Aku Mencintaimu Tanpa Tanda Tanya.

Aku Mencintaimu Tanpa Tanda Tanya.
8 April 2020


__ADS_3

"Ian, Inez akan sampai di Jakarta hari ini. Saya minta untuk team kalian di perketat. Karena saya tidak ingin hal buruk terjadi padanya." Perintah Ayahnya Inez kepada Ian. Ian sekarang menjabat sebagai kepala keamanan untuk keluarga mereka.


'Tok.. tok.. tok..' Suara ketukan pintu terdengar.


"Silahkan pergi." Suruh Ayahnya Inez. Ian mengangguk melangkah pergi. Ian membuka pintu, di depannya hadir seorang sekretaris junior perusahaan Ayahnya Inez.


"Ada apa, Lala?" Tanya Ayah nya Inez.


"Ada beberapa komentar mencurigakan yang dikirim sebuah akun anonim di akun milik Miss Inez, Sir." Jawab Lala. Ya, benar. Lala adalah salah satu teman kuliah Inez di Jogja. Lala, sudah hampir setahun menjabat sebagai sekretaris junior di perusahaan milik Ayahnya Inez. Awalnya dia pikir dia akan mengerjakan pekerjaan tentang travel. Namun, setelah sebulan dia lolos percobaan, dia diangkat menjadi Sektertaris Junior yang mengurus segala hal informasi tentang Inez. Dari semua media yang mencoba mengabarkan tentang Inez di Luar Negeri semua di take down oleh Ayahnya Inez. Dia tidak ingin mantan istrinya, Serena mengejar Inez dan mencelakai atau bertindak hal membahayakan Inez di Luar Negeri. Semua yang mencari informasi tentang itu semua adalah Lala. Menjaga akun Instagram Inez dari hacker juga Lala bersama team IT milik perusahaan Ayahnya Inez.


"Komentar apa?" Tanya Ayahnya Inez.


"Tidak ada yang sempurna di dunia ini, Inezstasia. Ketika kembali ke Indonesia kamu akan segera mengetahui dari ketidaksempurnaan itu. Dan kamu akan menyesal memiliki darah Wilson di tubuhmu." Lala membacakan komentar tersebut.


"Dan sepertinya Miss Inez belum membacanya. Jika dia membacanya kemungkinan besar dia tidak akan menghiraukannya. Karena dia beranggapan bahwa itu hanya komentar orang iseng." Jawab Lala menjelaskan.


"Cari tahu IP akun yang mengirim komentar itu. Print out komentar tersebut. Saya akan menjauhkan Inez mengekspos kehidupan pribadinya di media sosial." Pinta Ayahnya kepada Lala.


"Baik, Sir. Sepertinya Miss Inez sebentar lagi flight nya Landing, Sir. Apakah Mr. Wilson akan berada di rumah? Atau menemuinya di salah satu hotel?" Tanya Lala untuk mempersiapkan kedatangan Inez.


"Dia akan bersama Melody, beritahu mereka untuk menemui ku di rumah" Ujar Ayahnya Inez tampak berpikir.


Ayahnya sangat cemas dengan komentar yang dibacakan oleh Lala. Dia takut mantan Istrinya melakukan hal yang membahayakan Inez dan merusak keluarganya yang sedang membaik.


Dering ponsel mengagetkan Ayahnya Inez. Dia menatap layar ponselnya. Inez sudah landing dan segera menelpon ayahnya.


"Dad!! Kenapa kamu menyuruh ribuan pengawal menjemputku?" Omel Inez dari sebrang telpon.


"Aku hanya tidak mau kamu dalam bahaya ketika baru sehari di Jakarta." Ucap Ayahnya memberi alasan.


"Tapi tidak sebanyak ini juga, Dad." Keluh Inez.


"Biarkan aku berbicara kepada ayahmu." Suara Melody dari sampingnya.


"Halo, Mr. Wilson." Sapa Melody.


"Oh halo Melody. Segera ke rumahku bersama putriku. Ada yang perlu aku bicarakan padamu." Perintah Ayahnya Inez. Melody terdiam mendengar ucapan Ayahnya Inez. Dia menebak bahwa suara Ayahnya sedang terdengar seperti orang panik.


"Baiklah. Kami akan segera kesana. Oke. Terimakasih Mr.Wilson." Jawab Melody menutup telpon. Melody mengangkat bahunya tanda tidak mengerti dan menggandeng tangan Inez melewati kerumunan pers di sertai beberapa pengawal yang menghadang pers tersebut untuk menyerang Inez dengan pertanyaan.


"Huuufff.." Inez menghela nafas ketika masuk ke dalam mobil.


"Apa yang terjadi sih? Siapa yang menyebarkan berita kepulanganku hari ini?" Omel Inez membuka ponselnya. Melody menyerahkan beberapa lembar tissue kepada Inez untuk menyeka keringetnya.


"Panas ya...hehehehhe..." Melody terkekeh.


"Menyesal pulang kesini?" Tanya Inez meledek Melody. Melody menggelengkan kepalanya.


"Pak, jalan." Perintah Inez. Inez melihat beberapa wawancara yang dilakukan Ayahnya.


"Pantesaaaann..." Gumam Inez memutarkan matanya. Melody menoleh dan melihat rekaman wawancara tersebut..


"Yaa.. saya senang karena besok saya akan menyambut kedatangan putri saya yang sudah selesai menuntut ilmu. Dia kembali untuk menggelar sebuah pernikahan." Suara Ayahnya Inez terdengar dari pengeras suara ponsel Inez.


"Pantas banyak pers yang menanti kita." Ujar Melody tersenyum memeluk Inez.


"Tahu begitu aku gak akan bilang Daddy soal kepulanganku." Keluh Inez. Ponsel Inez berdering. Kali ini panggilan dari Ivan. Inez menengok ke arah Melody. Melody mengangguk kan kepalanya.


"Halo, Van." Sapa Inez.


"Apa kamu sudah berada di Jakarta?" Tanya Ivan tanpa basa-basi.


"Iya nih" Jawab Inez sambil melepaskan mantel miliknya.


"Kenapa kamu tidak memberitahu ku seperti yang kamu bilang sebelumnya akan memberitahuku ketika kamu pulang." Keluh Ivan.


"I'm sorry. Terlalu cepat aku pulang jadi aku sibuk membereskan barang-barangku. Aku berniat memberi-tahu mu setelah tiba di bandara. Tapi jika kamu menyalakan Tv mu, aku dan Melody sudah di serang beberapa Pers di bandara" Inez menjelaskan kepada Ivan sambil matanya melirik Melody yang sedang tertidur karena Jet lag. Inez mengelus dagu Melody yang di hiasi janggut halus.


"It's okay. Aku akan ke Jakarta kalau begitu." Tukas Ivan.


"Oh ya. Salam untuk Berlian ya. Oke. Bye." Ucap Inez menutup telponnya. Menonaktifkan bunyi dering ponselnya karena tidak ingin mengganggu tunangannya yang sedang tertidur. Inez pun merasakan kantuk yang sangat berat. Ia merebahkan kepalanya di pundak Melody. Melody terbangun sebentar tersenyum memeluk Inez.


"### Home sweet home." Gumam Melody sebelum terlelap lagi.


"Arjuna, carikan penerbangan sore ini ke Jakarta." Pinta Ivan pada asistennya dari telfon kantornya.


"Baik, Pak." Jawan Asistennya itu.


'Aku akan memelukmu kembali untuk bersamaku. Aku tidak ingin kehilanganmu lagi. Aku akan memenangkanmu kali ini, dengan cara apapun'


Ivan bicara dengan hatinya. Dia sangat senang mengetahui Inez sudah tiba di Jakarta.


"Sayang?" Tiba-tiba Berlian muncul di ruang kantornya. Ivan memaksakan senyumannya.


"Aku sedang sibuk, Sayang." Ucap Ivan mencari alasan untuk tidak di ganggu. Berlian tidak peduli, dia mendekat ke arah Ivan dan duduk di pangkuan Ivan.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Ivan berhenti mengetik.


"Mengganggu mu. Bukannya kamu suka ketika aku datang ke kantormu dan mengganggumu?" Goda Berlian.


"Hari ini tidak bisa, sayang. Tolong mengerti." Tukas Ivan menjaga nadanya selembut mungkin. Jangan sampai Berlian tahu bahwa sore ini dia akan pergi ke Jakarta mengejar Inez kembali. Berlian berdiri memasang wajah cemberut.


"Aku akan menggantinya secepatnya." Bujuk Ivan menggenggam kedua tangan Berlian. Berlian tersenyum


"Okay, aku akan menunggu. Dinner tonight?" Tanyanya.


"Tomorrow, Babe. Tomorrow." Ucap Ivan kembali menatap Laptopnya. Berlian menghampirinya memberikan kecupan tipis di pipi Ivan.


"Miss Inez" Panggil supir pribadinya.


Melody yang mendengar suara itu terbangun.


"Sudah sampai, Pak." Ujar Supir itu lagi.


"Panggil saya mas saja, Pak." Suruh Melody. Melody menatap Inez yang masih tertidur. Melody mencoba menepuk halus pipi Inez.


"Yang... bangun, yang.." Melody membangunkan Inez dengan lembut. Inez membuka matanya perlahan.


"ha.. udah sampe ya?" Tanya Inez yang sedang mengucek kedua matanya. Melody tersenyum melihat Inez bertingkah seperti anak kecil.


Mereka keluar dari mobil yang telah parkir di garasi rumah yang sangat luas.


Ayah Inez sudah menanti di ruang keluarga. Inez menyapa beberapa pengawal di depan rumah.


"Halo, Dad." Sapa Inez yang masih mengantuk. Melody berjalan di sampingnya.


"Halo putriku. Aku sangat merindukanmu." Sapa Ayahnya memeluk Inez.


"Halo, Sir." Sapa Melody mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Tapi ayahnya Inez langsung memeluk Melody juga. Melody tersenyum canggung, untuk pertama kalinya menerima perlakuan ayahnya Inez.


Mereka menjatuhkan diri diatas sofa di ruang keluarga, Inez masih lelah karena penerbangannya.


Asisten rumah tangga menghampiri mereka, bertanya apa yang ingin mereka minum.


"Do you have chardonnay, Dad?" Tanya Inez kepada ayahnya.


"Nez, Ini masih terlalu siang untuk minum wine." Ucap Melody mengingatkan Inez.


"Oh.. Aku pikir disini sudah cukup malam. Mengapa aku sangat mengantuuukkkk.." Keluh Inez.

__ADS_1


"Mbak, tolong buatkan kami teh saja." Pinta ayah Inez. Melody tersenyum.


"Aku ingin tidur sebentar lagi. Boleh kan?" Tanya Inez yang matanya sangat berat untuk ia buka.


"Silahkan, putri kecilku." Jawab Ayahnya Inez.


"Aku akan mengantarnya boleh, Sir?" Melody mengajukan diri bertanya meminta izin kepada tuan rumah.


"Silahkan, silahkan. Tapi segera kembali ada yang perlu saya bicarakan." Ucap Ayah Inez.


Melody menggandeng Inez dan membawakan Tas handbag milik Inez. Mengantarnya ke sebuah ruangan yang terletak di lantai dua yang di persiapkan Ayahnya untuk menjadi kamar putrinya.


Melody meletakkan tas di meja rias. Inez langsung berjalan menuju kasurnya.


"Selamat tidur, sayang." Bisik Melody. Inez menggenggam tangan Melody, melarang Melody pergi.


"Soon, sayang. Soon." Ujarnya mencium kening Inez dan melepaskan genggaman tangan Inez.


Melody segera turun menghampiri ayahnya Inez yang sedang serius menatap ponselnya.


"Duduk, Nak." Pinta Ayahnya Inez.


"Siapa yang berniat menyelakakan Inez, sir?" Tanya Melody yang sudah curiga bahwa ada sesuatu yang mengancam Inez.


"Kamu tahu?" Tanya Ayahnya Inez.


"Aku tidak cukup bodoh untuk pengawal yang kamu siapkan bukan untuk menghindari pers. Dan caramu memberitahukan kedatangan Inez ke Indonesia sekaligus memberitakan tentang pertunangan kami itu adalah caramu mencegah sesuatu yang buruk terjadi ketika Inez tiba di bandara, karena semakin banyak pers semakin kecil kesempatan orang yang punya niat buruk terhadapnya melakukan hal buruk di depan media." Ujar Melody.


"Jenius. Mengapa kamu tidak mengikuti langkah kakekmu?" Tanya Ayahnya Inez memuji Melody.


"Kakekku bilang bahwa cukup dia saja yang bekerja dalam kepolisian. Dia tidak ingin keturunan lainnya mengikuti jejaknya. Dia ingin keturunannya melakukan hal yang lebih. Jadi siapa orang itu?"


"Masa lalu ku. Serena abigail. Dia adalah mantan Istriku yang ku ceraikan 10 tahun yang lalu. Dia pandai dalam hal kambing hitam. Ketika kejahatan yang dia lakukan semua bukti tidak akan menuju padanya." Jawab Ayahnya Inez menjelaskan.


"Jadi kita cukup memancing dia supaya dia yang melakukan kejahatan tersebut, untuk membuat dia berhenti mencelakakan Inez." Lanjut Melody menebak kelanjutan kalimat yang ingin Ayahnya ucapkan.


"Kamu terlalu pandai." Ledek Ayahnya Inez.


"Sampai kita menemukan cara untuk menangkapnya, aku meminta bantuan mu untuk terus menjaganya kalau perlu kerahkan semua pengawalmu dan jangan sampai Inez tahu." Pinta ayahnya Inez.


"Untuk kedua syarat pertama saya menyetujuinya. Tanpa di minta saya akan menjaganya, dan untuk pengawal saya akan mengerahkan sebaik mungkin dan sebanyak mungkin. Tapi, jika untuk berbohong kepada Inez maaf saya tidak bisa. Saya akan berbicara kepadanya." Ujar Melody.


"Tidak bisa. Biarkan Inez dalam ketidak tahuannya. aku tidak ingin putri ku kembali menjauh dari ku karena berada didekat ku menjadi suatu hal yang membahayakan dia." Ayahnya Inez bersikeras terhadap pilihannya.


"Tidak masalah jika anda ingin bersikeras menutupi hal ini darinya. Tapi saya juga bersikeras untuk memberitahu dia. Dia bukan gadis lemah. Dan jika dia tahu kondisi nya bagaimana saya yakin dia lebih dapat diajak bekerja sama. Bagaimanapun kita harus percaya kepada Inez bahwa dia bisa menjaga dirinya juga." Ucap Melody. Ayahnya Inez tampak mepertimbangkan saran Melody. Tidak lama dari itu dia mengangguk setuju.


"Baiklah. Ketika waktu nya pas, kita akan memberitahu Inez." Ujar Ayahnya Inez memberikan senyumannya tulus


"Saya bangga kamu memenangkan hati putriku. Jaga dia baik-baik. Aku cukup sedih tidak memiliki waktu yang banyak karena wanita ini. Sejak kecil harus di pisahkan dari ku. Aku sangat mencintainya." Cerita Ayahnya Inez bersedih.


"Jadi, saat dia kembali sekarang. Aku tidak ingin siapapun merenggutnya untuk mecelakakannya. Aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri." Lanjut Ayahnya.


"Kita akan menyelesaikan ini bersama-sama." Ucap Melody menenangkan Ayahnya Inez. Ponsel nya berdering, panggilan dari Mamanya.


"Permisi, Sir. Aku akan mengangkat telpon dari Mamaku." Ijin Melody berlalu ke arah taman..


"Halo, Ma. Iya ma. Lody sudah di Jakarta kok. Nganter Inez dulu. Nanti kita ketemu pas dinner ya. See you ma." Kata Melody menjawab telpon Mamanya.


"Jika Berlian bertanya urusan apa saya ke Jakarta. Bilang saja bahwa saya menemui klien penting saya di Jakarta" Perintah Ivan kepada Asistennya, Arjuna.


Arjuna menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Ivan berlalu meninggalkan Arjuna di lobby Bandara. Ivan dengan yakin melangkah mengejar Inez ke Jakarta.


Inez terbangun dari tidurnya, ia menatap jam di kamarnya. Dia tercengang karena melihat jam menunjukan pukul 18.00. Dia beranjak dari tempat tidurnya dan keluar kamarnya. Berjalan menyusuri tangga rumahnya yang indah, Menatap Melody yang sedang asik bermain catur bersama Ayahnya.


"Hei.. Apa aku mengganggu kalian." Sapa Inez dari tangga. Tersenyum menatap mereka berdua yang tampak serius bermain permainan otak tersebut. Melody sudah tampak tampan, menggunakan kaos hitam santai.


"Hai putri tidurku." Kata Melody dan Ayahnya Inez bersamaan. Inez tertawa mendengarnya.


Melody dan Ayahnya saling pandang. Dan tersenyum kesal.


"Aku akan mengajakmu makan malam bersama keluargaku. Dan aku sudah mengantongi Izin dari ayahmu." Ujar Melody.


Inez melirik ayahnya, dan ayahnya tersenyum membalas tatapannya.


"Kalau begitu aku akan bersiap-siap." Jawab Inez menghampiri Ayahnya dan mencium pipinya.


"Kita akan memiliki waktu bersama yang banyak." Ujar Inez menghibur ayahnya.


"Sebelum kamu mandi ada yang perlu Daddy sampaikan." Ujar Ayahnya menoleh ke arah Melody. Melody mengangguk.


Inez duduk di samping Melody. Daddy nya menceritakan kondisi Inez saat ini. Bahwa ia dalam bahaya.


"Wanita kurang kerjaan!!!!" Bentak Inez setelah mendengar penjelasan dari Ayahnya. Melody menggenggam tangan Inez untuk menenangkannya.


"Kita akan mengatasinya bersama-sama" Ujar Melody tenang. Inez pun ikut tenang. Senang tunangannya bersikap tenang.


"Baiklah. Aku akan segera mandi. Aku tidak ingin membuat kesan buruk karena datang terlalu malam di pertemuan pertama ku." Ucap Inez mengangkat tubuhnya dan berlalu pergi ke atas.


Melody dan Ayahnya saling menatap. Walaupun wajah Melody sangat tenang, hatinya sangat cemas. Satu-satunya cara membuat seorang penjahat keluar dari persembunyiannya adalah mengumpankan incarannya setelah menggagalkan rencana awalnya. Itu tandanya Inez harus dengan senang hati memberikan raganya masuk ke dalam bahaya yang menantinya.


Inez masuk ke dalam kamar mandi, menyegarkan dirinya dibawah shower dan menggunakan waktunya yang terbatas untuk berpikir. Apa yang harusnya ia lakukan. Ia tidak tahu bahwa kepulangannya hanya membawa bahaya pada dirinya sendiri.


"Kalau masih bisa meminta sebuah permintaan edisi hari ulang tahunku empat hari yang lalu, Tuhan. Aku ingin untuk pertama kalinya aku memohon kepadamu. Biarkan aku bahagia bersama orang-orang yang aku cintai." Ucap Inez memandang wajahnya saat ia bercermin.


Jarak rumah Inez dan Melody tidak jauh. Hanya di tempuh 10 menit. Inez terdiam di dalam mobil. Mereka pergi tanpa supir. Ayahnya membiarkan Melody membawa salah satu mobil miliknya.


"Yaangg, Kenapa diam?" Tanya Melody di mobil ketika menunggu lampu merah.


"Aku tidak tahu sebahaya apa ancaman yang akan menimpa ku" Ujar Inez .


"It's okay. Aku yakin kamu wanita kuat. Kamu mampu melalui ini. Lagipula, kamu lihat. Kamu tidak melaluinya sendiri. Aku ada disini, Ayahmu juga. Dan beribu pengawal yang ku sediakan dan ayahmu sediakan" Kata Melody menenangkan hati Inez.


"Apa kamu yang memiliki ide untuk memberitahuku soal ini? karena aku tahu ayahku dia tidak mungkin melakukan itu. Dia lebih senang menjauhkan ku mungkin ke kutub utara sekalipun agar membuatku aman." Ucap Inez sarkastik.


"Sudah lama aku tidak melihatmu yang seperti ini." Ledek Melody tersenyum.


"Kurasa sebuah masalah cukup penting untuk membangkitkan gairahmu untuk hidup. Kamu akan menunjukan pada dunia bahwa tidak ada yang berhak menghancurkanmu jika dirimu sendiri tidak mengijinkan." Melody menanamnkan kepercayaan diri Inez.


"Jadi aku yang biasanya itu gak bergairah?" Tanya Inez menggoda.


"Kamu menanyakan hal itu padaku? Kamu tidak tahu usahaku menahan gairahku setiap melihatmu tertidur di sofa, melihatmu sedang mencibir, bahkan melihatmu sedang makan membuatku bergairah. Caramu memegang sendok, memasukkan sendok itu ke mulutmu. Semua membuatku bergairah." Jawab Melody mengakuinya. Inez tertawa. Muncul ide jahil di kepala Inez.


"Berarti kamu harus tahan gairahmu malam ini karena mengajakku makan malam bersama keluargamu." Ledek Inez. Melody termenung dan tersenyum.


Mereka tiba di kediaman Melody. Rumah Melody juga tampak besar, namun lebih bergaya asri. Memiliki air mancur di depan terasnya. Rumput gajah menjadi permadani dari pintu gerbang rumahnya. Interiornya seperti rumah-rumah dengan nuansa bali.


Kedatangan mereka di sambut oleh, Mama nya Melody, Ayahnya Melody dan adik perempuannya Melody yang kira-kira berusia 16 tahun.


"Halo Inez." Sapa Mamanya Melody. Inez mengulurkan tangan dan mencium punggung tangan Ayahnya Melody dan Mamanya Melody. Adik kecilnya yang bernama Melinda memeluknya dengan perasaan akrab. Inez tersenyum.


"Halo Tante, Om. Dan Melinda. Mas Melody banyak bercerita tentang kalian." Ucap Inez menyambut kedatangan mereka.


Mereka pun masuk ke dalam rumah. Dan langsung menuju meja makan. Diatas meja makan sudah tersedia macam masakan khas Indonesia yang di rindukan Melody.


"Wahh.. Ini semua yang masak tante?" Tanya Inez antusias. Inez duduk di sebelah Melody.


"Ngga Inez, Tante hanya membantu potong-potong. Yang masak bibi tuh." Jawab Mamanya Melody menunjuk Bibi yang sedang menyiapkan piring-piringnya. Inez tersenyum menyapa bibinya.


"Mama itu ga begitu bisa memasak. Yang jago masak itu malah Papa. Nurun ke mas Lody." Cerita Melinda. Inez tersenyum antusias mendengarkan adik perempuan Melody bercerita.

__ADS_1


"Kamu sudah pernah di masakin sama Lody?" Tanya Papa nya Melody.


"Sudah, Om. Di hari pertama..."


"Di kencan pertama, pah." Melody membetulkan.. Inez tersenyum sebal.


"Itu bukan kencan. Karena aku mau datang ke tempatmu karena kamu berjanji berhenti mengejarku." Ucap Inez menjelaskan. Papa nya Melody tertawa sambil menyendokkan nasi. Melody memandang makanan yang ada di atas meja.


"Sepertinya aku akan makan semuanya." Gumam Melody menjilat bibirnya.


"Ohhh Kak Inez itu cewek yang suka mas tulis di buku ya." Ledek Adiknya. Melody melototinnya.


"Buku? Buku apa, Yangg?" Tanya Inez ingin tahu.


"Ayo. Selamat makan." Ujar Melody mengalihkan pertanyaan Inez. Inez melirik Melody dengan kesal. Mereka pun makan. Ketika Inez mengambil sup dan memakan sup tersebut menggunakan sendok. Ia dengan sengaja melakukan gerakan yang membuat Melody teralihkan perhatiannya.


"Stop doing that, Dear. " Bisik Melody di telinga Inez. Inez menggerakan bibirnya maju menyeruput kuah sup dari ujung sendok. Melody menatapnya tercengang. Melody menghela nafas panjang.


"Aku ingin menikahi Inez minggu ini." Ucap Melody mengejutkan semua orang. Inez tidak sengaja menjatuhkan sendoknya.


"Maaf. Maaf..." Ucap Inez yang terkejut. Papa dan Mamanya Melody hanya tertawa.


"Nggak apa-apa, Nak Inez. Kita sama terkejutnya. Untung saja gak sampai keselek." Goda Mamanya Melody.


Inez menarik kaos Melody. Melody hanya menyeringai.


"Kamu sudah yakin, Mas?" Tanya Papa nya Lody.


"Yakin. 1000% Tidak ada keraguan" Jawab Melody sambil menyendokkan lauk selanjutnya yang ingin ia makan.


"Baik. Kalau begitu kita akan merencanakan pernikahannya. Besok siang kita akan datang kerumah nak Inez." Ujar Papa nya Melody. Inez tersenyum canggung. Melinda tampak senang.


"Yeaaay... aku punya kakak perempuan" Ujarnya dan beranjak dari kursinya langsung memeluk Inez. Inez yang masih bingung mencoba membalas pelukan Melinda.


"Udah. Udah.. Makan lagi sana." Omel Melody.


Mereka tertawa meramaikan meja makan. Mamanya Melody memandang Inez penuh kasih. Ia sangat berterimakasih kehadiran Inez membuat Melody menjadi lebih bertanggung jawab dan berhenti dari kebiasaan buruknya dalam mempermainkan wanita.


Setelah makan, Inez menemani Melody merokok di halaman rumahnya dekat air mancur.


"Senjata makan tuan, ya cantik." Ledek Melody.


"Nyebelin deh. Bener kata mamamu, untung aku gak keselek Sendok." Ledek Inez lagi. Dia tahu bahwa Melody akan membayangkan hal mesum karena Inez mengatakan hal itu dengan nada yang menggoda.


"Hussss.. udah stop stop soal sendok." Omel Melody yang membuat Inez tertawa.


"Yangg, merokok itu sama aja dengan bunuh diri tau." Ucap Inez dengan nada menakuti Melody.


"Teori darimana itu?" Tanya Melody melirik Inez yang sedang memasang wajah sok tau nya.


"Kan udah jelas ada peringatan 'Merokok dapat menyebabkan kerusakan jantung dan bla bla bla..." Jelas Inez.


"Yaaa terus? Korelasinya dimana sama bunuh diri, sayang?"


"Kamu tahu merokok menyebabkan kerusakan jantung, tapi kamu tetep ngeroko. Sama aja menyakiti diri sendiri. Itu sama aja dengan bunuh diri secara perlahan." Ujar Inez sambil menggerakan telunjuknya memberitahu Melody.


"Lagian kamu emang gak mau hidup sampe tua bersama aku? Sampai maut memisahkan kita." Lanjut Inez dengan nada yang lembut. Melody mematikan rokonya.


"Cuma kamu yang bisa buat aku begini." Desah Melody mencubit kedua pipi Inez. Kali ini Inez tidak marah karena habis menerima pujian dari Melody. Melody menatap jam tangannya.


"Sudah malam. Aku telpon Ayahmu dulu. Lebij baik kamu menginap, kamu bisa tidur sama Melinda. Dia pasti seneng banget." Ucap Melody menyarankan.


"Ngga apa-apa emangnya? Kalau minggu ini kita nikah bukan harusnya aku di pingit biar ngga terjadi hal yang buruk di acara pernikahan kita?" Tanya Inez lugu.


"Nduk.. ndukk.. wajahmu aja yang kebarat-baratan yaa ternyata... Tapi masih aja percaya sama mitos kaya gitu." Ujar Melody menggenggam tangan Inez.


"Kalau kita percaya hal baik yang terjadi ya hal baik nya. Jangan cemas soal ancaman itu ya. Kamu tahu aku tidak akan membiarkan siapapun meletakkan kamu dalam bahaya." Ucap Melody lagi dan kata-kata nya sangat menenangkan hati Inez.


Setelah Melody meminta ijin dari ayahnya Inez, Melody memberi tahu kedua orangtua nya dan Melinda. Melinda senang malam ini dia akan menghabiskan waktu bersama calon kakak iparnya.


"Yeayy.. kita akan melakukan pillowtalk sebelum tidur" Melinda berseru senang. Melody tersenyum melihat adik kecilnya senang.


"Jangan ngomongin soal aku loh." Melody memberikan peringatan kepada Melinda. Melinda hanya melirik Inez dan mengangkat bahunya. Lalu menarik Inez mengajaknya ke kamar tidurnya.


"Sepertinya Inez bermalam di rumah keluarganya Melody." Ujar Ayahnya Inez kepada seseorang yang sedang menunggu Inez pulang sejak pukul 9 malam tadi.


"Oh begitu, Om. Kalau gitu besok aku akan mencoba menelpon Melody dan Inez." Ujar Ivan kepada Ayahnya Inez.


"Baiklah, nak Ivan. Kamu menginap dimana?" Tanya Ayahnya sebelum Ivan pamit.


"Saya menginap di SevenHill, Om." Jawabnya.


"Kamu pandai memilih hotel terbaik dan ternyaman." Goda Ayahnya Inez yang mendengar salah satu hotelnya disebutkan.


"Baik, Om. Aku pamit dulu ya. Selamat malam om." Ucap Ivan melangkah pergi.


"Melinda" Panggil Inez untuk tahu apakah Melinda sudah tidur apa belum.


"Iya, Kak." Jawan Melinda membalikkan tubuhnya.


"Belum tidur?" Tanya Inez. Melinda menggelengkan kepalanya.


"Kak Inez belum tidur?" Tanya Melinda kepada Inez.


"Aku masih Jet lag. Jadi tadi siang tidur sampe sore. Sekarang ngga ngantuk deh." Jawab Inez. Melinda tersenyum.


"Dulu Mas Lody itu pas baru-baru kuliah, pernah terjerumus pergaulan bebas, Kak. Mas Lody hampir over dosis. Makanya kuliahnya di pindahin ke Jogja sama papa mama. Nah, Pas beberapa minggu di Jogja, Mas Lody mulai berubah. Kita pikir karena berhasil ikut terapi sama dokter disana. Ternyata bukan. Menjelang skripsi Mas Lody mulai ugal-ugalan lagi menjalani kehidupannya. Tapi bukan sama narkoba lagi sih." Cerita Melinda membuat Inez antusias mendengarnya .


"Terus sama apa? Mas Lody wisuda tahun 2016 kan?" Tanya Inez.


"Iya. Dia sempet males ngerjain skripsinya pas akhir- akhir tahun 2015 itu. Gak tahu dia kesurupan apa lagi ngerjain skripsi dalam waktu tiga hari eh lulus. Habis lulus malah sering pulang kesini kan, cuma buat menghindar dari cewek-cewek yang Mas Lody pacarin dalam satu malam aja di Jogja." Cerita Melinda seru. Inez terdiam, dia tampak berpikir.


"Pernah ngamuk sama semua pengawal dari papa. Buat cari buku hitam. Aku pernah sekali baca, Buku hitam itu sepertinya tentang Ka Inez." Ujar Melinda sambil menguap.


'Aku tidak pernah tahu bahwa kedekatan ku dengan Ivan membuat Melody sakit hati. Aku juga tidak pernah tahu bahwa dia sudah mencintaiku sebesar itu sejak dulu.' Ucap Inez dalam hati.


Inez menatap Melinda yang sudah mulai tertidur. Inez tersenyum melihat gadis kecil itu tertidur tenang. Wajahnya mirip Melody jika sedang tertidur.


Inez beranjak dari tempat tidurnya. Dia menuju ke luar dari kamar tidur Melinda. Membuka pintu samping yang tembus ke bangku dekat air mancur. Dia melihat Melody sedang duduk terdiam di kursi.


"Masih Jet lag juga?" Sapa Inez. Melody terkejut dengan kedatangan Inez. Lalu ia mengangguk menjawab pertanyaan Inez. Menepuk-nepuk kursi di sebelahnya supaya Inez duduk disitu.


"Mikirin apa?" Tanya Inez yang melihat wajah Melody yang tampak cemas. Melody tersenyum dan memeluk Inez dengan erat. Inez heran dengan sikap diam nya Melody.


"Kuatkan dirimu ya, Yangg.. Aku percaya kamu wanita cerdas yang akan mengalahkan orang yang ingin menyakitimu." Tukas Melody masih memeluk Inez.


"Aku akan menghadapinya. Kita akan menghadapinya bersama-sama." Ucap Inez dengan yakin. Melody tersenyum dan melepaskan pelukannya.


"Kita akan menghadapinya sama-sama." Ucap Melody mengulang kalimat Inez.


"Yuk masuk. Kita harus punya extra tenaga untuk menghadapi semuanya." Ajak Inez.


Melody mengantarkan Inez sampai pintu kamar Melinda. Ia memberikan kecupan di kening Inez.


"I love you. Mornite." Ujar Melody menggoda Inez. Inez tersenyum.


"Mornite" jawabnya masuk ke dalam kamar melinda.


Mereka berdua terdiam di kamar masing-masing. Menunggu rasa kantuk tiba.

__ADS_1


ps : Mornite : (selamat malam menjelang pagi)


__ADS_2