai Inez pulang.
__ADS_1
Ivan meninggalkan Resto menuju kamarnya untuk mengganti pakaiannya dan mengambil sesuatu di dalam kopernya.
Inez mencoba beberapa pakaian untuk dia gunakan siang ini. Wajahnya yang sudah ia rias pun terlihat cantik dan manis. Senyumannya menambah kecantikannya. Ayahnya berdiri di depan pintu kamarnya.
"Aku sangat bahagia melihat putriku akan menjadi seorang wanita." Ucap Ayahnya.
Inez menatapnya tersenyum sambil menggunakan anting di telinga nya.
"Bagaimana?" Tanya nya kepada Ayahnya untuk mengoreksi penampilannya.
"Perfect. Kamu akan menjadi wanita paling cantik hari ini, besok dan seterusnya." Ujar Ayahnya yang menghampiri untuk memeluknya.
"Tuan, para tamu Tuan dan Miss Inez sudah datang." Kata Mbak warni. Asisten rumah tangga di rumah Mr.Wilson.
Inez mengangguk dan bergandengan tangan bersama ayahnya untuk menghampiri tamu mereka. Melody menatap Inez dengan terkesima. Inez yang berjalan menurunin tangga dengan menunduk hati-hati sangat merasakan tatapan yang di berikan Melody.
Mereka pun membicarakan tentang perencanaan pernikahan yang di inginkan Inez dan Melody.
Ayahnya Inez menunjukkan majalah yang sudah memuat tentang pertunangan Inez dan Melody.
"Pertunangan Putri tunggal Pengusaha Travel dan Pengusaha Restaurant."
"Aku sih mau konsepnya tidak terlalu heboh ya. Kalau bisa Garden party tema nya." Ujar Inez memberitahu apa yang dia inginkan. Mama nya Melody tampak setuju. Inez tidak membatasi berapa banyak tamu yang datang karena sudah pasti seluruh relasi Ayahnya dan relasi Papanya Melody akan di undang. Di tambah beberapa rekanan kerja Melody sendiri. Beberapa teman kampus Melody juga di undang, Inez hanya mengundang Chloe dan mengirimìnya tiket pesawat untuk Chloe. Dia berharap Chloe menjadi pendamping wanita nya. Ketika obrolan mereka telah selesai segala persiapan akan segera di rencanakan keesokan harinya, seseorang muncul di depan pintu.
"Lala??" Tanya Inez yang heran. Semua orang menoleh ke arah pintu. Lala yang merasa mengganggu hanya bisa mengangguk dan tersenyum.
"Ada apa, Lala? Saya sedang memiliki pertemuan keluarga." Ujar Ayahnya Inez menghampiri Lala.
"Kalau begitu saya akan menunggu di dapur, Sir." Jawab Lala yang ingin tidak ingin menggangu.
"Baiklah. Setelah ini saya akan menyusulmu."
Lala tersenyum dan melambaikan tangan pelan ke Inez. Inez yang tersenyum kepada nya juga melambaikan tangannya pelan.
"Maaf, tadi Sekretaris yang saya pekerjakan di kantor. Mungkin ada beberapa hal yang tidak bisa menunggu." Ujar Ayahnya Inez kepada kedua orang tua Melody.
Mereka melanjutkan perbincangan mereka hingga sore hari. Mama, Papa dan Melinda ijin pamit untuk pulang duluan. Melody pamit untuk mengantarkan keluarganya pulang.
Melody memeluk Inez dan mengecup kening Inez lembut.
"Nanti malam aku kesini lagi." Ujar Melody berpamitan kepada Inez dan Ayahnya Inez tersenyum.
Setelah Melody dan keluarganya pulang, Inez dan Ayahnya menghampiri Lala yang sedang menunggu di dapur sambil berbincang dengan Mbak Warni.
"Hei Lala. Apa kabarmu? Sejak kapan bekerja di perusahaan Ayahku?" Tanya Inez menghampiri Lala dan memeluknya. Lala yang heran dengan tingkah Inez tersenyum canggung. Lalu mengangguk kepada Ayahnya Inez.
"Saya tunggu di ruang kerja." Perintah Ayahnya Inez berlalu menuju ke ruang kerjanya.
"Setahun yang lalu aku mulai bekerja di kantor Ayahmu." Jawab Lala tersenyum.
"Maukah kamu datang ke acara pernikahanku dengan Melody?" Tanya Inez langsung yang antusias mengabarkannya.
"Oke, sepertinya bos mu menunggumu." Ledek Inez melirik ke arah ruang kerja ayahnya. Lala melangkah pergi keluar dapur. Inez tersenyum melihat Lala. Dia menarik kursi dan duduk di meja dapur yang bentuk nya seperti mini bar. Dia tenggelam bersama pikirannya. Hatinya sangat senang bahwa dia akan menjadi Nyonya Dirgantara.
"Mel.."Panggil Melody dari depan kamarnya dan membuka pintu kamar Melinda. Melinda sedang asyik mendengarkan lagu dari earphone nya. Melihat Melody sedang masuk kamarnya dia melepaskan earphonenya.
"Kenapa, Mas?" Tanya Melinda wajahnya tampak serius.
Melody meminta sebuah bantuan untuk membuat sebuah rencana di malam sebelum Tanggal pernikahan mereka. Melinda tersenyum gemas mendengarkan Kakaknya menjelaskan rencananya.
Malam pun segera tiba. Siang tadi Ivan menghabiskan waktu mencari sebuah hadiah untuk Inez. Ivan membawakan Inez sebuah botol wine Sauvignon yang sangat mahal.
Inez sedang menunggu kedatangan Melody, suara bel rumahnya membuat senyumnya mengembang.
"Halo, Sayang." Sapa Inez sambil membuka pintu. Namun, setelah pintu terbuka dia tidak menyangka bahwa yang berada di depan pintunya adalah Ivan.
Inez dirumah hanya bersama Mbak Warni karena Ayahnya sedang pergi bersama Lala.
"Hai," Sapa Ivan di depan pintu. Inez masih mencoba memulihkan kesadarannya.
"Aku pikir ...."
"Melody?" Tanya Ivan. Inez mengangguk .
Ivan memberikan sekotak hadiah yang sudah ia persiapkan sejak siang. Terlalu lama Ivan memikirkan apa yang cocok di berikan kepada Inez.
"Thank you. Mau masuk?" Inez mempersilahkan Ivan masuk. Ivan masuk ke dalam rumahnya.
"Kamu apa kabar?" Tanya Inez membuka keheningan.
""Aku baik. Dan hari ini aku semakin membaik setelah bertemu denganmu." Ucap Ivan. Inez terlihat canggung. Setelah Lima tahun lebih tidak berbicara kepada Ivan. Hatinya sedikit merasa sakit mengingat apa yang telah terjadi. Bukan karena Ivan meninggalkan Inez, tapi karena dia merasa bersalah menjauh Ivan.
Inez tersenyum.
"Apa kamu ke jakarta untuk bertemu denganku?" Tanya Inez sambil meletakkan Sauvignon yang diberikan Ivan. Ivan tidak tahu bahwa Inez sudah tidak pernah minum Sauvignon sejak Inez meninggalkan Indonesia. Bukan karena dia tidak menemukan wine jenis itu disana. Tapi karena menyesap wine itu mengingatkan luka yang ingin Inez sembuhkan saat pertama dia meninggalkan Indonesia.
"Aku datang kesini karena merindukanmu. Kalau menunggu kabarmu mungkin aku akan terlambat." Ucap Ivan termenung. Inez terdiam duduk mengartikan ekspresi wajah Ivan. Dia merindukannya. Merindukan sosok orang yang dulu membuatnya berhenti bersedih.
"Apa kamu punya waktu?" Tanya Ivan lagi.
"Sayang..." Sapa Melody yang muncul dari depan pintu rumah Inez. Melody tidak mengira bahwa Ivan ada di dalam rumah Inez. Inez menghampiri Melody dengan tersenyum sambil mengangkat bahunya ketika Melody mengangkat alis nya sebelah setelah melihat Ivan.
"Hai, Van" Sapa Melody bersahabat. Ivan melihat kemesraan Inez dengan Melody membuat dirinya sangat marah.
'Bisa-bisa nya tangan kotor itu bertengger di pinggang Inez' Maki Ivan dalam hatinya. Amarahnya semakin membuncah hingga ke ubun-ubun kepalanya. Sekuat tenaga Ivan menahan kekesalannya. Jika dia bertindak sekarang itu akan membuat Inez memilih Melody.
"Hei, Lody. Nice to meet you." Ujar Ivan berpura-pura dengan sikapnya.
"Aku ingin mengajak Inez pergi malam ini, sudah lama kita tidak menghabiskan waktu bersama. Bisakah kamu mengijinkannya?" Pinta Ivan tiba-tiba yang membuat Inez tersentak.
__ADS_1
"Ivan, emang gak bisa kita ajak Melody juga?" Tanya Inez mencoba memecahkaan keheningan. Melody menatap Ivan mencoba mencari tahu niatnya. Karena Melody merasa Ivan menyembunyikan sesuatu. Melody dan Inez tidak tahu satu-satunya yang di sembunyikan oleh Ivan adalah perasaan terhadap Inez.
"Iya, emang mau ngapain sih? gue masa ga boleh ikut?" Tanya Melody bercanda. Inez tersenyum canggung berada diantara mereka berdua dan pergi meninggalkan mereka berdua untuk ke dapur, menyiapkan minuman untuk mereka berdua.
Ivan menghampiri Melody dan membisikan sesuatu di telinganya.
"Bagaimana rasanya tubuh Inez? Lo ga perlu nikahin dia karena merasa bersalah" Bisik Ivan di telinga Melody. Melody yang geram dengan kalimat Ivan langsung mendorong Ivan menjauh.
"Jangan pernah lo bicara seperti itu!!" Bentak Melody terbakar rasa amarah karena kalimat Ivan. Inez yang mendengar keributan dari dapur langsung menghampiri mereka.
"Apa-apaan sih, Yang!" Omel Inez kepada Melody. Ivan tersenyum kecut melihat rencana nya berhasil membuat Melody tampak bersalah di hadapan Inez.
"Aku tidak mengijinkan kamu pergi bersamanya." Desis Melody. Inez tercengang mendengar kalimat itu dari mulut Melody.
"Kamu tidak punya hak untuk melarangku sebelum tanggal 12." Jawab Inez yang menyangka sikap Melody seperti ini karena kecemburuaan.
"Lagipula ini Ivan loh, Sayang." Bujuk Inez mencoba menyadarkan Melody. Melody terdiam dan menyadari dirinya telah masuk ke perangkap permainan Ivan.
"Aku akan pulang." Gumam Melody menatap Inez dengan penuh arti. Inez mencoba mengartikan tatapan itu. Tanpa ucapan selamat malam Melody berlalu pergi. Inez terpaku di kakinya. Dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia merasa telah menyakiti hati Melody dengan bertindak seperti itu.
Melody menoleh sekali ke belakang, Inez terdiam memandangnya melangkah pergi.
Melody pergi dari rumah Inez dan mengarahkan mobilnya ke rumahnya. Sepanjang jalan dia terdiam. Ia sangat kesal dengan kalimat Ivan yang memancing emosinya. Seharusnya dia tidak langsung bertindak emosional seperti itu.
Berlian berada di sebuah hotel. Ia mencari tahu keberadaan Ivan dari Arjuna tapi Arjuna tetap setia menyimpan rahasia Ivan. Berlian pergi menyusuri setiap pelosok Jakarta untuk mencari dimana Ivan berada.
"Kita akan pergi kemana?" Tanya Inez di dalam mobil. Ivan membawa mobil ke arah sebuah taman di Jakarta. Taman tersebut tidak terlalu banyak di kunjungi orang. Dan Ivan pernah mengajak Inez bermain ayunan tersebut saat usia Inez 12 tahun ketika sedang diajak Ayahnya Inez untuk pertama kalinya ke Jakarta.
"Sebuah tempat dimana kita bisa seperti dulu." Jawab Ivan. Inez masih terdiam. Dia memikirkan Melody. Dia mengirimi pesan kepada Melody.
'Aku bersama Ivan. Jangan khawatir. Aku mencintaimu. Xoxo'
Dering ponsel membuyarkan lamunan Melody. Dia menatap layar ponsel nya membaca pesan dari tunangannya.
'Aku percaya padamu. Hanya saja malam ini aku tidak mempercayai Ivan. Share your live location, sayang. Itu akan membuat hatiku tenang.'
Balasan yang diterima Inez malah membuat Inez kesal. Jika Melody memintanya untuk mengirimkan lokasinya saat ini, baginya sama saja bahwa Melody tidak mempercayainya. Ivan yang kesal melihat Inez memainkan ponselnya langsung merebut ponsel tersebut dan mematikan dayanya.
"Vaaaannn..." Rengek Inez mencoba meraih Ponselnya. Ivan tersenyum menggodanya.
"Kamu tahu aku merindukanmu. Aku mohon sekali ini aku butuh kamu sepenuhnya bersamaku." Pinta Ivan memohon. Inez mengangguk tersenyum tipis.
Setelah Ivan dan Inez sampai ketempat tujuan mereka. Inez berjalan menyusuri taman tersebut. Mencoba mengenangnya. Anak perempuan kecil bermain-main di sekitaran ayunan. Tertawa lepas. Inez melepaskan senyumannya mengingatnya.
"Apa yang kamu ingat?" Tanya Ivan duduk disalah satu ayunan tersebut.
"Aku berlari mengejarmu sampai terjatuh. Dan aku menangis, lalu kamu datang membawakan sebuah Ice cream." Cerita Inez tersenyum.
"Sekarang disinilah aku mengejarmu." Ucap Ivan membuat Inez tersentak. Inez menatap Ivan dengan kebingungan mencoba mencari tahu apa maksud dari perkataanya.
"Kamu ngomong apa sih." Ucap Inez menganggap Ivan mengeluarkan sebuah lelucon.
"Kamu ingat dulu? Saat merusak hasil mbatik nya Bude suci?" Tanya Ivan. Inez mencoba mengingat kejadian itu. Di pekarangan rumahnya Inez di jogja Bude Suci sedang mengukit batik, dan dengan sengaja Inez merusaknya dengan gambar nya. Inez menggambar sebuah wajah perempuan yang menyeramkan saat itu. Dan Ketika Bude bertanya kepada Inez siapa yang merusaknya, Ivan datang untuk mengakui kesalahan yang tidak ia lakukan.
"Yang membuat Om Djoko dan Bude Suci menghukummu untuk mencabut rumput? Hahahahaha" Inez tertawa mengenangnya.
"Nez, apa kamu mencintaiku?" Tanya Ivan tiba-tiba. Inez menoleh ke arah Ivan yang berada di sampingnya. Wajah Ivan sangat dekat. Hingga Inez dapat mendengarkan suara nafasnya.
"Aku selalu mencintaimu." Ucap Inez mencairkan suasana.
"Aku akan selalu mencintaimu. Seperti yang selalu kamu lakukan, menjaga ku sejak kecil, tidak membiarkan aku merasakan sedih. Aku selalu mencintaimu, kamu sudah seperti kembaranku yang terlahir lebih dulu 4 tahun sebelumnya. Hahahahaa" Ujar Inez melanjutkan kata-katanya dan tertawa. Ivan tiba-tiba mencium Inez. Inez terkejut dengan apa yang Ivan lakukan. Inez merasakan hal aneh karena Ivan melakukan ini. Ini tidak benar.
"What are you doing?!!!!" Inez melepaskan ciumannya dan mendorong Ivan. Ivan memandang Inez dalam. Hatinya sakit karena penolakan Inez. Inez masih menatapnya dengan kecewa. Mereka saling menatap. Suara jangkrik satu-satunya suara yang terdengar dari malam itu.
"Bukan cinta yang itu kumaksud, Van." Desah Inez menghela nafasnya.
Ivan menghampirinya. Menggenggam tangannya.
"Aku mencintaimu, Inez. Aku ingin kamu kembali, Nez." Kata Ivan menatap Inez. Matanya berkaca-kaca menatap Inez.
"Don't, Van. I don't wanna hear it." Ucap Inez melepaskan kedua tangannya yang sedang di genggam oleh Ivan. Ivan menarik tangannya keras.
"Kamu bilang kamu mencintaiku!!!!" Bentak Ivan. Inez kaget karena suara Ivan yang membentaknya keras.
"Ivan.. ."
"You've lied!! You said you love me!" Bentak Ivan lagi sambil mencengkram tangan Inez.
"Ivan... Kamu nyakitin aku." Ujar Inez yang merasa sakit karena tangannya di cengkram keras. Inez menangis. Ivan terdiam melepaskan tangan Inez.
"I'm sorry.." Ujar Ivan mencoba mengambil tangan Inez untuk mengelusnya. Tapi Inez menariknya
"Ivan, semua yang kamu ucapkan adalah hal lima tahun yang lalu. Lima tahun yang lalu ketika aku mengucapkannya hanya lah seorang gadis kecil, gadis kecil yang memang sudah terbiasa bergantung kepadamu. Karena kamu membiarkan aku hidup seperti itu. Dan aku lupa bagaimana suatu saat kamu melepaskanku. Dan aku tidak pernah menyangka bahwa hari itu tiba ketika aku mengatakan bahwa aku mencintaimu dan aku ingin lebih. Ketika kamu meninggalkanmu karena aku mengatakan aku mencintaimu, aku pikir aku yang salah karena membuatmu menjauh dari hidupku. Tapi sekarang itu membuatku sadar, bahwa aku tidak menyesal mengatakan itu. Karena apa yang kamu lakukan itu membuat aku menemukan sesuatu yang nyata. Bersamamu kita hanya lah masa lalu, ingat beberapa menit yang lalu Ivan" Ucap Inez menatap mata Ivan menjelaskan.
"Ingat, beberapa menit yang lalu!!!! Semua yang kita bicarakan itu masa lalu. Dulu, Dulu dan Dulu. Bahkan kamu memberiku sebuah hadiah sebuah minuman yang sudah aku tidak minum lagi. Itu Dulu, Ivan. Aku tidak akan terus-terusan menyalahkan diriku karena mengakui mencintaimu dulu, karena apa yang kamu lakukan itu atas pilihan mu sendiri. Disaat kamu bisa menolakku dengan halus tanpa harus pergi meninggalkanku di hari aku kehilangan Bude suci, kamu memilih pergi meninggalkanku tanpa sepatah kata pun Ivan. Dan sekarang kamu berdiri disini, mengatakan bahwa kamu mencintaiku??? Bahwa kamu mengejarku??? I'm so sorry Ivan. It's to late. Aku memberimu waktu tepat 5 tahun. Dan yang hadir di sisiku adalah Melody! Yang dimana malam ini aku membiarkannya pergi demi kamu!" Bentak Inez timbul amarahnya mengingat yang pernah terjadi.
"Inez.. Dia tidak lebih baik dariku." Ujar Ivan menilai Melody.
"Don't!" Bentak Inez.
"Don't you dare to said like that about Melody. He is the best think i've ever had after you." Desis Inez. Ivan terdiam menatap mata Inez.
"Dia hanya akan menyakitimu!!! Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi!!" Bentak Ivan yang kesal karena Inez membela Melody.
"Lalu?? Hanya kamu yang boleh menyakitiku?? Wake up, Ivan!!! Kamu tidak lagi seperti yang aku kenal, dan begitupun aku. Kamu melangkah maju bersama Berlian. Itu pilihan mu. Aku melangkah maju bersama Melody. Itu pilihanku. Jangan coba untuk menjadi orang yang merusaknya. Jika kamu bertanya apa aku mencintaimu? Always. I'll Always love you. Tapi bukan cinta lima tahun yang lalu." Kata-kata Inez menusuk hati Ivan. Dia menutup matanya untuk merasakan semua kesakitan yang di sebabkan oleh Inez.
"I'm Sorry. Aku berharap kamu masih mau hadir pada pernikahanku tanggal 12 april ini." Lanjut Inez memberikan kabar kepada Ivan tentang pernikahannya. Mereka kini terdiam hanyut dalam pikiran mereka masing-masing. Kelegaan dirasakan oleh hati Inez. Ivan terduduk di ayunan, meneteskan airmatanya. Menyesali perbuatannya. Dulu dan sekarang. Inez menghampirinya jongkok didepannya.
"Hei... Kamu memiliki tempatmu sendiri di hatiku. Sudah banyak yang kita lalui, dan aku tidak akan melupakannya. Kamu sahabatku, kakakku, terkadang musuhku yang sangat menyebalkan." Ucap Inez menghibur Ivan. Ivan tersenyum dan menggenggam kedua tangan Inez.
"Maafkan aku, Inez." Bisik Ivan dengan suara serak. Inez tersenyum.
"Aku sudah memaafkanmu. Sudah berlalu. Bisakah kamu antarkan aku pulang?" Tanya Inez menyeringai. Ivan mengangguk. Menggandeng tangan Inez dan mengelus nya lembut.
__ADS_1
Ivan mengantar Inez pulang ke rumahnya. Dia memeluk Inez kuat. Merasakan harum rambutnya di hidungnya yang akan menjadi kenangan selamanya. Lalu Ivan berlalu pergi, kembali ke tempat dimana dia seharusnya.
Berlian terdiam di sebuah kamar hotel. Kecewa memenuhi hatinya. Seharian berlalu tanpa hasil. Dia merasakan sebuah akhir tanpa titik.