Aku Mencintaimu Tanpa Tanda Tanya.

Aku Mencintaimu Tanpa Tanda Tanya.
3 Januari 2020


__ADS_3

"Happy birthday, Happy birthday, Happy birthday Berlian..." Suara Ivan dan beberapa teman Berlian menyanyikan lagu ulang tahun untuk Berlian.


"Make a wish dulu ya, Sayang." Ivan mengingatkan mesra. Berlian tersenyum menutup matanya untuk berdoa sebuah permintaan di hari ulang tahunnya. Lalu Berlian meniup lilin ulang tahunnya.


Suara tepuk tangan memeriahkan acara ulang tahun Berlian. Potongan kue pertama di berikan kepada Ivan, teman-teman Berlian bersorak gembira.


"Ini untukmu." Ucap Ivan memberikan sekotak kado. Berlian menerima nya dan memberikan kecupan kepada Ivan. Ivan tersenyum dan membalikan tubuh nya untuk menjauhi kerumanan. Mengeluarkan ponselnya. Dan mengetikkan sebuah pesan.


'Pulanglah, Nez. Aku merindukanmu.'


Itu pesan yang mungkin sudah ke seratus kalinya Ivan kirimkan untuk Inez di pesan whatsapp nya. Inez tidak pernah membalasnya. Ivan juga tidak tahu apakah Inez membacanya karena sepertinya Inez tidak mengaktifkan pemberitahuan pesan yang masuk ke Whatsappnya sudah di baca apa belum.


Ivan menatap layar ponselnya. Ia mendesah kecewa. Berlian muncul dari belakang nya dan sedikit mengejutkannya.


"Kamu lagi apa, sayang?" Tanya Berlian.


"Hanya membalas beberapa pesan dari klien." Jawab Ivan berbohong memasukan kembali ponsel nya ke saku.


"Ayo, kita menari menikmati malam." Ajak Berlian ke lantai dansa. Ivan pun meneguk beberapa champagne yang tersedia di atas meja. Dia mengikuti tempo gerakan yang di buat Berlian.


Dia hanya ingin malam ini menghilangkan Inez dari dalam pikirannya. Mencoba berkali-kali menjernihkan pikirannya, namun gagal. Berkali-kali dia mencoba menghapus ingatan tentang Inez, semakin ingatan tersebut menariknya kembali. Parahnya, dia menciptakan bayangan Inez melakukan hal-hal intim bersama Melody, yang membuat emosi dia kadang tiba-tiba meledak. Dan dia menahan diri malam ini.


Tidak. Tidak diacara ulang tahun Berlian. Jika Berlian tahu Ivan sadar bahwa dia tidak akan bisa mengejar Inez untuk kembali padanya. Dia sudah tidak sabar untuk menanti kedatangan Inez di Indonesia. Dia tidak tahu itu kapan. Tapi dia telah siap dengan berbagai rencana untuk merebut kembali hati Inez.


'Itu akan selalu menjadi milikku.' Gumam Ivan di dalam hatinya. Kilatan matanya menunjukan sorotan keegoisan yang telah melahap dirinya.


------------------------------------------------------------------------


Inez sedang melakukan confrence call bersama team pengelola usahanya di Jogja. Usaha nya sedang berada di titik puncak.


"Terimakasih, Pak Gunawan." Ucap Inez kepada pengacara andalannya itu.


"Sama-sama, Miss. Saya yang berterimakasih karena Miss Inez selalu bersedia untuk memberikan waktunya untuk mengetahui perkembangan perusahaan disini. Saya yakin, Miss Inez akan sukses selalu." Jawab Pak Gunawan memuji Inez.


"Baiklah. Jika ada beberapa ada hal yang perlu saya tanda tanganin, di email saja pak." Pinta Inez.


"Baik, Miss."


"Kalau begitu saya pamit diri. Keep in touch." Ucap Inez sebelum menutup confrence call tersebut.


Jam menunjukan pukul 8 malam saat itu. Setelah mereka kembali dari New york. Melody keesokan harinya kembali ke New york untuk menemukan tempat yang cocok untuk membangun Restaurantnya. Inez merasakan kebosanan sudah sehari tanpa Melody. Dia menatap layar ponselnya, melihat sebuah No ber kode Indonesia mengiriminya pesan sejak kemarin. Dan pesan itu isinya semua memintanya kembali pulang. Inez tidak menghiraukan. Inez membaca pesan terakhir dari Melody.


'Aku sedang melalui Times Square. Bayangan Aku sedang menciummu terlintas di kepalaku.'


Inez tersenyum membaca pesan tersebut. Ia langsung menelpon Melody. Cukup menunggu hingga dering kedua, Melody mengangkat telponnya.


"Hai..." Sapa Inez tersenyum sendiri.

__ADS_1


"Apa yang sedang kamu lakukan?" Tanya Inez lagi.


"Aku sedang makan malam bersama pemilik lahan yang aku pilih. Ada apa, Dear?" Suara Melody membuat Inez semakij tersenyum.


"Apa kamu sedang tersenyum?" Tanya Melody sebelum Inez menjawab.


"Tidak, aku sedang tertawa karena tebakanmu selalu benar hahahahhaa.." Ucap Inez tertawa.


"Baiklah, aku tidak akan mengganggumu. Aku hanya merasa bosan." Kata Inez setelah berhenti tertawa.


"Kamu tidak menggangguku. Tapi, aku akan segera berada disana setelah menyelesaikan makan malam ini." Ucap Melody yang membuat Inez senang.


"Okay. Sebaiknya kamu selesaikan makan malammu. Sampai jumpa. Safe flight." Jawab Inez menutup telpon nya. Ia tidak berhenti tersenyum.


'Aku merindukanmu. Beberapa pesan spam muncul dari Ivan, dia memintaku untuk pulang.'


Inez mengetikkan pesan dan mengirimkan ke Melody.


Inez mencoba membuka Instagramnya, dia melihat foto-fotonya bersama Melody. Perutnya geli seperti ada kupu-kupu beterbangan di dalam perutnya. Sesaat Inez menscroll layar nya kebawah dia melihat sebuah foto yang di upload Berlian. Berlian memposting sebuah foto bersama Ivan, Foto ciuman mereka. Inez tersenyum melihatnya. Ia mengetikkan sebuah komentar di postingan tersebut.


'Happy birthday, Berlian. Wish you all the best. Long last with Ivan. Happy for both of you.xoxo'


tidak lama kemudian Inez menerima pesan dari Melody.


'Ceritakan ketika aku tiba disana. Menuju airport'


'cant wait to see your silly face. xoxo'


Inez menyalakan televisi, ia menunggu Melody tiba sampai tertidur. Melody memiliki akses ke kamar hotel milik Inez. Melody tiba tengah malam. Dia melihat Inez sudah tertidur di sofa. Melody mengangkat tubuh Inez dan memindahkannya ke atas tempat tidur.


Melody mengecup kening Inez.


"Aku sudah pulang ya. Ku temui kamu esok hari." Bisik Melody menatap Inez.


Melody keluar dari kamar hotel dan pergi menuju apartmentnya. Ia cukup puas dengan pencapaian dia mewujudkan cita-cita nya. Jika saja dia tidak pernah bertemu gadis polos ini, dia tidak akan pernah menjalani hidup dengan baik.


Melody mengingat beberapa kejadian yang membuat dia tersadar bahwa memiliki orang-orang yang menyayanginya adalah harta terbesar daripada nominal dalam tabungannya.


Melihat gadis kecil itu kehilangan satu-persatu orang yang di kasihi nya sungguh menyadarkan Melody.


"Ivan" Gumam Melody berbisik.


Ia ingat bagaimana pria yang ia sebut namanya tadi menjaga gadis polos tersebut. Tidak membiarkan Inez dalam kekecewaan, tidak membiarkan seorangpun menyakitinya. Hingga Melody melihat di mana hari itu Inez mengakui sebuah kata kepada Ivan dia hanya pergi berlalu.


Sebelumnya Melody telah merelakan Inez yang mencintai Ivan dan Melody percaya bahwa Ivan mampu menjaga Inez dan tidak menyia-nyiakannya. Tapi, setelah ia melihat kejadian tersebut membuat Melody mengejar Inez kembali. Jika sekarang Ivan mengejar Inez kembali disaat dia mulai mendapatkan, dia harus melakukannya dengan baik. Karena Melody tidak akan melepaskan Inez.


Melody memasuki kamar apartmentnya. Dia cukup lelah dengan penerbangannya yang memakan waktu 5 jam.

__ADS_1


Keesokan paginya Melody terbangun karena suara telpon.


"Kamu dimana?" Tanya suara tersebut. Inez bertanya dengan suara panik.


"Di Apartmentku. Kenapa, Nez?" Tanya Melody masih mengantuk.


"Aku semalam tertidur di sofa, dan sekarang aku terbangun diatas kasurku. Aku rasa aku tahu bahwa aku mengalami sleepwalking." Cerita Inez masih panik yang membuat Melody tertawa.


"Aku memindahkanmu, bodoh. Semalam kamu tertidur pulas di sofa. Aku nggak mau kamu bangun dengan pegal linu atau encok." Aku Melody menertawakan kebodohan Inez.


Di ujung telpon Inez mencibir.


"Mengapa kamu pulang?" Tanya Inez.


"Pakaianku sudah seharian, aku butuh berganti pakaian. Aku ga nyaman tidur dengan pakaian yang ku pakai setelah seharian penuh." Jawab Melody.


"Waktu pertama kali ajak aku ke New york, kamu tidak mengganti pakaianmu dan langsung tertidur di sofa" Cibir Inez.


"Itu karena aku terlalu lelah." Jawab Melody.


"Anyway, kamu menelpon ku hanya karena merasa mengalami sleepwalker?" Tanya Melody merasa lucu.


"Jangan coba-coba menertawaiku. Bagaimana kerjaanmu? apa bisa kamu pantau dari jauh?" Tanya Inez sambil mengomeli Melody.


"Lusa akan segera mulai untuk di kerjakan. Sepertinya bisa. Mengapa?"


"Aku rasa aku akan ikut kamu tinggal di New york jika itu dibutuhkan." Jawab Inez membuat Melody benar-benar membuka matanya.


"Apa? Kamu serius?" Tanya Melody. Inez menahan senyumannya.


"Iya aku serius. Tidak ada yang bisa aku lakukan di LA pada musim dingin. Sepertinya salju menjad sesuatu yang ku suka setelah pantai." Jawab Inez menjelaskan.


"Okay, apa kamu akan tinggal di hotel Ayahmu?" Tanya Melody.


Sebelum Inez menjawab, dia mengalihkan panggilan tersebut jadi panggilan video. Mereka berdua masih sama-sama diatas kasur mereka.


"Aku akan tinggal di salah satu apartment di upper east side." Jawab Inez. Upper East Side bagian terbaik dari New york. Melody juga memiliki apartment di daerah tersebut.


"Pilihan yang bagus. Ini mungkin akan memakan waktu 2-3 bulan." Tukas Melody memberitahu


"Berapa lama pun aku menemanimu." Jawab Inez yang senyumannya terlukis di layar ponsel Melody.


"Brunch???" Tanya Melody. Inez mengangguk.


"30 Menit aku akan berada disana." Ucap Melody lagi. Inez melambaikan tangannya dengan manja. Melody tersenyum lalu menutup telpon nya.


-Brunch \= Breakfast and Lunch

__ADS_1


__ADS_2