Aku Mencintaimu Tanpa Tanda Tanya.

Aku Mencintaimu Tanpa Tanda Tanya.
31 Desember 2019


__ADS_3

"Bisakah kamu berhenti mengomentari persoalan mereka?" Tanya Ivan yang mulai penat karena Berlian terus berbicara tentang foto yang Inez dan Melody posting di media sosial mereka. Berlian melirik Ivan dengan sebal.


"Kenapa? Katanya nggak punya perasaan cinta ke Inez? Kok kesel gitu dengernya?" Pancing Berlian dengan segala pertanyaannya.


"Kamu tahu kan, bagaimana Lody menghabiskan waktunya bersama wanita-wanita?" Tanya Ivan balik kepada Berlian. Bagaimana Berlian bisa lupa, Berlian salah satu wanita yang hampir masuk ke daftar wanita singgahan Melody. Kalau bukan Ivan yang tiba-tiba datang ke rumah Lody saat itu. Mungkin saat ini, Berlian menjadi salah satu wanita yang menangisi foto tersebut.


"Aku hanya khawatir Inez akan berakhir seperti mu" Ucap Ivan melanjutkan kalimatnya. Berlian terdiam.


"Tapi menurutku tidak. Memang sejak dulu Melody itu memendam perasaan buat Inez, dan kamu menjadi salah satu penghalang mereka juga kan. Lalu, kamu malah meninggalkan Inez. Kalau sekarang Melody pergi menempuh beribu mil untuk mengejar Inez, aku rasa kamu tahu jawabannya. Dia tidak main-main." Ucap Berlian ketus. Ivan semakin kesal mendengarkan terus- terusan tentang Inez dan Melody.


"Stop!!! Stop Berlian!!! Laki-laki itu sudah tabiatnya br*ngs*k. Bagaimana bisa secepat itu berubah?! Semua itu di luar logika!" Bentak Ivan yang membuat Berlian tersentak karena Ivan pertama kalinya membentaknya.


"Kenapa kamu berteriak padaku?!" Omel Berlian yang ikut membentak Ivan.


"Aku muak. Apakah hubungan kita sebegitu membosankan karena kamu terus membicarakan tentang mereka!" Jawab Ivan menurunkan nada suaranya tapi tidak dengan penekanan setiap kata-katanya. Berlian terdiam. Dia merasa ada yang salah dengan hal ini. Tapi hatinya terlalu takut menerima sebuah kebenaran, jadi ia membohongi diri nya sendiri.


"Maafkan aku. Aku tahu yang kamu cintai itu aku. Aku tahu itu. Maafkan aku." Ucap Berlian memeluk Ivan. Ivan pun meredakan amarahnya. Ia membelai rambut Berlian lembut. Ivan melepaskan pelukan Berlian. Memandangnya lekat. Mata Berlian berkaca-kaca.


"Maafkan aku meneriakimu. Aku hanya banyak pikiran di tempat kerja di tambah harus mendengar yang tidak penting bagiku untuk ku dengar." Jelas Ivan berbohong tentang pekerjaannya. Ivan mengusap lembut air mata Berlian yang menetes di sudut matanya. Lalu, Ivan mulai mengecup bibir Berlian lembut. Berlian menyambut ciuman itu. Lama-kelamaan ciuman itu memanas, bergairah. Amarah menguasai Ivan, ketika mata nya sempat ia buka menatap gadis yang masih menciumnya dengan penuh birahi. Terlintas wajah Inez yang ada di hadapannya. Ivan terdiam berhenti menyambut ciuman Berlian.


"Ada apa?" Tanya Berlian. Ivan menggelengkan kepala nya dan mengedipkan matanya berkali-kali. Setelah sadar Berlian menunggu responnya Ivan tersenyum. Lalu ia menciumnya lagi. Membawa malam mereka menjadi malam yang membuat mereka semakin terikat.


Ivan melakukannya dengan cepat. Berlian mengatur setiap nafasnya. Keegoisan Ivan menguasai dirinya. Musuh terburuknya telah mengontrol segala isi pikirannya. Dirinya sendiri. Kini, Ivan di penuhi rasa bersalah. Bahwa dia melakukan hal itu bukan dengan orang yang benar-benar ia inginkan. Berlian tersenyum puas. Setelah Ivan mendapatkan keperawanannya, tidak ada lagi hal yang perlu ia khawatirkan. Karena dia tahu ketika Ivan di berikan pilihan, dia harus memilih siapa yang harus di pilih bukan siapa yang mau dia pilih.


Ivan beranjak dari tempat tidur, membuang ****** di balut tissue dan membuangnya ke tempat sampah di kamarnya lalu ia masuk ke dalam kamar mandi.


Ivan cukup lama di kamar mandi. Ia menyesali apa yang ia perbuat. Kenapa dirinya dikalahkan oleh ego nya sendiri. Dia terus bertanya-tanya bagaimana semua ini dia lalui setelah ini. Lamunannya buyar karena suara ketukan pintu. Ia mematikan keran air dan membuka pintu kamar mandi.


"Kenapa lama sekali?" Tanya Berlian. Ivan memalsukan senyumannya.


"Aku mules." Jawabnya berbohong. Berlian tertawa.


"Sudah?" tanyanya. Ivan mengangguk. Lalu, Berlian segera masuk ke dalam kamar mandi. Ivan menengok ke arah kasur nya. Ada bercak darah diatas seprai nya. Dia membuka seprai nya dan menaruh nya di Box pakaian kotor. Melemparkan sprei nya dengan kesal.


 


"Aku di Lobby" Ucap Melody memberitahu Inez melalui ponselnya.


"Segera turun. Tunggu." Jawab Inez.


"Sudah pekerjaanku." Canda Melody.


"Apa kamu akan menutup telponnya?" Tanya Inez.


"Tidak. Biarkan terus tersambung sampai kamu berada di depanku." Jawab Melody dan Inez tersenyum mendengar jawabannya.


Inez mencari lipsticknya. Dia menorehkan lipstick warna peach nya di bibir nya yang tipis. Lalu tersenyum menatap kaca.


"Jangan tersenyum" Goda suara di ujung telpon. Inez memutar matanya.


"Apa kamu baru saja memutar matamu?" Tanya Melody lagi.


"Nggak. Aku sedang mencibir." Jawab Inez berbohong. Ia kesal bahwa Melody dari jauh saja sudah bisa menebak apa yang biasa ia lakukan. Inez keluar dari kamarnya dan menuju Elevator.


"Hahahha. Lakukan lagi ketika bertemu aku di bawah ya." Kata Melody sambil tertawa.


"Coba tertawa lagi." Pinta Inez.


"Hahahahahaha... Hahahahah" Melody melakukan apa yang di pinta Inez.


"Apa kamu sudah gila?" Tiba-tiba Inez keluar dari Elevator yang berada di belakang Melody. Melody menatapnya dengan jenaka merasa di permainkan. Mereka menutup ponsel mereka masing-masing.


Melody mencubit kedua pipi Inez. Inez memukul-mukul kecil kedua tangan Melody.


"Jangan... pernah.. melakukannn... itu... lagi" Omel Inez.


"Ampun ratu... ampuunn." Ucap Melody merangkul Inez.


Mereka masuk ke dalam mobil. Melody mengendarai mobil dengan tenang.


"Kamu mau membawaku kemana?" Tanya Inez penasaran.


"Aku berencana hari ini melakukan sesuatu tanpa rencana." Jawab Melody.


"Apa maksudnya itu? Berencana melakukan sesuatu tanpa rencana? Lebih baik kamu kembali ke Indonesia. Bahasa mu sudah mulai zero." Canda Inez. Melody tertawa terbahak-bahak.


"Nih ya, ketika kamu membuka matamu dari tidurmu. Tiba-tiba terlintas kan di benakmu 'Ah, Iya... aku akan mengajak Inez melakukan sesuatu tanpa rencana' Itu sudah sebuah rencana namanya, Melody" Protes Inez. Melody masih tertawa senang melihat Inez ketika Melody mengeluarkan pernyataan yang menurut Inez tidak jelas dia akan menjabarkan menjadi sebuah kejelasan.


"Mengapa kamu sebahagia itu?Apa kamu habis menghisap ganja sendiri?" Tanya Inez lagi dengan wajah curiga.


"Nggak. Aku belum menghisapnya. Jika kamu mau aku kita akan menghisapnya sekarang." Ajak Melody memberikan usul.


"Jadi itu rencanamu? Menghisap ganja di sepanjang Hollywood?" Tanya Inez lagi.


"Bukan. Aku hanya membawa nya untuk di spot- spot tertentu. Yang jelas tidak di jalan dan disaat aku mengendarai mobil." Imbuh Melody.


"Aku setuju. No disaat kamu sedang mengendarai mobil." Jawab Inez menganggukan kepalanya dan mengeluarkan jempol nya untuk menyetujui pernyataan Melody kali ini.


"Aku tahu kenapa kamu setuju. Karena kebodohan mu yang berlipat ganda ketika belajar menyetir. Jadi, kamu tidak ingin bisa mengendarai mobil." Omel Melody. Inez mencibir. Melody tersenyum.


"Aku bisa menyetir mobil. Kemarin lusa aku menyetir mobil milik Chloe ketika dia mabuk, dan teman-temannya mabuk." Jawab Inez tidak mau kalah.


"Iya? Kalau gitu aku mabuk malam ini dan kamu stay sober untuk menggantikan aku mengendarai mobil ini ya?" Tanya Melody meledek Inez.


"Tapi serius, Melody. kemarin lusa aku yang mengendarai mobil Chloe sampai apartmentnya." Inez meyakinkan. Melody mengangguk.

__ADS_1


"Oke, oke aku percaya." Jawab Melody.


"Jadi kita kemana?" Tanya Inez balik ke topik pembicaraan awal.


"Ke kota yang dimana kita dapat bermain salju." Jawab Melody.


"Salju?" Tanya Inez. Melody mengangguk.


"Kamu harus lebih banyak menikmati kekayaanmu daripada harus menumpuknya dan tidak tahu mau digunakan untuk apa. Kenapa dia akhir tahun memilih tetap tinggal di LA." Omel Melody.


"Oke, kamu benar untuk hal itu." Inez setuju dengan ucapan Melody.


"Jadi empat tahun di USA, kamu tidak pernah berkunjung ke negara bagian yang turun salju?" Tanya Melody. Inez menggelengkan kepalanya.


"Aku menghabiskan waktu dengan segala perusahaan Ibuku dan Ayahku, remember? Dan melupakan masa lalu terkutuku." Cerita Inez. Inez kini tidak merasa apa-apa ketika pembahasan menyangkut soal masa lalunya. Bahkan Inez pernah bertanya bagaimana kehidupan Ivan di Indonesia. Melody menjelaskan seperti apa yang terlihat. Inez juga sangat penasaran bagaimana Ivan bisa memiliki hubungan dengan Berlian. Dan Melody pun menceritakan semuanya dalam satu malam. Dan di malam itu, dimana hatinya merasa bahwa ini adalah waktunya Inez benar-benar menutup buku dan tidak merasa bahwa ia tidak akan masalah jika suatu hari nanti dia akan kembali ke Indonesia dan bertemu dengan Ivan. Karena ia sadar bahwa perasaan yang ia miliki baginya adalah suatu kesalahan.


"Jadi ini adalah hal pertama lainnya kan?" Tanya Melody membuyarkan lamunan Inez.


"Sepertinya begitu. Jika, bermain salju di wahana salju buatan itu tidak terhitung." Jawab Inez terkikik sendiri.


"Ngga dong. Itu tidak bisa masuk dalam hitungan. Kamu akan menemukan perbedaannya nanti." Ujar Melody.


Inez tersenyum menatap Melody yang asik mendengarkan musik kesukaan mereka berdua yang di putar di radio mobilnya.


'*When she was just a girl she expected the world


But it flew away from her reach and the bullets catch in her teeth


Life goes on, it gets so heavy


The wheel breaks the butterfly every tear a waterfall


In the night the stormy night she'll close her eyes


In the night the stormy night away she'd fly


And dream of para-para-paradise


Para-para-paradise


Para-para-paradise


She'd dream of para-para-paradise


Para-para-paradise


Para-para-paradise*'


(Coldplay-Paradise)


 


"Happy New year." Jawab Berlian, menggengam kedua tangan Ivan yang berada dalam pelukannya.


"Semoga kita semakin langgeng, dan semakin erat hubungan kita. Kalau perlu tahun depan nikah." Ucap Berlian bercanda. Namun, Ivan tersentak mendengarkan kalimat tentang pernikahan. Dia masih belum membayangkan dirinya sebagai suami.


"Aku bercanda" Ucap Berlian menggoda Ivan yang terlihat kaget ketika Berlian mengucapkan hal itu. Ivan menciumi pipi Berlian dengan gemas.


"Aku antar pulang?" Tanya Ivan yang sekarang bersender ke balkon kamarnya.


Berlian menggelengkan kepalanya.


"Aku ingin bermalam disini." Tukas Berlian. Ivan mengangguk terdiam dan tidak bisa mengelak keinginan Berlian. Berlian melingkarkan tangannya ke leher Ivan. Memandangnya sangat lekat.


"I Love you" Kata Berlian. Ivan tersenyum. Berlian menunggu jawaban Ivan.


"Love you more." Ucap Ivan gugup. Apa benar dia mencintai Berlian berlebih? Sejujurnya hanya Ivan yang tahu bagaimana dia menghancurkan kehidupannya. Hingga dia tidak tahu mau mulai darimana dia merapikan semua nya.


 


5 Jam dalam penerbangan berlalu. Inez yang tertidur dalam pundak Melody kini terbangun karena suara dari intercom.


"Good morning" Goda Melody menyambut Inez yang terbangun dari tidurnya.


"Good Evening." Omel Inez.


Melody membawa Inez pergi ke New york pada hari itu juga. Kota yang mendapat julukan Big Apple ini menjadi tujuan Melody untuk kencan kedua. Namun, menurut Inez ini adalah kencan pertamanya. Makan malam di apartment itu tidak termasuk kencan kalau kata Inez.


Kini mereka baru landing di negara yang tidak pernah tidur tersebut.


Disana Melody sudah menyiapkan semuanya. Termasuk kendaraan selama mereka disana. Melody menyewa jasa limosin sejak semalam.


Melody sedang berbicara dengan supir yang akan mengantarkan mereka ke berbagai tempat di New York.


"Perfect." Gumam Melody. Hari ini New york telah turun snow flurry. Salju yang turun seperti butiran butiran kapas yang tidak di sertai angin. Inez terdiam karena pemandangan yang disajikan kota besar itu. Lampu-lampu menghiasi jalan, gedung-gedung yang juga berhiaskan salju yang jatuh menumpuk diatasnya.


"Melody." Panggil Inez sambil memegang erat tangan Melody. Melody menoleh dan melihat Inez sedang menikmati pemandangan salju yang turun.


"Ini Indah. Hal paling indah yang pernah aku rasakan." Lanjut Inez memeluk Melody erat dan cukup lama.


"Yuk, kita berangkat Dinner trus kelilin fifth avenue, manhattan, brooklyn, kalau gak capek kita ke staten islands juga." Ajak Melody. Inez melepaskan pelukannya dan mencibir.


Didalam limo Melody tersenyum menatap Inez.


"kenapa?" Tanya Melody.

__ADS_1


"Dingiin.." Inez mengatakannya dengan manja.


"Kita mampir salah satu butik buat cari mantel yang lebih tebal dari ini ya." Ucap Melody menarik Inez dan melingkarkan tangannya di pinggang Inez. Inez merasa nyaman dengan sentuhan Melody.


"Nyaman?" Tanya Melody. Jarak wajah nya kini sangat dekat dengan Inez. Inez mengangguk.


'Kkriuukkk... Kriiukkk....'


"Bukan suara perutku." Sanggah Inez langsung. Melody tertawa.


"Aku tahu kamu merasa lebih dingin karena lapar" Tukas Melody. Inez tersipu malu karena ketahuan bahwa dia menahan lapar.


"Lagian, ngajak anak orang nggak dikasih makan" Omel Inez.


"Aku udah nawarin kamu makan di Pesawat tadi. Kamu nya aja yang jawab nggak lapar." Jawab Melody membela dirinya.


"Kapan kamu nanyanya?" Tanya Inez mengingatnya. Seingat dia, dia hanya tertidur karena kurang tidur untuk menghadiri confrence call dari jogja terkait perusahaannya. Karena perbedaan waktu antara LA dan Indonesia.


"Tadi pas kamu tidur. Aku pesen makanan. Terus aku tanya sambil bangunin kamu. Eh kamu jawab 'Makan lagi makan lagi. Makan terus. Ngga ah' gitu." Jawab Melody memperagakan cara Inez tadi menjawab ajakannya untuk makan di pesawat dan tertawa.


Inez menghela nafas mendengar tawa Melody.


"Melody.. kamu tahu kan kalau orang merem itu omongannya belum tentu bener. Lagian orang merem di tanya. Komunikasi yang benar itu dua-dua nya dalam keadaan sadar." Ucap Inez menjelaskan.


"Iya iyaaa... Bawel.. Sekarang kita makan dulu kalau gitu." Ujar Melody.


Limosin melesat diantara keramaian kota New York.


Inez menikmati perjalanan tersebut. Dia tidak merasa menyesal bahwa selama ini dia tidak pernah pergi kemanapun dari Los Angeles. Karena dia sangat menghargai momen malam ini. Dia menyadari bahwa setelah sekian lama hati nya menunggu seseorang yang memperlakukan dia dengan sangat special.


"Thank you, Melody." Ucap Inez setelah menghabiskan makanannya di sebuah Restaurant yang indah. Melody tersenyum puas dengan melihat senyuman terukir diwajah Inez sepanjang hari ini.


"Mungkin aku akan bangkrut secepatnya kalau untuk membuatmu tersenyum seperti ini." Cibir Melody bercanda.


"Sebenarnya bukan kencan mahal mu yang membuat aku tersenyum. Tapi bagaimana kamu membuat aku merasakan hal pertama kali di usia 21 tahun ku." Gumam Inez menyesap wine nya.


"Oke, Baiklah. Kita akan membawa mu ke suatu tempat yang membuat gigimu menjadi kering karena terlalu banyak tersenyum." Ledek Melody beranjak dari kursinya setelah meletakkan beberapa uang untuk membayar tagihan.


Inez berdiri di depan Restaurant dan Melody menghampiri nya memberikan mantel kepadanya. Melody melangkah ke arah Limosin, mengambil sebuah payung.


"Kita akan berjalan kaki menyusuri jalan ini." Ucap Melody memberi tahu. Inez mengangguk dan tersenyum.


Melody meraih tangan Inez, tangan kiri nya memegang payung yang melindungi diri mereka dari salju lembut yang jatuh perlahan.


Mereka berjalan menyusuri jalan Fifth Avenue. Sebuah jalan yang di hiasi beberapa outlet retail merk termahsyur di dunia.


"Apa ada sesuatu yang ingin kamu beli?" Tanya Melody. Inez menyusuri toko-toko branded. Inez menunjuk satu Brand dan memasuki toko tersebut.


Ia mencoba beberapa Mantel yang indah. Lalu, ia menuju kasir untuk membayar beberapa barang yang telah ia coba. Namun Inez terlambat karena semua barang yang ia coba sudah di bayar oleh Melody. Melody menunggu nya di depan pintu keluar. Inez keluar membawa beberapa belanjaan dengan wajah cemberut. Melody menyambutnya dengan senyuman.


"Bahkan kamu membayar yang tidak perlu aku beli." Gumam Inez kesusahan membawa barang-barang yang ia beli. Melody segera membantunya.


"Sudah seharusnya." Jawab Melody. Inez menyikut perutnya dengan lembut.


Sebuah Limosin menghampiri mereka, dan mereka masuk ke dalam Limosin tersebut. Meletakkan kantong belanja yang cukup banyak yang telah Inez beli.


"Lelah?" Tanya Melody. Inez menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin mengakhiri malam ini dengan cepat.


"Kalau gitu kita akan berjalan lagi ya." Ajak Melody menggandeng tangan Inez.


Sekarang mereka menuju sebuah tempat yang menjadi pusat traveler yaitu Rockefeler Centre.


Melody mengajak Inez duduk memandangi orang-orang yang asik bermain Ice skating di area taman.


"Aku tidak bisa bermain Ice skating" Ujar Melody. Inez tertawa terbahak-bahak mendengar pengakuan Melody.


"Memangnya kamu bisa?" Tanya Melody bersungut karena mendengar Inez menertawakannya. Inez menggelengkan kepalanya.


Melody beranjak dari kursinya dan berlari kecil menghampiri seseorang di dekat area Ice skating. Inez melihatnya dari kejauhan. Tak lama kemudian Melody datang bersama dua orang yang memberikannya sepatu ice skating. Inez mengerutkan keningnya.


"Pakai itu." Suruh Melody . Inez segera memakai sepatu tersebut. Kedua orang tersebut memegang tangan Melody dan Inez yang sudah memakai sepatu ice skating.


Melody dan Inez berjalan kaku diatas hamparan es yang luas. Mereka dilatih oleh dua orang yang memang karyawan di Rockefeller. Perlahan Melody mulai mengerti bagaimana berjalan diatas es. Sedangkan Inez belum terlalu lancar dibandingkan Melody. Mereka berputar berjalan diatas es.


"Melody, Ini menakjubkan hahaha... hahahaa" Ucap Inez sambil tertawa. Melody mencoba meraih tangannya, dan sedikit menariknya, sehingga membuat Inez terpeleset jatuh kebelakang. Melody menghampirinya dan tertawa melihat Inez terjatuh.


"Hahaahahahahaa... Hahahahhaaa.. Maaf sayangku. Maaf" Ujar Melody menghampiri Inez dan mencoba berjongkok. Inez menatapnya tajam, lalu ia mendorong lutut Melody hingga Melody kehilangan keseimbangan. Dan mereka tertawa bersama.


"Jahatnya. Bukan menolongku malah menertawakanmu." Ujar Inez ketika mereka sudah melepaskan sepatu Ice skating mereka. Dan sekarang mereka sudah berjalan hingga Times Square. Times Square ada persimpangan jalan yang berada di Manhattan.


"Aku akan menolongmu, kok. Tapi aku akan menertawakannya dahulu." Jawab Melody merangkul leher Inez. Inez menepuk halus dada Melody.


"Jahat hahahahahaaa." Inez berhenti menepuk dada Melody, karena Melody menangkap kedua tangannya. Melody menatap Inez lekat. Inez terdiam menatap kedua mata Melody. Menikmati pemandangan di mata mereka satu sama lain. Melody masih menggenggam tangan Inez dan masih terdiam.


"Menikmati pemandangan yang kamu sukai? Tanya Melody mengutip pertanyaan Inez saat dia sedang berganti baju di apartment Melody.


"Ya, aku baru tahu bahwa matamu berwarna kehijauan." Bisik Inez. Melody tersenyum menatapnya.


Suara orang-orang yang sedang menghitung mundur menatap layar besar di salah satu gedung yang berdiri gagah di Times Square memeriahkan malam itu. Inez melirik ke arah gedung tersebut, lalu matanya kembali menatap Melody. Melody mendekatkan wajahnya ke arah wajah Inez. Hidungnya kini menyentuh hidung milik Inez. Mata mereka beradu, satu sama lain sedang menahan daya tarik mereka satu sama lain. Mereka tenggel bersama pikiran mereka satu sama lain. Menunggu momen terbaik untuk sebuah ciuman. Inez memejamkan matanya ketika tangan dingin Melody menyentuh sebelah pipinya. Kepalanya refleks miring, hingha hidung Inez menyentuh pipi Melody. Bibir Melody menyentuh halus pipi yang ia sentuh. Perlahan menghampiri bibir halus yang dimiliki Inez. Kehangatan menghampiri mereka di malam bersalju di Kota yang indah. Melody ******* halus bibir Inez, pelan namun bergairah. Inez menyambut ciuman itu dengan sebuah kecanggungan. Karena ini pertama kalinya dia melakukan hal itu. Tidak terlalu mahir tapi ciuman itu indah. Penuh cinta bukan hanya nafsu birahi. Kedua nya melepaskan bibir mereka masing-masing.


Inez menggigit bibir bawahnya. Memandang Melody yang belum berhenti menatapnya.


"Aku mencintaimu. Setiap hari seperti aku baru mencintaimu. Tidak pernah hilang walaupun aku mencoba menggantimu dengan banyak gadis yang pernah ada di hidupku. Kamu adalah orang pertama dimana aku merasakan cinta. Aku harus merelakan mu dengan kepergianmu, tidak peduli berapa jauh jarak harus ku tempuh. Aku tidak peduli berapa lama waktu yang aku habiskan untuk menunggumu. Jika aku mencintaimu, itu akan selalu seperti itu. Memang kamu bukan orang pertama yang ada di hidupku, tapi kamu adalah orang pertama yang ada di hatiku. Inezstastia Zakeisha Wilson. Bolehkah aku terus mencintaimu? Tidak masalah jika saat ini hatimu belum pulih dari perasaan masa lalu mu. Aku akan terus menunggu. Dan aku pastikan akan membuatmu cinta kepadaku." Kata-kata Melody menyentuh ke dalam lubuk hati Inez yang terdalam. Seperti hatinya di hembuskan oleh angin yang sangat segar, memulihkan semua sel-sel sistemnya. Mendengar itu semua membuat Inez seperti diajak terbang keatas ke langit tertinggi. Hanya dia yang bertahta. Setiap kata penuh makna. Inez mengangguk menyetujui permintaan Melody untuk mengijinkannya mencintainya.


"Sebuah info untukmu, aku mulai menyukaimu." Jawab Inez singkat dan membuat Melody tersenyum lalu memeluknya. Tubuh mereka menjadi satu dibawah gemerlap kembang api yang menghiasi langit malam bersalju di Kota New york.

__ADS_1


__ADS_2