
Keesokan paginya terdengar suara ketukan pintu yang membangunkan Inez dari tidurnya. Inez berjalan santai membuka pintunya. Ivan dengan wajah panik segera masuk ke dalam kamar Inez.
"Kenapa sih?" Tanya Inez heran melihat tingkah Ivan yang mengambil koper Inez dan memasukan semua barang Inez ke dalam koper dengan terburu-buru.
"Maaf, Nez. Kita harus segera pulang." Ucap Ivan cepat-cepat membereskan pakaian Inez dari lemari gantung. Inez yang memisahkan baju-baju nya yang akan di pakai untuk perjalanan pulang.
"Iya, iya kita akan pulang. Ini kenapa sih?" Tanya Inez yang masih penasaran.
Ivan berhenti bergerak langsung memeluk Inez dengan kencang.
"Aku ada disini. Kita akan pulang sekarang, aku gak bisa cerita sekarang apa yang terjadi. Tapi, apapun yang terjadi nantinya ingat aku selalu ada disini. Kita melawan dunia bersama, remember?" Ivan menjawab dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.
Inez kebingungan dengan semua yang terjadi. Dia hanya bisa mengangguk dan berjalan ke kamar mandi untuk segera mandi dengan cepat. Begitu pun Ivan yang bersiap-siap di kamar nya setelah merapikan semua barang milik Inez.
Inez dan Ivan pulang dalam keadaan diam. Satu-satunya yang Ivan lakukan hanya diam dan terus menggenggam tangan Inez.
Inez beberapa kali mencoba mencari tahu apa yang terjadi tapi semua hanya sia-sia. Ivan hanya terdiam hanya menjawab dengan menggeleng atau sesekali cuma mengatakan Inez untuk mencoba tidur atau menenangkan diri.
"Nez, aku tidak akan menceritakan apa yang terjadi saat posisi kita jauh dari rumah dan tidak tahu pasti disana apa yang terjadi. Lebih baik kamu tidur atau menenangkan dirimu." Omel Ivan.
"Yang seharusnya menenangkan diri itu kamu, bukan aku." Ketus Inez yang melepaskan tangannya dari genggaman Ivan.
"Denger aku baik-baik, dan ulangi kata-kata ku ya. Apapun yang terjadi di rumah semua adalah perjalanan hidup. Semua ada hikmah di balik itu semua. Dan itu bukan salah mu." Ucap Ivan menggenggam tangan Inez lagi. Mata Ivan tajam, berkaca-kaca dengan kuat Ivan menahan dirinya untuk meneteskan air matanya.
"Iya iya.." Tukas Inez.
"Iya apa? Ulangi kata-kata ku barusan dengan segenap hati." Pinta Ivan.
Inez memutar bola matanya. Kesal.
'Aku tidak ingin kamu menjauhiku lagi. Atau melihatmu menyakiti dirimu sendiri, menjauhi semua orang yang peduli padamu. Aku tidak ingin kamu melakukan apa yang sebelumnya kamu lakukan.' Ucap Ivan dalam hati..
"Hmmm. Apapun yang terjadi di rumah adalah perjalanan hidup, semua itu ada hikmahnya. Dan semua itu bukan salahku." Jawab Inez mengulang kalimat Ivan.
Ivan mengangguk pada Inez. mencoba tidur untuk menghindari pertanyaan dari Inez. Sedangkan Inez hanya bisa melihat pemandangan dari sisa perjalanannya yang diakhiri dengan sebuah tragedi.
__ADS_1
Di Bandara Ivan melihat Pak Yanto melambaikan tangan kepada Ivan dan Inez. Ivan menarik Inez dan melangkah dengan cepat. Inez hanya bisa diam, dan mengikuti langkah Ivan dengan tergopoh.
Tanpa banyak bicara, Ivan hanya mengangguk kepada Pak Yanto dan segera masuk ke dalam mobil. Inez memandang nya aneh.
"Sepertinya aku menjadi orang yang terakhir tahu." Gumam nya di dalam mobil.
Ivan dan Pak Yanto hanya terdiam. Mobil pun melaju dengan cepat. Bukan ke arah rumah melainkan arah sebaliknya.
"Kenapa ga di rumah?" Tanya Inez mencoba mencari tahu apa yang terjadi dengan menanyakan Pak Yanto.
Terlihat Pak Yanto menatap kaca Spion yang melihat wajah Ivan. Ivan menutup matanya.
"Bude Suci ada di Rumah Sakit, Miss." Jawab Pak Yanto hati-hati.
Raut wajah Inez berubah. Matanya mulai membendung air mata yang masih tergenang di pinggir mata indahnya.
"Hahaahahahaha. Kalian itu kalau mau bercanda jangan kaya gini" Kata Inez menutupi kesedihannya. Ivan menggenggam tangan Inez dengan kencang. Inez menatap Ivan, Ivan menggelengkan kepala nya.
"Bukan salahmu. Bukan salahmu. Baiknya kita berdoa untuk Bude." Ucap Ivan menatap Inez yang meneteskan airmatanya yang sudah tak terbendung.
Ivan melingkarkan tangannya untuk mendekap Inez.
Inez segera menghampiri Pak Djoko berlari memeluknya, air mata nya kini benar-benar pecah.
"Sabar, Nduk. Sabar. Bude Suci masih di Ruang Operasi sejak jam 1 siang tadi." Ucap Pak Djoko menenangkan Inez yang masih menangis.
Inez diajak duduk oleh Pak Djoko, Ivan berada di samping Inez terus menguatkan Inez.
"Ingat kata-kata kita di pesawat ya." Ucap Ivan meremas tangan Inez. Inez hanya menatap lurus ke satu titik di antara dua kakinya, tatapan yang kosong. Inez tenggelam bersama pikirannya. Pikirannya yang memenuhi kemarahannya, Ibarat Gunung yang segera memuntahkan Lava panas. Hatinya terbakar, pikirannya tidak jernih. Dia kehilangan arah. Dia marah dan kecewa. Marah karena mengapa disaat keadaan mulai membaik seperti nya hal buruk sedang di persiapkan. Kecewa karena dia tidak tahu ingin marah ke siapa. Pilihannya, bisakah dia menyalahkan dirinya sendiri ketika orang di sampingnya menguatkan dirinya untuk tidak menyalahkan dirinya. Dia terus bertahan dalam amarahnya. Ivan memegang tangan nya dengan keras itu pun dia tidak merasakannya menyakitinya sama sekali.
Isi kepalanya Inez hanya berpikir bahwa dia butuh rasa sakit yang lebih untuk melupakan rasa sakit yang ia terima saat ini.
'Tuhan, jika memang kau ingin menyiksa ku saat ini, aku terima. Sembuhkanlah Tuhan Bude Suci. Biarkan aku memiliki waktu bersama lagi. Biarkan aku merawatnya. Aku belum siap Tuhan. Tuhan, jika semua orang yang kumiliki kau ambil mengapa tidak harta kekayaanku saja yang kau ambil, dan sisakan orang-orang yang ku miliki ini, Tuhan.' Doa Inez dalam hati.
Jam menunjukkan pukul 21.15, Dokter keluar dari Ruang Operasi.
Wajahnya tidak dapat di terka. Inez langsung berdiri menghampiri Dokter itu.
__ADS_1
"Bagaimana, Dok?" Tanya Inez gemetar.
"Maafkan saya. Saya sudah berusaha sekuat tenaga, dengan usaha yang terbaik." Ucap dokter sambil menggelengkan kepalanya.
Inez menutup mulutnya dengan lengannya, menahan amarah nya meledak-ledak disaat seperti ini.
"Silahkan masuk. Alat bantu nafas akan saya lepas." Ucap Dokternya melanjutkan memberi intruksi. Inez yang di papah Ivan berjalan masuk ke dalam Ruang Operasi bersama Dokter dan juga Pak Djoko yang juga sudah berduka.
"Saya lepas ya." Ujar Dokternya. Dibantu beberapa perawat di Ruang tersebut Alat bantu pernafasannya di lepas. Dan grafik detak jantung nya menjadi garis datar.
'Tuuuuuuuuuuuuuuuuuuttttttttttt' Suara mesin jantung kehilangan detaknya. Tangis Inez semakin pecah. Melihat tubuh Bude Suci yang sudah memucat. Inez jatuh tak sadarkan diri. Ivan menangis, rasa sakit hatinya kehilangan Bude Suci dan melihat hancurnya Inez dengan kejadian ini, tapi dia mencoba menguatkan dirinya. Karena itu harus. Dia harus kuat untuk Inez. Dia menggendong tubuh Inez yang lepas tak sadarkan diri.
Ivan menunggu Inez sadarkan diri, setelah mereka kembali ke rumah. Di ruang tengah sudah berkumpul saudara dari Ibu Dewi dan beberapa orang sanak saudara dari Bude Suci.
"Setelah Bude Suci sudah tidak ada, Inez akan tinggal bersama siapa, Mas?" Tanya seorang wanita yang berdandan sangat glamour untuk acara pemakaman.
"Dia masih memiliki ayah kandung, dan aku adalah walinya selain Bude Suci, Miya." Jawab Pak Djoko ketus kepada wanita itu.
Miya adalah adik kandung dari Ibu Dewi, singkatnya adalah tante nya Inez. Tapi karena kehidupan Miya yang bebas, dan suka menghamburkan uang. Dia tidak pernah kembali ke Yogyakarta, setelah meminta jatah warisan dari ayah ibunya salah satu cabang Pabrik Batik di daerah Solo, yang ia jual ke Dewi dan membawa semua uangnya untuk tinggal di Bali. Hidup nya dulu bergelimangan harta, tapi dihamburkan untuk berfoya-foya.
Miya memiliki perasaan pada Pak Djoko sudah lama, tapi Pak Djoko menikahi seorang turis dari Inggris yang sedang berlibur di Yogyakarta yaitu Ibu dari Ivan. Dan setelah ibu Ivan juga meninggal tepat 6 bulan sebelum Dewi meninggal, Miya mulai kembali terobsesi dengan Pak Djoko.
"Jangan kamu pikir kedatanganmu diharapkan disini, Miya" Ketus Pak Djoko berlalu pergi.
Miya menatap Pak Djoko dengan licik.
'Setelah Inez sendiri, aku akan menguasai Inez dan menguasai semua hartanya. Anak itu masih terlalu mentah untuk mengatur semuanya. Aku akan mengambil alih semuanya darinya.' Gumam Miya dalam hati.
Inez belum juga sadar dari pingsannya. Namun, air matanya terus menetes dari sudut matanya.
"Ivan.." Panggil Inez bergumam dalam tidurnya. Ivan masih mengenggam tangannya. Inez mengigau.
"Sssssttt... It's okay Inez. It's okay. Aku disini"
Jawab Ivan mengelus wajah Inez yang masih tertidur.
__ADS_1
--------------------------