
Inez dan Melody melanjutkan malam tersebut kembali ke salah satu hotel milik Ayahnya Inez yang berada di New york.
"Apa kamu suka berada disini?" Tanya Melody.
"Aku suka tinggal disini, aku suka tinggal di Los Angeles. Tapi, aku memiliki tanggung jawab besar di Indonesia. Jika kamu bertanya seperti itu untuk mengetahui kapan aku akan pulang ke Indonesia, aku rasa aku siap untuk kembali ke Indonesia bersama mu." Gumam Inez hati-hati menjawab pertanyaan Melody.
"Tapi aku akan menetap di Jakarta." Lanjut nya memberitahu Melody terkait tanggung jawab nya untuk mengelola perusahaan induk milik ayahnya.
"Apa Jogja masih mengganggu mu?" Tanya Melody sambil menuang wine yang tersedia di meja.
"Menurutku tidak. Aku tidak begitu peduli dengan apa yang terjadi setelah aku pergi. Aku benar-benar sudah meninggalkan masa itu." Jawab Inez yakin.
Melody memberikan wine kepada Inez. Mereka duduk bersama di balkon kamar. Menatap langit malam itu yang masih bersalju.
"Tadinya aku merencanakan mencari tempat di daerah sini untuk membangun sebuah restaurant." Cerita Melody.
"Oh ya? Itu akan sangat mengesankan" Ujar Inez. Melody mengangguk tersenyum.
"Iya, dan itu akan memakan banyak waktu. Aku khawatir jika ketika aku sedang mengerjakan proyek tersebut kamu ingin kembali ke Indonesia." Ujar Melody tampak memikirkan ulang terkait idenya.
"Aku bisa kembali ke Indonesia sendiri." Jawab Inez.
"Aku kesini untuk membawamu kembali ke Indonesia dengan tanganku sendiri hahahaha." Tukas Melody tertawa dengan wajah konyol.
"Apa kamu takut aku akan kembali dengan masa lalu ku?" Tanya Inez menatap wajah Melody.
"Aku tidak cemas soal Ivan, jika itu yang ingin kamu tahu." Jawab Melody.
"Oh ya? apa itu benar?" Tanya Inez menggoda Melody.
"Benar. Sangat benar." Jawab Melody yang teralihkan dengan suara dering ponsel nya
Dia melirik jam tangannya.
"Siapa yang menelponmu jam segini?" Tanya Inez heran. Melody mengangkat bahu tanda bahwa ia juga tidak tahu. Melody mengambil ponsel nya dari saku mantelnya yang ia gantung.
'Berlian'
"Video call dari Berlian" Ucap Melody dari dalam. Inez segera masuk dan mengambil ponsel Melody dari tangannya. Menerima panggilan video itu.
"Hai, Ber." Sapa Inez yang menatap wajah Berlian di ponsel Melody.
__ADS_1
"Oh halo Inez. Apa kamu sedang bersama Melody. Apa aku mengganggumu?" Tanya Berlian dari telpon.
"Iya, Melody bersamaku. Nggak, kamu tidak mengganggu." Ujar Inez yang kini Melody ada disampingnya.
"Jam berapa disana?" Tanya Berlian.
"Jam 2 pagi. Dan sepertinya disana sore hari yang membosankan membuatmu menelpon ku. Ada apa? " Jawab Melody dengan malas. Inez hanya tersenyum dan menatap Berlian.
"Apa kalian tidak ingin pulang untuk merayakan ulang tahunku lusa?" Tanya Berlian.
"Nggak, Berl. Aku lebih suka menghabiskan waktu ku bersama Inez di negara yang jauh darimu." Omel Melody.
"Bisakah kamu ajarkan pacarmu sopan santun, Nez." Goda Berlian di ujung telfon. Inez hanya tertawa.
"Aku suka Melody ketika melakukan hal itu." Jawab Inez membela pria yang ia sukai.
"Sayang, aku butuh handuk." Suara dari belakang Berlian terdengar.
"Tunggu sebentar." Ucap Berlian kepada Inez dan Melody.
Berlian memberikan handuk kepada Ivan.
Dari kejauhan Inez dan Melody mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Aku menelpon Melody dan Inez sedang bersamanya. Aku ingin mengundang mereka ke acara ulang tahunku. Seperti nya tanpa mereka acara ulang tahunku tidak akan menjadi seru." Gumam Berlian memberi tahu kepada Ivan dan segera mengambil ponsel nya yang ia letakkan di kasur.
"Hai Ivan." Sapa Inez dari video yang melihat Ivan berdiri dan tersentak karena Inez menyapanya.
"H..hhaa..ii" Jawab Ivan canggung.
"Sepertinya kita yang menganggu kalian" Ucap Melody.
Ivan menatap tajam mata Melody dari balik ponsel.
"Jadi kalian tidak akan datang?" Tanya Berlian lagi. Inez menggelengkan kepalanya.
"Kemungkinan aku tidak akan pulang hingga proyek Restaurant Melody jadi yang sedang ia buat di New york." Tiba-tiba Inez memberikan alasan. Melody menoleh ke arah Inez.
"Oh ya. Ketika Ivan berhenti dengan kesibukannya aku akan segera menyusul kalian kesana." Goda Berlian.
"Baiklah. Kami mengantuk. See you Berlian. Hei, Ivan. Jangan seperti orang asing ya." Goda Inez tersenyum kepada Ivan. Ivan memaksakan senyumannya.
__ADS_1
Inez melambaikan tangan dan menutup telpon video tersebut.
"Mengapa kamu berbohong?" Tanya Melody menanyakan sesuatu yang Inez katakan.
"Aku tidak akan berbohong. Aku akan menemanimu menyelesaikan restaurantmu jika memang memiliki restaurant disini adalah suatu cita-citamu." Jawab Inez tersenyum. Melody memeluknya erat karena senang dengan keputusan Inez.
'Aku sudah tahu bahwa masa ini akan tiba waktunya. Masa dimana aku melupakan masa lalu ku. Memaafkannya dan menerimanya.' Gumam Inez memantapkan hatinya.
"Tidurlah. Aku akan tidur di sofa itu." Ucap Melody menatap Inez. Inez tidak menyangka pria yang ia ketahui adalah pria yang banyak bergonta-ganti wanita, menghargai nya seperti itu.
"Apa kamu yakin?" Inez menaikan alis nya sebelah saat ia bertanya.
"Aku tidak akan melakukan hal yang lebih sebelum aku benar-benar memilikimu." Jawab Melody tersenyum dan mengecup bibir Inez pelan.
"Selamat tidur, Ratuku." Lanjut Melody mengusap pipi Inez. Inez pun melangkah ke kamar mandi sebelum tidur. Membersihkan diri dan menuju kasurnya. Saat dia keluar dari kamar mandi. Dia melihat Melody sudah tertidur nyenyak.
Inez tersenyum menatap Melody yang sudag tertidur nyenyak.
"Terimakasih, Melody. Aku bersyukur memilikimu." Ucap Inez sebelum ia kembali ke tempat tidurnya.
Setelah seharian ia menikmati perjalanannya bersama Melody, ia memejamkan matanya dan tersenyum.
______________________________________________
"Tuh kan.. Inez sudah tidak masalah menyapamu." Gumam Berlian kepada Ivan.
Setelah sampai di rumah Berlian, Ivan mengecup pipi Berlian, tidak menghiraukan apa yang ia dengar dari mulut Berlian.
"Istirahat ya. Jangan keluar rumah lagi." Ucap Ivan memberikan Berlian perintah. Berlian tersenyum dan mengangguk. Lalu, Ivan berjalan menuju mobilnya.
Sepanjang jalan arah pulang, Ivan memikirkan Inez.
"Apakah itu artinya Inez sudah memaafkanku?" Tanya Ivan kepada diri sendiri.
"Kalau memang Inez sudah memaafkanku, aku akan membuatnya kembali ke Indonesia dan tidak ada seorangpun yang boleh memiliki Inez." Gumam nya pada diri sendiri. Kobaran api cemburu terlintas di mata Ivan ketika Ivan memikirkan apa yang terjadi antara Inez dan Melody disana.
Ivan pergi ke salah satu bar yang tidak jauh dari kantornya. Memikirkan Inez membuat Ivan jadi frustasi. Inez tidak bisa pergi dari pikirannya. Itu membuat Ivan terus menerus minum alkohol. Hatinya dan pikirannya kini bertarung dengan keras. Hatinya mengatakan bahwa ini bukan hal yang seharusnya dia lakukan, sedangkan pikirannya yang tidak jernih membiarkan dia melakukan hal yang tidak seharusnya ia lakukan. Dia pulang menggunakan taksi, mobilnya ia tinggalkan di kantor.
Pak Djoko yang melihat Ivan pulang dalam keadaan mabuk tengah malam memapahnya masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
"Aku tidak akan kehilangan Inez untuk kedua kalinya, Dad." Ucap Ivan saat tubuhnya sudah di rebahkan oleh Pak Djoko di atas kasur. Pak Djoko hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun untuk menyakitinya." Ucap Ivan dalam tidurnya.