
Alarm membangunkan Inez yang tertidur lelap setelah menghabiskan malam bersama ke lima temannya. Jam menunjukkan pukul 5 pagi. Suara gaduh sudah terdengar sepagi ini di rumahnya. Ia tersenyum mengingat bahwa hari ini akan menjadi hari bahagianya.
Inez melangkah turun menyusuri anak tangga. Ia melihat beberapa asisten rumah tangga nya yang sedang mempersiapkan hal-hal untuk pernikahannya.
Ia menatap Chloe sedang duduk menyesap secangkir kopi di mini bar miliknya. Ia menghampiri sahabatnya itu.
"Morning. Can't sleep?" tanya Inez.
"Ya.. I can't imagine today is coming. The day you choose to be someone's wife. And he is a Melody!!!" seru Chloe antusias. Inez juga iku tersenyum.
"Me too. I never dream about it. But, this is happen to me and it's so wonderful. Thank you for being here." jawab Inez memeluk sahabatnya di masa kuliah itu.
"Maybe, I can't survive in LA for Four years without you. Thank you being a good friend when i'm not." lanjut Inez airmatanya terbendung di matany.
"And now, You must prepare for today. Come on..." ajak Chloe menarik lengan Inez.
Di suatu tempat yang gelap. Berlian memasuki kamar hotel Ivan. Dia melihat Ivan tampak menghabiskan malam dengan menyesali dirinya sendiri.
"Bangun, Ivan!!!" Bentak Berlian melihat Ivan yang sedang terbujur lemas di atas karpet hotel tersebut. Ivan membuka mata nya dengan susah payah.
"Hari apa ini?" Tanya Ivan mengangkat tubuhnya yang lemas karena terlalu banyak minum alkohol. Nafasnya berbau bourbon.
"Ini yang akan kamu lakukan kepada Inez setelah selama ini kamu menyakitinya? Tidakkah setidaknya kamu berbahagia untuknya! Kamu bisa menipu dirimu dengan menjalani hari bersama ku selama ini! Satu hari kamu melakukan itu untuknya adalah sesuatu hal yang berharga baginya." Sindir Berlian sambil membuka lemari pakaiannya dan menyiapkan beberapa jas untuk Ivan.
"Aku tidak akan kemana-mana" tukas Ivan.
Berlian berhenti menyiapkan pakaian untuk Ivan, dan melemparkan beberapa kemeja diatas sofa.
"Terserah! Lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Jika mengasihani dirimu dengan seperti ini membuatmu melupakannya, lakukanlah!" Bentak Berlian menatapnya dalam. Kata-kata nya menamparnya. Membangunkan dirinya dari kegelapan. Ivan terdiam menyesali dirinya sendiri.
Dering ponsel menyadarkannya dari lamunan panjangnya.
"Halo, Ivan." Suara Inez seperti alkohol yang menyiram sebuah luka. Menyakitinya sangat parah.
"Inez..."
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Inez yang cemas mendengar suara lirih Ivan.
"Aku baik-baik saja. Hanya sebuah keributan kecil yang di buat Berlian." jawab Ivan.
"Sebenarnya...." ucapan Ivan terputus. Ia menutup matanya
'Tidak, aku tidak merusak hari bahagianya.'
Di ujung telpon Inez menunggu Ivan berkata.
"Apakah kamu bahagia?" tanya Ivan.
"Ivan, hari ini adalah hari pernikahanku. Akan lengkap ketika orang yang kusayangi berada disini. Jika apa yang kuharapkan adalah suatu kesedihan untukmu. Aku mengerti. Aku harap kamu menemukan seseorang yang mencintaimu seperti aku mencintai Melody. Bukankah kita akan melawan dunia bersama? Jangan sakiti dirimu, aku telah melalui fase itu. Dan itu bukan hal yang akan mengobatimu dari luka. Karena dirimu sendiri yang harus melawannya. Dirimu sendiri yang harus menghadapinya. Jika kamu menyakiti dirimu sendiri berarti kamu kalah. Dirimu sendiri yang harus kamu maafkan. Ivan, kamu lebih baik dari ini. Aku percaya kamu akan sadar bahwa cinta yang kita miliki bukan yang ini. Kita akan selalu memiliki. Ingat itu!" Inez memberikan sebuah cahaya terang dari kata-katanya. Perlahan merengkuh kegelapan di dalam diri Ivan. Ivan meneteskan airmata mendengar bahwa Bayi kecil yang ia temui di rumah sakit sedang menangis karena kehilangan ibunya kini sudah menjadi seorang wanita. Wanita yang baik, tangguh dan hebat.
"Terlalu banyak yang terjadi selama 5 tahun. Aku tidak tahu bahwa kamu sekarang ahli dalam psikologi seseorang." Ivan tersenyum menggoda Inez. Perlahan ia menerima setiap rasa sakitnya.
"Hanya tentangmu. Aku tahu, karena aku melaluinya. Sangat buruk. Hanya tunggu seseorang hadir memberikan sejuta kejutan di kehidupanmu." ujar Inez.
"Akankah kamu datang?" tanya Inez membujuknya lagi. Ivan tersenyum untuk kesekian kalinya. Dia membayangkan wajah Inez yang biasa sedang membujuknya.
"Aku akan hadir melihat kebahagiaanmu." jawab Ivan. Inez berseru senang di telpon sebelum menutup telponnya.
Semua tamu undangan telah hadir, beberapa pers dari beberapa media informasi sudah berada disana. Semua orang menanti hari ini. Salah satu taman hotel milik ayahnya Inez di hias dengan indah.
Inez telah bersiap di sebuah ruangan. Tak bosan dia menatap wajahnya di cermin. Seseorang mengetuk pintu ruangan tersebut. Seketika Inez merasakan mulas di perutnya, geli yang menggelitik seperti pertama kalinya Melody menciumnya di Times Square. Pintu terbuka.
__ADS_1
"Apa sudah waktunya?" Tanya Inez yang tidak mengenali wanita itu.
"Hai Inezstasia." Sapa nya. Inez gugup menoleh. Wanita anggun berdiri di depannya, usianya sekitar 50 tahun tapi wajahnya masih tetap terlihat lebih muda dari usianya, senyum kecut menghiasi wajah wanita tersebut.
"Ya, anda siapa?" tanya Inez heran.
"Serena Abigail." tukasnya menyebut namanya. Inez pura-pura tidak terkejut.
"Kamu tidak akan terlalu bodoh untuk merusak hari pernikahanku." ujar Inez memasang wajah angkuh untuk mengintimidasi wanita tua di hadapannya.
"Tenang, sayang. Aku hanya ingin melihatmu. Bagaimanapun juga kamu tidak memiliki ibu untuk memberikan restu dan doa padamu. Aku akan mewakilinya Hahahaha." Wanita itu tertawa dengan nada mengejek.
Inez mengepalkan tangannya. Menahan amarah atas kata-katanya.
'tidak. tidak pada hari pernikahanku. Aku tidak akan menghancurkanmu disini' ujar Inez dalam hatinya menahan amarahnya.
"Tertawalah dengan puas. Kamu tahu bahwa yang tertawa belakangan adalah pemenangnya. Silahkan pergi dari sini. Aku tidak mengharapkan kehadiranmu." ketus Inez menyuruhnya pergi. Wanita itu berhenti tertawa, dia tidak pernah menyangka bahwa Inez adalah seorang yang cukup tangguh untuk menjadi lawannya.
"Akhirnya aku memiliki lawan yang pantas." kata Serena berlalu pergi.
Inez menghela nafas. Merasa lemas pada tubuhnya karena menahan amarah.
Suara tawa muncul dari balik pintu. Melinda dan Chloe muncul menatap Inez yang sedang menundukkan kepalanya mencoba mengatur nafasnya.
"Are you ready?" Tanya Chloe. Inez tersenyum menatap mereka berdua. Inez berjalan pelan menyusuri lorong menuju pelaminan yang sudah di siapkan untuk Melody dan Inez mengucapkan akad.
Inez meraih lengan ayahnya yang menyambutnya dengan tersenyum. Para tamu yang sudah hadir dalam acara Akad menatap Inez terpukau. Namun mata Inez tidak lepas dari mata yang dia sukai. Mata yang selalu menatapnya penuh cinta. Mata yang dapat melihat ia hingga hatinya yang terdalam. Milik Melody.
Inez melirik sedikit ke arah samping Melody. Ada pria yang tersenyum manis padanya, memberikan ketulusan hati bahwa ia turut bahagia hari ini. Ivan mengedipkan mata nya sebelah dan berbicara tanpa suara.
"You're beautiful." Inez tersenyum membaca gerak bibir yang di buat Ivan.
Semua bersorak dan gemuruh tepuk tangan meriahkan hari itu. Inez tersenyum menatap Melody yang mulai detik ini sah sebagai suaminya. Air mata bahagia tak dapat ia bendung.
Inez menatap lembut Melody. Memegang kedua tangannya. Berhadapan dengan beberapa kamera pers yang ingin mengabadikan moment tersebut.
Beberapa tamu sedang sibuk dengan hidangan yang telah di sajikan dalam pernikahan Melody dan Inez.
Ini waktu nya mempelai pria dan wanita berdansa. Inez melangkah ke lantai dansa bersama Melody. Semua mata mengikuti gerakan mereka. Menatap sepasang kekasih yang berbagi kebahagiaan hari ini. Melody yang terus meyakinkan dirinya bahwa ini bukanlah sebuah mimpi.
"Hai, Mrs. Dirgantara." Sapa Melody sambil berdansa dengan Inez. Inez meringis mendengar namanya di panggil.
"Hai, husband" jawabnya. Melody menyeringai. Kebahagiaan mereka tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
"Aku tidak menyangka hari ini terjadi di dalam hidupku" ucap Melody.
"Begitupun aku. Aku tidak pernah menyangka bahwa kamu yang memenangkan hati ini. Setelah semua perlakuanku padamu."
Inez tampak mengenang, pertama kalinya Inez bertemu dengan Melody. Saat itu Inez sedang pergi ke salah satu Mall di Jogja bersama Ivan.
"Ivan!" panggil seseorang dari arah belakang mereka. Ivan dan Inez menoleh. Tampak pria yang memanggil Ivan menghampiri mereka.
"Wah, lo ga masuk kelas pak Sastro juga?" komentar pria itu.
"Iya nih." jawab Ivan. Pria itu melirik Inez yang sedang sibuk membolak-balikkan sebuah buku yang baru saja dia beli berdiri tidak jauh di belakang Ivan.
__ADS_1
"Cewek lo?" tanya pria itu penasaran.
"Bukan. Nez..." panggil Ivan yang membuat Inez menoleh. Saat itu Inez tampak sebal dengan Ivan yang memperkenalkan dia dengan teman-temannya. Jadi, dia sangat acuh seperti tidak tertarik untuk mengenalnya.
"Apaan? Buruan yuk, Van. Nanti ketinggalan sunset lagi." dumel Inez melangkah berjalan menjauhi Ivan dan temannya itu yang ternyata adalah Melody.
Ivan menahan tawanya mengingat kejadian itu.
"Bahkan kamu tidak ingin mengetahui namaku. Dan sekarang kamu disini memiliki nama belakangku." Ledek Melody membuyarkan ingatannya. Seketika seseorang berada di samping mereka menginterupsi dansa mereka.
"May i?" tanya Ivan kepada Melody. Melody menyerahkan tangan Inez kepada Ivan. Inez tersenyum menyambut genggaman Ivan. Sepasang mata dari kejauhan memandang mereka bertiga. Hatinya hancur.
''Bisa-bisa nya kalian tertawa di atas penderitaan seseorang. Bahagia itu tidak akan lama jika di dapatkan dengan menghancurkan hidup seseorang." Gumam Berlian menghapus air matanya.
"Aku tahu bahwa kamu akan bahagia pada akhirnya." ucap Ivan yang kini sedang berdansa bersama Inez. Inez melingkarkan tangan nya di leher Ivan.
"Kamu tahu, kebahagiaan ini tidak lengkap tanpa kamu disini. Terimakasih, Ivan." ucap Inez lirih.
"Aku tahu. Terimakasih juga telah memberikan harapan di dalam kegelapan. Tanpamu aku akan tenggelam bersama penyesalan." lirih Ivan menutup mata dan mengecupkan kening Inez halus. Inez meneteskan airmata.
"Hei, ini bukan perpisahan." ujar Ivan melihat Inez yang menangis.
"Aku tahu. Aku sangat merindukanmu. Bisakah kamu ikut kami bulan madu?" tanya Inez dengan konyol.
"Hahahaahaha... itu hal terkonyol yang pernah keluar dari mulutmu." ledek Ivan tertawa. Inez lega mendengar tawa Ivan. Ivan kembali seperti Ivan yang ia kenal. Inez cemberut karena Ivan menertawakannya. Timbul ide iseng di kepala Inez.
"Aku ingin mengenalkanmu kepada seseorang." tukas Inez menarik Ivan. Melody sedang berbincang kepada beberapa kolega nya. Ia hanya melirik tersenyum melihat Inez yang sedang bahagia.
"Chloe!!" Panggil Inez menghampiri Chloe.
"This is my special guest, Chloe." ucap Inez lagi mengenalkan Chloe kepada Ivan. Chloe tersenyum menyapa Ivan.
"Chloe this is my best best best friend, Ivan." Ivan dan Chloe berjabat tangan.
"So, Chloe is my best friend in UCLA." cerita Inez kepada Ivan.
"The one and only." sanggah Chloe tertawa.
"Me too, I'm the one and only her best friend in Indonesia." Ledek Ivan tidak mau kalah. Mereka tertawa bersama. Inez meninggalkan mereka untuk mengenal satu sama lain.
'triiingg triiingg....'
Suara gelas champagne menarik perhatian semua orang yang telah berada di meja mereka masing-masing.
"Kita akan mendengar sambutan dari mempelai pria, dan wanita. Serta sambutan para orang terdekat dari kedua mempelai. Kita persilahkan Inez untuk berdiri." Melinda memberikan perintah. Gemuruh tepuk tangan mengiringi kebahagiaan pada malam itu.
"tes.. tes.." ucap Inez mencoba mic yang dia pegang. Semua orang terdiam menunggu Inez berbicara.
"Ehemm.." Inez membenarkan suaranya.
"Dulu aku tidak memiliki banyak orang di dalam hidupku. Mungkin sampai sekarang. hehehe. Melody datang di hidupku saat aku baru berusia 16 tahun, sebuah hal yanh ironis bahwa dulu aku tidak ingin mengetahui namanya tapi hari ini aku berdiri disini menyandang nama belakangnya. Cinta dan kegilaan itu ternyata hal yang sangat tipis. Dia datang kembali kepadaku setelah 6 tahun berikutnya. Ketika selama itu sudah banyak yang berubah dari diriku, lain dengan kecintaannya terhadapku. Itu tidak pernah berubah dan mungkin membuatnya nekat untuk mengejarku ke belahan dunia lainnya." cerita Inez, semua orang menatapnya terpukau.
"Melody hadir membawa sejuta harapan. Dia hadir dengan segala cahaya yang membawaku dalam kehangatan dinginnya Los Angeles. Dia mencintaiku dalam doa nya. Dia mencintaiku dalam tingkat kegilaan seorang manusia...." semua orang tertawa mendengarkan Inez. Inez tersenyum melanjutkan kalimatnya "Hal sepele yang sangat sempurnya darinya adalah Dia tidak mengijinkanku berjalan di belakangnya, karena aku bukan pengikutnya.. Dia tidak juga mengijinkanku berjalan di depannya karena aku bukan juga atasannya.. Dia hanya memintaku berjalan di sampingnya.. Menjadi ratu dari kerajaannya. Bertahta hanya di hatinya. Aku mencintaimu Melody. Dalam sempurna dan ketidak sempurnaanmu. Dalam sehat dan sakitmu. Dalam Kalah dan menangmu. Kita akan mengatasi bersamanya, kan?" Inez mengangkat gelas champagne nya. Semua orang bertepuk tangan. Mama nya Melody mengusap airmatanya karena terharu dengan kata-kata Inez.
"Oh my god. Semesta menyatukan kalian." seru Melinda dengan suara serak karena menahan tangisannya yang mengharu biru.
"Sekarang kita akan mendengarkan dari mas Melody. Silahkan, mas." ujar Melinda memberikan mic nya.
"Aku rasa aku tidak bisa berkata-kata setelah mendengarkan untuk pertama kalinya istriku mengucapkan hal-hal yang romantis seperti tadi...." tawa memecah keheningan.
"Aku tidak pernah menyesali untuk mencintainya. Dia menjadi titik tujuan dari perjalanan hidupku. Ketika aku bertemu untuk pertama kalinya setelah enam tahun berlalu. Aku terbangun dan cinta itu memanggilku lagi. Saat itu aku berpikir, jika itu terjadi. Semoga kamulah yang menjadi tujuanku berlari. Sekali lagi. Aku memutuskan untuk mengejarnya. Walau kecil, tapi aku memiliki kesempatan itu. Aku ingin jatuh cinta, terjatuh karena mencintainya, terjun bebas asalkan bersamanya. Aku memiliki kerinduan yang membumi hanguskan kewarasanku. Aku mencintaimu bukan hanya dalam terang siang, aku mencintaimu dalam kegelapan. Dengan hati sebagai mataku...." Melody terdiam dan semua orang menahan nafas mendengar kisah romantis mereka. Inez menatap suaminya lekat. Air mata bahagia mengalir di pipinya. Ia menggenggam tangan Melody dan meletakkan di pipinya.
__ADS_1
"Aku mencintaimu tanpa tanda tanya." ucap Melody mengakhiri pidato romantisnya malam ini.
Melody tersenyum menatap Inez yang meneteskan air mata bahagianya. Malam ini menjadi malam dimana air mata dan tawa menjadi satu. Dan mereka menyatukan itu semua.